DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 23


__ADS_3

Setelah Sang Maha Guru pergi dari Kerajaan Batih Reksa, Prabu Sura Kalana dan para abdi istana pun mulai membicarakan keputusan apa yang akan mereka pilih. Karena pilihan mereka akan menentukan bagaimana nasib mereka di depan.


Prabu Sura Kalana tidak mau kalau harus berperang dengan Kerajaan Wiyagra Malela yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah kerajaan besar, karena telah berhasil mengambil alih Kerajaan Reksa Pati. Tapi disisi lain dia juga tidak mungkin kalau harus berperang dengan uwanya sendiri, yaitu Prabu Suta Rawaja.


Pilihan yang diberikan oleh Sang Maha Guru benar-benar pilihan yang sangat sulit. Dia dibuat gundah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pilihannya hanya dua, memerangi uwanya sendiri, atau memerangi Prabu Jabang Wiyagra.


Jika memilih untuk memerangi uwanya sendiri, maka dia akan bergabung dengan Kerajaan Wiyagra Malela. Jika memilih memerangi Prabu Jabang Wiyagra, maka dia bukan hanya berhadapan dengan kedua panglima perang paling ganas di kerajaan itu, tapi dia juga berhadapan dengan Sang Maha Guru.


Karena Sang Maha Guru sudah mengatakan dengan jelas, dia akan membantu Prabu Jabang Wiyagra.


“Aku butuh kalian semua untuk memberikan suara, mana yang harus menjadi kawan, dan mana yang harus menjadi lawan. Ingat, setiap keputusan yang kita ambil akan menentukan nasib kita.” Ucap Prabu Sura Kalana kepada para abdinya.


Para abdi istana juga bingung harus mengatakan apa. Karena pihak Prabu Suta Rawaja dan Prabu Jabang Wiyagra, keduanya sama-sama penting, dan sama-sama berpengaruh besar untuk mereka. Salah ambil keputusan, maka tamatlah mereka semua. Nasib mereka bisa-bisa sama seperti Kerajaan Reksa Pati yang sekarang sudah diambil alih oleh Prabu Jabang Wiyagra.


“Mohon ampun Gusti Prabu, keputusan ini adalah keputusan yang sangat sulit. Salah sedikit, bukan hanya nyawa taruhannya, tapi juga kerajaan besar ini. Hamba rasa, alangkah baiknya Gusti Prabu sendiri yang memberikan keputusan. Dan kami akan dengan setia akan mengikuti setiap keputusan yang Gusti Prabu pilih.” Ucap Maha Patih Kumbandha.


“Itulah kenapa aku meminta pendapat kalian. Karena aku tidak mau salah langkah. Kalau sampai salah, hancurlah kita semua. Kedua belah pihak sama-sama kuat, dan sama-sama berbahaya. Kalau aku memilih memerangi Uwa Prabu Suta Rawaja, artinya aku memerangi keluargaku sendiri.”

__ADS_1


“.......Dan kalau aku memilih memerangi Kerajaan Wiyagra Malela, aku bukan hanya memerangi saudara seperguruanku. Tapi aku juga memerangi Sang Maha Guru. Orang tua kita semua.”


Mendengar ucapan Sang Prabu, mereka semua yang ada di ruangan itu semakin kebingungan. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa. Semua pilihan seakan menjebak mereka. Sebuah jalan buntu yang jelas akan membunuh mereka.


“Mohon ampun Gusti Prabu, hamba izin bicara.” Ucap salah seorang Patih.


“Silahkan Patihku.”


“Menurut hamba, pertikaian dengan keluarga sendiri harus sudah diakhiri. Gusti Prabu adalah seorang raja besar, sangat tidak baik kalau sampai perang antar keluarga ini turun temurun sampai ke anak cucu Gusti Prabu sendiri.”


“Apa maksudmu Patih?”


“.....Gusti Prabu Suta Rawaja memiliki jasa besar kepada Kerajaan Batih Reksa, hingga kerajaan ini menjadi kerajaan besar seperti sekarang.” Ucap Sang Patih.


Prabu Sura Kalana mengangguk-angguk tanda kalau dia sepertinya setuju dengan pendapat Patihnya. Namun kemudian, Maha Patih Kumbandha kembali angkat bicara, dan mematahkan argumen Sang Patih, dengan mengingatkan peristiwa beberapa tahun lalu.


Sang Maha Guru-lah yang memiliki jasa besar, karenad ia yang menyelamatkan Prabu Sura Kalana. Dan yang membangun Kerajaan Batih Reksa bukanlah Prabu Suta Rawaja, melainkan orang-orang yang peduli kepada Prabu Sura Kalana.

__ADS_1


Prabu Suta Rawaja bahkan tidak melakukan usaha apa pun untuk menyelamatkan keponakannya. Bahkan sepanjang Kerajaan Batih Reksa berdiri, Prabu Suta Rawaja hanya melakukan tiga kali kunjungan saja. Itu pun dengan rentan waktu yang sangat lama.


Kontribusinya hanyalah beberapa bongkah emas yang jumlah tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan Sang Maha Guru yang telah menyelamatkan nyawa Prabu Sura Kalana.


Pendapat itu jelas langsung menyadarkan Prabu Sura Kalana. Prabu Sura Kalana juga ingat, kalau Prabu Suta Rawaja pernah mengatakan, kalau dirinya kecewa karena Prabu Sura Kalana membunuh ayahnya sendiri.


Padahal prajurit yang bodoh sekali pun tahu, kalau yang membunuh Prabu Jaya Digdaya adalah Gabah Lanang. Karena hanya Gabah Lanang yang tahu pasti apa kelemahan Prabu Jaya Digdaya.


Prabu Suta Rawaja bisa dibilang hanya cari aman. Dia juga tidak mengusut peristiwa pembunuhan Prabu Jaya Digdaya. Dia justru menjatuhkan tuduhan kepada Prabu Sura Kalana, seperti yang lainnya. Tidak ada usaha sedikit pun dari Prabu Suta Rawaja untuk membela keponakannya yang saat itu tidak didukung oleh siapa pun.


Dan setelah Kerajaan Reksa Pati berdiri, dia memberikan bongkahan emas sebagai tanda permintaan maaf. Jelas hal itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan kepada Prabu Sura Kalana.


“Ya! Kamu benar Maha Patih. Dulu aku diasingkan. Dimusuhi. Dibiarkan menderita dalam penjara. Bahkan aku diperlakukan seperti hewan!” Ucap Prabu Sura Kalana dengan nada marah karena mengingat peristiwa di masa lalu yang sangat menyakitkan itu.


Prabu Sura Kalana pun berdiri dan memberikan keputusan di hadapan semua orang, dan dengan tegas ia katakan, kalau dia akan memerangi uwanya sendiri. Dan bergabung dengan Prabu Suta Rawaja.


“Aku! Prabu Sura Kalana memutuskan! Aku bersumpah untuk setia kepada Kerajaan Wiyagra Malela yang dipimpin oleh Prabu Jabang Wiyagra! Dan aku dengan senang hati! Akan memerangi uwaku sendiri!” Ucap Prabu Sura Kalana dengan tegas.

__ADS_1


Semua orang yang di ruangan itu pun bersorak gembira, karena Prabu Sura Kalana akhirnya memberikan keputusan yang tepat. Hanya ada satu orang yang tidak senang dengan keputusan itu, yaitu Sang Patih.


Tanpa siapa pun tahu, dia adalah antek dan mata-mata yang sudah lama dikirimkan oleh Prabu Suta Rawaja untuk mengawasi pergerakan Prabu Sura Kalana.


__ADS_2