DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 74


__ADS_3

Ditya Kalana dibawah bimbingan gurunya, perlahan mulai mengumpulkan orang-orang yang dulunya pernah menjadi musuh Prabu Jabang Wiyagra. Yang ternyata mereka semua juga murid dari guru Ditya Kalana. Dengan kata lain, mereka semua adalah kakak seperguruan Ditya Kalana.


Ditya Kalana diarahkan oleh gurunya untuk menemui pendekar pertama, yang bernama Dwi Sangkar. Sama seperti pendekar pada umumnya, Dwi Sangkar tinggal di pedalaman hutan bersama dengan suaminya yang juga sesama murid dari guru Ditya Kalana. Namanya adalah Ki Dampar.


"Jika kamu sudah bertemu dengan mereka, katakan kalau kau adalah murid Ki Benang Sengget." Ucap guru Ditya Kalana.


Selama menjadi muridnya, baru kali ini guru dari Ditya Kalana menyebutkan namanya. Artinya, guru Ditya Kalana yang bernama Ki Benang Sengget sudah percaya kepada Ditya Kalana. Ki Benang Sengget dulunya pernah bersahabat dengan Sang Maha Guru.


Tapi persahabatan mereka berakhir karena sebuah perselisihan. Ki Benang Sengget suka menggunakan ilmu putih yang ia dapat dari gurunya, untuk kepentingan hitamnya. Sehingga lama kelamaan, dia berubah haluan dengan menjadi penganut ilmu hitam.


"Dan ingat. Mereka tidak akan percaya begitu saja kepadamu, sebelum mereka melihat jurus-jurusmu. Jadi jangan melukai mereka, cukup tunjukkan saja apa yang sudah aku ajarkan kepadamu." Ucap Ki Benang Sengget.


"Baik guru. Saya berangkat sekarang juga."


"Berhati-hatilah anakku. Mantapkan niatmu itu. Jangan mau teralihkan dengan apa pun. Ingat selalu pada tujuanmu."


"Iya guru."


Ditya Kalana berangkat, menuju ke sebuah pedalaman hutan belantara. Perjalannya terbilang cukup jauh dari tempat tinggal Ki Benang Sengget. Tapi semua itu rela ia lakukan demi mendapatkan apa yang ia inginkan.


Setelah menemui pendekar pertama dan kedua, masih ada lagi dua pendekar yang harus Ditya Kalana temui. Karena dengan cara itulah, Ditya Kalana memiliki kesempatan besar untuk melawan Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Meski kelima pendekar sakti itu juga sudah pernah kalah ditangan Prabu Jabang Wiyagra, tapi mereka tetap belum juga jera. Mereka semua bahkan terus menerus melatih ilmu kanuragan mereka.


Mereka masih menyimpan dendam atas kekalahan mereka melawan Prabu Jabang Wiyagra. Dulu, saat Prabu Jabang Wiyagra belum menjadi raja, banyak sekali pendekar-pendekar sakti yang ingin menjajal ilmu kesaktiannya.


Kelima pendekar sakti itu adalah orang-orang yang beruntung, karena sampai saat ini mereka masih bertahan hidup. Berbeda dengan pendekar lain yang nasibnya lebih buruk dari mereka. Bahkan ada yang tewas dalam pertarungan.


Kesaktian Prabu Jabang Wiyagra sudah dikenal sejak dulu. Jauh sebelum dia menjadi seorang raja. Banyak sekali musuh-musuhnya yang masih menyimpan dendam kepadanya. Dan berniat membalaskan dendam mereka suatu hari nanti.


Ditya Kalana bagaikan takdir yang sudah dituliskan untuk mereka berlima. Karena dengan kehadiran Ditya Kalana yang menjadi orang kepercayaan Ki Benang Sengget, maka kelima pendekar sakti itu bisa dipersatukan kembali.


Jika bersatu dan saling membantu, mereka akan menjadi orang-orang yang berbahaya. Dari dulu mereka sangat suka dengan peperangan dan pembantaian. Mereka tidak pernah mau hidup damai.


Prabu Jabang Wiyagra pernah mencoba untuk menawarkan perdamaian kepada mereka semua. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau menerima tawaran itu. Karena mereka tidak mau 'menjilat ludah sendiri'.


Mereka orang-orang yang tidak pernah berhenti untuk mencoba dan terus berusaha untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka suka melakukan hal yang sama secara berulang-ulang sampai mereka benar-benar bisa melakukannya.


Awalnya Ditya Kalana ragu untuk bertemu dengan mereka, karena dia tidak yakin kalau kelima pendekar sakti itu bisa dipercaya. Apalagi dari penuturan Ki Benang Sengget diketahui kalau umur mereka sudah tua sekarang.


Kelima pendekar sakti itu tidak sama seperti gurunya, Ki Benang Sengget. Mereka semua masih bisa menua. Karena ilmu keabadian yang dimiliki oleh Ki Benang Sengget tidak seperti ilmu lainnya yang mudah untuk diwariskan.


Jika Ki Benang Sengget mewariskan ilmu keabadian itu kepada orang lain, maka Ki Benang Sengget akan mati. Dan raganya akan hancur lebur menjadi abu. Sehingga Ki Benang Sengget masih enggan untuk mewariskan ilmu itu kepada siapa pun.

__ADS_1


Walau pun dia sudah hidup selama ribuan tahun, tapi dia masih tetap ingin hidup lebih lama lagi. Sesakti apa pun Ki Benang Sengget, dia tetaplah manusia. Yang pada dasarnya, dia pun ketakutan kalau berhadapan dengan yang namanya 'kematian'. Karena itulah dia tidak mau melepaskan ilmu itu.


Ki Benang Sengget sudah pernah kalah ratusan kali. Tapi dia selalu saja bisa hidup kembali. Ilmu keabadian yang dimiliki oleh Ki Benang Sengget benar-benar luar biasa. Ilmu itu lebih tinggi dari Ajian Rawa Rontek dan Ajian Pancasona. Karena yang memiliki ilmu seperti Ki Benang Sengget, akan selalu hidup selamanya masih ada tanah untuk berpijak.


......................


Ditya Kalana mulai dekat dengan tempat Dwi Sangkar. Dia melewati berbagai tempat yang memiliki medan yang sangat sulit. Hutan tempat tinggal Ki Dampar dan Dwi Sangkar benar-benar sangat jauh dan sangat tersembunyi.


Dengan jalan yang sulit, mungkin tidak akan ada satu pun orang yang berfikiran untuk datang kesana. Apalagi hutan itu sangat angker, karena Ki Dampar dan Dwi Sangkar memiliki pasukan siluman yang menjaga hutan itu.


Para pasukan siluman milik Ki Dampar dan Dwi Sangkar sudah mengawasi kedatangan Ditya Kalana di tempat itu. Mereka juga diam-diam sudah memberitahu Ki Dampar dan Dwi Sangkar, kalau mereka berdua sudah kedatangan tamu dari jauh.


Ki Dampar dan Dwi Sangkar yang tahu kalau mereka akan kedatangan tamu dari jauh, merasa sangat senang. Karena selama ini Ki Dampar dan Dwi Sangkar hanya tinggal berdua saja tanpa seorang anak, dan tanpa siapa pun. Mereka benar-benar menutup diri mereka dari dunia luar.


Bagi mereka berdua, orang berhasil sampai ke tempat ini tanpa mendapatkan masalah, berarti dia bukan orang sembarangan, dan pasti satu pemahaman dengan mereka. Karena orang yang memiliki hati yang jujur dan lurus tidak akan bisa masuk ke tempat ini.


Kalau pun bisa, pasti mereka membutuhkan waktu yang lebih lama. Karena para pasukan siluman pasti akan menghadang mereka ditengah-tengah perjalanan. Dan tidak semua orang yang memiliki ilmu kanuragan bisa bertahan dari serangan para pasukan siluman.


Akhirnya, Ditya Kalana pun sampai disana. Di hutan belantara yang menyeramkan itu ternyata tersimpan suatu keindahan yang sangat luar biasa bagi Ditya Kalana. Disana hanya ada satu rumah. Rumah tersebut terbuat dari kayu. Tapi sangat indah dipandang, karena memiliki taman kecil di sekitar rumah itu.


Disana Ditya Kalana tidak mendapati adanya seseorang. Hanya ada suara kicauan burung dan juga suara gemericik air yang mengalir. Ditya Kalana melihat ada sebuah pohon yang memiliki bunga yang sangat indah. Entah itu pohon apa, Ditya Kalana sendiri tidak tahu. Yang jelas dia terpesona dengan semua keindahan di tempat ini.

__ADS_1


Dia lalu berteduh dibawah pohon yang indah itu. Dia merasakan hawa sejuk yang sangat menenangkan. Hawa yang sangat jarang ia rasakan. Apalagi setelah dia mulai berperang dengan Prabu Sura Kalana, jarang merasakan udara segar.


__ADS_2