DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 257


__ADS_3

Pertarungan melawan Ratna Malangi benar-benar sudah menguras habis tenaga semua orang yang ada di sana. Termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri, yang sudah merasakan lelah menghadapi Ratna Malangi. Sang Maha Guru yang sudah tua juga mulai merasakan gemetar di kedua lututnya. Sang Maha Guru merasa kalau dia sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi Ratna Malangi. Sang Maha Guru akhirnya memilih duduk diam, dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon besar yang ada di sana.


Ratna Malangi hanya tertawa melihat semua orang yang berhadapan dengannya sudah mulai melemah. Ratna Malangi terus-menerus mengejek semua orang yang ada di tempat itu. Ratna Malangi merasa sangat senang, melihat mereka yang sampai saat ini tidak bisa menandingi kesaktian yang ia miliki. Ratna Malangi juga terus menantang Prabu Jabang Wiyagra untuk tetap menghadapinya. Meskipun dia juga tahu, kalau Prabu Jabang Wiyagra sudah sangat-sangat kelelahan.


Ini pertama kalinya bagi Prabu Jabang Wiyagra menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari dirinya. Bahkan Sang Maha Guru sendiri juga tidak sanggup menghadapi kekuatan yang dimiliki oleh Ratna Malangi. Namun ternyata, kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra tak hanya sampai di situ saja. Karena disaat Ratna Malangi akan mengeluarkan ilmunya, tiba-tiba datang lagi beberapa orang Panglima, yang saat itu juga langsung menyerang Ratna Malangi.


Ratna Malangi terkejut dan mundur ke belakang beberapa langkah. Ia tidak pernah menduga, kalau Prabu Jabang Wiyagra masih menyimpan kekuatan pasukannya yang lain. Orang-orang yang menyerang Ratna Malangi adalah, Panglima Cakra Murti, Panglima Surya Karana, Panglima Bayu Kusuma, Panglima Lara Kencana, dan juga Panglima Dara Gending. Di antara orang-orang itu juga ada Pangeran Rawaja Pati beserta bala tentaranya, yang kemudian ikut bergabung untuk menyerang Ratna Malangi.


Itu semua memang bagian dari rencana yang sudah disepakati oleh Prabu Jabang Wiyagra beserta seluruh pasukannya. Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya memang sengaja menyerang di pertengahan, untuk setidaknya mengurangi kekuatan yang dimiliki oleh Ratna Malangi. Dengan begitu, sekalipun dalam keadaan yang sudah melemah, tetapi Prabu Jabang Wiyagra tetap masih memiliki kekuatan untuk menghadapi Ratna Malangi. Dan yang lainnya masih bisa mengembalikan tenaga mereka terlebih dahulu. Untuk kembali menghadapi Ratna Malangi.


"Oh. Jadi begitu ya? Jabang Wiyagra?" Kata Ratna Malangi.

__ADS_1


"Ya. Aku memang sengaja muncul di pertengahan pertarungan, untuk mengurangi kekuatanmu. Tapi yang kamu tidak tahu adalah, aku masih menyimpan banyak sekali kekuatan yang tidak akan kamu sangka-sangka. Ingat Ratna, aku memang tidak lebih kuat dari dirimu. Dan kau sendiri jauh lebih kuat dari siapapun yang ada di tempat ini."


"....Maka dari itulah, kami semua yang ada di tempat ini lebih mengandalkan kemampuan otak kami, daripada kemampuan fisik kami, agar kami bisa mengalahkanmu. Aku yakin kamu pun paham, seberapa sakti pun seseorang, dia tetap bisa merasakan lelah dan letih. Dan tidak lama lagi, kamu pun akan merasakan apa yang sudah kami rasakan." Jawab Prabu Jabang Wiyagra sembari tersenyum.


"Kurang ajar kamu Jabang Wiyagra! Ternyata kamu hanyalah seorang raja pengecut! Kamu bahkan tidak berani menghadapi ku satu lawan satu!"


"Seperti yang aku katakan tadi. Kami semua yang ada di sini lebih mengutamakan kekuatan otak kami, daripada fisik kami. Dan itulah yang tidak kamu miliki. Lihatlah pasukanmu yang sudah menumpuk menjadi mayat di luar sana. Kalau kamu mengandalkan otakmu, tentu mereka tidak akan bernasib malang seperti itu."


Kalau Ratna Malangi sampai kalah dalam pertarungan ini, maka sudah dipastikan dia akan mati. Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak mungkin memenjarakan orang seperti dirinya, yang jelas-jelas sudah membahayakan semua orang. Dan jauh lebih berbahaya daripada musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra sebelumnya. Ratna Malangi berusaha memutar otak, agar terbebas dari perangkap yang sudah mengurung dirinya dalam situasi seperti ini.


Namun setiap pilihan yang diambil oleh Ratna Malangi, selalu saja salah. Bahkan saat dia mencoba untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra, serangan itu berhasil dipatahkan oleh seseorang, yang berada di samping Prabu Jabang Wiyagra. Entah siapa orang ini, karena selama pertarungan berlangsung, Ratna Malangi merasa kalau dia tidak pernah melihatnya. Ratna Malangi juga heran, mengapa orang itu bisa mematahkan serangannya dengan sangat mudah.

__ADS_1


Di sinilah Ratna Malangi mulai merasa khawatir. Ratna Malangi sudah melewati berbagai pertarungan dan pertempuran. Tapi tidak ada satupun orang yang bisa mematahkan serangannya. Bahkan kebanyakan langsung tewas hanya dengan satu kali pukulan. Tetapi seorang laki-laki yang bertubuh kurus dan pendek ini, dengan sangat mudah bisa membuatnya terlempar, dan jatuh ke tanah. Bahkan membuat Ratna Malangi merasakan sakit di lengan kanannya, untuk pertama kalinya.


Ratna Malangi berusaha mengingat wajah orang itu. Dia mencoba meneliti lebih detail lagi wajah laki-laki ini. Laki-laki yang bertubuh pendek kurus itu menggunakan pakaian seorang Panglima. Tetapi Ratna Malangi sama sekali tidak bisa mengenalinya. Ratna Malangi berusaha untuk mengingat kembali, dan juga menghitung jumlah Panglima yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Selain Panglima Galang Tantra dan Panglima Kinjiri, ada sepuluh orang Panglima Besar yang menguasai kota-kota besar.


Dan jika dihitung secara keseluruhan, seharusnya Prabu Jabang Wiyagra hanya memiliki dua belas orang Panglima saja. Itupun jika Panglima Galang Tantra dan Panglima Kinjiri masuk ke dalam daftarnya. Jika ditambahkan si laki-laki ini, maka jumlah Panglima secara keseluruhan ada tiga belas orang. Dan itulah yang membuatnya heran.


Ratna Malangi bertanya-tanya dalam hatinya,


"Siapa sebenarnya orang ini? Mengapa dia mampu mematahkan seranganku dengan sangat mudah?"


Si laki-laki hanya menatap tajam ke arah Ratna Malangi, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Para Panglima dan para Patih yang ada di sana juga sudah mulai berdiri, untuk kembali menghadapi Ratna Malangi. Ratna Malangi menatap satu persatu wajah-wajah setiap orang yang ada di sana. Ratna Malangi sama sekali tidak menduga kalau Prabu Jabang Wiyagra ternyata masih menyimpan banyak sekali kekuatan besar yang tidak ia ketahui selama ini.

__ADS_1


Tetapi di sisi lain Ratna Malangi juga kagum kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat setia kepadanya. Walaupun Ratna Malangi sudah menyadari kalau dirinya akan kalah, tapi tetap saja dia tidak mau mengalah. Ratna Malangi masih berusaha bangkit, untuk kembali menghadapi Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya, yang juga sudah bersiap untuk kembali menghadapi dirinya.


__ADS_2