DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 230


__ADS_3

Prabu Barajang memacu kudanya dengan cepat bersama para pasukannya. Dia sudah bersiap untuk menghabisi semua prajurit yang ada di benteng tersebut, dengan sebuah pedang yang ada di tangan kanannya. Sedangkan Mbah Gagang dan Maha Patih Kana Raga tetap berada di barisan belakang untuk mengawasi mereka semua.


"Apakah kita harus ke sana Gusti Patih?" Tanya Mbah Gagang kepada Maha Patih Kana Raga.


"Untuk apa Mbah Gagang? Biarkan saja raja bodoh itu bertarung dengan musuh-musuhnya, kita hanya tinggal ambil kesempatan saja. Dia pasti akan kelelahan menghadapi pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Dan aku juga yakin, Prabu Jabang Wiyagra pasti sudah menyiapkan jebakan untuk raja bodoh itu."


"Menurut Gusti Patih, apa yang akan dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra terhadap Prabu Barajang?"


"Apapun yang akan dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra, yang jelas itu akan membuat Prabu Barajang dan pasukannya merugi. Karena aku lebih percaya kalau Prabu Jabang Wiyagra bukanlah raja yang bodoh dan bisa diremehkan."


"Hamba sependapat Gusti Patih. Prabu Jabang Wiyagra tidak boleh dianggap remeh, begitu juga dengan para pasukannya."


"Ya."


Maha Patih Kana Raga hanya melihat dari kejauhan, bagaimana pergerakan yang dilakukan oleh Prabu Barajang dan para pasukannya. Sedangkan Prabu Barajang sendiri sudah hampir sampai di depan gerbang benteng pertahanan perbatasan Kota Karta Mulya. Walaupun Prabu Barajang terus-menerus digempur oleh para pasukan meriam, dia tetap tidak peduli, dan tetap melanjutkan serangannya.


"Prabu Barajang sudah semakin mendekat! Bagaimana ini Gusti Patih?!" Teriak seorang prajurit yang mulai panik melihat keberadaan Prabu Barajang yang sudah sangat dekat dengan pintu gerbang benteng pertahanan tersebut.


"Terus terus saja lakukan serangan! Jangan melihat ke kanan kiri pusatkan pandangan kepada sasaran!"


"Siap Gusti Patih!"


Dari atas kudanya yang sedang terpacu dengan sangat kencang, Prabu Barajang mulai menggunakan ilmu kanuragannya untuk menghancurkan gerbang, yang sebentar lagi akan ia capai.


"Hyaaaatttttt!!!"

__ADS_1


Prabu Barajang mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu menarik ke bawah, dan langsung mendorongnya ke arah pintu gerbang. Dan...


*


*


*


Di Pelabuhan...


"Serang terus! Serang! Jangan sisakan satupun dari mereka!" Perintah Nyi Dwi Sangkar yang memimpin langsung pasukan Kerajaan Bala Bathara, dalam penyerangan ke pelabuhan.


Nyi Dwi Sangkar sudah berhasil mengambil alih sebagian wilayah yang dikuasai oleh Panglima Galang Tantra dan Maha Patih Kumbandha. Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra, beserta seluruh pasukan yang ada di sana dibuat kocar-kacir menghadapi Nyi Dwi Sangkar dan pasukannya. Dikarenakan jumlah mereka yang jauh lebih banyak. Dan secara bergiliran terus berdatangan.


Mereka begitu brutal menyerang semua pasukan yang ada di tempat itu. Dibawah kepemimpinan Nyi Dwi Sangkar, para pasukan Kerajaan Bala Bathara menjadi sangat kejam. Nyi Dwi Sangkar benar-benar sudah membakar dendam dan amarah dalam diri mereka untuk melakukan balas dendam kepada Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Meski seharusnya Prabu Jabang Wiyagra-lah yang melakukan pembalasan itu.


"Nyi Dwi Sangkar."


"Bagaimana kekuatan pasukan ku Panglima? Hebat bukan?" Ucap Nyi Dwi Sangkar mengejek.


"Kamu boleh sombong sekarang. Tapi kita lihat saja hasilnya nanti, siapa yang akan mati di tempat ini." Jawab Panglima Galang Tantra yang langsung menyerang Nyi Dwi Sangkar dengan cepat.


Kemampuan yang dimiliki oleh Nyi Dwi Sangkar memang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Walaupun ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Nyi Dwi Sangkar berada di bawah Panglima Galang Tantra, tetapi Nyi Dwi Sangkar mampu menghindari dan menangkis serangan yang diberikan oleh Panglima Galang Tantra kepadanya. Walaupun sesekali memang dia terkena pukulan dan tendangan, tetapi Nyi Dwi Sangkar masih bisa bertahan dengan sangat baik.


"Kau benar-benar perempuan busuk Dwi Sangkar! Seharusnya kamu malu karena Prabu Jabang Wiyagra sudah pernah memberikanmu satu kali kesempatan untuk hidup! Tapi kamu malah menyia-nyiakannya!"

__ADS_1


"Dulu aku yang meminta Prabu Jabang Wiyagra untuk membunuhku! Tapi dia tidak mau! Dan dengan bodohnya memberikanku kesempatan untuk balas dendam! Jadi jangan salahkan aku!"


Mereka berdua bertarung sembari terus saling lempar mulut satu sama lain. Nyi Dwi Sangkar yang sudah kesetanan itu pun cara terus-menerus mencoba menyerang Panglima Galang Tantra. Tetapi Panglima Galang Tantra hanya berusaha untuk menghindari setiap serangan dari Nyi Dwi Sangkar. Sesuai dengan perintah Prabu Jabang Wiyagra, Nyi Dwi Sangkar menjadi bagian Prabu Jabang Wiyagra sendiri.


Kalaupun Nyi Dwi Sangkar harus mati, maka dia harus mati di tangan Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Galang Tantra sebenarnya tidak yakin kalau Prabu Jabang Wiyagra akan tega membunuh Nyi Dwi Sangkar. Mengingat kalau Nyi Dwi Sangkar adalah seseorang yang pernah sangat mencintai dirinya. Namun perasaan kasihan Prabu Jabang Wiyagra bisa saja sudah berubah menjadi amarah. Karena ulah Nyi Dwi Sangkar yang sudah kelewat batas, dan merugikan banyak orang.


"Sadarlah Nyi Dwi Sangkar! Lihat dirimu sekarang! kau sudah mengorbankan segalanya hanya demi membalaskan dendammu kepada Prabu Jabang Wiyagra! Yang tidak akan pernah tersampaikan!"


"Diam kamu orang tua! Lawan saja aku! Dan jangan banyak bicara! Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu hanyalah kacung!"


"Benar-benar kamu ini perempuan yang sangat-sangat busuk! Mulutmu dan hatimu sama sekali tidak mencerminkan jiwa perempuanmu! Tidak pantas orang perempuan berucap seperti itu!"


"Kamu pikir kamu siapa Panglima?! Kamu bahkan tidak mengenalku sama sekali! Kamu tidak tahu apapun tentang kehidupanku!"


Panglima Galang Tantra masih berusaha untuk bersabar dan memberikan kesempatan kepada Nyi Dwi Sangkar untuk kembali ke jalan yang benar. Panglima Galang Tantra sebenarnya sangat kasihan dengan keadaan Nyi Dwi Sangkar yang sedari kecilnya selalu tersakiti, hingga berubahnya menjadi sosok yang jahat dan kejam seperti sekarang ini. Tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan identitasnya sebagai seorang perempuan. Nyi Dwi Sangkar bahkan bisa jauh lebih kejam daripada laki-laki.


"Dwi Sangkar! Satu kesempatan lagi! Kembalilah ke jalan yang benar!"


Entah kenapa perasaan Panglima Galang Tantra tiba-tiba mulai berubah. Panglima Galang Tantra seperti merasakan sebuah rasa takut yang luar biasa. Bukan dari Nyi Dwi Sangkar, tetapi dari Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Galang Tantra merasa kalau Prabu Jabang Wiyagra sudah berada di tempat ini. Dia merasakan aura kemarahan dan kekejaman dari seorang Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Galang Tantra kau betul bagaimana saat Prabu Jabang Wiyagra sedang marah.


Bagi orang-orang sakti setingkat Panglima Galang Tantra, mereka sudah mampu merasakan kemarahan Prabu Jabang Wiyagra sekalipun dari jarak jauh. Kemarahan dan kebencian itu sangat kuat ia rasakan. Sehingga Panglima Galang Tantra berusaha untuk memberikan kesempatan kedua kepada Nyi Dwi Sangkar, untuk menghentikan peperangan ini, dan menarik seluruh pasukan Kerajaan Bala Bathara yang ia bawa.


Tetapi sangat sulit untuk merubah dendam dan kebencian Nyi Dwi Sangkar yang sudah mendarah daging, jauh di dalam dirinya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi untuk kembali ke jalanku yang dulu! Karena dulu aku hanyalah perempuan lemah tak berdaya, yang setiap hari harus merasakan penderitaan dan rasa sakit yang teramat pedih!"

__ADS_1


"Sangkar! Hentikan semua ini! Perintahkan pasukanmu untuk mundur! Dan hadapi aku sekarang!" Teriak seseorang dari kejauhan.


Teriakan itu seakan membuat tanah bergetar. Para pasukannya sedang bertarung pun seketika berhenti. Pandangan mereka langsung tertuju kepada seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana. Dan siapa lagi kalau bukan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra menatap tajam penuh amarah ke arah Nyi Dwi Sangkar. Tangannya menggenggam dengan sangat kuat. Seakan ingin memukul dan merusak wajah Nyi Dwi Sangkar yang berada hanya beberapa langkah di hadapannya.


__ADS_2