
Singo Rogo dengan para pendekar yang lainnya sudah bersiap di posisi mereka masing-masing. Singo Rogo dan Joko Gondol sudah berada di pasar ikan yang dipegang oleh salah satu pejabat istana dan dijaga oleh puluhan prajurit.
Aktivitas di pasar ikan itu ramai dan riuh dengan para pembeli dan pedagang. Pasar ikan ini adalah pasar terbesar yang ada di Kerajaan Antasura. Pasar ini kebanyakan didatangi oleh orang-orang terpandang, seperti pejabat istana dan juga orang-orang penting lainnya.
Para prajurit istana sama sekali tidak mencurigai mereka berdua, karena di tempat ini sudah biasa dikunjungi oleh para pendekar. Berbagai macam orang yang memiliki nama pasti berkumpul di pasar itu.
Tak seperti pasar ikan pada umumnya. Pasar ini tertata dengan sangat rapi. Tempatnya juga selalu bersih. Ada tempat-tempat hiburan di sekitar area pasar ikan itu yang sering dijadikan tempat berkumpul para prajurit dan pejabat istana. Berbagai jajanan tradisional juga banyak dijual di tempat itu.
Disana tidak jarang pengunjung akan menemukan orang asing, seperti orang timur, orang barat, dan juga orang-orang yang datang sebagai pendatang yang menawarkan berbagai macam ikan segar di pasar itu.
Singo Rogo dan Joko Gondol duduk di sebuah rumah makan. Mereka mengawasi sekeliling mereka, sebelum melakukan serangan.
“Coba lihat ketiga orang itu Ki Singo Rogo.” Ucap Joko Gondol sembari menunjuk ke arah tiga orang kaya yang sedang duduk menikmati hidangan mereka.
“Ya. Sepertinya mereka orang-orang penting. Salah satu dari mereka orang asing. Tidak baik kalau kita melibatkan orang itu juga.” Jawab Singo Rogo.
“Kita tidak perlu menyerang orang asing itu, Ki Singo Rogo. Kita hasut saja mereka, supaya mereka saling serang satu sama lain.”
“Maksudmu bagaimana Ki Joko?”
“Ah.. Ki Singo ini seperti baru kenal aku saja.”
Singo Rogo tersenyum dan mengangguk kepada Joko Gondol. Dengan ilmu yang Joko Gondol miliki, dia menghasut ketiga orang itu untuk saling serang satu sama lain. Ketiga orang kaya itu membawa istri dan anak mereka. Di dekat mereka juga ada beberapa orang yang mengawal mereka setiap saat.
Mereka duduk berdekatan, dan disitulah semua kenakalan Joko Gondol dimulai. Dari jarak jauh, Joko Gondol menggunakan ilmunya untuk membelai pantat istri salah satu dari ketiga orang kaya itu.
Awalnya si perempuan hanya menoleh, tapi karena Joko Gondol melakukannya berkali-kali, akhirnya si perempuan pun marah dengan orang asing yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi si perempuan itu langsung mengambil cangkir berisi minuman panas dan memukulkannya ke kepala orang asing tersebut. Sontak hal itu pun membuat semua orang yang ada disana terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduk mereka.
Terutama si orang asing dan istrinya yang mengomel karena diperlakukan seperti itu. Kepala orang asing itu sampai berdarah. Dia terus memegangi kepalanya yang terus mengucur.
Para pengawal orang asing dan kedua orang kaya itu pun langsung bangun dan mengelilingi mereka semua. Mereka semua sudah bersiap dengan golok ditangan mereka masing-masing.
“Dinda! Kenapa dinda melakukan itu?!” Bentak si suami sembari memukul wajah perempuan itu.
“Kakang! Dia sudah memegang pantatku berkali-kali!” Jawab si perempuan.
“Apa?! Dasar bajingan!” Si suami yang marah pun langsung menyerang orang asing yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Sedangkan orang yang satunya mencoba melerai, tapi malah kena pukul. Akhirnya suasana menjadi semakin ribut. Apalagi para pengawal mereka saling serang satu sama lain. Sehingga banyak sekali pengunjung rumah makan yang berhamburan keluar karena mereka takut terkena imbasnya.
Ketiga orang itu benar-benar sudah kesetanan. Mereka saling serang satu sama lain tanpa mempedulikan lagi anak dan istri mereka. Sedangkan anak dan istri mereka keluar karena ketakutan. Mereka bertiga memiliki kemampuan bela diri yang bisa dibilang cukup hebat.
Para prajurit yang menahan mereka pun sampai kewalahan karena mereka semua masih tetap berusaha untuk saling serang. Mereka juga tidak berhenti adu mulut, sekali pun para prajurit sudah menahan dan memisahkan mereka.
“Dasar an-jing mesum!”
“Istrimu itu yang mesum!”
“Baji-ngan kalian semua! Kalian berdua sama saja!”
Ketiga orang itu saling adu mulut. Para prajurit yang menahan mereka jelas tidak berani memukul atau menyeret mereka, karena mereka adalah orang-orang kaya yang sudah sering berkunjung ke tempat ini. Para prajurit itu bisa mendapatkan hukuman berat dari pimpinan mereka kalau sampai bersikap kasar.
Sedangkan para pengawal dari ketiga orang itu juga sama-sama tidak berani bertarung di hadapan para prajurit yang sedang melerai ketiga tuan mereka. Para prajurit kebingungan, karena mereka tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
Apalagi saat suami si perempuan itu mengancam akan melapor kepada pimpinan mereka.
“Baik tuan-tuan. Tapi tolong jangan disini. Banyak pedagang dan pengunjung yang tidak tahu apa-apa. Sebaiknya bereskan masalah tuan-tuan sekalian di luar. Kami meminta pengertiannya dengan segala hormat.” Ucap salah satu prajurit.
Ketiga orang itu pun saling menantang satu sama lain. Mereka berdua keluar dari rumah makan mewah itu. Dan ingin melanjutkan pertarungan mereka di luar pasar ikan ini. Namun saat mereka akan pergi, salah satu prajurit merasa kalau dia ditimpuk dari belakang oleh seseorang.
Dia pun menatap tajam ke arah salah satu pengawal dari ketiga orang itu. Tanpa basa-basi dia langsung mengambil golok yang ada dipinggangnya dan menyerang para pendekar amatir itu. Dan hal itu disusul oleh teman-temannya yang lain.
Ketiga orang yang masih panas itu pun sedikit heran, tapi tanpa peduli dengan nasib anak buah mereka, mereka kembali melanjutkan perkelahian mereka. Ilmu yang digunakan oleh Joko Gondol bukan hanya membuat mereka tidak saling percaya, tapi juga membuat emosi mereka menjadi-jadi.
Padahal sebelumnya tidak pernah ada keributan kecil yang berujung pada keributan seribut ini. Joko Gondol dan Singo Rogo hanya tertawa melihat perilaku mereka yang seperti hewan. Joko Gondol membuat mereka saling gigit satu sama lain. Mereka seperti tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Dengan adanya keributan itu, keamanan di salah satu tempat penting seorang pejabat yang memegang wilayah itu menjadi longgar. Karena Prajurit yang lain datang menyusul teman mereka yang sedang terlibat keributan. Dan hanya menyisakan tiga orang prajurit di tempat itu.
“Ayo Ki Singo, sekarang kita jalankan rencana kita.” Ucap Joko Gondol.
Joko Gondol dan Singo Rogo pun langsung mendatangi tempat pejabat itu. Mereka juga membunuh ketiga prajurit yang berjaga disana dengan mudah. Mereka kemudian masuk dan menemui si pejabat yang sedang bermesraan dengan wanita simpanannya.
“Hey! Siapa kalian?!” Teriak si pejabat yang kaget melihat keberadaan Joko Gondol dan Singo Rogo yang mendobrak masuk ke ruangannya.
Tempat itu adalah sebuah rumah singgah yang digunakan si pejabat untuk mengatur semua yang ada di pasar ini.
“Kami datang untuk mengambil nyawamu.” Ucap Singo Rogo.
Singo Rogo langsung menyerang si pejabat. Dengan dua kali tendangan, si pejabat sudah tewas. Sedangkan Joko Gondol menggunakan ilmunya untuk menyihir si wanita simpanan menjadi seekor ular. Setelahnya mereka menghilang dan lenyap begitu saja.
Mereka menuju ke tempat lain. Si pejabat yang sudah tewas, dan si wanita simpanannya yang sudah berubah menjadi ular pun dibiarkan begitu saja.
__ADS_1