DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 112


__ADS_3

Keputusan yang diambil oleh Nyai Dwi Sangkar membuat yang lainnya merasa sangat kecewa, termasuk dengan Ki Dampar yang tidak menyangka kalau istrinya akan mengkhianatinya. Dan lebih memilih laki-laki lain yang baru saja dia kenal. Padahal dulu Nyai Dwi Sangkar sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Ki Dampar.


Walaupun Ki Dampar tidak bisa melihat dengan kedua bola matanya, tetapi bukan berarti dia tidak mengetahui hal itu. Karena selama pertempuran dimulai, Ki Dampar sudah membunuh puluhan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan dia sangat cekatan dalam menghalau semua Serangan yang datang ke arahnya.


Dalam kondisi kecewa dan bercampur amarah, Ki Dampar menjadi semakin beringas. Dia melampiaskan semua kemarahannya kepada musuh-musuhnya. Lare Damar yang melihat kalau Ki Dampar adalah lawan yang sepadan, dia pun langsung menyerang Ki Dampar dengan Ajian Serat Jiwa yang dimilikinya.


Seketika tubuh Ki Dampar pun sulit untuk digerakkan. Bahkan nasibnya jauh lebih mengerikan daripada yang dialami oleh Maha Patih Kana Raga. Lare Damar yang tidak ingin buruannya itu lepas, seketika langsung menambahkan daya kekuatan dari Ajian Serat Jiwa yang ia miliki. Sehingga membuat Ki Dampar langsung tumbang di tempat.


Tubuh Ki Dampar berubah menjadi kering kerontang. Mulutnya terbuka menganga, dan sebagian gigi-giginya juga rontok. Bahkan rambut dari Ki Dampar, sebagian besar sudah terbakar. Tubuhnya menjadi sangat kosong, seperti terbakar oleh api. Karena melihat hal tersebut, Ditya Kalana dan yang lainnya pun berusaha untuk melarikan diri.


Maha Patih Putra Candrasa lalu memerintahkan semua orang untuk tetap fokus. Menghabisi semua sisa pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang masih berada di tempat ini. Karena tujuan mereka datang ke tempat ini adalah untuk menghancurkan istana Kerajaan Gelap Ngampar. Dan membunuh sebagian besar pasukannya.


Sedangkan untuk Ditya Kalana para pendekar yang membelanya, akan mereka urus di belakang, tanpa harus mengorbankan para pasukan mereka. Karena saat ini, jumlah pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela, sudah semakin sedikit. Banyak juga dari pihak pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang mati di tangan musuh mereka.


Musuh yang berhadapan dengan mereka kali ini, bukan musuh-musuh sembarangan seperti yang sebelumnya sudah mereka kalahkan. Mereka semua adalah orang-orang hebat yang melahirkan banyak sekali anggota pasukan yang hebat. Sehingga para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela banyak yang berhasil dikalahkan dan bahkan dibunuh.


Untuk kesekian kalinya, Lare Damar harus menahan diri untuk tidak mengejar Ditya Kalana dan seluruh pengikutnya yang sedang berusaha lari dari istana ini.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka semua pergi dari sini. Kita hancurkan saja istananya, dan kita rampas semua harta yang ada di dalam istana yang megah ini." Perintah Maha Patih Putra Candrasa.


"Lalu bagaimana dengan Ditya Kalana?" Tanya Lare Damar.


"Sudah. Kita bicarakan nanti saja, karena soal Ditya Kalana dan para pendekar yang mendukungnya, akan diambil alih oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Prabu Jabang Wiyagra yang akan mengurus mereka nantinya." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.


"Baiklah Maha Patih."


Karena Ditya Kalana beserta para pengikutnya sudah tidak ada disana, prajurit dari Kerajaan Gelap Ngampar pun akhirnya terdesak dan sebagian besar dari mereka juga tewas di halaman istana. Sedangkan sebagian lagi yang masih hidup, sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam istana, dan berusaha mempertahankan istana itu agar tidak dihancurkan.


Apalagi sekarang para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela sudah mulai mengambil harta benda yang ada di dalam istana tersebut. Sedikit demi sedikit pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela mulai mengumpulkan dan mengeluarkan harta benda yang bisa mereka bawa. Mereka juga mencuri puluhan kuda terbaik di kandang kuda yang ada di istana ini.


Karena pada malam penyerangan itu, banyak sekali pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar yang tidak sempat diberitahu karena keadaannya sudah sangat mendesak. Bahkan di dalam istana Kerajaan Gelap Ngampar, ada tiga orang raja yang tewas karena melawan Maha Patih Putra Candrasa.


Ketiga raja itu adalah raja-raja yang berada di bawah kepemimpinan Maha Patih Kana Raga. Mereka adalah para raja yang berasal dari kerajaan-kerajaan kecil, dan sama sekali tidak tahu bagaimana kekuatan lawan yang mereka hadapi. Sehingga mereka harus mati sia-sia di istana tersebut.


Bahkan semua pasukan yang dibawa oleh ketiga raja itu pun semuanya harus tewas, karena jumlah mereka yang memang sangat sangat-sangat terbatas. Dan yang lebih menyedihkan adalah, tidak ada satupun Patih yang ikut bertempur di Kerajaan Gelap Ngampar bersama ketiga raja tersebut.

__ADS_1


Entah apa yang dilakukan oleh para Patih, sehingga membiarkan para raja mereka turun tangan langsung, dengan hanya membawa pasukan yang sangat mudah dikalahkan. Bukan pasukan terbaik kerajaan ataupun para pendekar-pendekar sakti. Pasukan yang dibawa oleh ketiga raja itu hanyalah prajurit biasa.


Setelah semuanya selesai, Maha Patih Putra Candrasa langsung memerintahkan semua orang untuk mundur, dengan membawa semua hasil rampasan yang mereka bawa dari istana ini. Sekaligus membawa para pasukan yang terluka dan juga tewas di tempat. Para pasukan yang tewas dan terluka dibawa menggunakan kereta kuda yang ada di istana.


Sedangkan untuk para mayat pasukan Maha Patih Kana Raga, mereka semua dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang mengurusnya. Setelah Maha Patih Putra Candrasa dan seluruh pasukannya pergi, suasana di istana itu menjadi sangat hening dan sangat-sangat mencekam.


Cipratan darah ada di mana-mana. Anggota tubuh yang terpotong tercecer begitu saja. Banyak dari pasukan Maha Patih Kana Raga yang sudah kehilangan kepala mereka. Bahkan ada yang perutnya disobek hingga semua isinya keluar. Sebuah sajian yang amat sangat mengerikan.


Bahkan hingga hari menjelang pagi tidak ada satupun orang yang menyadari pembantaian massal di istana Kerajaan Gelap Ngampar. Karena tidak ada satupun orang yang berhasil selamat dari pembantaian tersebut. Setelah siang hari, barulah ada rombongan pasukan dari beberapa kerajaan yang berada di bawah kepemimpinan Maha Patih Kana Raga datang ke sana.


Mereka semua sama sekali tidak mengira kalau tempat itu sudah dipenuhi dengan mayat para pasukan istana Kerajaan Gelap Ngampar. Dan juga ratusan pasukan dari kerajaan-kerajaan yang membantu mereka pada malam pembantaian itu.


Para raja-raja yang datang ke sana bermaksud untuk membicarakan perihal tentang pertempuran besar dengan Kerajaan Wiyagra Malela yang akan segera terjadi, dengan Maha Patih Kana Raga. Namun setelah melihat hal tersebut, mereka semua benar-benar dibuat tidak berdaya.


Semua orang yang melihat itu terkulai lemas, serasa tidak mampu lagi untuk berdiri. Karena suasana yang sudah sangat mengerikan. Ditambah dengan bau darah dan bau mayat yang sudah sangat menyengat. Sebagian besar bangunan istana juga sudah terbakar, dan hancur di sana-sini.


Para raja yang datang ke sana memerintahkan pasukan mereka untuk mencari keberadaan Maha Patih Kana Raga di tempat itu. Sebagian lagi membereskan dan menguburkan mayat-mayat yang tergeletak dengan layak.

__ADS_1


Mereka semua terpaksa menggali lubang yang besar dan sangat dalam di samping istana Kerajaan Gelap Ngampar. Karena kalau tidak cepat ditangani, maka akan banyak mayat yang membusuk dan sulit untuk dikuburkan. Sehingga para pasukan yang tewas dikuburkan seadanya.


__ADS_2