
"Bagaimana dengan keadaan Ki Singo Rogo? Tabib?" Tanya Panglima Kinjiri kepada tabibnya.
"Mohon maaf Panglima, keadaan Ki Singo Rogo sangat-sangat parah. Luka dalamnya tidak bisa disembuhkan dengan obat biasa. Obat-obatan yang selama ini kami gunakan hanya mampu untuk menghambat luka yang ada di tubuhnya. Tapi tidak bisa menjamin kalau dia akan bertahan selamanya."
"Bagaimana bisa seperti itu? Kenapa gak bisa separah ini Tabib?"
"Ki Singo Rogo sepertinya mendapatkan serangan di bagian tulang rusuknya. Yang langsung membuat dua tulang rusuknya retak. Dan hal itu juga berakibat buruk kepada jantungnya. Hamba tidak yakin kalau Ki Singo Rogo bisa bertahan lebih lama lagi, Panglima. Kecuali, kalau Ki Singo Rogo dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena di sana banyak sekali para tabib sakti."
Panglima Kinjiri menghela nafas panjang. Dia begitu prihatin dengan keadaan Ki Singo Rogo. Ki Singo Rogo mengorbankan dirinya untuk menolong Panglima Kinjiri. Panglima Kinjiri merasa sangat bersalah, karena sebagai seorang Panglima, ia tidak bisa melindungi abdi setianya. Panglima Kinjiri ingin sekali membawa Ki Singo Rogo ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Tapi dia masih harus menjalankan tugasnya, menjaga keamanan dan membersihkan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra, yang ada di Kota Jaya Pancana.
Saat ini keadaan Kota Jaya Pancana masih panas, sejak pertempuran besar kemarin. Panglima Kinjiri tidak mungkin meninggalkan pasukannya begitu saja. Karena belum ada orang yang mampu menggantikan posisi Ki Singo Rogo, untuk mewakili dirinya dalam memimpin seluruh pasukan. Panglima Kinjiri kebingungan harus mengambil langkah apa. Kalau Panglima Kinjiri mengirimkan seseorang untuk membawa Ki Singo Rogo, maka tidak ada jaminan kalau di perjalanan mereka tidak mendapatkan hambatan. Apalagi sekarang masih banyak antek-antek musuh yang berkeliaran.
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan Tabib? Aku tidak mungkin mengantarnya sendiri ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau aku mengirimkan pasukan ke sana, itu pun tidak menjamin kalau di perjalanan Ki Singo Rogo akan baik-baik saja."
"Begini saja Panglima. Panglima Kinjiri minta saja bantuan kepada Ki Wangkal, atau Ki Joko Gondol. Hamba mengenal baik mereka berdua saat di Padepokan Ageng Reksa Pati. Dan tentunya hanya Panglima-lah yang tahu bagaimana caranya menghubungi mereka berdua."
__ADS_1
"Ya! Kamu benar tabib. Aku akan langsung menghubungi mereka berdua."
Panglima Kinjiri langsung menggunakan kemampuan telepatinya untuk menghubungi Ki Joko Gondol dan Ki Wangkal. Saat itu mereka berdua sedang melakukan meditasi di sebuah gua, yang memang biasa mereka gunakan untuk bertapa bersama. Ki Joko Gondol dan Ki Wangkal pun terkejut karena Panglima Kinjiri memanggil mereka. Padahal mereka berdua sudah sangat lama melakukan meditasi tersebut. Bahkan sebelum pertarungan melawan Ratna Malangi dimulai, Ki Joko Gondol dan Ki Wangkal sudah melakukan meditasi sejak lama. Karena itulah mereka tidak muncul saat pertempuran melawan Ratna Malangi.
"Ada apa Panglima Kinjiri? Kenapa Panglima memanggil kami?" Tanya Ki Wangkal dalam percakapan antar batin tersebut.
"Maafkan aku karena harus mengganggu kalian. Salah satu saudara kalian sedang sakit parah. Dan tabibku mengatakan, kalau hanya kalian berdualah yang bisa membantu kesembuhan Ki Singo Rogo. Dia benar-benar dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Saat ini situasi di seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela sedang sangat genting. Aku tidak bisa meninggalkan Kota Jaya Pancana."
Ki Joko Gondol dan Ki Wangkal jelas tidak bisa membantu Panglima Kinjiri untuk saat ini. Karena mereka belum selesai dengan meditasi yang sudah lama mereka lakukan. Namun mereka mengatakan, kalau mereka baru bisa kembali satu bulan lagi. Dan selama itu pula, Panglima Kinjiri diminta untuk tetap menjaga keadaan Ki Singo Rogo dengan baik. Para tabib tetap harus menggunakan obat yang biasa mereka gunakan. Karena hanya dengan cara itulah, Ki Singo Rogo masih bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Ki Wangkal dan Ki Joko Gondol sebenarnya sudah mengetahui semua yang terjadi kepada sahabat mereka.
Entah untuk apa, hanya mereka berdua saja yang boleh mengetahuinya. Akhirnya, dengan terpaksa Panglima Kinjiri harus menerima semua keputusan itu. Sangat tidak baik kalau Panglima Kinjiri terus mendesak mereka berdua untuk kembali. Apalagi yang mereka berdua lakukan adalah atas dasar perintah dari Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Ki Joko Gondol dan Ki Wangkal suka meminta maaf kepada Panglima Kinjiri, karena tidak bisa membantunya untuk saat ini. Tapi mereka berdua berjanji, kalau mereka akan kembali dalam waktu satu bulan lagi. Apa boleh buat? Panglima Kinjiri harus bersabar untuk menunggu kedatangan mereka berdua.
Panglima Kinjiri memerintahkan para tabibnya untuk mengawasi dengan ketat keadaan Ki Singo Rogo. Bahkan Panglima Kinjiri menaruh pendekar-pendekar terbaik yang ada di Kota Jaya Pancana, untuk menjaga keamanan rumah, yang dijadikan tempat untuk mengobati Ki Singo Rogo.
"Kami benar-benar meminta maaf sebelumnya, Panglima. Mohon Panglima tidak menghukum kami kalau sampai kami berbuat lalai. Karena kami sebenarnya sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyembuhkan Ki Singo Rogo. Kami sudah berusaha semampu kami. Mohon ampuni kami semua yang ada di sini, Panglima." Ucap seorang tabib yang meminta maaf kepada Panglima Kinjiri, karena merasa sangat tidak enak hati.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku tidak akan menyalahkan kalian. Kalaupun kalian sampai berbuat kesalahan. Selama kesalahan itu tidak kalian sengaja, dengan lapang dada aku akan memaafkan kalian semua. Kalian semua sudah berusaha dengan sangat keras. Kita semua sama. Tapi tetaplah berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ki Singo Rogo. Semoga saja ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa."
"Terima kasih Panglima! Terima kasih! Kami pasti akan terus berusaha untuk merawat Ki Singo Rogo dengan baik."
"Terima kasih kembali. Sekarang, kalian semua lanjutkan tugas kalian. Aku juga harus melanjutkan kembali tugasku. Para pendekar juga akan menjaga rumah ini. Kalau kalian membutuhkan sesuatu, kalian minta saja bantuan kepada mereka. Sekecil apapun itu. Kalian paham?"
"Paham Panglima."
"Bagus. Aku permisi dulu."
"Silahkan Panglima."
Panglima Kinjiri akhirnya memutuskan untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang Panglima. Meskipun masalah kesembuhan Ki Singo Rogo masih sangat mengganjal dalam pikirannya, tetapi dia harus mengesampingkan hal tersebut. Dikarenakan ada ribuan pasukan yang sedang menunggu perintah lanjutan darinya. Panglima Kinjiri hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Ki Singo Rogo. Dia sudah mempercayakan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Karena orang yang bisa menolong Ki Singo Rogo saat ini masih berada di tempat lain.
Apapun keadaannya, Panglima Kinjiri tetap harus bersabar, menerima berbagai macam ujian yang datang kepada dirinya. Meskipun Panglima Kinjiri sudah terluka berkali-kali, tapi ia sama sekali tidak ingin berhenti dari tanggung jawab yang sudah diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sempat beberapa kali Prabu Jabang Wiyagra menyarankan kepada Panglima Kinjiri untuk menyerahkan jabatannya, kalau dia sudah merasa sangat lelah dengan tanggung jawab yang sedang ia jalankan. Namun Panglima Kinjiri menolak mentah-mentah hal tersebut, karena semua ini ia lakukan sebagai obat untuk rasa bersalahnya kepada Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Sekaligus untuk membuktikan kepada semua orang yang dulu meragukannya, kalau sekarang Panglima Kinjiri sudah berubah, dan kembali ke jalan yang benar. Walaupun tak terasa sudah hampir lima tahun Panglima Kinjiri mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra, tetapi dia masih belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya, atas semua dosa-dosa yang telah ia lakukan di masa lalu. Saat masih menjadi abdi setia Prabu Ditya Kalana. Terkadang situasi pertempuran semacam ini bisa mengembalikan ingatan masa lalunya, saat dia masih menjadi Maha Patih di Kerajaan Reksa Pati. Namun semua itu ia lawan dengan penuh keyakinan.