DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 241


__ADS_3

Di istana Kerajaan Pancanaka...


"Aku benar-benar ingin sekali menghabisi Prabu Jabang Wiyagra. Dia sangat berbahaya Maha Patih. Bisa-bisa aku kehilangan kekuasaan ku, seperti kerajaan-kerajaan yang lain." Ucap Prabu Pancaran.


"Tenang Gusti Prabu. Kita pasti akan menemukan cara untuk mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra. Hamba sudah mengirimkan mata-mata ke seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela." Jawab Maha Patih Gading Kuning.


"Halah! Perse-tan! Selalu saja hal itu yang kamu katakan kepadaku Maha Patih! Tapi apa hasilnya?! Tidak ada satupun dari kalian yang di tempat ini bisa mendapatkan rahasia yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela!"


Prabu Pancaran merasa sangat kecewa dengan para abdinya yang tidak pernah becus dalam mengurus Kerajaan Wiyagra Malela. Karena sampai sekarang, tidak ada satupun mata-mata Kerajaan Pancanaka yang berhasil kembali ke istana. Entah bagaimana kabar mereka sekarang. Tidak ada satupun orang yang tahu mengenai keberadaan mata-mata yang dikirimkan oleh Maha Patih Gading Kuning.


Padahal Maha Patih Gading Kuning dan pasukannya tidak pernah sekalipun gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Prabu Pancaran. Tetapi kali ini Maha Patih Gading Kuning sendiri dibuat kebingungan dengan apa yang terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela. Setiap mata-mata yang ia kirimkan, pasti tidak akan pernah kembali ke kepadanya. Bahkan mereka juga tidak memberikan laporan apapun.


"Mohon maaf Gusti Prabu. Hamba mengakui kalau hamba memang salah, dan sudah gagal menjalankan tugas dari Gusti Prabu Pancaran. Tapi hamba dan para pasukan Kerajaan Pancanaka masih terus berusaha Gusti Prabu. Kami tidak menyerah begitu saja, supaya keinginan Gusti Prabu bisa terpenuhi." Jawab Maha Patih Gading Kuning.

__ADS_1


"Masalah kita adalah waktu Maha Patih! Lihatlah Kerajaan Panca Warna sekarang! Kerajaan itu sudah tidak lagi memiliki seorang pemimpin! Dan sampai sekarang pun aku tidak tahu bagaimana keadaan Ratu Mekar Senggani! Kita harus cepat Maha Patih! Kalau perlu kita harus seribu langkah di depan! Kita harus melampaui Prabu Jabang Wiyagra!"


Maha Patih Gading Kuning hanya bisa diam tanpa jawaban. Maha Patih Gading Kuning dan seluruh pasukannya sudah berusaha keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh Prabu Pancaran. Tetapi mau berusaha sekeras apapun, Maha Patih Gading Kuning dan pasukannya tetap saja mengalami kegagalan. Maha Patih Gading Kuning tidak mau terus-menerus mengirimkan mata-mata ke Kerajaan Wiyagra Malela, kalau tidak ada hasilnya.


Maha Patih Gading Kuning memang orang yang sama kejamnya dengan Prabu Pancaran. Tapi sekejam apapun Maha Patih Gading Kuning, kita tidak pernah mau mengorbankan bawahannya untuk sesuatu yang tidak pasti. Berbeda dengan Prabu Pancaran yang selalu mengandalkan kekuatan fisik untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Yang mengakibatkan para pasukannya harus menerima kekalahan.


Prabu Pancaran juga menjalin hubungan baik dengan Ratu Mekar Senggani. Dibuktikan pada saat Ratu Mekar Senggani mengalami masalah di kerajaannya. Prabu Pancaran adalah satu-satunya orang yang mau memberikan bantuan kepada Kerajaan Panca Warna, dengan menyiapkan tempat persembunyian untuk Ratu Mekar Senggani. Hanya saja waktu itu Ratu Mekar Senggani menolaknya mentah-mentah.


Ratu Mekar Senggani tahu apa maksud Prabu Pancaran mau memberikan bantuan kepadanya. Yaitu karena Prabu Pancaran tergoda dengan kecantikan yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani. Apalagi setelah ia tahu kalau Ratu Mekar Senggani memiliki nafsu birahi yang tinggi. Prabu Pancaran selalu penasaran dengan kemolekan tubuh Ratu Mekar Senggani. Prabu Pancaran juga pernah berusaha untuk menggoda Ratu Mekar Senggani.


Selama ini Ratu Mekar Senggani menganggap Prabu Pancaran hanya sebatas teman biasa, karena Ratu Mekar Senggani membutuhkan hubungan diplomatik dengan kerajaan lain. Tidak ada niatan sedikitpun dalam hendaknya untuk bisa dekat dengan Prabu Pancaran. Hubungan baik yang dijalin oleh Ratu Mekar Senggani semata untuk kepentingan pemerintahan. Bukan untuk kepuasan pribadi.


Prabu Pancaran yang merasa dikecewakan berkali-kali pun akhirnya menarik seluruh bantuan yang pernah ia berikan kepada Ratu Mekar Senggani. Baik bantuan berupa pasukan maupun persenjataan. Dan membiarkan Kerajaan Panca Warna hancur di tangan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Pancaran juga sangat menginginkan tahta yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani.

__ADS_1


Dia sebenarnya ingin mengambil alih Kerajaan Panca Warna. Tapi seluruh rakyat Kerajaan Panca Warna menolaknya. Mereka semua masih sangat setia kepada Ratu Mekar Senggani. Bahkan semua aturan yang ada di Kerajaan Panca Warna masih berjalan hingga sekarang. Dan pada saat-saat genting seperti inilah Prabu Pancaran baru menyadari, kalau dia membutuhkan bantuan dari kerajaan lain untuk menghadapi Prabu Jabang Wiyagra.


Kalau saja dulu Prabu Pancaran tidak menarik mundur pasukan dan persenjataan dari Kerajaan Panca Warna, mungkin Prabu Pancaran bisa menarik simpati rakyat Kerajaan Panca Warna. Dan dia memiliki banyak pasukan bantuan yang siap mati untuk dirinya. Tapi semua itu sudah terlambat. Sekarang Prabu Pancaran hanya bisa mengandalkan kekuatan yang ada di dalam kerajaannya saja.


Prabu Pancaran juga tidak mau minta bantuan ke kerajaan lain, karena dia merasa malu. Kerajaan Segoro Geni dan Kerajaan Sangga Bumi sebenarnya masih memiliki hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pancanaka. Tetapi hubungan itu perlahan mulai renggang, karena Prabu Pancaran sering sekali mengatakan hal yang tidak pantas kepada kedua orang raja kerajaan besar tersebut.


Prabu Pancaran kerap menghina Prabu Sora Gadang dan Prabu Sangga Manik, karena menganggap Kerajaan Segoro Geni dan Kerajaan Sangga tidak akan bisa dibangun tanpa bantuan Prabu Pancaran. Padahal, Prabu Pancaran sendiri tidak pernah memberikan bantuan apapun. Prabu Sora Gadang dan Prabu Sangga Manik membangun kerajaan mereka dengan jerih payah mereka sendiri.


Sedangkan Prabu Pancaran selalu merasa berada di tangga paling atas, dan bisa berbuat seenaknya kepada dua raja besar tersebut. Padahal faktanya, kekuatan yang ada di dalam kerajaannya sendiri pun masih sangat lemah, dan mudah ditembus oleh musuh. Sedangkan untuk menghadapi Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Pancaran membutuhkan banyak sekali kekuatan pendukung, untuk memastikan kemenangannya.


Karena itulah Prabu Pancaran terus mendesak Maha Patih Gading Kuning untuk bergerak dengan cepat. Walaupun sekarang ini Prabu Jabang Wiyagra tengah menghadapi musuh yang lain, bukan berarti Prabu Jabang Wiyagra lupa dengan Prabu Pancaran. Cepat atau lambat, Prabu Jabang Wiyagra pasti akan mengerahkan pasukan ke seluruh wilayah Kerajaan Pancanaka. Dan saat itu terjadi, Prabu Pancaran sudah tidak memiliki kekuatan apapun untuk menghadapi Prabu Jabang Wiyagra.


"Aku tidak mau tahu! Kalian semua harus membereskan masalah ini secepatnya! Sebelum Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya mengacak-acak tempat ini."

__ADS_1


"Nggih Gusti Prabu."


__ADS_2