
Semua orang fokus dengan pertarungan mereka masing-masing. Termasuk Prabu Gala Ganda sendiri. Seluruh pasukannya berjuang keras demi mempertahankan istana Kerajaan Putra Bathara. Prabu Gala Ganda mencoba mendekati Prabu Putra Candrasa. Ingin sekali rasanya dia mengatakan sepatah dua patah kata kepada Prabu Putra Candrasa. Bahwa sekarang, dia sendiri telah berubah. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada Prabu Putra Candrasa, kalau dia sudah tidak mau lagi memusuhi Prabu Jabang Wiyagra.
Namun, dari kejauhan pun, Prabu Putra Candrasa sudah menatapnya dengan nanar. Penuh amarah dan penuh kekejaman. Sudah bisa disimpulkan, kalau Prabu Putra Candrasa datang ke tempat ini memang benar-benar ingin membunuhnya. Namun Prabu Gala Ganda memang menunjukkan sikap selayaknya orang yang tidak mau bertarung. Karena jika tidak ada yang menyerangnya, Prabu Gala Ganda juga tidak mau menyerang siapapun. Itu terbukti saat beberapa orang anggota Pasukan Bara Jaya ada di sekitarnya.
Prabu Gala Ganda sama sekali tidak memberikan serangan kepada mereka. Bahkan, Prabu Gala Ganda hanya memerintahkan pasukannya untuk bertahan, bukan menyerang balik. Tetapi karena suasana sudah sangat memanas, dan banyak orang dari kedua pihak yang terluka, tidak ada satupun orang yang menggubris perintahnya itu. Prabu Gala Ganda yang melihat kalau pasukannya sudah tidak bisa dikendalikan, memutuskan untuk tetap berjalan ke arah Prabu Putra Candrasa. Dan berusaha keras agar bisa sampai kepada lawannya itu.
Prabu Putra Candrasa sudah menyadari, kalau Prabu Gala Ganda sedang menuju ke arahnya. Namun di tengah-tengah, tiba-tiba Patih Rogo Geni muncul. Dan langsung menendang kepala Prabu Gala Ganda. Dalam kondisi yang tidak siap, Prabu Gala Ganda langsung jatuh tersungkur ke tanah. Para Pasukan Bara Jaya yang ada di sekitarnya, langsung saja menghembuskan pedang mereka kepada Prabu Gala Ganda. Untungnya Prabu Gala Ganda langsung bisa menghindari serangan mereka. Dan beranjak dari tempatnya jatuh.
Terdengar suara lengkingan yang begitu keras di dalam telinganya. Efek dari tendangan Patih Rogo Geni. Karena belum puas, Patih Rogo Geni kembali menyerang Prabu Gala Ganda. Dengan kemampuan yang ia miliki, sebagai salah satu murid kesayangan dari Sang Maha Guru, Patih Rogo Geni dapat dengan mudah melakukan serangan kepada Prabu Gala Ganda. Sedangkan Prabu Gala Ganda cukup kewalahan menghadapinya. Karena kemampuannya sangat tidak seimbang.
Sembari bertarung, Prabu Gala Ganda mencoba menjelaskan semuanya kepada Patih Rogo Geni. Namun Patih Rogo Geni sama sekali tidak peduli. Dia terus memukul dan menendang Prabu Gala Ganda. Awalnya Prabu Putra Candrasa ingin menghentikan Serangan yang dilakukan oleh Patih Rogo Geni kepada Prabu Gala Ganda. Tapi Prabu Putra Candrasa juga harus memikirkan pasukannya, yang sekarang mendapat serangan dari arah belakang. Yang ternyata mereka disergap oleh Patri Asih.
__ADS_1
Entah apa maksud Patri Asih berada di tempat ini. Tapi kehadirannya membuat suasana menjadi semakin keruh. Karena Patih Rogo Geni semakin dibuat yakin, kalau Prabu Gala Ganda sudah bersekongkol dengan Patri Asih dan para pengikutnya. Sehingga Prabu Gala Ganda sudah tidak lagi memiliki kesempatan, untuk menjelaskan semuanya kepada Patih Rogo Geni, yang semakin lama semakin ganas menyerangnya. Bahkan Patih Rogo Geni sudah mulai menggunakan ilmu kesaktian yang ia miliki.
Prabu Gala Ganda sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perlawanan. Selain bertahan sebisa mungkin, dari semua Serangan yang ia dapatkan. Maha Patih Jala Karang melihat jelas dengan kedua matanya, bagaimana Prabu Gala Ganda dihajar habis-habisan oleh Patih Rogo Geni. Tetapi dia yang berusaha untuk menyelamatkan rajanya, terus menerus dihadang oleh Gendam Wulung. Karena jika sampai Maha Patih Jala Karang bisa bersatu dengan Prabu Gala Ganda, maka bisa dipastikan kalau Prabu Gala Ganda akan selamat.
Gendam Wulung berusaha keras untuk menghadang laju Maha Patih Jala Karang, yang sedikit demi sedikit berusaha untuk menggapai posisi Prabu Gala Ganda. Sesaat Patih Jala Karang teringat dengan satu hal. Bahwa, Prabu Gala Ganda pernah mengatakan kepadanya, jika Prabu Gala Ganda mati, maka Maha Patih Jala Karang-lah yang akan meneruskan tahta Kerajaan Putra Bathara. Dan membangun pemerintahan yang baru. Yang jauh lebih baik lagi. Daripada masa pemerintahan Prabu Gala Ganda.
Ucapan Prabu Gala Ganda yang terngiang di telinganya, membuat konsentrasinya terpecah. Sehingga Maha Patih Jala Karang terkena serangan dari Gendam Wulung. Prabu Gala Ganda yang melihat hal itu, langsung memerintahkan Maha Patih Jala Karang untuk pergi dari sana, membawa sisa-sisa pasukan Kerajaan Putra Bathara. Hanya saja Maha Patih Jala Karang masih terus berusaha untuk bisa menyelamatkan Prabu Gala Ganda, dari serangan Patih Rogo Geni. Dia berusaha bangkit kembali, dan membalas serangan dari Gendam Wulung, dengan satu hantaman.
Saat itu pula, Prabu Putra Candrasa langsung menghantam tubuh Prabu Gala Ganda dengan pukulan Ajian Brajamusti. Prabu Gala Ganda langsung tumbang saat itu juga. Maha Patih Jala Karang begitu kaget melihat hal tersebut. Dia merasa sangat tertekan, karena harus melihat rajanya tewas di hadapannya. Sedangkan Patih Rogo Geni yang setengah sadar berusaha mencabut pedang milik Prabu Gala Ganda dari punggungnya. Dia mencabut sedikit demi sedikit pedang yang tertancap di punggungnya itu.
Namun Maha Patih Jala Karang yang sedang dipenuhi dengan amarah, karena melihat rajanya mati, langsung menendang perut Patih Rogo Geni. Membuat tubuhnya jatuh ke belakang, sehingga pedang Prabu Gala Ganda yang menancap di punggungnya, seketika langsung menembus perutnya. Maha Patih Jala Karang langsung menginjak perut Patih Rogo Geni, agar pedang tersebut semakin menancap. Dengan begitu, Patih Rogo Geni telah tewas saat itu juga. Karena pedang milik Prabu Gala Ganda ternyata mampu menghancurkan ilmu kekebalan yang dimiliki oleh Patih Rogo Geni.
__ADS_1
Melihat Patin Rogo Geni yang sudah dalam keadaan memperihatinkan, Prabu Putra Candrasa berusaha menolongnya. Dan mengalihkan pandangannya dari Prabu Gala Ganda. Saat itulah Maha Patih Jala Karang langsung mengambil keputusan, dengan menarik mundur seluruh pasukan Kerajaan Putra Bathara yang masih tersisa. Hal itu juga disusul dengan Maha Patih Rangkat Sena, yang juga langsung menarik mundur seluruh pasukannya. Dan ikut melarikan diri bersama dengan Maha Patih Jala Karang. Yang sekarang berusaha untuk membawa tubuh Prabu Gala Ganda, yang sudah tak bernyawa.
Sialnya, Maha Patih Rangkat Sena tidaklah seberuntung Maha Patih Jala Karang. Karena secara tiba-tiba, ada sebuah pedang yang menancap di bahu kanannya. Maha Patih Rangkat Sena sempoyongan ke sana kemari, dengan menahan rasa sakit. Ternyata yang melakukan hal itu adalah salah satu anggota Pasukan Bara Jaya. Yang tidak mau membiarkan musuh-musuhnya pergi. Disusul juga dengan para anggota Pasukan Bara Jaya yang lainnya. Yang langsung menghunuskan pedang mereka masing-masing. Pedang yang digunakan oleh para anggota Pasukan Bara Jaya memang sudah dibaca mantra khusus.
Mantra itu dikhususkan, agar ketika Pasukan Bara Jaya bertemu dengan pasukan yang memiliki ilmu kekebalan, maka ilmu kekebalan yang dimiliki orang tersebut akan hilang. Namun tidak semua anggota Pasukan Bara Jaya mendapatkan pedang tersebut. Hanya beberapa orang saja yang mendapatkannya, seperti Gendam Wulung. Karena pedang tersebut dimantrai oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga tidak semua orang yang ada di Pasukan Bara Jaya bisa mendapatkannya. Apalagi pedang tersebut bukanlah pedang sembarangan. Siapa saja yang terkena sabetan pedang tersebut, sudah pasti orang itu akan mati, atau terluka parah.
Sudah bisa dipastikan kalau nasib Maha Patih Rangkat Sena sangatlah buruk. Dia tidak berhasil melarikan diri dari kejaran Pasukan Bara Jaya. Bahkan secara mengenaskan kepalanya langsung dipenggal, dan ditendang begitu saja. Selanjutnya, tubuhnya dipotong-potong. Karena hampir semua anggota Pasukan Bara Jaya fokus untuk menghabisi dirinya. Tamatlah sudah riwayat Maha Patih Rangkat Sena. Dan juga Patih Rogo Geni. Mereka berdua sama-sama seorang abdi pemberani. Yang harus tewas karena sebuah kesalahan kecil.
Patih Rogo Geni harus tewas dikarenakan dia terlalu bernafsu untuk membunuh musuh-musuhnya. Maha Patih Rangkat Sena pun hampir sama. Karena ingin menyelamatkan diri, dia menjadi lengah dengan serangan yang menghujamnya dari arah belakang. Kecerobohan kecil, telah memberikan dampak yang begitu besar. Melihat suasana sudah sangat kacau balau, Prabu Putra Candrasa memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur. Dan membawa jasad Patih Rogo Geni dari sana. Prabu Putra Candrasa sudah tidak mempedulikan lagi sisa-sisa pasukan musuh, yang terjebak di tempat itu.
Karena yang harus dia pikirkan sekarang adalah, membawa jasad Patih Rogo Geni, dan menyelamatkan seluruh pasukannya masih tersisa. Dalam pertarungan ini, banyak anggota Pasukan Bara Jaya yang menjadi korban. Mereka melawan musuh yang sama-sama kuatnya. Ditambah lagi dengan kehadiran Maha Patih Jala Karang. Yang kemampuannya melebihi para pasukan Prabu Gala Ganda yang lainnya. Di sinilah Prabu Putra Candrasa akhirnya sadar, kalau dia terlalu meremehkan kekuatan musuhnya. Dan tidak memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat dan cermat.
__ADS_1