
"Jujur saja, ini adalah sebuah pemandangan yang sangat indah bagiku." Ucap Panglima Bayu Kusuma.
Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima menatap dari kejauhan apa yang terjadi dengan istana Kerajaan Panca Warna. Mereka benar-benar tidak menyangka, kalau keadaannya akan sangat kacau seperti sekarang. Jauh lebih kacau dari apa yang sudah mereka perhitungkan dan mereka perkirakan. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima tidak pernah menyangka kalau kekacauan yang mereka buat akan mengembang sendiri, sampai sebesar ini.
Ternyata seluruh rakyat Kerajaan Panca Warna sudah benar-benar marah, dan melampiaskan amarah mereka kepada Intan Senggani. Dan yang sama sekali tidak mereka duga adalah, semua pasukan Kerajaan Panca Warna juga saling membunuh satu sama lain, demi busa mendapatkan barang berharga yang ada di dalam istana. Walaupun dalam keadaan istana yang sudah terbakar hebat, mereka tetap tidak peduli. Bahkan banyak juga dari mereka yang mati terpanggang hidup-hidup, di istana besar tersebut.
Panglima Bayu Kusuma yang tidak pernah suka dengan orang-orang Kerajaan Panca Warna, sangat senang melihat peristiwa itu. Dia begitu menikmati pemandangan dari kejauhan, yang bagi orang lain pun sudah jelas terlihat sangat mengerikan. Panglima Bayu Kusuma memang seorang Panglima yang terkenal sangat brutal, seperti Panglima Dara Gending. Siapapun yang tidak disukai oleh Prabu Jabang Wiyagra, maka dia juga tidak akan menyukainya. Karena Panglima Bayu Kusuma adalah anak didik dari Prabu Jabang Wiyagra. Sama seperti Putra Candrasa, yang sekarang sudah menjadi raja.
Hanya saja selama ini Panglima Bayu Kusuma telah disembunyikan kehebatannya oleh Prabu Jabang Wiyagra. Begitu pula dengan para Panglima yang lainnya. Itu adalah bagian dari strategi Prabu Jabang Wiyagra, demi mempertahankan kekuasaannya. Kalau Prabu Jabang Wiyagra penampakan para Panglima ini di awal masa pemerintahannya, maka semua musuhnya akan dengan mudah mengetahui seberapa besar kekuatan yang ia miliki.
Karena sudah lama sekali tidak melakukan kekerasan dan kekejaman kepada musuh-musuh Sang Maha Raja, akhirnya sekarang Panglima Bayu Kusuma ingin melampiaskan semua hal yang sudah bertahun-tahun ia tahan di dalam dirinya. Dia ingin berbuat kejam, sekejam-kejamnya, kepada musuh-musuh Sang Maha Raja. Walaupun itu adalah sebuah hal yang salah, tetapi Sang Maha Raja juga mendukung sifat brutal yang dimiliki Panglima Bayu Kusuma. Karena sifat brutalnya itulah yang membuat musuh-musuhnya bisa merasakan ketakutan.
"Sudahlah Panglima Bayu. Kita semakin hari semakin menua. Kita sudah tidak mudah lagi seperti dulu. Kita harus benar-benar menjaga sifat dan sifat kita." Ucap Panglima Dala Bima.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Panglima Bima?"
"Mendiang ayahku pernah bilang kepadaku, jika di masa tua nanti aku belum juga menyadari semua kesalahan-kesalahanku di masa muda, maka aku akan mati dengan cara yang sangat sengsara."
"Apa mendiang ayahmu juga telah merasakan hal yang sama? Mati dalam keadaan yang sengsara?" Tanya Panglima Bayu Kusuma.
"Ya. Dan itulah kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepadaku. Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku, dan juga dunia ini untuk selama-lamanya. Ayahku dulu adalah seorang petarung hebat. Dia jarang sekali kalah. Dia mengumpulkan banyak uang dari hasil pertarungan itu. Tapi, di masa tuanya, dia bukanlah siapa-siapa lagi." Jelas Panglima Dala Bima.
"Maafkan aku Panglima Bima. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu ayahmu. Terkadang, aku kesulitan mengendalikan sifat kejamku ini. Sebenarnya aku juga tidak terlalu nyaman memiliki sifat yang suatu waktu bisa saja menyiksa diriku. Tapi, aku benar-benar kesulitan. Kalau saja Sang Maha Raja tidak mengajakku untuk bergabung dengannya, mungkin aku juga masih menjadi penjahat di luar sana."
Panglima Bayu Kusuma merasa sangat kasihan kepada Panglima Dala Bima. Dia sama sekali tidak mengetahui masa-masa menyakitkan, yang telah dialami oleh Panglima Dala Bima. Karena di antara para Panglima yang ada, sewaktu mereka masih menjadi pejuang, mereka sangat jarang bertukar pikiran ataupun berbagi cerita, antara satu dengan yang lainnya. Bahkan sampai sekarang mereka menjadi seorang Panglima pun, mereka sangat jarang untuk bertemu. Kalaupun mereka semua bertemu, itu karena dipertemukan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Dan setiap kali ada pertemuan, Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah membahas masalah pribadi dengan para Panglima ini. Karena setelah menjadi seorang raja, Prabu Jabang Wiyagra lebih banyak membahas soal urusan di pemerintahan. Prabu Jabang Wiyagra sendiri juga jarang sekali mengeluarkan isi pikirannya kepada para Panglimanya sendiri. Bukan karena mereka tidak mau saling bercerita satu sama lain, tetapi karena mereka ingin tetap fokus dengan tujuan utama mereka. Mereka tidak mau kalau sampai pikiran mereka teralihkan.
__ADS_1
Sehingga ketika mereka dipertemukan, tidak akan ada masalah pribadi yang dibicarakan. Menjadi seorang Panglima memanglah tidak semudah apa yang dipikirkan oleh orang-orang. Orang lain mungkin akan berpikir bahwa menjadi seorang Panglima Besar, adalah sebuah hal yang sangat spesial. Padahal, bagi siapa saja yang menjadi seorang Panglima, maka orang tersebut harus rela meninggalkan apa saja yang ada di kehidupan mereka, ketika mereka mendapatkan perintah dari Sang Maha Raja. Memang tetap ada kebanggaan, karena menjadi orang kepercayaan. Tapi mereka juga akan sangat dekat dengan penderitaan.
Prabu Jabang Wiyagra sendiri sebenarnya tahu, apa saja yang dialami oleh para Panglimanya. Namun sebagai seorang raja besar, Prabu Jabang Wiyagra lebih sering mengesampingkan permasalahan pribadi. Dan lebih mengutamakan urusan pemerintahan. Begitu pula dengan semua orang yang menjadi abdi setianya. Mereka harus rela meninggalkan kehidupan mereka, demi kebahagiaan hidup semua orang. Ribuan orang di luar sana bergantung kepada mereka semua, yang menjadi abdi setia Sang Maha Raja, di Kerajaan Wiyagra Malela.
Apapun keadaannya, mereka dilarang untuk melakukan penolakan, terhadap setiap perintah yang mereka dapatkan. Apalagi kalau perintah tersebut datang langsung dari Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Sudah pasti, mau tidak mau mereka harus menyanggupinya. Sekalipun nyawa mereka yang harus dipertaruhkan. Semakin tinggi kuasa yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin besar pula tanggung jawab yang ia genggam. Seperti para Panglima ini. Yang kebanyakan sudah tidak memiliki keluarga. Karena mereka sibuk dengan urusan pemerintahan yang tak ada habisnya.
"Ayo kita tinggalkan bukit ini. Tugas kita sudah selesai. Saatnya kita pulang ke tempat kita masing-masing." Ucap Panglima Bayu Kusuma.
"Ya. Terima kasih atas kerjasamanya Panglima Bayu. Aku berharap kita bisa bertemu kembali."
"Ya. Sama-sama Panglima Bima. Jaga dirimu baik-baik."
Akhirnya mereka berdua pun berpisah, dan kembali ke pasukan mereka masing-masing. Begitu juga dengan para pendekar yang ikut dengan mereka berdua. Rasa lelah sudah tidak lagi mereka rasakan. Karena untuk kesekian kalinya, mereka telah berhasil menjalankan tugas dari Sang Maha Raja. Selanjutnya mereka berdua akan kembali ke pasukan mereka masing-masing, yang masih berada dalam medan pertempuran. Tidak ada satupun orang dari pasukan kedua Panglima ini, yang tahu kalau Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima telah menerima tugas besar dari Sang Maha Raja.
__ADS_1
Para pendekar yang ikut ambil bagian dalam tugas besar ini juga sudah bersumpah, untuk menutup mulut mereka rapat-rapat. Setelah kembalinya mereka nanti ke rumah masing-masing, mereka dilarang keras untuk menceritakan hal ini kepada keluarga mereka. Jika mereka sampai melakukannya, maka mereka harus siap mendapatkan hukuman pancung. Para para pendekar yang ikut dalam tugas besar ini, sudah pasti adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Karena itulah Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima mengajak mereka untuk menjalankan perintah dari Sang Maha Raja.