
Setelah sekian lama terbaring lemah dan tidak sadarkan diri, sekarang Mbah Kangkas sudah sembuh dari semua sakit yang dialaminya. Walaupun belum sembuh sepenuhnya, tetapi setidaknya Mbah Kangkas sudah bisa berdiri dan makan sendiri. Di sinilah semua permasalahannya mulai terbongkar. Mbah Kangkas dimintai keterangan secara langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra.
"Sebenarnya, apa yang terjadi di sana Mbah?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
"Hamba minta maaf Gusti Prabu. Karena tidak bisa menjaga para pendekar yang lainnya, yang Gusti Prabu kirimkan ke padepokan hamba. Walaupun hamba belum tahu secara pasti bagaimana keadaan mereka, tetapi hamba yakin, kalaupun mereka masih hidup, mereka benar-benar sedang dalam keadaan yang sangat menderita sekarang ini."
"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu atas peristiwa itu Mbah Kangkas. Tetapi aku perlu mengetahui secara pasti apa yang terjadi di sana."
"Jadi begini Gusti Prabu..." Mbah Kangkas mulai menceritakan semuanya dari awal.
Pada hari di mana saat penyerangan di Padepokan Mbah Kangkas terjadi, sebenarnya Puger Satriya, Arya Panunggul, dan para pendekar yang lain sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Karena hari itu juga mereka akan melakukan penyerangan kepada para pasukan Nyi Dwi Sangkar, dan juga para pasukan Prabu Barajang yang masih tersisa.
Tapi yang tidak pernah mereka sangka-sangka adalah, hari itu juga datang sekelompok orang dari sebuah perguruan ilmu hitam, yang ternyata dipimpin oleh Ratna Malangi. Ratna Malangi menuntut balas atas kematian kakaknya kepada Mbah Kangkas. Karena Mbah Kangkas adalah mantan anggota kelompok Satrio Luhur.
__ADS_1
Meskipun Mbah Kangkas tidak terlibat dalam pembunuhan Ganda Ruwo, tetapi karena Mbah Kangkas adalah mantan anggota Satrio Luhur, maka dia pun masuk ke dalam daftar pencarian Ratna Marangi. Karena Ratna Marangi juga sudah bersumpah akan menghabisi semua anggota Satrio Luhur yang saat ini masih hidup. Dan Ratna Marangi tidak akan peduli seberapa besar kesaktian yang dimiliki oleh musuh-musuhnya.
Sekalipun musuh-musuhnya memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi dari dirinya, Ratna Marangi tidak akan berhenti untuk memburu mereka. Mbah Kangkas sama sekali tidak mengetahui perburuan yang dilakukan Ratna Malangi, karena Mbah Kangkas tidak pernah mengetahui tentang Ratna Malangi sebelumnya. Mbah Kangkas tidak pernah menyangka kalau dia juga memiliki musuh dari masa lalu.
Dan selama puluhan tahun ini, Ratna Malangi sudah menjelajahi seluruh tempat yang ada di Tanah Jawa, untuk mencari keberadaan para mantan anggota Satrio Luhur. Entah sudah berapa banyak mantan anggota Satrio Luhur yang sudah Ratna Malangi bunuh. Namun menurut Mbah Kangkas, Ratna Malangi sudah membunuh ratusan orang yang pernah menjadi anggota kelompok Satrio Luhur.
"Hamba sangat yakin Gusti Prabu, kalau Ratna Malangi sudah membunuh ratusan saudara-saudara hamba yang tersebar di seluruh lapisan Tanah Jawa ini. Dan bukan hanya yang ada di Tanah Jawa saja, Ratna Malangi pasti juga menjelajahi negeri seberang, untuk membalaskan dendamnya." Ucap Mbah Kangkas kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Lalu bagaimana bisa? Ratna Malangi mengetahui siapa saja yang menjadi mantan anggota Satrio Luhur, Mbah?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
Tapi dari sekian banyak anggota kelompok Satrio Luhur, hanya orang-orang yang benar-benar setia kepada Wira Satya yang bisa mendapatkannya. Dengan terpaksa, Mbah Kangkas juga menunjukkan lambang tersebut, yang sampai sekarang masih ada di punggungnya. Prabu Jabang Wiyagra keheranan melihat hal itu karena lambang itu muncul segaris demi segaris, dan memancarkan cahaya berkilauan emas.
Sebuah tongkat yang dililit akar, dan dikelilingi oleh lambang segitiga itu, menjadi lambang sakral bagi kelompok Satrio Luhur. Lambang itu memiliki sebuah makna yang agung. Segitiga melambangkan kesetiaan, kejujuran, dan kasih sayang. Sedangkan tongkat yang dililit akar mengartikan sebuah kekuatan persaudaraan. Prabu Jabang Wiyagra sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra tidak habis pikir bagaimana ada sebuah kekuatan ghaib yang mampu menciptakan sebuah lambang yang selama bertahun-tahun menghinggapi tubuh manusia. Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa membayangkan bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Wira Satya pada masa itu, sehingga dia bisa membuat lambang dengan sebuah mantra ghaib yang sangat kuat.
Namun, di sini Mbah Kangkas menjadi sangat sedih dengan apa yang dialami oleh Wira Satya. Mbah Kangkas masih mengingat dengan jelas disaat Wira Satya dilempar oleh Eyang Badranaya ke dalam kawah gunung berapi. Semua anggota kelompok Satrio Luhur kala itu menangis menjerit melihat peristiwa tersebut. Karena mereka tidak pernah menyangka kalau Wira Sartya akan lupa dengan tujuan utamanya.
"Hamba masih bisa merasakan, bagaimana rasa sakitnya pada waktu itu Gusti Prabu. Semua orang yang menjadi anggota kelompok Satrio Luhur sama sekali tidak menyangka, kalau Panglima Agung Wira Satya akan berakhir dengan cara yang sangat menyedihkan." Ucap Mbah Kangkas sembari meneteskan air mata, mengingat peristiwa menyedihkan itu.
"Maafkan aku Mbah Kangkas. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dialami oleh Mbah Kangkas dan juga orang-orang pada masa itu. Sekali lagi, aku meminta maaf Mbah Kangkas."
"Tidak perlu meminta maaf, Gusti Prabu. Hamba dan juga Sang Maha Guru sudah belajar untuk mengikhlaskan peristiwa itu. Meskipun rasanya begitu menyakitkan jika diingat kembali, tetapi hamba merasa senang karena Gusti Prabu mau mendengarkan cerita masa lalu hamba, dengan saudara-saudara hamba."
"....Panglima Galang Tantra juga pasti tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Karena dialah yang tanpa sengaja sudah membunuh Ganda Ruwo. Panglima Galang Tantra sempat tidak mau bertemu dengan siapapun selama bertahun-tahun. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam kesepian. Hingga dia dipertemukan dengan Gusti Prabu."
Prabu Jabang Wiyagra tertunduk lesu mendengarkan ucapan Mbah Kangkas. Selama ini Panglima Galang Tantra tidak pernah menceritakan secara gamblang bagaimana masa lalunya yang menyakitkan itu. Panglima Galang Tantra hanya menceritakan beberapa hal saja, yang menurutnya penting untuk diketahui oleh Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Tidak heran kalau sekarang Panglima Galang Tantra masih selalu berusaha untuk menyembunyikan kekuatan terbesarnya. Panglima Galang Tantra jelas tidak mau lagi menyakiti seseorang. Andaikan Dia memiliki pilihan, dia pasti akan lebih memilih untuk tetap menyendiri. Karena rasa sakit itu ternyata juga dialami oleh semua para anggota kelompok Satrio Luhur.
Dan pada masa sekarang, jarang sekali orang yang mengetahui kisah tentang kelompok Satrio Luhur yang sangat melegenda. Cerita itu hanya disampaikan dari mulut ke mulut, karena semua catatan perjalanan kelompok Satrio Luhur sudah dilenyapkan. Di masa pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra, jejak kelompok Satrio Luhur sudah tidak ada lagi. Mereka lenyap ditelan bumi.