DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 90


__ADS_3

Dengan banyaknya pasukan yang mati, Prabu Bambang Pura akhirnya mencoba untuk mundur secara perlahan, karena dia harus memikirkan juga keadaan pasukan yang masih hidup.


"Jangan berharap bisa lari. Aku bisa membaca pikiranmu Prabu Bambang Pura." Ucap Pangeran Rawaja Pati.


"Hadapi saja aku kalau kalian memang mampu!" Jawab Prabu Bambang Pura dengan nada marah.


Prabu Bambang Pura kesal karena para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela terus menerus menghalanginya. Begitu juga dengan pasukan Pangeran Rawaja Pati yang terus menganggu konsentrasinya. Dan sesekali membuatnya terkena serangan dari Bamantara dan Pangeran Rawaja Pati.


Prabu Bambang Pura terus dipepet oleh ribuan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, agar dia tidak bisa mengeluarkan jurus andalannya. Yaitu Ajian Gelap Ngampar. Ajian Gelap Ngampar bisa membuat seseorang langsung mati di tempat, kalau orang itu tidak memiliki ilmu kesaktian yang mumpuni.


Dan jika Ajian Gelap Ngampar digunakan untuk menyerang banyak orang, maka para korbannya akan langsung menggelepar dan terlempar. Karena semakin banyak orang, maka akan semakin besar kemungkinannya untuk mengenai sasaran.


Tapi dengan keadaan seperti ini, Prabu Bambang Pura tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau harus mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar. Sebenarnya Prabu Bambang Pura memiliki kemampuan untuk melompat. Hanya saja pasukan siluman naga milik Pangeran Rawaja Pati masih terus mengganggunya.


Dia jadi tidak bisa melompat. Karena pasukan siluman naga itu merubah diri mereka menjadi sosok manusia berbadan naga, sehingga bisa saja mereka langsung menerkam Prabu Bambang Pura kalau sampai dia melompat ke atas.


Para Patih dan prajurit yang masih hidup berusaha sedikit demi sedikit untuk membawa Prabu Bambang Pura keluar dari sana. Tapi mereka benar-benar kesulitan, karena pasukan Kerajaan Wiyagra Malela masih sangat banyak, dan secara bergantian terus menyerang mereka.


Karena dirasa sudah cukup lama dan sudah banyak sekali korban berjatuhan, akhirnya dengan cepat Pangeran Rawaja Pati mengeluarkan Ajian Kuku Bayu. Dengan ilmu tersebut, Prabu Bambang Pura bisa kalah telak. Dan bahkan dia bisa mengalami kelumpuhan total.


Dengan sigap Prabu Bambang Pura juga berusaha menahan serangan Ajian Kuku Bayu dengan segala kekuatan yang ia miliki. Tapi seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu Bambang Pura tidak konsentrasi karena diganggu terus menerus oleh pasukan siluman Pangeran Rawaja Pati yang berada di atasnya.


Sehingga dengan satu kali meludah, Pangeran Rawaja Pati sudah membuat Prabu Bambang Pura jatuh tersungkur. Karena Ajian Kuku Bayu bisa disalurkan pada apa saja, seperti tendangan atau pukulan. Dan salah satunya adalah ludah. Ludah Pangeran Rawaja Pati berhasil mengenai leher Prabu Bambang Pura.

__ADS_1


Prabu Bambang Pura langsung lemas tidak berdaya. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Bahkan untuk mengucapkan sepatah kata saja dia tidak bisa. Dia hanya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. Dia memberikan siasat kepada pasukannya yang masih tersisa untuk pergi dari sana secepatnya, dengan lirikan matanya.


Dengan terpaksa, para pasukannya yang masih tersisa pun langsung meninggalkan tempat itu. Sekaligus meninggalkan Prabu Bambang Pura.


"Maafkan kami Gusti Prabu." Ucap salah seorang Patih sembari berlari dari sana membawa pasukannya yang masih hidup.


Dengan penuh rasa bersalah, Sang Patih pun dengan kencang berlari dari tempat pertempuran. Walau pun Prabu Bambang Pura adalah raja yang rakus akan kekuasaan, tapi dia selalu mengutamakan rakyatnya.


Dia sebenarnya jauh berbeda dengan Prabu Garan Darang. Walau pun suka main perempuan, tapi dia tidak mau merebut perempuan yang sudah diperistri atau pun perempuan yang sudah memiliki pasangan.


Dia juga tidak selalu menindas rakyatnya, kecuali rakyatnya itu memang bersalah, atau terindikasi berkhianat kepadanya. Dia juga mudah marah, tapi kemarahannya itu selalu memiliki alasan yang kuat.


Prabu Bambang Pura juga licik, tapi dia hanya licik kepada orang-orang yang mencoba memanfaatkannya. Seperti Prabu Garan Darang yang sudah pernah mencoba membunuhnya. Kalau orang baik, dia tidak akan menyerangnya.


Hanya saja saat itu pesan yang disampaikan memang terkesan memberikan ancaman kepada Patih Kinjiri dan pasukannya yang ada disana. Padahal, mereka berdua sama-sama ingin menciptakan kedamaian. Sekali pun Prabu Bambang Pura sendiri menggunakan cara yang licik.


Dengan tertangkapnya Prabu Bambang Pura, maka semuanya akan menjadi terbuka. Itulah mengapa Prabu Jabang Wiyagra melarang siapa saja untuk membunuh Prabu Bambang Pura. Karena dia masih belum mengetahui secara pasti bagaimana sifat asli Prabu Bambang Pura.


Yang dikatakan oleh Mangku Cendrasih kepada Prabu Jabang Wiyagra pun tidak ada salahnya. Karena memang benar, Prabu Bambang Pura adalah raja yang kejam. Dan Mangku Cendrasih sedikit banyaknya tahu siapa Prabu Bambang Pura.


Prabu Bambang Pura memang dulu sangat-sangat kejam dan tidak berperasaan, tapi itu disaat kerajaannya masih dalam tahap berkembang. Sekarang Kerajaan Gelap Ngampar sudah maju dan menjadi kerajaan besar. Sehingga Prabu Bambang Pura sudah meninggalkan cara lama.


"Bawa dia ke Kerajaan Wiyagra Malela. Kita harus langsung menghadapkannya kepada Prabu Jabang Wiyagra." Ucap Patih Kinjiri.

__ADS_1


"Biarkan aku saja yang membawanya, Patih Kinjiri. Karena tempat ini masih belum benar-benar aman. Pasukan yang lain sebaiknya berjaga disini." Kata Pangeran Rawaja Pati.


"Terimakasih, Pangeran Rawaja Pati. Berhati-hatilah. Aku titipkan amanah ini kepada Pangeran Rawaja Pati. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih."


"Ya. Kalian jaga diri baik-baik. Secepatnya aku akan memberikan kabar kepada kalian."


"Baik Pangeran."


Pangeran Rawaja Pati dan pasukannya pun langsung membawa Prabu Bambang Pura ke Kerajaan Wiyagra Malela, untuk diserahkan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena itu adalah amanah yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada Patih Kinjiri.


"Untuk yang selamat, aku mohon bantuannya untuk mencari saudara-saudara kita yang berjuang. Baik yang hidup, atau pun yang sudah mati." Perintah Patih Kinjiri kepada semua pasukan yang ada.


"Baik Gusti Patih."


Para pasukan yang masih hidup pun mulai mencari teman-teman mereka yang gugur. Ada banyak juga yang berhasil selamat, tapi dalam keadaan terluka parah. Sedangkan para warga desa saling bahu membahu membantu memperbaiki rumah-rumah yang rusak dan menyingkirkan batu-batu besar yang ada.


Batu-batu besar itu berasal dari serangan ketapel-ketapel raksasa. Sehingga beberapa rumah-rumah warga ada yang hancur. Beruntung tidak ada korban jiwa dari warga desa. Para warga desa hanya mengalami luka-luka kecil yang bisa mereka obati sendiri.


Patih Kinjiri meminta maaf kepada para warga desa, karena dia merasa gagal dalam melindungi mereka. Bahkan Patih Kinjiri sampai menangis karena merasa sangat bersalah. Tapi justru sebaliknya, para warga desa justru sangat-sangat berterimakasih kepada Patih Kinjiri dan para prajurit yang sudah berjuang.


"Kami lebih baik mati karena berjuang. Dari pada harus hidup sebagai budak, Gusti Patih." Ucap salah seorang kepala desa kepada Patih Kinjiri.


Patih Kinjiri terharu mendengar ucapan itu, karena selama ini dia tidak pernah mendengar orang-orang seperti mereka berterimakasih kepadanya. Patih Kinjiri mulai merasa senang berada di tempat ini. Ia sangat bersyukur karena Prabu Jabang Wiyagra sudah mengirimnya ke tempat ini. Sehingga dia bisa merasakan sendiri arti sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2