
Diam-diam para pejabat istana Kerajaan Gelap Ngampar yang membelot kepada Maha Patih Kana Raga, melaporkan semua yang terjadi di istana Kerajaan Gelap Ngampar, kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Mereka memberikan informasi secara detail dan rinci tentang bagaimana Maha Patih Kana Raga dan pasukannya melakukan pergerakan.
Dan ternyata Maha Patih Kana Raga memiliki strategi baru untuk melakukan serangan kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Strategi kali ini jauh lebih terkondisi dari pada sebelumnya.
Semua pasukan juga sudah dipersiapkan dengan sangat matang dan telah melewati berbagai pelatihan yang sebelumnya tidak pernah ada di Kerajaan Gelap Ngampar.
Setiap pasukan yang bergabung dengan Kerajaan Gelap Ngampar juga dibekali dengan ilmu kekebalan. Yang memberikan kemampuan itu adalah Ki Dampar.
Prabu Jabang Wiyagra sudah tidak heran mendengar soal Ki Dampar. Karena dia memang memiliki dendam yang belum terselesaikan kepada Prabu Jabang Wiyagra.
Sudah pasti dia juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ini. Namun yang membuat Prabu Jabang Wiyagra kecewa adalah saat dia tahu, kalau Dwi Sangkar juga ada disana.
Padahal Prabu Jabang Wiyagra sudah memberikannya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, dan kembali ke jalan yang benar. Tapi kesempatan itu malah disia-siakan oleh Dwi Sangkar.
Bahkan para pejabat istana yang membelot itu juga menyampaikan, kalau Dwi sangkar juga merekrut semua perempuan yang ada di tiap-tiap desa, untuk dijadikan pasukan.
"Pasukan yang dipimpin oleh Dwi Sangkar jauh lebih kejam dari pada pasukan yang lain, Gusti Prabu. Mereka dilatih jauh lebih keras dan jauh lebih kejam sehingga mereka tidak segan untuk membunuh siapa saja, yang menjadi musuh mereka." Ucap salah seorang pejabat.
"Benar Gusti Prabu. Semuanya benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang. Sangat berbeda dari sebelumnya. Karena di sana ada Ditya Kalana, yang memberikan dukungan penuh kepada Maha Patih Kana Raga."
__ADS_1
"Aku sudah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi semua kabar yang kalian berikan sangatlah bagus, dan aku sangat sangat berterima kasih."
".....Aku ingin kalian terus mengawasi pergerakan Maha Patih Kana Raga dan juga para pendukungnya. Aku akan memberikan tanda terima kasih kepada kalian, jika kalian mau mengabdi kepadaku." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Dengan senang hati kami akan melakukannya Gusti Prabu. Karena kami tidak pernah menyukai peperangan ini. Begitu juga dengan mendiang Prabu Bambang Pura. Dia pasti tidak akan senang dengan perilaku Maha Patih Kana Raga."
Prabu Jabang Wiyagra akhirnya memberikan mereka semua sebuah gelang agar saat terjadi peperangan para pejabat itu bisa selamat dari serangan para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Para pejabat itu juga disumpah diharuskan melakukan pengorbanan darah. Dengan cara menyayat telapak tangan mereka. Sebagai bukti, kalau mereka bersungguh-sungguh untuk mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela.
Setelah itu mereka semua bergegas kembali ke Kerajaan Gelap Ngampar, karena khawatir kalau sampai Maha Patih Kana Raga mencurigai pergerakan yang mereka lakukan. Mereka yang datang ke sini pun jumlahnya hanya lima orang saja, dari sekian banyak orang yang memberontak kepada Maha Patih Kana Raga.
Kenyataannya, jumlah pemberontak di Kerajaan Gelap Ngampar semakin hari semakin bertambah banyak. Bahkan para pasukan yang baru saja dilatih pun ada yang ikut dalam pemberontakan tersebut.
Prabu Jabang Wiyagra Berencana untuk menyerang Kerajaan Gelap Ngampar terlebih dahulu, sebelum Maha Patih Kana Raga dan pasukannya benar-benar siap dalam pertempuran. Karena penyerangan itulah yang akan menjadi penentuan kemenangan bagi Kerajaan Wiyagra Malela.
Prabu Jabang Wiyagra mengutus Maha Patih Putra Candrasa dan juga Pangeran Rawaja Pati untuk melakukan kekacauan, dan membunuh pasukan Maha Patih Kana Raga, sebanyak yang mereka bisa. Dengan serangan dadakan itu maka pihak musuh akan kewalahan.
Ditambah lagi dengan Pangeran Rawaja Pati dan Maha Patih Putra Candrasa membawa pasukan-pasukan terbaik yang mereka miliki. Dan serangan kejutan itu akan dilaksanakan pada malam ini juga. Karena lebih cepat akan jauh lebih baik.
Prabu Jabang Wiyagra juga sudah menyiapkan jebakan, kalau sampai ada musuh yang juga melakukan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sedangkan Maha Patih Kana Raga tidak mempersiapkan hal itu.
__ADS_1
Maha Patih Kana Raga dan para sekutunya sudah sangat yakin kalau mereka akan memenangkan pertempuran ini, dan menghancurkan Kerajaan Wiyagra Malela. Juga ingin sekaligus mendapatkan kepala Prabu Jabang Wiyagra.
Hal itu memang sangatlah mustahil untuk dilakukan. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra bukanlah orang sembarangan. Bahkan semakin hari ilmu kesaktian yang ia miliki semakin besar dan semakin kuat. Prabu Jabang Wiyagra sudah menambah banyak sekali ilmu yang ke dalam dirinya.
Sudah puluhan ilmu kesaktian yang Prabu Jabang Wiyagra pelajari semenjak pertempuran terakhir. Ilmu itu dia dapatkan dari orang-orang yang mendukungnya. Dari Singo Rogo, Sang Maha Guru, Lare Damar, dan juga Eyang Badranaya.
Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah malu untuk meminta ilmu kepada siapapun. Selamat ilmu itu bisa bermanfaat untuk dirinya dan juga orang banyak, maka Prabu Jabang Wiyagra akan menekuni ilmunya sampai selesai.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Patih Kinjiri dan para pendekar yang lain. Mereka semua seakan tidak berhenti berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka masing-masing. Mereka semua benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Makan dari kalangan prajurit biasa pun tetap berlatih dengan gigih. Karena sekarang, prajurit Kerajaan Gelap Ngampar juga jauh lebih kuat dan lebih hebat daripada prajurit-prajurit yang sebelumnya. Mereka juga sama-sama kebal terhadap senjata tajam.
Singa sekarang semua pasukan Kerajaan Wiyagra Malela harus lebih berhati-hati dan lebih teliti ketika menghadapi mereka. Kalau sampai mereka lengah sedikit saja, maka musuh-musuh mereka, bisa dengan mudah membunuh mereka semua.
Prabu Jabang Wiyagra juga memerintahkan para Patih-nya untuk mengembangkan kembali senjata-senjata mereka agar jauh lebih baik lagi. Terutama dengan senjata meriam yang mereka miliki saat ini. Senjata meriam akan dikembangkan, agar senjata itu bisa menyerang ke jarak yang lebih jauh lagi.
Para Patih Kerajaan Wiyagra Malela yang ahli membuat senjata, juga ditugaskan untuk membuat senjata baru, yang cara penggunaannya tidak jauh berbeda dengan panah, namun jauh lebih mudah untuk digunakan. Juga memiliki daya serang yang jauh lebih mengerikan.
Setelah berjam-jam para Patih yang ahli senjata melakukan semua percobaan, akhirnya mereka berhasil menemukan senjata baru, seperti yang Prabu Jabang Wiyagra harapkan. Senjata itu tetaplah sebuah panah, tapi ditambahkan bubuk peledak.
Setiap anak panah memiliki sebuah lubang kecil yang digunakan untuk mengisi bubuk peledak tersebut. Sehingga ukuran anak panahnya sedikit lebih besar dari anak panah biasa. Anak panah senjata baru ini hanya memerlukan percikan api.
__ADS_1
Para Patih yang membuat senjata itu juga membuat sebuah tungku kecil, yang akan mereka gunakan untuk membakar anak panah itu. Jadi setiap satu kelompok prajurit bisa menggunakan tungku itu dalam keadaan apapun.
Tungku itu lebih mirip seperti sebuah gelas, dan memiliki tutup khusus di atasnya. Sehingga bara api yang dimasukkan ke dalam tungku tidak akan mudah padam. Bahkan tidak akan padam sampai tujuh hari tujuh malam berturut-turut.