
Maha Patih Galangan pergi ke Kerajaan Wiyagra Malela dengan membawa sebuah surat penting dari Prabu Bawesi. Prabu Bawesi ingin meluruskan apa yang terjadi di kerajaannya selama ini. Maha Patih Galangan diutus tanpa pasukan, dengan menggunakan pakaian seperti orang kaya pada umumnya.
pakaian kebesarannya ya tanggal kan di sebuah kain, yang ia bawa di punggungnya. Maha Patih Galangan menggunakan Kuda hitam kesayangannya untuk mempercepat perjalanan ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sebenarnya Maha Patih Galangan bisa saja menggunakan ilmu melipat bumi untuk cepat sampai ke Kerajaan Wiyagra Malela.
Namun hal itu tidak ia lakukan, karena akan dianggap sebagai hal yang tidak sopan. Apalagi Maha Patih Galangan membawa surat perintah yang sangat penting. Maha Patih Galangan hanya memiliki waktu satu hari satu malam untuk sampai ke Kerajaan Wiyagra Malela. Dan selama itu, ia tidak boleh berhenti dalam perjalanan.
Kalau Maha Patih Galangan berhenti untuk beristirahat, ataupun melakukan hal yang lainnya, maka akan lebih lama untuk sampai ke Kerajaan Wiyagra Malela. Bisa dua atau tiga hari perjalanan. Karena letak istana Kerajaan Wesi Kuning berada cukup jauh dari wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Untungnya Medan yang dilalui tidak sesulit seperti menuju ke kerajaan yang lain.
Kerajaan Wiyagra Malela membuka jalan lebar-lebar yang menghubungkan ke seluruh kerajaan untuk membangun jalur perekonomian dan persahabatan antar kerajaan menjadi semakin mudah. Sehingga setiap kerajaan yang ingin berkunjung ke Kerajaan Wiyagra Malela, tidak merasa kesulitan hanya karena akses jalan.
Sama halnya dengan Maha Patih Galangan yang sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Sama sekali tidak menemukan hambatan sedikitpun. Karena setiap wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, selalu saja ada penjaga, walaupun sudah malam hari. Maha Patih Galangan dibuat takjub saat pertama kali menapakkan kakinya di wilayah perbatasan Kerajaan Wiyagra Malela.
Di sana dia disambut dengan sangat baik oleh para penjaga perbatasan. Oleh para penjaga, Maha Patih Galangan hanya dimintai sebuah surat ataupun tanda pengenalan diri. mau tidak mau Maha Patih Galangan harus mengatakan kepada mereka, kalau dia adalah utusan Prabu Bawesi dari Kerajaan Wesi Kuning.
Maha Patih Galangan juga menunjukkan sebuah tanda pengenal berupa mahkota kecil miliknya. Para penjaga langsung mengetahui kalau itu adalah tanda pengenal seorang Maha Patih saat memasuki sebuah wilayah di kerajaan lain. Para prajurit itu kemudian melaporkannya kepada pimpinan mereka. Dengan menunjukkan semua buktinya.
Setelah menunggu beberapa saat, para penjaga pun akhirnya memperbolehkannya masuk ke perbatasan. Dengan syarat, akan dikawal oleh para prajurit sampai ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah tuan-tuan. Saya diutus dengan membawa kabar baik, tadi saya akan mengikuti semua aturannya dengan baik. Terima kasih." Ucap Maha Patih Galangan kepada para prajurit perbatasan.
"Terima kasih sudah mau mengikuti aturan dengan baik. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanannya." Kata salah seorang prajurit.
Dengan pengawalan ketat dari para prajurit perbatasan, Maha Patih Galangan dikawal untuk diantarkan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Maha Patih Galangan melihat-lihat ke sekelilingnya. Dia begitu kagum dengan semua suasana yang ada di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.
Semua masyarakatnya sangat ramah kepada siapa saja, baik pedesaan maupun perkotaaan. Karena mengetahui kalau Maha Patih Galangan adalah seorang utusan penting, mereka juga menawari Maha Patih Galangan untuk beristirahat di tempat mereka secara gratis.
Namun Maha Patih Galangan menolaknya dengan halus, karena secepat mungkin dia harus sampai di Kerajaan Wiyagra Malela. Waktunya untuk tiba di istana Kerajaan Wiyagra Malela hanya sampai pagi hari nanti. Suasana di Kerajaan Wiyagra Malela selalu ramai, baik siang atau pun malam.
Selalu saja ada orang-orang yang sibuk berlalu-lalang dengan aktivitas mereka masing-masing. Bahkan rumah-rumah makan banyak yang masih buka dan masih ada pengunjung walaupun sudah larut malam. Suasana seperti itu sangat jarang ia dapatkan di Kerajaan Wesi Kuning.
Udaranya juga sangat sejuk dan nyaman. Siapa saja yang datang ke Kerajaan Wiyagra Malela pasti akan merasa selalu dimanjakan setiap saat. Suasana damai seperti inilah yang selama ini selalu Maha Patih Galangan harapkan. Walau pun Prabu Jabang Wiyagra terkenal kejam di cerita musuh-musuhnya, tapi hal itu bisa dibantah dengan semua keindahan yang ada di kerajaannya.
Dalam benaknya, Maha Patih Galangan berpikir, kalau memang Prabu Jabang Wiyagra adalah raja yang kejam, maka sangat tidak mungkin semua keindahan ini bisa terbangun di Kerajaan Wiyagra Malela.
"Aku yakin, Prabu Jabang Wiyagra pasti memiliki alasan yang kuat kenapa dia berbuat kejam kepada musuh-musuhnya, sama seperti Gusti Prabu Bawesi." Ucap Maha Patih Galangan dalam hati.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan sampai Gusti Patih. Istana Prabu Jabang Wiyagra sudah terlihat." Ucap salah seorang prajurit yang mengawal Maha Patih Galangan.
Maha Patih Galangan pun terkejut, karena perjalanan yang sangat jauh, dengan wilayah Kerajaan Wiyagra Malela yang sangat-sangat luas, bisa dicapai dengan waktu yang terasa sangat singkat.
"Kenapa bisa secepat ini tuan-tuan? Bukankah wilayah Kerajaan Wiyagra Malela sangat-sangat luas?" Tanya Maha Patih Galangan yang keheranan.
Para prajurit tersenyum kepada Maha Patih Galangan.
"Itu adalah keahlian setiap prajurit kerajaan yang menjaga perbatasan. Kami bisa mempercepat perjalanan. Lebih cepat dari apa yang Gusti Patih bayangkan." Jawab seorang prajurit.
"Sungguh tidak habis keindahan yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela ini. Saya tidak menyangka kalau para prajurit perbatasan dibekali dengan Ajian Sapu Angin." Ucap Maha Patih Galangan.
"Benar Gusti Patih. Dan hanya orang bodoh saja yang berani macam-macam dengan Prabu Jabang Wiyagra. Kami hanya bisa mengantarkan Gusti Patih sampai ke gerbang utama. Selebihnya, akan diambil alih oleh para penjaga gerbang."
"Dan kami berharap, Gusti Patih tidak berniat jahat kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kalau Gusti Patih menanam hal baik di istana ini, maka istana ini akan memberikan timbal balik yang baik pula kepada Gusti Patih Patih Galangan." Ucap dua orang pengawal itu.
Setelah sampai di gerbang utama, para prajurit perbatasan yang mengawal Maha Patih Galangan langsung memberikan surat perintah dari pimpinan mereka. Mereka juga menunjukkan mahkota kebesaran milik Maha Patih Galangan. Barulah kemudian Maha Patih Galangan diberi izin untuk masuk.
__ADS_1
Kuda kesayangannya dibawa oleh para prajurit yang menjaga istana. Sedangkan Maha Patih Galangan dikawal oleh Patih Dawala dan Patih Rekta yang secara kebetulan ada di sana. Maha Patih Galangan harus berjalan kaki dari gerbang utama, menuju gerbang kedua, ketiga, dan sampai gerbang yang kesembilan.
Barulah setelah itu Maha Patih Galangan bisa masuk ke dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dan sebelum bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, Maha Patih Galangan akan dibawa terlebih dahulu menuju ruang peristirahatan, untuk makan, minum, dan membersihkan dirinya.