
Kematian Ganda Ruwo dan hilangnya Ratna Malangi menyebar ke seluruh penjuru. Mereka ramai menjadi perbincangan semua orang. Sebagian besar orang merasa senang atas kematian Ganda Ruwo. Tapi, hilangnya Ratna Malangi inilah yang kemudian menjadi masalah besar bagi kelompok Satrio Luhur. Terutama dengan Wira Satya. Dia merasa khawatir kalau sampai Ratna Malangi akan menuntut balas atas semua yang ia alami bersama dengan kakaknya, suatu hari nanti.
Begitu juga dengan Panglima Galang Tantra. Dia merasa sangat bersalah karena mau mengikuti perintah dari Wira Satya, yang justru membuat masalah semakin bertambah rumit. Para anggota kelompok Satrio Luhur juga sangat menyangkan hal itu. Karena selama ini, Wira Satya dikenal sebagai orang yang sangat bijak dalam mengambil segala keputusan. Tapi kali ini, Wira Satya begitu teledor dan melakukan semuanya tanpa perhitungan yang matang.
Panglima Galang Tantra dan Wira Satya akhirnya berdebat dan bertengkar hebat. Panglima Galang Tantra sangat menyesali apa yang sudah ia lakukan kepada Ganda Ruwo. Karena kejadian malam itu, Ratna Malangi juga harus menanggung akibat dari keteledoran Wira Satya dan Panglima Galang Tantra. Dari pertengkaran, timbullah pertarungan. Entah kenapa, Wira Satya menjadi sangat angkuh dan sangat berbeda dari sebelumnya.
Sebelumnya Wira Satya adalah orang yang sangat lembut dan tidak terlalu suka dengan kekerasan. Tetapi sekarang, Wira Satya menjadi berangasan dan menjadi sangat liar. Wira Satya bahkan menyalahkan Panglima Galang Tantra, karena dia dianggap bodoh dalam melakukan tindakan. Padahal, tanpa perintahnya, Panglima Galang Tantra tidak akan melakukan hal itu. Pertarungan mereka berdua diketahui oleh Eyang Badranaya.
Eyang Badranaya langsung turun tangan untuk menghentikan pertarungan sengit itu. Jelas Wira Satya tidak akan mampu menghadapi kesaktian yang dimiliki oleh Eyang Badranaya. Karena hanya dengan menempelkan ujung jarinya ke kepala Wira Satya, seluruh kesaktian yang Wira Satya langsung lengap seketika. Wira Satya pun dihukum oleh Eyang Badranaya atas kekejian yang ia lakukan kepada Ganda Ruwo.
Eyang Badranaya menghukum Wira Satya dengan cara memasukkannya ke sebuah kawah salah satu gunung berapi. Karena meskipun Wira Satya sudah kehilangan seluruh kesaktiannya, Wira Satya akan tetap hidup abadi, tidak bisa mati. Hal itu disebabkan karena Wira Satya memiliki satu ilmu yang tidak bisa dihilangkan, yang membuatnya akan terus hidup sampai umur dunia berakhir nanti.
Ilmu yang dimiliki oleh Wira Satya itu adalah ilmu yang diwariskan Eyang Badranaya kepadanya, untuk kebajikan. Namun, karena kekuasaan dan kekuatan yang ia miliki, Wira Satya menjadi lupa dengan tujuan-tujuannya. Dan tingkah polahnya semakin lama semakin mirip dengan Kawirit dan Ganda Ruwo. Panglima Galang Tantra yang terlibat juga harus mendapatkan hukuman. Panglima Galang Tantra dikutuk akan sulit untuk mati.
__ADS_1
Kecuali, Panglima Galang Tantra mau mengabdikan diri kepada seorang raja yang adil dan bijaksana. Memiliki hati lurus dan tidak bukan seorang pelupa, seperti Wira Satya. Dan Sang Raja itulah yang hanya bisa mengalahkan kesaktian Panglima Galang Tantra. Siapa lagi kalau bukan Prabu Jabang Wiyagra. Seseorang yang juga dididik secara langsung oleh Eyang Badranaya, dan juga saudara satu rumpun Panglima Galang Tantra, yaitu Sang Maha Guru.
Umur Panglima Galang Tantra sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Sang Maha Guru, atau yang dulu dikenal sebagai Abdi Prawira. Namun wajah Panglima Galang Tantra sekaan tidak pernah berubah, karena Panglima Galang Tantra mengalami penuaan yang sangat lamban. Sehingga dia tetap terlihat awet muda. Karena hal itulah Panglima Galang Tantra sekarang menjadi abdi setia Prabu Jabang Wiyagra.
Dan semenjak Wira Satya dihukum oleh Eyang Badranaya, kelompok Satrio Luhur dibubarkan. Semua anggota kelompok Satrio Luhur berpindah tempat ke berbagai daerah. Ada yang membuka padepokan, ada yang membuka usaha, ada yang menjadi pekerja kasar, dan ada juga yang menjadi seorang pemuka agama. Semua anggota kelompok Satrio Luhur berusaha keras untuk melupakan masa kelam mereka masing-masing.
*
*
*
Dan di sinilah Ratna Malangi kembali harus menelan kepahitan. Karena Wira Satya sudah tidak ada lagi. Kelompok Satrio Luhur sudah dibubarkan. Orang yang sangat ingin ia habisi justru sudah pergi. Untuk memuaskan hasrat dendamnya yang sudah menggebu-gebu, Ratna Malangi lalu mendatangi satu persatu mantan-mantan anggota kelompok Satrio Luhur, dan juga orang-orang yang pernah memperkosanya. Dia membunuh mereka semua tanpa menyisakan satu orangpun.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Ratna Malangi berhasil menemukan keberadaan Panglima Galang Tantra. Mereka berdua bertarung dengan sangat sengit. Pertarungan antara Panglima Galang Tantra dan Ratna Malangi berlangsung selama sembilan hari sembilan malam. Dan pertarungan itu berhasil dimenangkan oleh Panglima Galang Tantra. Karena kesaktian yang dimiliki Panglima Galang Tantra sudah bertambah.
Tetapi pertarungan itu sama sekali belum selesai. Ratna Malangi yang mersa tidak terima dengan kekalahannya, mulai menggunakan sebuah ilmu hitam sangat-sangat langka. Saking hebatnya ilmu tersebut, pada pertarungan selanjutnya Ratna Malangi berhasil membuat Panglima Galang Tantra kalah dan mengalami luka yang sangat-sangat parah. Panglima Galang Tantra benar-benar dibuat kalah telak.
Dalam kondisi yang hampir mati, tiba-tiba Abdi Prawira hadir di pertarungan itu, untuk menolong Panglima Galang Tantra. Hanya dengan beberapa kali serangan saja, Abdi Prawira sudah mampu membuat Ratna Malangi tumbang. Namun, saat itu Panglima Galang Tantra melarang Abdi Prawira atau Sang Maha Guru, untuk membunuh Ratna Malangi. Karena Panglima Galang Tantra tidak tega melihat Ratna Malangi mati.
Namun yang tidak disangka oleh Panglima Galang Tantra adalah, dia mengira kalau Ratna Malangi akan berubah menjadi orang yang baik. Tapi kenyataannya tidak. Ratna Malangi justru kembali memperdalam ilmu yang ia miliki. Dan tidak akan pernah berhenti untuk mengganggu hidup Panglima Galang Tantra. Abdi Prawira yang tidak terima sahabatnya terus-menerus diganggu tanpa henti oleh Ratna Malangi, dengan terpaksa langsung menghajar Ratna Malangi.
Dengan semua ilmu yang ia miliki, Abdi Prawira membuat Ratna Malangi terkurung dalam sebuah wilayah hutan belantara. Sampai kapanpun, Ratna Malangi tidak akan pernah bisa lepas dari tempat itu. Hutan yang dimaksud itu adalah sebuah hutan terlarang, yang sekarang ada di dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Bala Bathara. Dan kemungkinan besarnya, menurut pendapat Prabu Jabang Wiyagra, Puger Satriya dan Arya Panunggul akan dijadikan tumbal.
Tumbal yang akan memperkuat kekuatan Ratna Malangi. Sekaligus membebaskannya dari mantra yang selama ini sudah mengikat dirinya. Dan kalau sampai Ratna Malangi mendapatkan apa yang ia butuhkan, maka akan terjadi peperangan dan juga kekacauan yang jauh lebih besar di seluruh wilayah Tanah Jawa. Karena dengan menumbalkan dua orang pendekar yang sakti, maka Ratna Malangi akan semakin bertambah kuat, dan akan sangat sulit untuk dihadapi.
Tetapi itu hanyalah perkiraan Prabu Jabang Wiyagra saja. Prabu Jabang Wiyagra berharap kalau semua kekhawatirannya tentang Ratna Malangi tidak akan pernah terjadi. Prabu Jabang Wiyagra akan berusaha mencari cara untuk menghentikan Ratna Malangi dan juga para pengikutnya. Prabu Jabang Wiyagra juga menyarankan kepada Panglima Galang Tantra untuk tidak meninggalkan istana Kerajaan Wiyagra Malela terlebih dahulu. Karena situasi sekarang sangat berbahaya untuk Panglima Galang Tantra sendiri.
__ADS_1