DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 212


__ADS_3

Keberadaan Ratu Mekar Senggani di Kerajaan Putra Malela membuat istri Prabu Putra Candrasa, yaitu Ratu Sukma Jaya merasa tidak nyaman dan sering sekali kesal, karena Prabu Putra Candrasa sering menjenguk ke penjara rahasia yang mengurung Ratu Mekar Senggani. Walaupun Ratu Mekar Senggani diperlakukan seperti seorang budak, tapi tetap saja Ratu Sukma Jaya tidak menyukainya.


"Aku ingin Kanda menjatuhkan hukuman mati kepada Ratu Mekar Senggani. Dia sudah terlalu lama berada di tempat ini Kanda. Aku tidak suka." Ucap Ratu Sukma Jaya.


"Kenapa Dinda? Kanda tidak bisa melakukan apa-apa kepada Ratu Mekar Senggani, kalau bukan Prabu Jabang Wiyagra yang memberikan keputusan."


Ratu Sukma Jaya sering terlihat murung setiap kali Prabu Putra Candrasa mengunjungi penjara Ratu Mekar Senggani. Ratu Sukma Jaya merasa diduakan oleh suaminya dengan keberadaan Ratu Mekar Senggani di kerajaan ini.


"Tenang Dinda. Kanda hanya menjalankan tugas dari Prabu Jabang Wiyagra. Kanda sama sekali tidak memiliki maksud apapun. Kalau bukan Prabu Jabang Wiyagra yang memberikan perintah penahanan Ratu Mekar Senggani kepada Kanda, Kanda juga tidak mau." Ucap Prabu Putra Candrasa mencoba menenangkan istrinya.


Semarah apapun Ratu Sukma Jaya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus menuruti ucapan suaminya. Apa yang dilakukan oleh Prabu Putra Candrasa berdasarkan perintah dari Prabu Jabang Wiyagra. Kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak memberikan perintah, maka Prabu Putra Candrasa juga tidak akan melakukannya. Apalagi Ratu Mekar Senggani adalah seorang penjahat yang sangat berbahaya.


Dengan statusnya yang masih seorang ratu, Ratu Mekar Senggani akan tetap ada di hati rakyatnya. Walaupun sekarang Kerajaan Panca Warna tidak memiliki seorang ratu ataupun raja, tapi Kerajaan Panca Warna masih tetap berdiri kokoh, karena pada abdi Ratu Mekar Senggani masih terus menjalankan pemerintahan Kerajaan Panca Warna yang sudah kosong itu.


Kerajaan Panca Warna dijalankan oleh para Patih dan pejabat istana yang bekerja sama untuk tetap menjaga keutuhan Kerajaan Panca Warna, dan juga kehormatan Ratu Mekar Senggani. Mereka semua benar-benar para pengikut yang sangat setia. Sekalipun Ratu Mekar Senggani tidak duduk di singgasananya, tapi para abdi kerajaan tetap memuja namanya.

__ADS_1


Seakan ruh Ratu Mekar Senggani tertinggal di sana, dan menjalankan pemerintahannya seperti biasa. Entah bagaimana semua itu bisa dilakukan. Tapi kenyataannya, Kerajaan Panca Warna masih berdiri kokoh dan masih tetap ada hingga saat ini. Bahkan, saat murid-murid Mangku Cendrasih dikirim ke Kerajaan Panca Warna, mereka semua mengatakan hal yang sama.


"Kerajaan Panca Warna masih kokoh seperti dulu. Tidak ada sedikitpun yang berubah."


Kesaksian itu menimbulkan berbagai pertanyaan.


Bagaimana bisa sebuah kerajaan bisa berjalan tanpa seorang pemimpin?


Karena sebuah kerajaan yang memiliki pemimpin saja masih bisa hancur.


Maha Patih Baruncing sampai sekarang pun belum mau membuka mulut soal siapa yang memimpin Kerajaan Panca Warna. Maha Patih Baruncing bahkan rela dibunuh, daripada harus membeberkan apa yang terjadi di Kerajaan Panca Warna. Prabu Jabang Wiyagra dan Mangku Cendrasih tidak bisa melakukan banyak hal karena sebentar lagi hukuman pancung akan dilaksanakan. Setelah tertunda selama beberapa saat.


"Ingat Jabang Wiyagra! Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menaklukkan Tanah Jawa ini, di bawah kepemimpinanmu sendiri. Kamu akan menghadapi banyak sekali musuh yang semakin lama akan semakin kuat. Kamu akan dihadapkan pada masalah-masalah besar yang akan terus menerus menghantui kehidupanmu." Ucap Maha Patih Baruncing saat di dalam penjara bawah tanah.


Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak takut dengan ancaman Maha Patih Baruncing. Prabu Jabang Wiyagra sudah siap menghadapi segala hal yang akan terjadi. Karena sudah tentu semua musuhnya akan menuntut balas atas kekalahan mereka. Dan Prabu Jabang Wiyagra sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Bahkan dengan tegas Prabu Jabang Wiyagra menjawab,

__ADS_1


"Masalahku adalah masalahku. Bukan masalahmu. Dan masalahmu sekarang adalah, hidupmu akan segera berakhir. Tidak akan ada satupun hal yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan diri. Bahkan pujaan hatimu pun tidak akan pernah bisa lolos dari genggamanku." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


Sesekali Prabu Jabang Wiyagra mendatangi Maha Patih Baruncing untuk menggali informasi tentang Kerajaan Panca Warna. Namun Maha Patih Baruncing masih tetap teguh terhadap pendiriannya. Dia tidak mau menghianati Ratu Mekar Senggani, sekalipun dia akan mati. Karena Maha Patih Baruncing memang sudah lama menyimpan perasaan kepada Ratu Mekar Senggani.


Maha Patih Baruncing mencintai Ratu Mekar Senggani dengan sangat tulus sepenuh hati. Ratu Mekar Senggani sudah tahu tentang hal tersebut. Hanya saja dia diam dan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Maha Patih Baruncing. Sayang sekali, sekarang keadaan sudah berubah. Semua impian Ratu Mekar Senggami untuk hidup bahagia bersama dengan Maha Patih Baruncing sudah pupus.


Semua yang ia pertahankan selama ini sudah hancur karena kebodohannya sendiri. Andaikan saja Ratu Mekar Senggani mau merubah tabiatnya yang seperti hewan, mungkin Prabu Jabang Wiyagra masih bisa mentoleransi apa yang ia lakukan. Namun Ratu Mekar Senggani tidak pernah berubah hingga sekarang. Bahkan sampai saat ini pun, Ratu Mekar Senggani diketahui sering menggoda Prabu Putra Candrasa.


Itulah alasan yang menguatkan Ratu Sukma Jaya, kenapa dia tidak suka dengan keberadaan Ratu Mekar Senggani di Kerajaan Putra Malela. Sebagai seorang perempuan, dia merasa khawatir kalau sampai suami tercintanya tergoda oleh bujuk rayu Ratu Mekar Senggani yang dikenal sangat pandai dalam mempengaruhi pemikiran orang lain. Dan bisa membuat siapapun lupa diri.


Dari caranya menatap Prabu Putra Candrasa, menandakan kalau sebenarnya Ratu Mekar Senggani sangat-sangat bergairah, saat Prabu Putra Candrasa berada di dekatnya. Karena setiap kali Prabu Putra Candrasa mengunjunginya, pasti dia selalu berusaha untuk menggodanya. Kalau saja tangan dan kakinya tidak dirantai, mungkin dia juga berani menyentuh Prabu Putra Candrasa.


Namun Prabu Putra Candrasa tidak bisa ditipu begitu saja, karena dia tahu itu hanyalah tipu daya Ratu Mekar Senggani agar bisa melarikan diri dari Kerajaan Putra Malela. Prabu Putra Candrasa sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani. Kecantikan Ratu Mekar Senggani hanyalah kecantikan palsu, akibat ilmu yang ia miliki. Padahal secara usia dia sudah sangat-sangat tua.


Walaupun Ratu Mekar Senggani sudah berusaha menggoda Prabu Putra Candrasa dengan berbagai cara, tapi tetap saja dia gagal. Prabu Putra Candrasa bahkan menegaskan kepada Ratu Mekar Senggani, bahwa sampai kapanpun, Ratu Mekar Senggani akan tetap berada dalam kesendiriannya, karena Prabu Putra Candrasa bersumpah akan menyingkirkan semua orang yang mendukungnya, sampai tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2