
Jantungnya berdegup kencang, dan tangannya sedikit gemetar. Dari atas kudanya, Ratna Malangi memimpin barisan pasukannya menuju ke wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela. Tepatnya ke Ibu Kota Wiratirta. Seluruh pasukan yang yang ia miliki, semuanya dibawa menuju pertempuran itu. Ratna Malangi sama sekali tidak tahu bagaimana situasi di wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela.
Selain di Ibu Kota, seluruh wilayah yang ada di bawah pemerintahan Kerajaan Wiyagra Malela telah dikosongkan. Semua rakyatnya telah mengasingkan diri mereka ke wilayah lain, yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh Ratna Malangi. Ratna Malangi sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya pertempuran besar nanti. Karena situasi di medan perang bisa berubah dari apa yang sudah ia perkirakan.
Sedangkan para pengikut Ratna Malangi justru merasa bangga, karena akhirnya mereka bisa membalaskan dendam Ganda Ruwo. Mantan pimpinan mereka sebelumnya. Para pengikut Ratna Malangi meyakini, kalau mereka sudah ditakdirkan untuk memenangkan peperangan besar ini. Tanpa mereka tahu, kalau seluruh pasukan Prabu Jabang Wiyagra juga memiliki keyakinan yang sama.
Mereka juga tidak tahu, kalau sekarang ratu mereka sedang merasakan ketakutan yang besar terhadap kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena sebelum pertempuran ini berlangsung, Prabu Jabang Wiyagra sudah banyak sekali melakukan tirakat, sehingga auranya terpancar sampai kepada Ratna Malangi yang sebelumnya sudah mengganggap remeh dirinya.
Ketakutan yang besar itu membuat Ratna Malangi jadi tidak fokus. Sesekali dia juga berjalan melambat. Seakan-akan ia enggan untuk untuk melakukan pertempuran ini. Padahal, sebelumnya Ratna Malangi sangat keras menyuarakan perlawanan kepada Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya. Namun di hari pertempuran dimulai, nyali yang dimiliki Ratna Malangi seakan menciut.
Ratna Malangi menatap ke langit dan awan yang mulai gelap. Hatinya merasakan sakit yang luar biasa ketika mengingat kembali peristiwa menyakitkan itu. Peristiwa yang membuat kakaknya dipertemukan dengan kematian penuh penderitaan. Mata Ratna Malangi berkaca-kaca. Dia masih sangat ingat bagaimana dia menguburkan sendiri mayat kakaknya. Tanpa ada satupun orang yang membantu.
Di hari dimana Ganda Ruwo mati, Ratna Malangi mendapatkan penindasan dari banyak orang. Dia diperkosa secara bergiliran oleh para mantan anak buah Ganda Ruwo sendiri. Dia masih ingat bagaimana rasa sakit dan menderitanya waktu itu. Tetapi karena usaha kerasnya, sekarang Ratna Malangi sudah memiliki segalanya. Dia bahkan bisa menaklukkan pendekar-pendekar sakti aliran hitam yang ada di Tanah Jawa ini.
*
__ADS_1
*
*
"Perjalanan ke Ibu Kota Wiratirta ini pasti akan memakan waktu selama berhari-hari. Apalagi sekarang banyak wilayah desa dan perkotaan yang sudah dikosongkan. Sesekali Ratna Malangi pasti akan beristirahat di suatu tempat. Aku ingin semua pasukan diperintahkan untuk tetap berada di tempat mereka. Jangan tinggalkan wilayah Ibu Kota, dalam keadaan apapun." Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Panglima Galang Tantra.
"Baik Gusti Prabu. Hamba akan berangkat sekarang ke wilayah Ibu Kota Wiratirta." Jawab Panglima Galang Tantra.
"Hati-hati Panglima. Jangan sampai lengah."
Panglima Galang Tantra langsung kembali ke wilayah Ibu Kota Wiratirta. Di sana masih banyak sekali pasukan Kerajaan Wiyagra Malela dan juga para pasukan yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Seluruh pasukan benar-benar harus tetap waspada terhadap segala hal yang sewaktu-waktu bisa saja mengancam keselamatan mereka semua.
Ratna Malangi dan seluruh pasukannya, sudah berada cukup dekat dengan wilayah Ibu Kota Wiratirta. Ratna Malangi sendiri merasa heran dengan keadaan desa dan perkotaan yang sudah sangat sepi tanpa penghuni. Namun dari sini Ratna Malangi sudah bisa menebak, kalau pasukan Prabu Jabang Wiyagra sudah mengevakuasi semua orang yang ada di luar wilayah Ibu Kota Wiratirta.
Ratna Malangi dan seluruh pasukannya berjalan cukup cepat menuju Ibu Kota Wiratirta. Derap kaki kuda dan suara-suara telapak kaki ribuan manusia yang menyentuh tanah, membuat setiap wilayah yang didatangi oleh mereka menjadi ramai seketika, sekalipun sudah banyak sekali orang yang meninggalkan wilayah pedesaan dan perkotaan.
__ADS_1
Hingga sampailah Ratna Malangi peserta pasukannya di sebuah kota yang bernama Maja Lingga. Kota Maja Lingga dipimpin oleh seorang Panglima bernama Panglima Bayu Kusuma. Ratna Malangi merasa kagum dengan keindahan yang ada di Kota Maja Lingga ini. Semoga keindahan yang ada di kota ini tidak pernah dia lihat di tempat lain. Ratna Malangi seperti tersadar dari sesuatu.
Selama ini Ratna Malangi dan pasukannya sudah pernah melakukan perjalanan ke berbagai kota-kota besar, yang ada di setiap wilayah kerajaan yang ada di Tanah Jawa ini. Namun entah kenapa, keindahan seperti ini baru pertama kalinya ia lihat di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Selama dalam pengembaraannya, Ratna Malangi sudah melewati berbagai hal yang menarik dan unik.
Tetapi semua hal yang menarik dan unik itu seakan raib dari pandangan kedua matanya. Karena selama ini Ratna Malangi hanya tertuju kepada dendam dan dendam saja. Tidak ada satupun hal baik yang ia fikirkan. Sehingga kedua matanya tidak pernah melihat sebuah keindahan. Sekalipun keindahan tersebut berada tepat di depan kedua matanya. Dan itu sebuah kesalahan besar yang Ratna Malangi lakukan.
"Kita beristirahat terlebih dahulu di tempat ini. Aku ingin menikmati semua keindahannya." Perintah Ratna Malangi kepada para pengawalnya.
"Baik Gusti Ratu."
Para pengawalnya pun keheranan, karena setahu mereka, Ratna Malangi tidak pernah suka ketika mendengar ada sebuah hal indah yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Dari dulu, Ratna Malangi selalu membenci Kerajaan Wiyagra Malela, terutama dengan Prabu Jabang Wiyagra. Tetapi hari ini, Ratna Malangi bertingkah seperti seseorang yang bijak. Ratna Malangi juga jarang sekali mengistirahatkan para pasukannya, ketika sedang menjalankan sebuah tugas.
Ratna Malangi adalah sosok yang kejam dan selalu tegas kepada siapa saja. Namun sekarang, dia menjadi sosok perempuan yang lembut dan anggun. Walaupun begitu, Ratna Malangi masih mencoba untuk tetap sadar dengan tujuan utamanya. Ratna Malangi tetap akan melakukan aksi balas dendamnya kepada semua orang yang menurutnya terlibat dalam pembunuhan kakaknya. Terutama dengan Prabu Jabang Wiyagra yang akan menjadi masalah besar untuk dirinya.
Walaupun Prabu Jabang Wiyagra tidak terlibat secara langsung dalam pembunuhan tersebut. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra sudah melakukan upaya untuk melindungi orang-orang yang menjadi incaran Ratna Malangi dan para pengikutnya. Memang, belum ada hasil pasti soal pencarian yang dilakukan oleh Maha Patih Lare Damar. Tetapi apa yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra sudah menjadi sebuah tanda, kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak berpihak kepada Ratna Malangi dan para pengikutnya.
__ADS_1
Ratna Malangi sebenarnya tidak mau bermusuhan, apalagi sampai berperang dengan Prabu Jabang Wiyagra, yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa. Tetapi karena di istana Kerajaan Wiyagra Malela ada Sang Maha Guru, Ratna Malangi menjadi benci dengan keputusan yang diambil oleh Prabu Jabang Wiyagra. Padahal, secara tidak langsung Ratna Malangi sudah memberikan kelonggaran waktu untuk Prabu Jabang Wiyagra. Tetapi semua usaha yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra mengarah kepada pernyataan perang kepada Ratna Malangi.