DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 231


__ADS_3

"Jabang Wiyagra. Aku tidak pernah mengira kalau kamu akan datang ke tempat ini. Setelah sekian lama, akhirnya kita bisa berjumpa lagi. Bagaimana kabarmu Kakang Jabang Wiyagra?" Tanya Nyi Dwi Sangkar kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Mereka berdua berhadap-hadapan, dan saling tatap satu sama lain. Sorot mata mereka berdua menyimpan banyak sekali kebencian dan dendam. Prabu Jabang Wiyagra merasa sangat kecewa dengan keadaan Nyi Dwi Sangkar yang sekarang. Padahal dulu Prabu Jabang Wiyagra sudah memberikan kesempatan kepada Nyi Dwi Sangkar untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi Nyi Dwi Sangkar malahan menyia-nyiakannya.


"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kamu menjadi seperti ini Dwi Sangkar?"


"Kenapa?! Kakang bertanya kenapa?! Apakah Kakang tidak pernah berpikir dan menyadari?! Kalau aku seperti ini karena Kakang?!"


"Aku? Karena aku? Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu bapakku hanya mencintaimu sebagai seorang adik, dan tidak lebih dari itu. Kalau saja kamu mau menerima aku sebagai kakakmu, mungkin sekarang kamu sudah bisa hidup tenang dan nyaman di istanaku. Bukannya menjadi seorang penjahat seperti ini!"


"Ya! Begitulah laki-laki! Tidak pernah mau disalahkan! Selalu saja ingin menang sendiri!"


Nyi Dwi Sangkar langsung menghunuskan pedangnya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra berkelit dan menjauh dari area tersebut, karena pertarungan ini akan berlangsung sangat sengit. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau membahayakan para pasukannya yang ada di sana. Karena ini adalah masalah pribadi, bukan masalah pemerintahan ataupun yang lain.


Semua yang dilakukan oleh Nyi Dwi Sangkar didasarkan pada dendam lama. Dendam nama itu yang kemudian membuat hati Nyi Dwu Sangkar mati. Yang ada di pikiran dan perasaannya hanyalah, membalaskan dendam, membalaskan dendam, dan membalaskan dendam. Tidak ada hal lain yang ia lakukan untuk berubah ataupun berkembang. Semuanya ia peruntukkan demi bisa membalaskan dendamnya kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra yang awalnya merasa kasihan pun mulai merasa kesal. Ingin rasanya dia menghabisi Nyi Dwi Sangkar sekarang. Namun, Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah sekalipun membunuh seorang perempuan, kecuali dalam keadaan yang benar-benar mendesak dan terpaksa. Panglima Galang Tantra yang mengetahui hal itu mencoba untuk menangkap Nyi Dwi Sangkar. Tapi Prabu Jabang Wiyagra melarangnya untuk tidak ikut campur.

__ADS_1


"Cukup Panglima. Biarkan aku saja yang mengurusnya. Kau urus saja pasukan yang lain."


"Baik Gusti Prabu."


Seluruh pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela dan juga pasukan dari Nyi Dwi Sangkar kembali bertarung untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pemenang. Pasukan dari kedua belah pihak itu saling membunuh dengan segenap kekuatan yang mereka miliki masing-masing. Para Patih yang ikut dalam barisan pasukan Nyi Dwi Sangkar saling berebut untuk bisa membunuh Maha Patih Kumbandha.


Namun Maha Patih Kumbandha bisa dengan mudah menghindari semua serangan mereka. Karena kemampuan yang dimiliki oleh para Patih dari Kerajaan Bala Bathara tidaklah sebanding dengan Maha Patih Kumbandha. Walaupun mereka semua sudah dilatih oleh Mbah Gagang dan Maha Patih Kana Raga, tetapi mereka tetap saja lemah saat berhadapan dengan Maha Patih Kumbandha dan Panglima Galang Tantra.


Sebelumnya pasukan Prabu Jabang Wiyagra sempat terdesak, tetapi sekarang mereka sudah bisa mengambil alih keadaan. Sekarang berganti dengan para pasukan dari Kerajaan Bala Bathara yang terdesak, dan jumlah pasukan mereka semakin berkurang, karena banyak sekali dari mereka yang tewas dan terluka parah. Wilayah pelabuhan tersebut benar-benar sudah dibanjiri dengan darah. Membuat tempat itu nampak menyeramkan dan menakutkan.


Banyak bagian-bagian tubuh terpotong yang tergeletak di tanah begitu saja. Banyak juga para prajurit dari Kerajaan Bala Bathara yang dibuang ke lautan, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari area itu. Mayat-mayat mereka terombang-ambing, dan bahkan ada yang terbawa kembali ke daratan, oleh ombak yang menyapu area tersebut. Sehingga membuat suasana di sana semakin tidak bisa dikondisikan dengan baik.


"Jadi begitu kamu sekarang Kakang?!" Ucap Nyi Dwi Sangkar yang sudah terkapar di tanah.


"Aku tidak akan melakukan hal itu kalau kamu mau menghentikan peperangan ini, dan kembali ke jalanmu. Tapi kesempatan bagus itu malah kamu sia-siakan. Aku bahkan memberikan kesempatan kepadamu berkali-kali. Ingat Dwi Sangkar! Kesempatan tidak datang dua kali! Maafkan aku. Aku harus membunuhmu sekarang." Kata Prabu Jabang Wiyagra sembari mengeluarkan ilmu kesaktiannya.


Dengan terpaksa, Prabu Jabang Wiyagra mengeluarkan Ajian Rengkah Gunung, untuk membuat Nyi Dwi Sangkar tak berdaya dan tidak bisa lagi melakukan perlawanan. Ajian Rengkah Gunungadalah ilmu yang sering diandalkan oleh Prabu Jabang Wiyagra ketika dalam keadaan mendesak. Prabu Jabang Wiyagra sudah mencapai tingkat yang terakhir dalam menguasai Ajian Lampah Lumpuh.

__ADS_1


Bagi siapapun yang terkena Ajian Rengkah Gunung milik Prabu Jabang Wiyagra, sudah dipastikan akan mati, dengan keadaan tubuh yang hancur lebur menjadi abu. Sangat berbeda dengan para pemilik Ajian Rengkah Gunung yang lainnya, Prabu Jabang Wiyagra bisa menggabungkan Ajian Rengkah Gunung dengan Ajian Serat Jiwa, sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda.


Ajian Serat Jiwa digunakan untuk mengunci tubuh dan juga roh lawan agar mereka tidak bisa lepas. Setelah berhasil, barulah Prabu Jabang Wiyagra akan mengeluarkan Ajian Rengkah Gunung, untuk menghancurkan tubuh lawannya. Sehingga membuat siapapun tidak akan pernah bisa lari dari serangan yang dilesatkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena penggabungan dua ajian tersebut hanya mampu dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra saja.


Bahkan orang-orang sakti sekelas Mangku Cendrasih ataupun Panglima Galang Tantra, yang sudah hidup ratusan tahun pun tidak mampu melakukan hal tersebut. Dikarenakan menggabungkan dua ajang tersebut adalah satu hal yang sangat beresiko besar, bagi orang yang melakukannya. Namun Prabu Jabang Wiyagra sudah sangat berpengalaman dalam menggabungkan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.


Nyi Dwi Sangkar yang sudah lemah dan hanya memiliki tenaga sedikit, pun tidak bisa melakukan banyak perlawanan selain berusaha semampunya untuk melepaskan diri dari pengaruh Ajian Serat Jiwa milik Prabu Jabang Wiyagra. Nyi Dwi Sangkar bursa untuk bertahan dari hisapan Ajian Serat Jiwa, yang sekarang membuat tubuhnya tertarik ke arah Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra membuka mulutnya lebar-lebar, seakan ingin menghisap habis seluruh tubuh Nyi Dwi Sangkar. Kedua bola matanya juga sudah memutih. Dalam keadaan seperti itu, para pasukan Nyi Dwi Sangkar yang sebelumnya masih melakukan perlawanan pun berhenti, dan memilih untuk lari dari sana. Mereka semua lari tunggang langgang karena melihat kesaktian Prabu Jabang Wiyagra.


Semenjak Prabu Jabang Wiyagra datang ke sana, tempat itu menjadi terasa sangat menyeramkan dan menakutkan. Jauh lebih menakutkan dan menyeramkan daripada sebelumnya. Bahkan, para pasukan musuh lebih baik melihat mayat bergelimpangan, daripada harus menyaksikan Prabu Jabang Wiyagra yang sedang mengeluarkan ilmu kesaktiannya. Karena bagi mereka, kesaktian Prabu Jabang Wiyagra jauh lebih menakutkan dari apapun.


Prabu Jabang Wiyagra masih terus menarik dan menghisap seluruh tenaga yang dimiliki oleh Nyi Dwi Sangkar. Semakin Nyi Dwi Sangkar menggunakan ilmu kanuragannya, maka akan semakin terkuras habis tenaganya. Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra merasakan aliran kekuatan baru yang masuk ke dalam tubuhnya. Karena memang, Ajian Serat Jiwa diperuntukkan untuk menghisap seluruh tenaga lawan. Yang kemudian memasukkannya kepada si pemilik Ajian Serat Jiwa tersebut.


Setelah berada cukup dekat dengan posisinya, Prabu Jabang Wiyagra langsung menggunakan ilmu yang kedua, yaitu Ajian Rengkah Gunung. Prabu Jabang Wiyagra langsung mendorong tangannya ke arah tubuh Nyi Dwi Sangkar.


"Blaaaarrrrrrr!!!"

__ADS_1


Seketika tubuh perempuan itu hancur lebur tanpa sisa. Semua orang yang berada di sana hanya bisa terdiam melihat hal itu. Mereka semua tidak menyangka kalau Prabu Jabang Wiyagra benar-benar akan membunuh Nyi Dwi Sangkar. Namun, itulah Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra akan mengampuni siapa saja yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi, Prabu Jabang Wiyagra juga akan menghabisi siapa saja yang menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ia berikan.


__ADS_2