
Prabu Bujang Antasura yang sudah tidak sadarkan diri langsung dibawa ke ruang pengobatan oleh Maha Patih Widhala. Disana sudah ada beberapa tabib yang bersiap dengan obat-obatan di meja mereka.
Prabu Bujang Antasura masih bernafas, tapi detak jantungnya sangat lemah. Hal itu membuat Prabu Bagas Candramawa khawatir dan cemas, karena kalau sampai terjadi sesuatu kepada Prabu Bujang Antasura, maka tamatlah sudah Kerajaan Antasura.
Beruntunglah, tidak lama dari itu, Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa sampai di istana Kerajaan Candramawa. Mereka berdua pun langsung memasuki ruangan pengobatan bersama Prabu Bagas Candramawa.
Disana terlihat kalau keadaan Prabu Bujang Antasura semakin parah. Patih Kinjiri langsung saja membuka penutup kendinya dan membasuh seluruh tubuh Prabu Bujang Antasura dengan air dalam kendi kecil itu.
Tubuh Prabu Bujang Antasura pun langsung bereaksi. Tubuhnya langsung kejang untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya Prabu Bujang Antasura pun mulai sadarkan diri.
Degup jantungnya juga perlahan kembali normal.
Patih Kinjiri juga langsung meminumkan air ajaib itu kepada Prabu Bujang Antasura. Seketika Prabu Bujang Antasura merasakan panas diseluruh tubuhnya.
Dia berteriak kepanasan, tapi Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa menahan tubuhnya agar tidak berontak. Rasa panas itu seakan membakar seluruh tubuhnya.
Namun perlahan rasa panasnya juga menghilang. Dan menjadi rasa dingin. Prabu Bujang Antasura pun merasakan perbedaan pada tubuhnya. Dia merasa lebih bugar dari sebelumnya.
“Luar biasa. Terimakasih Patih Kinjiri. Badanku sudah baikkan sekarang.” Ucap Prabu Bujang Antasura.
“Sama-sama Gusti Prabu. Dan sisanya, harus Gusti Prabu gunakan untuk berendam, guna mengembalikan semua kesaktian Gusti Prabu yang telah hilang.”
“Jadi, kesaktianku juga lenyap?”
“Benar Gusti Prabu. Itulah yang membuat tubuh Gusti Prabu Antasura sulit untk bergerak, karena ilmu kesaktian Gusti Prabu lenyap karena benturan pusaka yang Gusti Prabu miliki.”
__ADS_1
“Pantas saja. Aku kesulitan menggerakkan tubuhku. Ternyata selama ini ilmu kesaktianku hilang.”
“Benar Gusti Prabu.”
Prabu Bujang Antasura pun mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada Patih Kinjiri karena sudah berhasil membawakan obat untuknya. Tapi disinilah dia baru sadar, kalau Lare Damar tidak ada disini.
Prabu Bujang Antasura menanyakan keadaan Lare Damar kepada Patih Kinjiri, karena dia tidak terlihat. Dialah orang yang berjasa untuk kesembuhannya, dia ingin mengucapkan terimakasih kepada Lare Damar.
“Ceritanya panjang Gusti Prabu. Yang pasti, Lare Damar dalam keadaaan baik-baik saja. Dan pada waktunya nanti, dia akan kembali. Dan datang ke Kerajaan Antasura untuk bertemu dengan Gusti Prabu Bujang Antasura.”
“Sayang sekali, aku ingin sekali mengucapkan terimakasih kepadanya. Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan padanya, pintu Kerajaan Antasura selalu terbuka lebar untuknnya.”
“Nggih Gusti Prabu.”
Patih Kinjiri enggan untuk menceritakan apa yang ia alami bersama Lare Damar di Gunung Khayangan. Patih Kinjiri tidak mau mengingat-ingat lagi apa yang sudah ia alami di tempat itu. Sekaligus untuk menjaga rahasia di tempat itu tetap aman.
“Biarakan urusan istana Gusti Prabu saya yang urus Gusti Prabu. Hamba akan berangkat kesana sekarang. Barulah nanti Gusti Prabu menyusul.”
“.....Hamba khawatir, kalau musuh masih mengincar istana. Hamba bisa membantu para prajurit yang terluka juga Gusti Prabu..” Ucap Patih Kinjiri.
“Terimakasih Patih Kinjiri. Berangkatlah. Aku akan menyusul setelah aku selesai di tempat ini.”
“Hamba permisi Gusti Prabu.”
“Berhati-hatilah.”
__ADS_1
Prabu Bagas Candramawa juga memberi perintah kepada Maha Patih Widhala untuk kembali ke istana Kerajaan Antasura, untuk membantu para pasukan yang terluka, bersama dengan Patih Kinjiri.
Sedangkan Maha Patih Putra Candrasa sendiri harus segera pulang ke Kerajaan Wiyagra Malela, karena masih banyak hal yang harus dia kerjakan disana. Sehingga dia tidak bisa berlama-lama disini.
Prabu Bagas Candramawa mempersiapkan semua pasukannya. Dia khawatir kalau musuh bisa saja datang secara tiba-tiba ke istananya. Dia juga menyuruh para Patihnya untuk bersiap dengan semua persenjataan istana.
Para pendekar baju hitam juga pasti akan mengincar Kerajaan Candramawa, karena Prabu Bagas Candramawa yang selama ini membantu Kerajaan Antasura.
Para pendekar berbaju hitam itu pasti tidak akan berdiam diri begitu saja. Mereka pasti akan membalas kematian saudara-saudara mereka yang mati ditangan Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa.
Prabu Bagas Candramawa curiga, kalau yang melakukan hal ini adalah Ditya Kalana. Karena hanya Ditya Kalana yang boleh dikatakan sanggup untuk melakukan hal seperti itu.
Sedangkan Prabu Suta Rawaja kemungkinan tidak akan melakukannya, karena saat ini Keraaan Rawaja juga sedang menghadapi perang saudara. Dia tidak akan sebodoh itu mengirimkan pasukan saat keadaan kerajaannya sendiri saja sedang kacau balau.
Bisa saja Kerajaan Rawaja Pati juga tengah mengalami hal yang sama. Atau bisa saja lebih parah dari yang Prabu Bujang Antasura alami. Karena sekarang, Kerajaan Rawaja Pati sudah tidak sehebat dulu.
Sudah banyak pendekar sakti yang datang ke wilayah Kerajaan Rawaja Pati untuk menaklukkan wilayah yang dikuasai oleh kerajaan besar yang sebentar lagi mungkin akan hancur itu.
Setelah peristiwa pembantaian itu, Prabu Bagas Candramawa mematahkan hubungan dengan Prabu Suta Rawaja. Karena dia tidak mau lagi menjadi budak pemikiran liar Prabu Suta Rawaja.
Prabu Bagas Candramawa bahkan tidak mengirimkan mata-mata, karena dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan Prabu Suta Rawaja. Dia juga sudah tidak peduli kalau pun kerajaan yang dulu dikenal sebagai kerajaan paling kuat itu hancur.
Justru akan lebih baik kalau Kerajaan Rawaja Pati runtuh, jadi tidak ada lagi orang yang harus menjadi korban kelicikan dari Prabu Suta Rawaja. Apalagi sekarang kekuatan Kerajaan Rawaja Pati sudah mulai berkurang.
Dulu, Kerajaan Rawaja Pati adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki jumlah pasukan paling banyak. Tapi sekarang jumlahnya sudah berkurang, karena sudah banyak orang yang melepaskan diri dari Kerajaan Rawaja Pati.
__ADS_1
Serangan dari Mangku Cendrasih dan pasukannya juga sudah menambahkan angka kematian di Kerajaan Rawaja Pati. Jadi, sekarang Kerajaan Rawaja Pati benar-benar sudah bocor disana-sini.
Banyak konflik internal. Perang saudara, antar kerajaan-kerajaan kecil. Para pejabat istana yang korup. Dan juga berkurangnya kepercayaan rakyat Kerajaan Rawaja Pati kepada Prabu Suta Rawaja.