
Berdasarkan perintah langsung dari Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Mbah Kangkas akhirnya memutuskan untuk mengirim Panglima Dala Bima, dan Panglima Bayu Kusuma, untuk memimpin prajurit-prajurit pilihan Kerajaan Wiyagra Malela, yang ikut dalam pertempuran. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima diharuskan melakukan penyerangan secara mendadak.
Penyerangan itu tidak boleh diketahui oleh siapapun, kecuali setelah mereka benar-benar sampai di dalam istana Kerajaan Panca Warna. Karena penyerangan tersebut bersifat sangat rahasia, Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima akhirnya memutuskan untuk memilih para pendekar. Jika mengambil dari para prajurit yang ada, sudah pasti beritanya akan menyebar kemana-mana. Dan Intan Senggani bisa tahu soal penyerangan dadakan itu.
Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima merekrut sebanyak lima puluh orang pendekar terbaik, yang ada di seluruh padepokan di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Panglima Bayu Kusuma mengambil dua puluh lima orang pendekar dari wilayah kekuasaannya, yaitu Kota Maja Lingga. Begitu juga dengan Panglima Dala Bima, yang mengambil dua puluh lima orang pendekar dari Kota Singo Negoro.
Jadi masing-masing dari mereka membawa dua puluh lima orang. Walaupun jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah pasukan yang ada di istana Kerajaan Panca Warna, tapi para pendekar tersebut adalah pendekar-pendekar pilihan. Yang sudah menjadi senior di padepokan mereka masing-masing. Sehingga kemampuan mereka sudah tidak diragukan lagi. Dan sudah pasti akan membawa keberhasilan pada tugas ini.
Pada tengah malam, Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima bertemu di daerah perbatasan ibu kota Kerajaan Panca Warna, dengan para pendekar yang sudah mereka berdua bawa, dari wilayah kekuasaan mereka masing-masing.
"Bagaimana? Semuanya amankan?" Tanya Panglima Bayu Kusuma kepada Panglima Dala Bima.
"Aman. Tapi tempat ini dipenuhi dengan para tikus. Kita akan mulai dari mana dulu?" Tanya Panglima Dala Bima.
"Sudahlah. Biarkan para tikus-tikus itu bersenang-senang di tempat ini. Kita langsung saja berangkat menuju istana Kerajaan Panca Warna. Jangan pedulikan mereka. Kalau kita membunuh mereka terlebih dahulu, maka kita akan menghadapi banyak masalah." Jawab Panglima Bayu Kusuma.
"Baiklah Panglima Bayu. Aku ikuti rencanamu saja."
"Ya sudah. Ayo kita gunakan ilmu kesaktian kita, agar kita sampai dengan cepat ke istana Kerajaan Panca Warna."
__ADS_1
"Baiklah Panglima Bayu."
Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima pun menggunakan ilmu kesaktian mereka masing-masing, agar sampai dengan cepat ke istana Kerajaan Panca Warna, bersama dengan para pendekar yang sudah mereka bawa. Dengan menggabungkan ilmu kesaktian yang mereka miliki, sekejap saja mereka sudah sampai di sekitaran istana Kerajaan Panca Warna. Dan hampir saja keberadaan mereka diketahui oleh para penjaga menara.
Ada enam menara besar yang sangat tinggi. Yang digunakan oleh para penjaga untuk mengawasi keadaan di sekitar benteng pertahanan istana Kerajaan Panca Warna. Setiap menara dijaga oleh lima orang prajurit. Karena ukuran menara-menara tersebut memang cukup besar. Dan masih sangat luas, untuk lima orang prajurit yang berjaga sehari semalam penuh di dalamnya. Sesekali para pelayan juga datang untuk mengantarkan makanan kepada penjaga.
Dan yang paling menjijikan bagi Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima adalah, ternyata para pelayan juga diwajibkan untuk melayani para penjaga yang ada di keenam menara tersebut. Karena menara yang sangat tinggi, semua orang bisa mendengar apa saja yang terjadi di setiap menara yang ada. Membuat kebisingan sedikit saja, maka semua penjaga di setiap menara sudah pasti akan mendengarnya.
Di sini sudah bisa dibayangkan, bagaimana berisiknya kegiatan yang dilakukan oleh para penjaga dan para pelayan di keenam menara besar tersebut. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima menjadi semakin terpacu untuk menghabisi mereka semua. Namun Panglima Bayu Kusuma kembali memikirkan cara, bagaimana untuk menaklukkan para penjaga yang berada di keenam menara besar tersebut.
Karena tidak ada satupun dari mereka yang membawa panah. Untuk sampai di atas benteng pertahanan istana, mereka semua juga harus menggunakan dua bilah pedang yang ada di tangan mereka, untuk memanjat dinding benteng pertahanan tersebut. Bagi mereka itu bukan hal yang sulit. Namun, kesulitan mereka hanyalah pada keenam menara besar itu. Kalau mereka sampai membuat keributan, maka semua penjaga akan langsung menyerbu mereka semua.
Padahal, saat itu Panglima Bayu Kusuma sedang memikirkan cara apa yang tepat untuk menyusup ke dalam istana, sembari menghabisi para penjaga di tiap-tiap menara yang ada. Dan setelah cukup lama menunggu jawaban, akhirnya Panglima Bayu Kusuma memiliki sebuah ide yang sangat brilian.
"Aku akan menggunakan Aji Sirep Rogo Sukmo, untuk membuat para penjaga yang ada di menara tertidur dengan pulas. Dan kau Panglima Bima, kau harus menjaga ragaku agar tetap baik-baik saja. Kau mengerti Panglima Bima?"
"Ya. Aku paham apa yang kamu maksud, Panglima Bayu. Kalau begitu lakukan saja sekarang. Aku sudah tidak sabar lagi menghabisi mereka semua."
"Ya. Aku juga."
__ADS_1
Panglima Bayu Kusuma langsung duduk bersila. Tempat yang digunakan oleh Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima untuk bersembunyi adalah sebuah tanah yang berukuran sangat luas. Di sana juga banyak ditumbuhi pohon-pohon buah yang sangat segar. Beberapa ratus meter dari sana juga ada beberapa taman yang sangat luas dan sangat indah. Yang banyak ditumbuhi oleh rerumputan hijau.
Hanya di tempat itulah, satu-satunya tempat yang paling aman untuk mereka bersembunyi saat ini. Bergeser sedikit saja, maka mereka semua akan ketahuan oleh para penjaga menara. Dan mereka akan menerima hantaman dari ratusan anak panah berukuran besar yang ada di setiap menara. Sehingga mereka dituntut untuk sangat-sangat berhati-hati dalam tugas mereka kali ini.
Beruntunglah, karena Panglima Bayu Kusuma mendapat warisan ilmu Aji Sirep Rogo Sukmo, dari Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga Panglima Bayu Kusuma memiliki sebuah solusi untuk menghadapi masalah seperti ini. Tidak butuh waktu lama, sukma Panglima Bayu Kusuma langsung melayang-layang di udara. Panglima Dala Bima bisa melihatnya dengan jelas saat Panglima Bayu Kusuma memasuki keenam menara satu persatu.
Setiap menara yang dimasuki oleh sukma Panglima Bayu Kusuma pasti akan mengeluarkan sebuah cahaya, yang hanya nampak sekilas saja. Yang tidak semua orang bisa melihatnya. Dan dalam waktu yang sangat singkat, Panglima Bayu Kusuma sudah berhasil melumpuhkan para penjaga dan juga para pelayan yang ada di keenam menara besar tersebut dengan mudah.
Dengan cepat, sukma Panglima Bayu Kusuma langsung kembali ke raganya. Dan memberitahukan kepada Panglima Dala Bima, kalau keenam menara besar tersebut sudah diamankan.
"Semua menara sudah aku amankan. Sekarang waktunya kita untuk memanjat dinding benteng ini." Ucap Panglima Bayu Kusuma kepada Panglima Dala Bima.
"Bagus Panglima Bayu. Aku dan orang-orang ku dulu yang akan memanjat ke sana. Kau pulihkan dulu tenagamu. Susul kami semua kalau kamu sudah selesai."
"Ya. Tapi ingat, para penjaga menara tidaklah mati. Mereka hanya tertidur. Jadi bunuh mereka semua terlebih dahulu, sebelum memasuki halaman istana."
"Baiklah."
Panglima Dala Bima dan orang-orangnya langsung memanjat dinding dengan dua bilah pedang yang mereka bawa. Mereka bergerak dengan sangat cepat. Seperti seekor laba-laba. Mereka bisa memanjat dinding benteng tersebut dengan sangat mudah. Setelah itu Panglima Dala Bima langsung menyebarkan dua puluh lima orang pendekar itu ke setiap menara yang ada, untuk menghabisi para prajurit yang sudah dilumpuhkan oleh Panglima Bayu Kusuma.
__ADS_1
Mereka bergerak dengan sangat gesit, karena ada banyak prajurit yang sedang berkeliling di halaman istana Kerajaan Panca Warna, lengkap dengan pedang dan baju besi di tubuh mereka. Terlihat kalau mereka semua juga berjaga-jaga bergiliran. Tetapi para prajurit istana sama sekali belum mengetahui, kalau para penjaga yang ada di keenam menara besar sudah dilumpuhkan.