
Pertempuran antara Prabu Sura Kalana melawan Maha Patih Jogo Rogo masih terus berlanjut. Mereka sering adu kekuatan satu sama lain, untuk membuktikan siapa yang terkuat, dan pantas menjadi pemenang. Maha Patih Jogo Rogo yang sudah semakin panas menyerang dengan sangat tidak beraturan.
Itu sangat menguntungkan bagi Prabu Sura Kalana. Sedangkan Ditya Kalana sendiri, dia berhadapan dengan Maha Patih Putra Candrasa. Dari dulu, Ditya Kalana memang selalu saja penasaran dengan kekuatan yang dimiliki oleh Maha Patih Putra Candrasa.
Walau pun dia sudah pernah kalah dari Maha Patih Putra Candrasa, tapi hal itu tidak menghentikan rasa penasarannya. Dari kemampuan Ditya Kalana yang sekarang, dia memang sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Meski tetap saja masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Maha Patih Putra Candrasa.
Kalau saja Maha Patih Putra Candrasa tidak mendapatkan perintah untuk menahan diri, sudah pasti Maha Patih Putra Candrasa menyerang Ditya Kalana habis-habisan. Sayangnya Prabu Jabang Wiyagra menginginkan Ditya Kalana tetap hidup dan diberi kesempatan kedua untuk berubah.
Kesempatan ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra ingin Ditya Kalana ditangkap dan ditahan di dalam penjara. Dan akan dibimbing oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Namun jika Ditya Kalana tidak kunjung menyadari semua kesalahannya, maka dengan terpaksa, dia harus dihukum mati.
Prabu Sura Kalana sebenarnya sudah mengikhlaskan semuanya. Kalau Prabu Jabang Wiyagra menginginkan kematian adiknya, Prabu Sura Kalana sendirilah yang akan melakukannya. Semua orang pun tahu, kalau semua ini adalah salah adiknya. Peperangan ini dimulai dari Ditya Kalana yang selalu ingin menang sendiri.
Andaikan saja dulu Ditya Kalana mau mengakui kesalahannya, setelah tahu kalau dia ditipu oleh pamannya, pasti perang ini tidak akan terus menerus berlanjut sampai sekarang. Kedua pihak bisa sama-sama berdampingan, dan saling menjaga satu sama lain. Mereka bahkan bisa bekerja sama untuk membangun negara mereka.
Tetapi keegoisan Ditya Kalana benar-benar sudah mengotori akal sehatnya. Sehingga sulit untuk Ditya Kalana menerima pemikiran-pemikiran yang baik. Berbeda dengan Prabu Sura Kalana, kakaknya. Prabu Sura Kalana selalu berusaha menjadi orang yang baik setiap harinya. Dia tidak pernah mencari permusuhan dengan siapapun, kecuali ada pihak yang memusuhinya.
Ditya Kalana masih terus berusaha untuk bisa mengalahkan Maha Patih Putra Candrasa. Ditya Kalana mencoba menyerang Maha Patih Putra Candrasa dengan Ajian Brajamusti. Bagi seorang Maha Patih Putra Candrasa, Ajian Brajamusti adalah ilmu terendah, dari segala ilmu kanuragan yang ada. Karena dengan lihainya, Maha Patih Putra Candrasa bisa menghindari serangan tersebut.
__ADS_1
Maha Patih Putra Candrasa kemudian melompat sangat tinggi. Kemudian menjatuhkan diri dengan kepalan tangannya. Seketika tanah di tempat itu pun retak, bahkan membuat Kebo Walik dan Aji Guruh tumbang, karena mereka berada tidak jauh dari Ditya Kalana. Kebo Walik dan Aji Guruh langsung disergap oleh ribuan pasukan, dan mereka langsung diikat dengan sangat kencang.
Rantai yang mengikat tubuh mereka sangat berbeda dari rantai pada umumnya. Ukuran rantai itu sangat besar sehingga membuat Kebo Walik dan Aji Guruh kesulitan untuk melepaskan diri. Mereka juga tidak bisa menggunakan ilmu kanuragan mereka, karena posisi mereka yang sudah sangat sulit.
Para prajurit terus-menerus menghujani mereka dengan serangan pedang dan tombak. Dan orang yang mengikat mereka dengan rantai ternyata Pangeran Rawaja Pati. Pangeran Rawaja Pati memiliki sebuah rantai pusaka yang bisa mengikat buruannya dengan sangat kencang, sehingga mereka kesulitan untuk melepaskan diri, sekalipun dengan ilmu kanuragan yang mereka miliki.
Pangeran Rawaja Pati memang sedang menunggu momen ini sejak pertarungan pertama kali dimulai. Pangeran Rawaja Pati terus mencari-cari kesempatan untuk bisa menangkap musuh-musuhnya, dan membawa mereka ke hadapan Prabu Jabang Wiyagra untuk diadili seadil-adilnya.
Kebo Walik dan Aji Guruh terus-menerus berusaha untuk berontak. Tapi tiba-tiba Pangeran Rawaja Pati langsung menginjak kepala mereka berdua, dan langsung membuat mereka tidak sadarkan diri saat itu juga. Sekarang tinggal tersisa Mbah Gagang, Ditya Kalana, dan Maha Patih Jogo Rogo, yang masih sanggup bertarung.
Prabu Sura Kalana kemudian memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur, dan pertarungan diambil alih oleh Prabu Sura Kalana beserta yang lainnya saja. Banyak sekali pasukan dari pihak Prabu Sura Kalana yang sudah mati, karena mereka menyerang orang yang sebenarnya bukanlah Lawan mereka.
Maha Patih Jogo Rogo dibuat kerepotan saat menghadapi Prabu Sura Kalana. Kemampuan yang ia miliki benar-benar jauh dibawah Prabu Sura Kalana. Dia bahkan sempat terkena pukulan dan tendangan sampai berkali-kali. Dan dengan segenap tenaga yang ia miliki, Maha Patih Jogo Rogo mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar.
Maha Patih Jogo Rogo memasang posisi serangan, begitu juga dengan Prabu Sura Kalana yang mencoba menyerang Maha Patih Jogo Rogo menggunakan Ajian Bathara Geni. Ajian Bathara Geni adalah ilmu kanuragan yang Prabu Sura Kalana dapatkan dari Prabu Jabang Wiyagra. Ajian Bathara Geni mampu membuat tubuh bagian dalam terbakar.
Dan kalau Ajian Bathara Geni digabungkan dengan Ajian Brajamusti, maka kekuatannya akan semakin berlipat-lipat, akan jauh lebih besar, dan efeknya akan jauh lebih mengerikan. Si korban yang terkena Ajian Bathara Geni yang digabungkan dengan Ajian Brajamusti, tubuhnya akan langsung hancur berantakan.
__ADS_1
Namun sayangnya, sebelum Maha Patih Jogo Rogo mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar, tiba-tiba saja Lare Damar datang dan langsung menyerang Maha Patih Jogo Rogo dengan Ajian Lampah Lumpuh. Karena dalam posisi yang tidak siap menerima serangan dari Lare Damar, akhirnya Maha Patih Jogo Rogo langsung jatuh tak berdaya.
Ajian Lampah Lumpuh yang digunakan oleh Lare Damar, telah membuat Maha Patih Jogo Rogo benar-benar lumpuh bersimpuh tak berdaya. Tubuh Maha Patih Jogo Rogo bergetar hebat. Namun dia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, bahkan kedua bola matanya sekalipun. Tubuhnya juga menjadi putih pucat seperti mayat.
Prabu Sura Kalana juga keheranan melihat hal tersebut, karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Lare Damar akan datang ke tempat ini, dan langsung menyerang Maha Patih Jogo Rogo.
"Kangmas Lare Damar? Apa apa yang sudah Kangmas lakukan?" Tanya Prabu Sura Kalana yang masih keheranan.
"Maaf Dimas. Tapi Kakang Prabu yang menyuruhku untuk melakukan hal ini. Karena Kakang Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai Maha Patih Jogo Rogo lolos seperti yang lainnya." Jawab Lare Damar.
Prabu Sura Kalana jelas tidak bisa berbuat apa-apa, kalau sudah mendengar itu adalah perintah langsung dari Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Sura Kalana bahkan tidak melakukan apa-apa, saat dia melihat Lare Damar memanggul tubuh Maha Patih Jogo Rogo yang akan dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Karena melihat tubuh Maha Patih Jogo Rogo yang dipanggul oleh Lare Damar, Ditya Kalana langsung mengajak Mbah Gagang untuk kabur dari sana. Ditya Kalana berusaha melompat setinggi mungkin, dan berhasil melompati Maha Patih Putra Candrasa. Tapi sayangnya, Pangeran Rawaja Pati langsung menyerang Ditya Kalana dengan ekornya.
Saat itu Pangeran Rawaja Pati merubah setengah badannya menjadi seekor naga, yang kemudian melilit tubuh Ditya Kalana dengan sangat kencang. Ditya Kalana berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman ekor Pangeran Rawaja Pati, tapi tetap saja gagal.
Dia berteriak meminta tolong kepada Mbah Gagang. Tapi Mbah Gagang tetap saja melarikan diri, dan meninggalkan Ditya Kalana sendirian disana.
__ADS_1
"Matilah kamu Ditya Kalana!" Ucap Pangeran Rawaja Pati sembari tertawa.