
"Aku datang kemari untuk menyampaikan kabar kepada kalian semua, kalau Prabu Bambang Pura sudah mati. Dia memilih bunuh diri dengan menggigit lengannya sendiri."
".....Jadi aku berharap, kalian semua sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Walau pun sudah dipulangkan ke Kerajaan Gelap Ngampa dengan berbagai bukti yang jelas, tapi Maha Patih Kana Raga tidak menerima semua itu."
Maha Patih Putra Candrasa memberikan kabar duka itu kepada Patih Kinjiri dan yang lainnya. Agar mereka semua bersiap untuk menghadapi perang besar gelombang yang kedua. Dan jumlah pasukan Maha Patih Kana Raga jauh lebih besar dari pada jumlah pasukan yang pernah dibawa oleh Prabu Bambang Pura.
"Jadi, Maha Patih Kana Raga akan menyerang benteng ini bersama pasukannya?"
"Benar Patih Kinjiri. Dan Kerajaan Wiyagra Malela sekarang juga sedang bersiap dengan Kerajaan Ciung Wanara dan Kerajaan Cakra Buana. Karena kerajaan-kerajaan yang lain mendukung Maha Patih Kana Raga." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.
"Baiklah. Kita semua bersiap. Ki Mangku, tolong arahkan semua pimpinan pasukan untuk membuat strategi bertahan. Aku sendiri akan mempersiapkan pasukanku untuk melakukan serangan di garis depan." Perintah Patih Kinjiri kepada Mangku Cendrasih.
"Baik Gusti Patih."
Akhirnya, Patih Kinjiri harus menghadapi pertempuran itu secara langsung, karena jumlah pasukan mereka di benteng ini sudah berkurang. Dia harus turun tangan sendiri untuk memecah barisan pasukan musuh yang akan dikirimkan ke tempat ini.
Sekuat apa pun benteng ini, kalau jumlah musuh melebihi kapasitas pasukan yang dimiliki oleh Patih Kinjiri, maka benteng ini bisa dijebol musuh dan bisa diserang sampai benar-benar hancur. Apalagi Maha Patih Kana Raga juga mendapatkan dukungan pasukan dari kerajaan lain.
Belum lagi dengan kerajaan-kerajaan kecil yang ada dibawah pemerintahan Kerajaan Gelap Ngampar. Mereka sudah pasti siap untuk bertempur bersama dengan Maha Patih Kana Raga. Karena hanya Maha Patih Kana Raga-lah yang bisa memegang kendali kekuasaan atas Kerajaan Gelap Ngampar.
Prabu Bambang Pura belum memiliki seorang putra mahkota yang bisa menggantikannya. Semua istri-istrinya juga sudah menyatakan kalau mereka tidak sanggup jika harus memerintah kerajaan sebesar itu, tanpa bantuan dari Maha Patih Kana Raga. Jadi sekarang, Kerajaan Gelap Ngampar dipimpin oleh Maha Patih Kana Raga.
__ADS_1
Semua hal yang menyangkut pemerintahan, akan diatur oleh Maha Patih Kana Raga. Walau pun dia belum diresmikan sebagai seorang raja, tetapi dia sudah pengaruh yang sangat besar. Dia bisa dengan mudah mengambil simpati semua orang. Sehingga dia memiliki banyak sekali dukungan.
Sekarang ini, bukan hanya Patih Kinjiri saja yang sedang kerepotan. Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa pun sedang sibuk mempersiapkan semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra harus terbagi-bagi.
Sebagian besar melindungi benteng, bersama dengan Patih Kinjiri. Karena tempat itu adalah tempat penting yang harus mereka pertahankan mati-matian. Sedangkan wilayah Kerajaan Wiyagra Malela adalah wilayah yang pada dasarnya sulit ditembus oleh siapa saja. Karena Prabu Jabang Wiyagra sudah mempersiapkan semua hal di tempat ini, untuk hal genting seperti sekarang.
Bahkan raja-raja yang membela Maha Patih Kana Raga kebingungan harus memulai semuanya dari mana. Karena mereka kesulitan untuk menemukan celah aman yang bisa mereka gunakan untuk memulai penyerangan. Apalagi salah satu wilayah jalur yang lebar, yang bisa mereka gunakan sudah dihimpit oleh Prabu Sura Kalana dan pasukannya.
Sehingga sekarang, para raja-raja itu hanya bisa menggunakan kepercayaan diri yang mereka miliki untuk menyerang Kerajaan Wiyagra Malela. Karena mereka sudah tidak lagi memiliki waktu untuk memperdebatkan jalur mana yang akan mereka gunakan untuk penyerangan.
Semua kerajaan yang membela Prabu Jabang Wiyagra juga memusatkan semua kekuatan mereka di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Kerajaan Wiyagra Malela adalah pusat dari segala hal yang ada pada kerajaan-kerajaan lain. Baik ekonomi, pasukan, sumber daya, dan hal-hal penting lainnya.
Semua pasukan-pasukan terbaik dan senjata-senjata raksasa, sudah mereka persiapkan untuk melakukan penyerangan dan juga pertahanan. Ribuan pasukan dan senjata-senjata berat sudah berbaris mengelilingi semua tempat yang ada di sekitar wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.
Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan kepada semua raja, untuk mengevakuasi semua warga ke sebuah jalur bawah tanah. Jalur bawah tanah itu nantinya akan mengarah ke Gunung Khayangan. Dan area Gunung Khayangan itulah yang nantinya akan menjadi area aman untuk para warga.
Beruntung, karena disaat-saat seperti ini, Lare Damar datang menghadap kepada Prabu Jabang Wiyagra, untuk memberikan bala bantuan.
"Apa ada pesan untukku Lare Damar?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
Saat itu Prabu Jabang Wiyagra sedang duduk di singgasananya bersama dengan para pendukungnya.
__ADS_1
"Eyang Badranaya menyampaikan sebuah pesan, kalau seluruh penghuni Gunung Khayangan akan siap membantu Kakang Prabu Jabang Wiyagra, kalau Kakang Prabu Jabang Wiyagra membutuhkan bantuan."
"....Namun, Kakang Prabu Jabang Wiyagra diminta untuk datang menemui Eyang Badranaya terlebih dahulu, sebelum pertempuran dimulai." Ucap Lare Damar.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu ke Gunung Khayangan. Hari ini juga kita berangkat kesana. Dan untuk sementara waktu, Maha Patih Putra Candrasa aku tugaskan untuk memimpin pertempuran ini."
".....Maha Patih Putra Candrasa, gunakan semua kekuatan yang kita miliki dengan bijak. Selama aku pergi, kamulah yang akan mengemban tugas ini." Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Putra Candrasa.
"Baik Gusti Prabu. Hamba akan berusaha menjaga amanah yang Gusti Prabu percayakan kepada hamba." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.
"Dan untuk semua para pendukungku. Aku berpesan kepada kalian semua. Tetaplah bersatu dan ikutilah semua perintah dari Maha Patih Putra Candrasa. Apa pun itu perintahnya, kalian dilarang untuk membantahnya." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada para pendukungnya.
"Nggih Gusti Prabu."
Selepas itu, Maha Patih Putra Candrasa memerintahkan semua orang untuk bersiap di posisi mereka masing-masing. Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra harus segera berangkat ke Gunung Khayangan bersama dengan Lare Damar.
Lare Damar ternyata juga membawa pasukan manusia kera. Mereka semua adalah pasukan Lare Damar yang ditugaskan langsung oleh Eyang Badranaya untuk membantu pasukan Prabu Jabang Wiyagra, di Kerajaan Wiyagra Malela.
Jumlah mereka ratusan. Dan seperti yang diketahui, kalau setiap satu dari pasukan manusia kera ini bisa memecah raga mereka menjadi puluhan. Dengan jumlah mereka yang mencapai ratusan, maka mereka bisa memecah raga mereka menjadi ribuan pasukan.
Para pasukan itu bukanlah pasukan sembarangan. Mereka juga memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Dan lagi, mereka kebal terhadap semua senjata. Termasuk senjata meriam sekali pun. Karena mereka semua sudah menjadi penghuni tetap di Gunung Khayangan. Jadi sampai kapan pun, mereka tidak akan bisa mati.
__ADS_1