DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 37


__ADS_3

Semua kerajaan besar sangat prihatin mendengar tiga kerajaan besar yang diserang secara serempak dan membabi buta oleh Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka semua mulai menyoroti kejadian itu dan mereka memutuskan untuk bekerja sama.


Mereka mendatangi Kerajaan Wiyagra Malela yang saat itu sudah mulai membangun istana agar lebih megah dan lebih besar dari sebelumnya. Disana juga banyak sekali prajurit yang berjaga. Dan ada juga Prabu Sura Kalana bersama dengan Maha Patih Kumbandha.


Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Sura Kalana semakin dekat. Mereka bahkan sudah sama-sama memahami watak mereka masing-masing. Maha Patih Kumbandha juga terlihat senang kedekatan mereka berdua.


Karena semenjak dekat dengan Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Sura Kalana menjadi orang yang semakin baik dan semakin santun kepada siapa saja. Karena Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang mencontohkan secara langsung di depannya.


“Lalu apa rencana kita selanjutnya Prabu Jabang Wiyagra? Tidak mungkin kalau kita selamanya berdiam diri seperti ini. Kita harus menyerang mereka secepatnya.” Ucap Prabu Sura Kalana.


“Sabar dulu Prabu Sura Kalana. Kita harus pelan tapi pasti. Jangan terburu-buru. Musuh kita saat ini sudah goyah dan lemah. Kita tunggu dulu bagaimana kabar dari mereka.”


“Baik Prabu Wiyagra. Hanya saja aku khawatir kalau mereka juga menggunakan cara kita untuk membalas kejadian malam itu.”


“Ya. Hal itu bisa saja terjadi Prabu Sura Kalana. Namun kita bisa menghadapinya kalau kita sama-sama menjaga keamanan kerajaan kita dengan baik. Buatlah benteng-benteng dan pertahanan-pertahanan kecil. Seperti rakyat contohnya.”


“Tapi apa itu tidak termasuk penindasan terhadap rakyat Prabu Wiyagra?”


“Tentu saja tidak Prabu Kalana. Justru dengan begitu, maka rakyat akan merasakan bagaimana rasanya mempertahankan kedaulatan sebuah negara. Mereka akan menjadi pejuang-pejuang hebat yang dikenang sepanjang masa. Karena kekuatan yang sesungguhnya, ada ditangan rakyat.”


“Aku belum paham Prabu Wiyagra. Tolong jelaskan padaku.”


Prabu Jabang Wiyagra kemudian menjelaskan semua maksud ucapannya kepada Prabu Sura Kalana. Bahwa kekuatan sesungguhnya adalah semangat juang rakyat.


Karena rakyat yang cinta dengan negaranya, tidak akan takut dengan apa pun.


Mereka akan berjuang dengan apa pun yang mereka miliki, demi kedaulatan negara mereka, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Mereka rela mengorban darah, bahkan nyawa mereka sendiri untuk negara mereka.

__ADS_1


Jika kerajaan ini hancur, maka rakyatlah yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Dan jika terjadi peperangan besar, setidaknya mereka mampu melakukan perlawanan.


Kalah atau pun menang tidaklah penting, tapi sebuah kemenangan akan datang kepada mereka yang memperjuangkan kedamaian.


Dan hal itu sedang ditanamkan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada rakyatnya.


Agar mereka semua bisa mencintai negeri ini dengan sepenuh hati. Bukan hanya Kerajaan Wiyagra Malela saja, tapi juga seluruh lapisan Tanah Jawa.


“Dimana bumi dipijak. Disitulah langit dijunjung.” Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


Mendengar semua ucapan itu, Prabu Sura Kalana menjadi semakin kagum dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dia bahkan sampai bertekuk lutut di hadapan Prabu Jabang Wiyagra, dan memintanya untuk mengangkatnya sebagai murid.


“Prabu Kalana. Sudahlah! Ada prajuritmu disini. Tidak pantas kamu melakukan hal ini. Berdirilah!”


“Tidak! Aku tidak akan berdiri sebelum Prabu Wiyagra mengangkatku sebagai murid!”


“Tidak! Aku tidak akan berdiri!”


Prabu Jabang Wiyagra jadi kebingungan karena dia tidak enak hati dengan sikap Prabu Sura Kalana. Tak hanya itu, Maha Patih Kumbandha sendiri juga memohon agar Prabu Sura Kalana bisa diangkat menjadi murid Prabu Jabang Wiyagra.


Hal itu juga disusul dengan para prajurit yang ikut memohon kepada Prabu Jabang Wiyagra.


“Aduh! Apa-apaan kalian ini!”


“Terima saja Nanda Prabu! Jadikan Nanda Prabu Sura Kalana menjadi muridmu!” Ucap Sang Maha Guru yang tiba-tiba menyusul mereka di taman.


“Romo.”

__ADS_1


“Terimalah. Sudah waktunya kamu yang meneruskan semuanya. Aku sudah tua. Dan murid di padepokanku juga sudah cukup banyak. Bantulah gurumu ini.”


“Tapi Romo. Saya...”


“Aku tahu. Aku tahu. Tapi ini adalah amanah dariku. Dan yang kutahu, kau pantang menolak perintah dari gurumu.”


Karena Sang Maha Guru sudah angkat bicara, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima Prabu Sura Kalana sebagai muridnya. Dengan begitu, Prabu Sura Kalana juga akan lebih baik lagi kedepannya.


“Baiklah Romo. Sekarang, berdirilah Dimas Prabu Kalana. Kamu aku angkat menjadi muridku. Semua ucapan-ucapan baik yang keluar dari mulutku, adalah hukum yang harus kamu patuhi. Jika kamu melanggarnya, maka karma Yang Maha Kuasa akan selalu menghantuimu.” Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari memeluk Prabu Sura Kalana.


Prabu Sura Kalana pun merasa sangat bahagia dan langsung memeluk balik Prabu Jabang Wiyagra. Para prajurit juga bersorak bahagia melihat hal tersebut. Maha Patih Kumbandha merasa senang, karena sekarang sudah ada orang yang mampu menaklukkan Prabu Sura Kalana yang memiliki hati yang keras.


“Terimakasih Gusti Prabu. Mulai hari ini, dan selamanya, aku! Prabu Sura Kalana dan kerajaan besarku! Kerajaan Batih Reksa! Akan menjadi murid! Dan abdi setiamu!” Tegas Prabu Sura Kalana.


Tidak lupa Prabu Sura Kalana juga memberikan hormat dengan menundukkan badannya. Hal itu juga dilakukan oleh para pengikutnya, termasuk Maha Patih Kumbandha.


Semua itu membuat Sang Maha Guru bangga, karena akhirnya dia menemukan orang yang pantas menjadi penerusnya.


“Aku telah menaruh tanggung jawab besar kepadamu Nanda Prabu Jabang Wiyagra. Dan aku berharap kamu tidak mengecewakanku.” Ucap Sang Maha Guru kepada Prabu Jabang Wiyagra.


“Saya akan berusaha menjalankan amanah dari Romo dengan sebaik mungkin.”


“Dan kamu Nanda Prabu Sura Kalana, jadilah murid yang baik dan patuh terhadap gurumu. Jangan kamu ingkar kepadanya. Karena janji adalah janji. Dan janji harus ditepati.”


“Nggih Romo.”


Hari itu, mereka semua berkumpul seperti sebuah keluarga. Maha Patih Kumbandha juga mulai akrab dengan Maha Patih Putra Candrasa. Mereka saling berbagi kisah mereka satu sama lain. Dua Maha Patih terhebat yang awalnya adalah lawan, sekarang sudah berubah menjadi kawan.

__ADS_1


Mereka berdua juga saling bertukar hadiah. Maha Patih Kumbandha memberikan gelang kulit harimau kesayangannya untuk Maha Patih Putra Candrasa. Sedangkan Maha Patih Candrasa memberikan sebuah kalung taring harimau untuk Maha Patih Kumbandha.


__ADS_2