DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 207


__ADS_3

Keesokan harinya setelah kedatangan Mbah Kangkas di istana Kerajaan Wiyagra Malela, Prabu Jabang Wiyagra langsung memberitahukan hal itu kepada Panglima Galang Tantra. Panglima Galang Tantra lalu menugaskan Arya Panunggul untuk membawa lima ribu orang prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Sekaligus membawa persenjataannya.


Sesuai yang telah disepakati bersama, Mbah Kangkas akan menggunakan ilmu kesaktiannya untuk memindahkan semua persenjataan berat yang akan ia gunakan, dari Kerajaan Wiyagra Malela ke padepokannya. Arya Panunggul dan pasukannya akan menunggu di Kota Taram Sari. Karena itu adalah tempat yang cocok sekaligus aman untuk melakukan pertemuan.


Kota Taram Sari adalah sebuah kota besar yang dipimpin oleh seorang pendekar perempuan, bernama Dara Gending. Dara Gending sendiri dulunya adalah seseorang yang juga sama-sama berjuang dengan Prabu Jabang Wiyagra, sebelum menjadi seorang raja. Setelah menjadi seorang raja, Prabu Jabang Wiyagra mengangkat Dara Gending menjadi seorang pemimpin di Taram Sari.


Kota Taram Sari terkenal dengan 'Kota Kaprajuritan'. Karena banyak sekali pendekar-pendekar perempuan yang lahir di Kota Taram Sari. Masih banyak lagi kota-kota besar yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Dan kebanyakan kota-kota besar itu dipimpin oleh para anak buah Prabu Jabang Wiyagra, saat Prabu Jabang Wiyagra masih menjadi seorang pejuang.


Taram Sari dibuat oleh Prabu Jabang Wiyagra di awal masa pemerintahannya. Prabu Jabang Wiyagra sengaja membuat Kota Taram Sari menjadi sarangnya para pendekar perempuan, karena pada masa pemerintahan baru, Prabu Jabang Wiyagra masih mengalami banyak masalah di kerajaannya. Salah satunya adalah krisis moral yang menjatuhkan harga diri perempuan.


Dengan adanya Dara Gending, Prabu Jabang Wiyagra membuat Kota Taram Sari dan mengangkat Dara Gending menjadi seorang pemimpin. Orang-orang memanggilnya Panglima Dara Gending. Sebenarnya nama Panglima Dara Gending tidak lagi asing di telinga orang-orang Kerajaan Wiyagra Malela. Hanya saja namanya tidak dikenal sampai keluar. Karena Prabu Jabang Wiyagra selalu menyembunyikannya.


Maksud Prabu Jabang Wiyagra menyembunyikan semua anak buahnya yang kini telah diangkat menjadi Panglima adalah, agar tidak suatu hari nanti, jika Prabu Jabang Wiyagra benar-benar dihadapkan pada masalah besar yang sudah tidak lagi memiliki jalan keluar, maka Prabu Jabang Wiyagra akan mengeluarkan para harimau-harimaunya dari sarang mereka. Yang artinya, masalah yang dihadapi Prabu Jabang Wiyagra sekarang bukanlah masalah yang benar-benar rumit.


Prabu Jabang Wiyagra masih bisa menemukan jalan keluar atas permasalahannya. Prabu Jabang Wiyagra percaya, kalau suatu hari nanti akan terjadi perang besar yang melibatkan semua kerajaan yang ada di Tanah Jawa, seperti dulu. Karena orang-orang di masa lalu masih banyak yang hidup sampai sekarang. Dan mereka akan selalu menebarkan kejahatan dimana pun tempatnya mereka berada.


Ada sepuluh orang anak buah Prabu Jabang Wiyagra yang diangkat menjadi Panglima, untuk memimpin kota-kota besar.


Cakra Murti : Memimpin Kota Jaya Mandala.


Surya Karana : Memimpin Kota Matara Pura


Bayu Kusuma : Memimpin Kota Maja Lingga

__ADS_1


Dapa Samudra : Memimpin Kota Singo Bumi


Gatot Malasa : Memimpin Kota Pajaraman


Rama Kumara : Memimpin Kota Wara Bumi


Wira Raharja : Memimpin Kota Mada Kamulyan.


Lara Kencana : Memimpin Kota Paja Ratna.


Dala Bima : Memimpin Kota Singo Negoro.


Dara Gending : Memimpin Kota Taram Sari.


Awalnya Prabu Jabang Wiyagra tidak mau, karena tidak tega kalau harus melihat seorang perempuan mati di medan perang. Tapi karena Ratu Ayu Anindya terus mendesak setiap saat, akhirnya Prabu Jabang Wiyagra pun luluh, dan mengabulkan permintaan Ratu Ayu Anindya. Sehingga terpilihlah dua orang perempuan terbaik yang menjadi seorang pejuang.


Lara Kencana dan Dara Gending adalah dua pendekar paling berpengaruh dalam sepak terjang perjuangan Prabu Jabang Wiyagra mendirikan Kerajaan Wiyagra Malela. Namun kedua orang perempuan luar biasa ini, dan para Panglima yang lainnya, sengaja tidak pernah dilibatkan secara langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra setelah Kerajaan Wiyagra Malela berkembang.


Prabu Jabang Wiyagra kekuatan-kekuatan besarnya dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah yang bisa ia atasi sendiri. Suatu hari nanti, kesepuluh orang anak buah, sekaligus muridnya, akan ditunjukkan kepada musuh-musuhnya, pada saat yang tepat. Walaupun sebenarnya kesepuluh Panglima tersebut selalu menuntut kepada Prabu Jabang Wiyagra untuk bisa ambil bagian dalam peperangan yang terjadi sekarang.


Mereka semua ingin sekali dilibatkan seperti Prabu Putra Candrasa, yang sebelumnya menjabat sebagai Maha Patih. Tetapi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Prabu Jabang Wiyagra hanya akan menugaskan mereka secara langsung ketika dalam situasi yang sudah benar-benar rumit, sulit, dan situasi sudah tidak bisa dikondisikan. Karena kesepuluh Panglima ini ibarat pilarnya Kerajaan Wiyagra Malela.


Bahkan saat terjadi penyerangan di Kerajaan Putra Malela, mereka tidak diberikan izin oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk turun langsung. Mereka hanya diperbolehkan mengirimkan bantuan pasukan dan juga para pendekar yang ada di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Prabu Jabang Wiyagra benar-benar menjaga dengan baik semua orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra tidak mau unjuk taring ganas seperti kerajaan-kerajaan lain yang suka memamerkan kekuatan mereka kepada publik. Prabu Jabang Wiyagra belajar dari semua kerajaan yang sudah ia taklukkan. Bahwa menunjukkan kekuatan utama kepada musuh adalah sebuah kesalahan besar. Itu sama sekali tidak membuat musuh takut, justru akan semakin membuat musuh bersemangat untuk melakukan serangan.


Karena itulah Prabu Jabang Wiyagra lebih mengedepankan perkembangan kekuatan yang ada di dalam wilayaynya, daripada kekuatan serangan ke wilayah musuh. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau bertindak terlalu agresif. Tujuannya mendirikan Kerajaan Wiyagra Malela adalah, untuk menciptakan kesatuan dan persatuan antar orang Jawa, yang dikenal suka sekali berperang dengan saudara sendiri.


Nah, Prabu Jabang Wiyagra ingin mematahkan argumen orang-orang dari luar Nusantara, yang membuat Tanah Jawa seakan terdengar remeh.


*


*


*


Kembali kepada Arya Panunggul. Arya Panunggul sekarang sedang mempersiapkan lima ribu pasukannya untuk berangkat ke Kota Taram Sari. Di sana Mbah Kangkas sudah menunggunya sejak lama, ditemani oleh Panglima Dara Gending dan para pengawalnya. Baru kali ini Panglima Dara Gending benar-benar menunjukkan dirinya di hadapan publik.


Panglima Dara Gending yang cantik jelita itu selalu menjadi buah bibir orang-orang yang ada di Kota Taram Sari. Semua orang selalu penasaran dengan wajah cantik Panglima Dara Gending yang hingga sekarang belum pernah menikah dengan siapapun. Panglima Dara Gending menunggu kedatangan Arya Panunggul dan pasukannya di wilayah hutan yang ada di Taram Sari, yang sering digunakan sebagai tempat pelatihan keprajuritan.


"Sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat ini. Dulu tempat ini hanyalah hutan belantara, tapi sekarang semuanya sudah berubah. Tempat ini diperindah oleh Gusti Ratu Ayu Anindya. Tempat indah yang sangat luar biasa untuk pelatihan keprajuritan." Ucap Panglima Dara Gending kepada Mbah Kangkas.


"Jadi, Ratu Ayu Anindya ikut andil dalam pembangunan tempat ini?" Tanya Mbah Kangkas.


"Benar Mbah Kangkas. Ratu Ayu Anindya memiliki pengaruh yang besar untuk Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dialah pelopor para pejuang perempuan. Aku masih ingat dengan baik sampai sekarang, kalau dulu Ratu Ayu Anindya pernah mengancam akan meninggalkan Gusti Prabu Jabang Wiyagra, kalau Gusti Prabu Jabang Wiyagra tidak mau melibatkan perempuan dalam perjuangannya." Jawab Panglima Dara Gending sembari tertawa manis.


Senyumnya yang manis, kulitnya yang putih bersih, matanya yang indah, membuat siapa saja akan merasa sangat nyaman bila berada di dekatnya. Namun, dibalik parasnya yang indah itu, tersimpan kekejaman yang tidak semua orang tahu. Panglima Dara Gending sudah pernah membunuh ratusan orang, selama dia mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Panglima Dara Gending memang sangat baik kepada semua orang. Tapi di saat-saat tertentu, Panglima Dara Gending akan berubah menjadi sosok yang sangat kejam dan tidak berperasaan, ketika dia dihadapkan dengan para pengkhianat Prabu Jabang Wiyagra. Dia tidak segan untuk menyiksa musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra dengan kedua tangannya sendiri. Dan kekejaman itu masih berlaku hingga saat ini.


__ADS_2