
Selamat dari serangan sihir yang dilakukan oleh Patri Asih, yang dibantu oleh para abdi setianya, Prabu Jabang Wiyagra langsung memerintahkan para Patih untuk mempersiapkan semua pasukan yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra sudah bertekad kuat untuk melakukan penyerangan kepada setiap orang yang berbuat kerusuhan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Termasuk para pelaku ilmu sihir yang tidak berpihak kepadanya.
Keputusan Prabu Jabang Wiyagra didukung penuh oleh para abdinya yang setia. Sebagai seorang penasehat raja, Mbah Kangkas juga mendukung keputusan tersebut. Karena jika didiamkan terus-menerus, maka akan semakin banyak kekacauan yang dibuat oleh musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra. Penyerangan yang dilakukan oleh Patri Asih kepada Prabu Jabang Wiyagra malam ini menjadi sebuah tanda, kalau Patri Asih sudah mengibarkan bendera perang.
"Aku tidak akan menahan diriku lagi Mbah. Mulai malam ini juga, siapkan seluruh pasukanku yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Perintahkan mereka semua untuk melakukan penyerangan kepada setiap orang yang terendus melakukan kekacauan di wilayah kekuasaanku. Sekalipun hanya seorang perampok." Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas dan juga para Patihnya.
Semua Patih yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela, langsung mempersiapkan pasukan mereka masing-masing. Prabu Jabang Wiyagra langsung menghubungi Maha Patih Lare Damar dengan telepati. Prabu Jabang Wiyagra memberitahukan semuanya, dan juga alasan kenapa melakukan penyerangan secara besar-besaran. Maha Patih Lare Damar jelas tidak bisa menolak perintah yang diberikan Prabu Jabang Wiyagra.
Karena Prabu Jabang Wiyagra juga memberikan perintah kepada Maha Patih Lare Damar untuk pemimpin pasukannya, melakukan penyerangan ke setiap wilayah yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Serangan dadakan yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra akan membuat semua musuhnya kocar-kacir, karena diserang dalam keadaan yang tidak siap. Dan yang lebih mengerikannya lagi, tidak akan ada bicara yang menampung mereka.
Dengan kata lain, Prabu Jabang Wiyagra menginginkan kematian semua musuh-musuhnya. Raja-raja yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra juga langsung diberitahu mengenai serangan mendadak tersebut. Dalam keadaan yang antara siap, dan tidak siap, mereka tetap harus menjalankan perintah dari raja besar mereka. Beruntungnya, semua raja yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra memiliki banyak pasukan yang sekarang berada di kerajaan mereka masing-masing. Dengan begitu akan semakin mudah untuk para raja memberikan perintah kepada pasukan mereka.
Para pasukan yang menyebarkan berita tersebut juga diberitahu mengenai alasan mengapa Prabu Jabang Wiyagra melakukan serangan secara mendadak kepada musuh-musuhnya. Semua orang yang mendukung pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra, jelas tidak bisa menerima hal itu. Mereka tidak terima kalau raja besar mereka diserang dengan cara yang sangat curang. Mendengar alasan kuat tersebut, mereka yang sebelumnya bersikap tenang, sekarang mulai meradang. Dan bertekad kuat untuk membalaskan dendam.
Seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela dikerahkan untuk menyerang wilayah Kerajaan Panca Warna, dan juga seluruh wilayah yang belum ditaklukan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Ribuan pasukan berbondong-bondong membawa senjata terbaik mereka masing-masing. Mereka sudah tidak peduli lagi siapa yang akan mereka habisi. Semua orang yang ada di Kerajaan Panca Warna juga terkena imbasnya. Siapa yang berusaha melawan, sudah pasti akan langsung di bantai.
Zafir yang baru mendengar kabar itu pun sangat terkejut. Dia tidak bisa berbuat banyak selain melihat kekejaman terjadi di seluruh wilayah yang diduduki oleh musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra. Zafir dan murid-muridnya hanya bisa berdoa untuk keselamatan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Zafir juga mendatangi Prabu Jabang Wiyagra untuk melihat langsung bagaimana keadaannya sekarang. Zafir juga mempertanyakan penyerangan besar-besaran yang dilakukan Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
"Mengapa Maha Raja melakukan ini? Apakah tidak ada cara yang jauh lebih baik lagi Maha Raja?" Tanya Zafir kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Zafir, aku sudah cukup lama untuk bersabar menghadapi musuh-musuhku. Aku berkali-kali memberikan kesempatan kepada mereka untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi mereka membalasnya dengan kekejaman dan juga kelicikan. Maka sekaranglah waktunya untuk aku membalas kekejaman mereka."
"...Aku tidak mau melihat rakyatku sengsara karena perbuatannya mereka lakukan. Aku lebih baik mendapatkan gelar seorang raja yang kejam, tapi menjamin keselamatan rakyatnya. Daripada mendapatkan gelar raja yang bijak, tetapi membiarkan musuh-musuhnya berkeliaran di luar sana. Dan melakukan kekejaman secara bebas, dan tidak taat kepada aturan." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
Zafir hanya terdiam mendengar jawaban tersebut. Apa yang dilakukan oleh musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra memang benar adanya. Mereka kerap kali berbuat kekacauan dan keonaran di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan mereka tidak segan untuk menindas rakyat yang tidak bersalah. Prabu Jabang Wiyagra sudah cukup bersabar untuk menghadapi musuh-musuhnya selama ini. Namun, dengan semua kelicikan yang ia dapatkan malam ini, Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa tinggal diam lagi. Sudah waktunya Prabu Jabang Wiyagra untuk membuat tindakan dan perhitungan.
Walaupun terkesan sangat kejam, tapi hal itu akan jauh lebih baik, daripada berdiam diri dan membiarkan musuh-musuhnya berkeliaran secara bebas, melakukan kejahatan di segala tempat. Prabu Jabang Wiyagra sudah menahan amarahnya selama bertahun-tahun, karena dia sangat berharap kalau musuh-musuhnya akan sadar, suatu hari nanti. Tapi apa yang ia dapatkan? Justru pemerintahnya menjadi kacau balau seperti sekarang. Kemunduran yang terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela, diakibatkan karena ulah musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra.
*
*
"Lapor Panglima!"
"Silahkan. Ada apa prajurit?" Tanya Panglima Kinjiri kepada salah satu prajurit yang menemuinya.
__ADS_1
"Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra telah memberikan perintah penyerangan secara besar-besaran, kepada semua orang yang membuat kekacauan, di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela."
"Dari mana kamu bisa mengetahui hal tersebut? Tidak mungkin Maha Raja melakukan penyerangan secara mendadak seperti ini."
"Mohon maaf Panglima. Hamba mendapatkan laporan dari surat yang dikirimkan oleh salah satu anggota pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, utusan Patih Panamaya. Patih Panamaya tidak bisa datang ke tempat ini secara langsung, karena beliau harus mempersiapkan pasukannya sendiri, melakukan penyerangan."
"Mana suratnya?"
"Ini Panglima." Kata si prajurit itu, sembari menyerahkan surat yang ia dapatkan.
Panglima Kinjiri sangat-sangat terkejut melihat isi surat tersebut. Dari cara kepenulisannya, Panglima Kinjiri memahami betul kalau surat itu ditulis oleh orang-orang kepercayaan Prabu Jabang Wiyagra. Lekukan-lekukan huruf dalam surat tersebut sangat mudah dikenali. Tapi sangat sulit untuk ditiru. Karena hanya orang-orang kepercayaan Prabu Jabang Wiyagra saja yang bisa membuat tulisan dengan cara seperti itu. Yang berarti isi surat tersebut bukanlah tipuan ataupun kebohongan.
Surat tersebut memang ditujukan kepada seluruh Panglima yang ada di bawah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Panglima Kinjiri akhirnya memutuskan untuk memerintahkan para pasukannya, agar mereka bersiap-siap untuk melakukan penyerangan. Dengan terpaksa, Panglima Kinjiri harus memimpin pasukannya secara langsung, dikarenakan Ki Singo Rogo masih belum sembuh dari sakitnya, karena terluka saat melawan Ratna Malangi.
"Baiklah. Perintah seluruh pasukan dan juga para pendekar yang ada di Jaya Pancana. Katakan kalau ini perintah langsung dari Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dan jangan biarkan ada satupun pasukan yang tidak ikut dalam penyerangan ini. Atau mereka akan mendapatkan hukuman yang berat." Perintah Panglima Kinjiri kepada si prajurit itu.
"Baik Panglima!"
__ADS_1