
Pernikahan Nyai Sukma Jaya dengan Maha Patih Putra Candrasa berlangsung dengan sangat meriah. Banyak sekali tamu-tamu dari kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bawah pimpinan Prabu Kalarang. Dan kebanyakan mereka ternyata juga keturunan silang antara bangsa jin dan bangsa manusia.
Mereka semua memiliki ciri fisik yang bermacam-macam. Maha Patih Putra Candrasa tidak heran melihat fisik mereka, karena sudah terbiasa melihat hal yang jauh lebih aneh daripada itu. Walaupun dengan fisik yang sangat berbeda dari manusia, tapi mereka semua adalah makhluk yang baik.
Mereka bahkan sangat santun dan saling menyapa satu sama lain. Dan yang luar biasa adalah, antara satu dengan yang lainnya, mereka semua saling mengenal. Pesta pernikahan itu diiringi dengan tari-tarian, dan juga musik khas dari Kerajaaan Kalarang. Masih ada juga beberapa pertunjukan lain yang membuat acara tersebut semakin meriah.
Maha Patih Putra Candrasa dan Nyai Sukma Jaya sekarang sudah sah menjadi suami istri. Seperti para pengantin baru pada umumnya, mereka berdua dibiarkan dalam satu kamar untuk menikmati masa-masa indah mereka, di hari pertama pernikahan. Sedangkan pesta masih tetap berlangsung.
Semakin malam, maka akan semakin banyak tamu yang datang. Dan dari kejauhan, ada sekelompok jin beraliran hitam yang sedang mengawasi pesta tersebut. Namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ternyata, Maha Patih Putra Candrasa dan Prabu Kalarang sudah mempersiapkan segalanya sejak awal.
Maha Patih Putra Candrasa dan Prabu Kalarang sudah melindungi seluruh wilayah Kerajaan Kalarang dengan pagar ghaib. Ditambah lagi dengan adanya sebuah tanaman yang sangat-sangat dihindari oleh para jin beraliran hitam tersebut. Kalau mereka menerobos masuk, maka mereka akan langsung terbakar.
Para pasukan dari Prabu Kalarang sudah mengetahui adanya keberadaan para jin beraliran hitam itu. Namun mereka hanya mengejeknya dari kejauhan, karena para jin-jin jahat tersebut terlihat seperti sekumpulan anak kecil. Padahal kalau di kandang sendiri, mereka terlihat sangat garang.
Apalagi sekarang sebagian besar wilayah mereka juga sudah diambil alih oleh Prabu Kalarang dan pasukannya. Penyerangan yang dilakukan oleh Maha Patih Putra Candrasa memancing semua jin yang beraliran putih untuk sama-sama melakukan perlawanan, terhadap penindasan jin aliran hitam.
Jumlah pasukan dari Prabu Kalarang semakin bertambah dan semakin kuat. Bahkan tidak jarang juga, para jin yang beraliran hitam kemudian melakukan pembersihan, dan memilih bergabung dengan Prabu Kalarang dan pasukannya. Sehingga mempersulit pergerakan jin dari kelompok aliran hitam.
Kekuasaan jin aliran hitam, semakin hari semakin meruntuh. Banyak dari mereka yang kemudian melakukan pembersihan diri. Dan kembali kepada jalan yang benar. Hal itu membuat para raja jin dari aliran hitam menjadi sangat murka. Karena cara perlahan, mereka mulai tersisihkan dari wilayah mereka sendiri.
__ADS_1
Setelah pesta pernikahan Nyai Sukma Jaya dan Maha Patih Putra Candrasa selesai pun, masih ada saja pertikaian antara jin beraliran hitam dengan jin beraliran putih. Namun karena kalah jumlah, jin beraliran hitam banyak sekali yang tewas.dan membuat kedudukan Prabu Kalarang semakin naik ke atas awan.
Para pasukan yang dilatih oleh Maha Patih Putra Candrasa memiliki peningkatan yang sangat baik, dan melampaui batas mereka selama ini. Maha Patih Putra Candrasa sudah sangat jarang turun ke pertempuran secara langsung. Maha Patih Putra Candrasa lebih banyak mengawasi, dan menunggu hasil dari belakang layar.
Pada waktunya nanti, para pasukan Prabu Kalarang harus sudah bisa membiasakan diri mereka, tanpa adanya Maha Patih Putra Candrasa. Karena tidak akan lama lagi, Maha Patih Putra Candrasa harus pergi meninggalkan tempat ini dan kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela, untuk melanjutkan pengabdiannya.
Tidak terasa, Maha Patih Putra Candrasa sudah satu tahun berada di tempat ini. Dia sudah mengalami banyak hal. Melewati banyak sekali rintangan dan juga cobaan, yang seakan tiada henti mendatanginya.
"Romo Prabu, sudah waktunya saya pergi bersama Dinda Sukma Jaya. Saya ingin melanjutkan kembali pengabdian saya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Mohon beri kami restu, Romo Prabu." Ucap Maha Patih Putra Candrasa kepada Prabu Kalarang.
"Ya. Aku restui kepergian kalian. Dan ingatlah selalu, setiap kali ada masalah, jangan kalian selesaikan dengan amarah. Jagalah rumah tangga kalian baik-baik. Saling melindungi satu sama lain. Mencintai dan saling menyayangi."
"Nggih Romo Prabu."
"Berjalanlah terus, lurus ke depan, sampai kalian berdua menemukan sebuah cahaya. Jangan pernah menengok ke belakang. Kalian paham?"
"Paham Romo."
Nyai Sukma Jaya memegang tangan Maha Patih Putra Candrasa erat-erat. Tapi disini yang merasakan kengerian adalah Maha Patih Putra Candrasa sendiri. Sangat berbeda dengan istrinya yang berjalan dengan sangat tenang. Dalam kegelapan yang cukup panjang itu, mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Hingga akhirnya, mereka menemukan cahaya yang sangat terang. Dan dalam sekejap mata, Maha Patih Putra Candrasa bersama Nyai Sukma Jaya sampai ke ruangan yang tempat terakhir kalinya Maha Patih Putra Candrasa bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.
"Luar biasa. Aku bangga kepadamu Maha Patih." Ucap Prabu Jabang Wiyagra yang ternyata sudah sedari tadi duduk di kursi goyangnya yang ada di ruangan itu.
"Gusti Prabu? Terimalah hormat hamba Gusti Prabu." Ucap Maha Patih Putra Candrasa sembari bertekuk lutut di hadapan Prabu Jabang Wiyagra.
"Bangunlah Maha Patih."
"Hamba meminta maaf atas kepergian hamba selama ini Gusti Prabu. Tidak terasa sudah satu tahun ini hamba meninggalkan Kerajaan Wiyagra Malela."
".....Hamba benar-benar meminta maaf kepada Gusti Prabu, karena sudah meninggalkan tanggung jawab hamba sebagai seorang Maha Patih." Ucap Maha Patih Putra Candrasa.
"Satu tahun? Tidak Maha Patih. Kau baru saja pergi tadi pagi." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari tersenyum.
Maha Patih Putra Candrasa menatap Prabu Jabang Wiyagra dan juga istrinya karena heran dengan jawaban itu. Sejauh yang Maha Patih Putra Candrasa tahu, alam ghaib tidak jauh berbeda dengan alam manusia. Mulai dari tempat dan juga waktunya.
Namun Prabu Jabang Wiyagra menjelaskan, kalau dimensi yang ditempati oleh Prabu Kalarang adalah dimensi yang berbeda. Alam ghaib memiliki banyak sekali lapisan dimensi. Dan setiap dimensi memiliki aturan waktu yang berbeda-beda, tergantung tingkatan dari dimensi tersebut.
Jadi, tempat Prabu Kalarang adalah dimensi yang posisinya cukup tinggi, sehingga aturan waktunya sudah jauh berbeda. Satu tahun di tempat itu, adalah satu hari di tempat ini. Dan Maha Patih Putra Candrasa baru pergi selama satu hari, jika menggunakan aturan waktu di alam ini.
__ADS_1
Sedangkan di alam Prabu Kalarang, Maha Patih Putra Candrasa sudah berada disana selama satu tahun. Bahkan Maha Patih Putra Candrasa sudah mengalami banyak sekali hal yang tidak akan cukup jika diceritakan dalam satu hari. Dan ternyata, Prabu Jabang Wiyagra sudah sering berkunjung kesana. Bahkan hampir setiap hari.
Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat bangga kepada Maha Patih Putra Candrasa, karena mau menerima perjodohan itu. Hal itu akan membuat hubungan Kerajaan Wiyagra Malela dengan Kerajaan Kalarang akan semakin erat. Dan kedua kerajaan besar ini bisa saling membantu satu sama lain.