
“Lalu bagaimana situasinya sekarang?” Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Patih Kinjiri.
“Gabah Lanang atau Prabu Tunggal Digdaya masih terus melawan, Gusti Prabu. Jelas dia tidak akan rela kalau kerajaannya dihancurkan begitu saja oleh Prabu Bujang Antasura.”
“Aku sebenarnya sudah muak dengan semua ini, Patih Kinjiri. Tapi kita harus berhati-hati dalam setiap hal. Terus awasi pertempuran itu. Dan aku ingin kamu membawa pasukanmu.”
“....Jika Prabu Bujang Antasura dan pasukannya kalah dari Gabah Lanang, maka kamu dan pasukanmu-lah yang akan mengambil alih pertempuran itu.”
“Baik Gusti Prabu. Hamba mohon diri.”
“Silahkan.”
Prabu Jabang Wiyagra sudah tahu tentang rencana penyerangan itu. Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak mau terlibat dalam pertempuran itu sebelum dia mengetahui secara pasti bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh Gabah Lanang. Karena sekarang, Gabah Lanang sudah jauh lebih sakti dari pada sebelumnya.
Ilmu yang diwariskan oleh Ki Damar Ireng kepada Gabah Lanang bukanlah ilmu sembarangan. Semuanya adalah ilmu tingkat tinggi, yang tidak semua orang bisa menandingi ilmu-ilmu tersebut. Disamping itu, masih ada musuh yang belum muncul ke permukaan.
Itu harus diwanti-wanti oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Karena Ditya Kalana kembali lenyap tanpa jejak. Dan bisa saja dia pun berguru kepada seseorang yang jauh lebih sakti dari Ki Damar Ireng.
Karena menurut informasi yang ia dapatkan dari Mangku Cendrasih, masih ada lagi orang yang kesaktiannya diatas Ki Damar Ireng. Dan dia juga bermusuhan dengan Ki Damar Ireng. Bahkan orang ini juga memusuhi hampir semua orang yang ia temui.
__ADS_1
Namun dengan melihat sosok Ditya Kalana, hasilnya pasti akan berbeda. Karena Ditya Kalana adalah keturunan seorang raja. Dan dia memiliki darah yang tidak dimiliki oleh semua orang. Darah seorang raja akan lebih menguntungkan dari darah orang biasa.
Kalau sampai Ditya Kalana berhasil bertemu dengan orang yang dimaksud Mangku Cendrasih, maka Ditya Kalana bisa jauh lebih mengerikan dari pada Gabah Lanang dan juga Ki Damar Ireng. Kesaktiannya bisa jauh melampaui kedua orang itu.
Untuk menghadapinya, perlu kekuatan lebih dari satu orang. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra sendiri pun belum tentu bisa menghadapi Ditya Kalana. Karena kabarnya, pendekar sakti yang tidak diketahui namanya itu akan mati jika dia mewariskan seluruh ilmu kesaktiannya kepada seseorang yang memang pantas memilikinya.
Dan orang yang diturunkan ilmu dari pendekar sakti itu, pasti akan menjadi sangat-sangat sakti. Mangku Cendrasih tidak bisa mengingat siapa nama pendekar sakti itu. Yang jelas, hanya guru dari Sang Maha Guru-lah yang pernah berhasil mengalahkannya.
Yang artinya, pendekar sakti itu sudah hidup selama ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Dan dia masih gagah perkasa sampai sekarang. Namun pendekar sakti itu juga tidak jauh berbeda dengan Ki Damar Ireng. Dia tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat tinggalnya, kecuali dia ingin mati.
Prabu Jabang Wiyagra pun semakin pusing dibuatnya. Menyatukan Tanah Jawa dibawah satu kepemimpinan memanglah tidak mudah, tapi dia juga tidak menyangka kalau semuanya akan berjalan sesulit ini. Karena musuh-musuhnya bukan hanya dari masa sekarang saja, tapi juga dari masa lalu.
“Kenapa Kanda?”
“Entahlah Dinda. Kanda sedang bingung. Harus apa lagi Kanda ini? Kanda kira semuanya tidak berjalan sesulit ini. Tapi.....”
“Kanda. Lihatlah keluar sana. Banyak orang yang memimpikan hal yang sama diimpan oleh Kakanda. Mereka semua ingin hidup damai dan tentram, tanpa peperangan.”
“......Kanda harus ingat, kalau semua yang Kanda lalui sekarang adalah bentuk rasa sayang Yang Maha Kuasa kepada hamba-Nya.”
__ADS_1
“Tapi, Kanda lelah Dinda. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi hasilnya selalu saja sama. Perang dihentikan dengan perang. Tidak ada satu pun dari raja-raja itu yang mau bersatu dan menghentikan ego mereka.”
“Kanda. Kanda tidak bisa merubah pikiran seseorang. Dan merubah orang jahat menjadi orang baik bukanlah tugas Kanda. Tugas Kanda hanyalah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan.”
Prabu Jabang Wiyagra mulai tenang mendengar ucapan dari istrinya. Hanya saja dia masih ragu dengan dirinya sendiri, karena sekarang banyak sekali musuh yang mulai bermunculan semenjak dia memulai peperangan.
“Coba Kanda lihat lagi Maha Patih Putra Candrasa, dulu siapakah dia? Hanya seorang pencuri. Patih Kinjiri. Prabu Sura Kalana. Dua orang itu adalah musuh Kanda. Apa itu bukan sebuah perubahan Kanda?”
Prabu Jabang Wiyagra merenungi ucapan istrinya, Ratu Ayu Anindya. Dia mengelus-elus janggutnya, dengan kedua bola matanya yang mengarah ke atas. Dia manggut-manggut, mengingat kalau semua yang diucapkan istinya memang benar.
Dulu Maha Patih Putra Candrasa hanyalah seorang gelandangan pencuri makanan. Semua orang meremehkannya. Bahkan semua orang memanggilnya dengan nama Copret. Patih Kinjiri, dia juga musuhnya sebelum ini. Tapi sekarang dia menjadi abdi setinya.
Begitu juga dengan Prabu Sura Kalana yang sekarang sudah menjadi muridnya. Dia juga mendukung sepenuhnya pergerakan Prabu Jabang Wiyagra. Dan sekarang, semua rakyat Kerajaan Wiyagra Malela sudah merasakan bagaimana pesatnya pertumbuhan pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra.
“Ya. Kamu benar Dinda. Mungkin Kanda hanya terlalu lelah karena setiap hari memikirkan kerajaan ini. Kanda harus beristirahat untuk sesaat. Dan lebih memperhatikan istri Kanda yang sangat cantik ini.”
Ratu Ayu Anindya tersipu malu mendapatkan pujian dari Prabu Jabang Wiyagra. Dan setelah hari itu, hubungan mereka berdua menjadi erat kembali seperti pengantin baru. Setelah sekian lama mereka berdua hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Apalagi dengan Prabu Jabang Wiyagra yang setiap hari sibuk dengan urusan kenergaraan sehingga dia harus mengesampingkan urusan pribadinya. Terutama dengan urusan mentalnya sendiri yang setiap hari dipukul oleh masalah yang datang bertubi-tubi.
__ADS_1
Mungkin bagi rakyat biasa, Kerajaan Wiyagra Malela terlihat baik-baik saja dan seakan tidak pernah ada masalah. Kalau pun ada masalah, Prabu Jabang Wiyagra selalu bisa mengatasinya. Tapi mereka tidak tahu bagaimana tertekannya Prabu Jabang Wiyagra dalam mengurus pemerintahannya sampai bisa berkembang sebaik ini.