
Pagi itu, di wilayah perbatasan Kerajaan Putra Malela. Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Para pasukan penjaga juga sibuk berlalu lalang di wilayah tersebut. Ada yang menggunakan kuda, ada yang berjalan kaki, ada juga yang hanya mengawasi dari setiap menara yang ada di sana.
Tempat itu diramaikan oleh berbagai macam hiburan masyarakat sekitar. Para pedagang juga berlomba-lomba menjajakan dagangan mereka. Ada yang berjualan pakaian. Ada juga yang menawarkan jajanan. Situasi begitu terkendali. Semenjak Prabu Putra Candrasa menjadi raja, tidak ada satupun keributan di tempat itu.
Semua orang hidup dalam kedamaian. Mereka saling bergotong royong satu sama lain. Rumah-rumah penduduk yang tidak terlalu padat, membuat tempat itu menjadi tempat favorit bagi semua orang yang ada di wilayah perbatasan. Orang-orang menyebut kota perbatasan itu dengan nama Karta Mulya.
Karta Mulya adalah wilayah perbatasan antara Kerajaan Putra Malela dengan Kerajaan Panca Warna. Karena sebelumnya wilayah Karta Mulya adalah bekas wilayah Kerajaan Wesi Kuning, yang memang bersahabat dengan Kerajaan Panca Warna. Di sana bisa ditemukan berbagai hal yang semua orang butuhkan.
Bahkan, di wilayah Karta Mulya, banyak sekali didirikan padepokan bela diri. Semua itu adalah upaya Prabu Putra Candrasa untuk memberikan wadah kepada para pendekar yang sebelumnya mengasingkan diri di wilayah hutan. Sekarang mereka kembali ke tempat ini untuk membangun semuanya dari awal.
Namun suasana indah dan tenang itu tidak berlangsung lama. Karena dari kejauhan, terlihat ada segerombolan pasukan yang sedang bergerak dengan cepat ke wilayah perbatasan tersebut. Para penjaga benteng perbatasan langsung membunyikan bedug tanda bahaya yang ada di sana.
Semua orang yang ada di sana pun berhamburan tidak karuan. Mereka semua panik setelah mendengar suara bedug tanda bahaya yang ditabuh oleh salah satu penjaga benteng perbatasan.
"Hey kau! Bawa semua orang menyingkir dari sini!" Ucap salah seorang pimpinan pasukan yang memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Siap Ketua!"
"Dan kalian berdua! Pergi ke markas untuk melapor kepada Gusti Patih! Kita diserang oleh Maha Patih Baruncing! Cepat!"
"Baik Ketua!"
Semua pasukan yang ada di sana langsung mengeluarkan senjata panah raksasa dan juga meriam. Mereka menyerang Maha Patih Baruncing bersama pasukannya yang juga sudah mulai melancarkan serangan ke arah benteng perbatasan. Situasi menjadi semakin mencekam, setelah Maha Patih Baruncing sampai di gerbang perbatasan dengan para pasukan penyerangnya.
__ADS_1
Sedangkan di barisan belakang, pasukan Kerajaan Panca Warna sudah melakukan serangan dengan menggunakan ketapel raksasa. Para pasukan pemanah juga berusaha menyerang para pasukan meriam yang sedang menghantam mereka. Sehingga pertarungan itu semakin sengit dan semakin memanas.
Dalam penyerangan itu, pihak pasukan Kerajaan Panca Warna sudah banyak yang tewas, karena peralatan tempur mereka tidak sebagus peralatan tempur yang dimiliki oleh pasukan penjaga benteng Kerajaan Putra Malela. Terlebih, pasukan yang saat ini ikut dengan Maha Patih Baruncing adalah rakyat Kerajaan Panca Warna yang belum lama mendapatkan pelatihan.
Kemampuan mereka jelas tidak sepadan dengan kekuatan pasukan penjaga benteng perbatasan. Membuat mereka semua mengalami gempuran sengit dan mengerikan dari pasukan benteng perbatasan, yang menghujani mereka dengan panah dan meriam. Sehingga mereka kewalahan untuk melakukan serangan balik.
Tetapi yang terpenting bagi mereka adalah, Maha Patih Baruncing dan pasukan penyerangnya sudah sampai ke pintu gerbang. Sehingga kesempatan mereka untuk menang akan jauh lebih besar. Tapi semua itu tidak akan mudah dilakukan, karena pasukan penjaga benteng juga berusaha dengan sangat keras untuk mempertahankan wilayah mereka.
Di belakang pintu gerbang yang terkunci rapat, beberapa puluh orang pasukan penjaga benteng sudah bersiap dengan tombak dan juga panah di tangan mereka. Mereka sudah siap untuk menahan Maha Patih Baruncing dan pasukannya, jika sampai mereka berhasil merangsak masuk. Para pasukan bertahan itu terus menunggu waktu yang tepat untuk menghalau Maha Patih Baruncing dan pasukannya.
Sedangkan para pasukan penjaga benteng yang lainnya masih terus menghujani musuh-musuh mereka yang belum mendekat ke arah benteng. Maha Patih Baruncing dan lima puluh orang pasukannya berlindung dari hujan anak panah menggunakan tameng-tameng besar. Maha Patih Baruncing menunggu kesempatan untuk menjebol gerbang yang terkunci rapat.
"Gusti Patih, mereka terus menghujani kita. Bagaimana ini?" Tanya salah seorang Patih yang memimpin pasukan penyerang.
"Baik Gusti Patih."
Pasukan pemanah masih berusaha untuk mengalahkan para pasukan penjaga benteng yang menggempur mereka dengan panah dan meriam. Dengan jumlah mereka yang banyak, pasukan penjaga benteng cukup kewalahan dibuatnya. Karena pasukan pemanah juga terus-menerus menghujani mereka tanpa henti. Ditambah lagi dengan sebagian lagi pasukan penyerang yang mulai memasang tangga di benteng tersebut.
Tangga yang terbuat dari bambu itu akan dinaiki oleh para pasukan Maha Patih Baruncing, agar pasukan yang lainnya beserta Maha Patih Baruncing sendiri bisa masuk ke dalam wilayah perbatasan tersebut. Karena tujuan utama mereka adalah untuk mengambil alih wilayah perbatasan ini, sebelum melanjutkan serangan mereka ke istana Kerajaan Putra Malela.
Namun tidak lama dari itu, datanglah barisan pasukan berkuda dari Kerajaan Putra Malela, yang dikirim oleh Prabu Putra Candrasa. Beruntunglah karena Prabu Putra Candrasa sudah mendapatkan kabar tentang penyerangan itu dari Patih Kinjiri dan juga Zafir. Sehingga dengan cepat Prabu Putra Candrasa langsung mengirimkan bala bantuan ke wilayah perbatasan.
Para pasukan berkuda itu dibagi menjadi dua bagian. Pasukan yang menggunakan kuda berwarna hitam akan ikut di bawah komando Zafir. Sedangkan pasukan yang menggunakan kuda berwarna putih, akan ikut di bawah komando Patih Kinjiri. Karena keadaan sudah terlanjur kacau, Patih Kinjiri dan Zafir terpaksa menunggu para pasukan Maha Patih Baruncing masuk ke dalam.
__ADS_1
Kalau mereka keluar dari area benteng, maka mereka akan dihadapkan dengan para pasukan Maha Patih Baruncing yang jumlahnya ribuan, yang bisa membuat mereka semua terdesak dan terjebak.
"Dengar! Kalian semua harus membuka jalan untukku! Aku akan menghancurkan pintu gerbang ini dengan tanganku sendiri!" Perintah Maha Patih Baruncing.
Tetapi para pasukan penyerang melarang Maha Patih Baruncing untuk keluar dari barisan, dikarenakan banyak sekali busur raksasa yang bisa melukainya.
"Jangan Gusti Patih! Gusti Patih bisa terluka parah kalau sampai terkena serangan busur raksasa! Pasti mereka sedang mengincar Gusti Patih!"
"Aku sudah siap untuk menghindari semua serangan busur raksasa itu! Kalau tetap seperti ini maka para pasukan kita akan semakin banyak yang tewas!"
"Tapi Gusti Patih!...."
Maha Patih Baruncing langsung keluar dari barisan, dan memukuli pintu gerbang yang sangat tebal itu. Karena dia orang yang sakti, pintu gerbang yang kokoh itu perlahan mulai rusak. Bahkan kepalan tangan Maha Patih Baruncing membekas pada beberapa bagian pintu gerbang raksasa itu. Para pasukan penjaga gerbang mencoba untuk menahannya, karena kekuatan pintu itu semakin melemah.
"Biarkan saja! Biarkan mereka masuk!" Teriak Zafir dari kejauhan.
"Apa kamu yakin Tuan Zafir?" Tanya Patih Kinjiri.
"Apa boleh buat Tuan Patih? Kita tidak memiliki pilihan lain. Membiarkan mereka masuk adalah satu-satunya cara agar bisa membalas serangan mereka. Aku yakin, itu pasti Maha Patih Baruncing yang terkenal sakti mandraguna. Dia menghabisi semua pasukan jika kita tidak segera memberinya pelajaran."
"Ya. Kamu benar juga. Baiklah, aku ikuti caramu saja Tuan Zafir."
"Terima Kasih Tuan Patih."
__ADS_1