
Di hari berikutnya, Patri Asih memerintahkan para pengikutnya untuk menemui Intan Senggani di sebuah gua yang menjadi tempat pertapaannya. Dua orang pengikut perempuan berangkat ke sana dengan membawa perintah dari Patri Asih. Letak wilayah gua pertapaan Intan Senggani dan markas besar Patri Asih terbilang cukup jauh. Namun dua orang utusan yang sudah dibekali dengan ilmu kanuragan yang mumpuni itu, mampu melakukan perjalanan dalam kurun waktu satu hari. Dua orang utusan itu sempat melihat adanya pergerakan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, di Kerajaan Putra Bathara. Nampak kalau pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela masih membersihkan sisa-sisa jasad pasukan Prabu Gala Ganda yang tertinggal.
Mereka berdua yang sudah biasa melihat kematian, untuk kali ini mereka merasakan ada sesuatu yang berbeda. Hal yang terjadi kepada Kerajaan Putra Bathara nampak mengerikan untuk mereka berdua. Membuktikan kalau pasukan Prabu Jabang Wiyagra memang tidak bisa diremehkan. Hanya dengan jumlah pasukan yang terbatas, Pasukan Bara Jaya yang kala itu dipimpin oleh Prabu Putra Candrasa, mampu menghabisi ratusan prajurit Kerajaan Putra Bathara. Berikut juga dengan para Patih kerajaan. Jasad mereka dikuburkan tidak jauh dari letak istana Kerajaan Putra Bathara. Terlihat juga kalau ada beberapa orang prajurit yang sedang membuat sebuah tugu.
Dua orang itu menghilang dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk bisa mencapai gua yang dimaksud oleh Patri Asih. Yang menjadi tempat persembunyian bagi Intan Senggani. Yang ternyata, gua itu juga terletak tidak jauh dari istana Kerajaan Putra Bathara. Di sini mereka berdua sudah bisa mengambil kesimpulan, kalau Intan Senggani juga sudah mengetahui penyerangan yang dilakukan oleh Prabu Putra Candrasa dan pasukannya. Sekaligus kehadiran Patri Asih di istana Kerajaan Putra Bathara pada waktu itu. Mereka berdua yang belum mengetahui secara pasti kemampuan yang dimiliki Intan Senggani, menjadi khawatir dengan keadaan mereka. Karena bisa saja mereka dibunuh oleh Intan Senggani. Apalagi Intan Senggani nampaknya tidak terlalu suka dengan Patri Asih. Karena belum pernah bertemu.
*
*
Setelah sampai di gua yang dimaksud oleh Patri Asih, dua orang utusan itu langsung memasuki gua tersebut. Mereka mencoba memberikan salam kepada Intan Senggani. Yang kala itu sedang duduk bersantai di gua itu, sembari menikmati banyak sekali hidangan di hadapannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dua orang utusan itu langsung dibuat terkejut. Karena Intan Senggani sudah mengetahui tujuan mereka datang ke tempat ini. Dan yang lebih menjengkelkan bagi mereka berdua adalah, Intan Senggani menolak mentah-mentah ajakan dari Patri Asih. Intan Senggani tidak mau menjadi kacung siapapun. Dia ingin berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tanpa ada campur tangan dari orang lain.
"Aku sudah mengetahui apa tujuan kalian berdua datang ke tempat ini. Dan jawabanku, aku menolak ajakan dari pimpinan kalian itu. Aku tidak mau menjadi budak siapapun. Kembalilah ke tempat kalian. Sebelum aku benar-benar berubah pikiran." Ucap Intan Senggani kepada mereka berdua.
"Mohon maaf Nyai Intan Senggani, kami berdua hanya menyampaikan apa yang harus kami sampaikan. Kami tidak mau ikut campur dengan keputusan yang diberikan oleh Nyai. Namun, kalau Nyai menolak, Nyai Patri Asih tidak akan segan untuk melakukan kekerasan." Jawab salah satu dari mereka.
Mendengar jawaban itu, Intan Senggani langsung menatap mereka dengan tajam. Dia mengeluarkan kata-kata kasar kepada mereka berdua. Bahkan menantang Patri Asih untuk bertarung dengannya secara langsung. Tanpa melibatkan para pengikutnya.
"Perse-tan! Kalian benar-benar tamu yang tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku tidak membunuh kalian di tengah perjalanan! Kembalilah ke tempat kalian! Baji-ngan! Dan katakan kepada Patri Asih! Kalau aku menantangnya untuk adu kesaktian." Kata Intan Senggani.
__ADS_1
Dua orang utusan itu penasaran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Intan Senggani. Mereka berdua akhirnya menyerang Intan Senggani dengan segenap kesaktian yang mereka miliki. Tendangan serta pukulan, dengan gesit mereka layangkan kepada Intan Senggani. Namun, Intan Senggani jauh lebih hebat daripada mereka berdua. Dengan satu kali hentakan kaki, dua orang utusan itu langsung terlempar keluar dari gua. Mereka perjuangan langsung memuntahkan darah dari mulut mereka. Terkapar di tanah, tak berdaya. Mereka kalau memohon untuk tidak dibunuh. Dan mereka berdua berjanji, akan kembali ke tempat mereka, untuk menyampaikan pesan dari Intan Senggani untuk Patri Asih.
"Ampun Nyi! Ampun! Tolong jangan bunuh kami berdua Nyi. Kami berdua hanya menjalankan tugas dari pemimpin kami."
"Kalau begitu, sekarang kalian kembalilah. Dan sampaikan pesanku kepada Patri Asih. Aku akan menunggunya di jalan itu." Ucap Intan Senggani sembari menuju ke arah sebuah tempat.
"Baik Nyi. Kami akan menyampaikan semuanya kepada Nyai Patri Asih."
"Cepat!" Bentak Intan Senggani kepada dua orang utusan itu.
Mereka berdua pun langsung lari terbirit-birit. Mereka tidak memiliki pilihan lain, selain kembali ke markas besar. Karena jika mereka tetap bertahan di sini, maka mereka berdua akan mati. Padahal, perintah dari Patri Asih adalah untuk mendesak Intan Senggani, agar mau bergabung dengan dirinya. Jika tidak, maka tuh orang utusan itu harus melakukan kekerasan. Tapi bagaimana mau melakukan kekerasan? Mereka berdua bukanlah lawan yang seimbang untuk Intan Senggani. Mereka bagaikan anak kecil di mata seorang Intan Senggani, yang sekarang sudah bertambah sakti. Karena dia telah berhasil menguasai semua kekuatan, yang diwarisi oleh si iblis yang telah disembahnya itu. Sehingga sekarang, Intan Senggani sepuluh kali lipat jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
*
*
"Bagaimana mungkin kalian bisa dikalahkan hanya dengan satu hentakan?!"
"....Aku tidak percaya, kalau sekarang Intan Senggani sudah bertambah sakti!"
__ADS_1
"Maaf Nyi. Intan Senggani bahkan menantang Nyai untuk bertarung dengannya. Dia bilang, dia tidak mau diperbudak oleh siapapun. Dia ingin berdiri dengan dua kakinya sendiri. Tanpa ada campur tangan pihak manapun. Termasuk Nyai Patri Asih sendiri." Jawab salah satu dari dua orang itu.
"Kurang ajar Intan Senggani! Aku akan menerima tantangan darinya! Aku pastikan dia akan tunduk di bawah perintahku!"
"Mohon maaf Nyi, sebaiknya Nyai jangan ke sana. Intan Senggani pasti sudah menyiapkan banyak sekali jebakan untuk Nyai. Intan Senggani pasti sengaja ingin memancing kedatangan Nyai Patri Asih. Apalagi sekarang dia sudah bertambah sakti. Tentu dia memilih rencana lain untuk Nyai Patri Asih." Kata salah seorang pengikut Patri Asih, yang juga ada di sana.
"Lalu apa saranmu?" Tanya Patri Asih kepada laki-laki yang memberikan nasehat kepadanya.
"Sebaiknya, biarkan kami dulu yang datang ke sana. Untuk memastikan kalau keadaan di sana baik-baik saja. Setelah itu, barulah Nyai datang menyusul kami. Karena kalau sampai terjadi sesuatu dengan Nyai, maka semua rencana yang sudah Nyai buat, akan gagal begitu saja."
"Apa maksudmu?!"
"Maaf Nyi. Saat ini Prabu Jabang Wiyagra juga sedang gencar melakukan penyisiran ke seluruh wilayah kekuasaannya. Intan Senggani adalah salah satu sasaran utama yang akan dia tangkap. Prabu Jabang Wiyagra akan menyiksa Intan Senggani terlebih dahulu. Setelah bosan, barulah Prabu Jabang Wiyagra akan menjatuhkan hukuman pancung kepada musuh-musuhnya. Saya yakin, Nyai juga salah satu sasaran utamanya."
"Ya. Masuk akal juga. Tapi, apa kamu bisa memastikan kalau semuanya akan baik-baik saja?"
"Saya tidak akan bisa memastikan kalau semuanya akan berjalan dengan baik, Nyi. Tapi, rencana itu patut untuk dicoba. Kalaupun terjadi penyerangan ataupun jebakan, yang baik dilakukan oleh Intan Senggani ataupun Prabu Jabang Wiyagra, setidaknya Nyai memiliki banyak kesempatan untuk pergi dari sana. Tak hanya itu, Nyai juga memiliki kesempatan besar untuk selamat dari serangan dan jebakan tersebut."
Mendengar nasehat yang bagus dari salah satu pengikut setianya, Patri Asih pun setuju dengan rencana itu. Apa yang dikatakan oleh salah satu pengikut setianya itu memang benar. Sekarang ini Patri Asih sudah menjadi sasaran utama Prabu Jabang Wiyagra dan juga para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Di manapun dia berada, para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela pasti akan mengejarnya. Bahkan membunuhnya. Karena jika Patri Asih sampai jatuh di tangan para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, maka tidak ada yang namanya kata ampun. Patri Asih akan dihajar habis-habisan. Sama seperti musuh-musuh Sang Maha Raja yang lainnya. Kalau sampai Patri Asih tertangkap, dan dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, maka tamatlah sudah riwayatnya.
__ADS_1