
Bentrokan yang terjadi antara Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga, membuat ekonomi di kedua kota besar tersebut mengalami kemunduran drastis. Banyak pedagang yang tidak berani untuk datang, baik ke Kota Maja Lingga, ataupun ke Kota Singo Negoro. Karena mereka khawatir akan terjadi bentrokan susulan antara kedua Padepokan besar tersebut. Sehingga mereka lebih memilih untuk berdagang di kota yang lain.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya mengadakan rapat untuk yang kedua kalinya bersama dengan Mbah Kangkas, para Panglima, sekaligus juga dengan Ki Jangkung Sapu Jagat. Prabu Jabang Wiyagra ingin menyatukan dua kota besar tersebut. Agar tidak terjadi lagi pertikaian dan permusuhan antara keduanya. Terutama untuk mengembalikan keadaan ekonomi dari kedua kota besar itu, yang sudah mengalami kemunduran.
"Aku tidak mau rakyat yang tidak bersalah terus-menerus menjadi korban dari sebuah pertikaian. Cara satu-satunya untuk mendamaikan dua kota besar ini, adalah dengan menggabungkannya menjadi satu. Tetapi aku meminta pendapat dan saran dari kalian semua yang hadir di tempat ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada semua orang yang ada di sana.
Di ruang singgasana raja itu juga terdapat beberapa orang Patih dan anggota kelompok Pasukan Bara Jaya. Mereka semua ingin mendengar keputusan yang akan diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra, kepada Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Karena kedua kubu besar tersebut memang sangat sulit untuk didamaikan. Ditambah lagi dengan para murid Ki Gendalastra, yang kebanyakan mereka adalah mantan bandit, yang suka melakukan pemerasan dan penindasan.
Ki Gendalastra memang telah mewariskan kejahatannya kepada murid-muridnya itu. Dari sekian banyak murid yang ia miliki, hanya beberapa murid saja yang mengikuti jejak Ki Gendalastra di akhir hidupnya. Kebanyakan dari murid Ki Gendalastra masih memegang aturan lama. Yang dimana mereka lebih senang memeras dan merampas hak orang-orang di sekitar mereka. Dan hal itu masih berlaku bagi mereka hingga sekarang.
__ADS_1
Para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela sebenarnya sudah berusaha untuk menghentikan pergerakan mereka. Namun karena jumlah mereka semakin hari semakin banyak, akibat pengaruh yang diberikan oleh Jiramani dan Mahendra, akhirnya para komplotan bandit ini seakan tidak ada habisnya. Jumlah mereka terus menerus bertambah. Jika ada dari mereka yang mati, maka akan ada lagi yang menggantikannya.
Sedangkan Jiramani dan Mahendra, mereka berdua hanya bergerak di balik layar. Mereka hanya menerima setoran dari para murid-murid junior yang belum lama masuk ke Padepokan Ageng Maja Lingga. Ki Gendalastra seakan tidak memiliki pengaruh apapun di padepokannya sendiri. Kehormatannya sebagai seorang guru seakan telah ditenggelamkan oleh Jiramani dan Mahendra, yang merupakan senior di Padepokan Ageng Maja Lingga.
Pengaruh Jiramani dan Mahendra jauh lebih kuat daripada pengaruh Ki Gendalastra. Karena mereka berdua mampu mengendalikan banyak sekali murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga, untuk melakukan kejahatan. Karena pengaruh buruk itu, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya memutuskan untuk menyatukan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro, di bawah satu kepemimpinan. Dengan Ki Jangkung Sapu Jagat sebagai penanggung jawabnya.
Hal itu terpaksa harus dilakukan, mengingat masalah yang ditimbulkan oleh Jiramani dan Mahendra sangatlah besar. Banyak orang yang menjadi korban dari pengaruh buruk mereka berdua. Bahkan banyak sekali orang tua yang merasa telah kehilangan sosok anak-anak mereka, semenjak anak-anak mereka bergabung dengan Jiramani dan Mahendra, dengan menjadi seorang bandit. Hal itu telah sampai ke telinga Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra.
"Jangan khawatir Ki Jangkung. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima akan membantumu untuk mengurus kedua padepokan besar itu. Aku percayakan hal ini kepadamu. Aku yakin, Ki Jangkung Sapu Jagat pasti bisa menjalankan tugas yang aku berikan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Ki Jangkung hanya bisa pasrah dengan keputusan yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada dirinya. Memang keputusan itu sangatlah baik, karena dengan begitu, Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga akan bersatu, di bawah satu kepemimpinan. Akan sulit bagi orang-orang yang mendukung Jiramani dan Mahendra untuk melakukan kejahatan. Mereka jelas akan merasa diasingkan dan disingkirkan dari tanah mereka sendiri.
Saat itulah Prabu Jabang Wiyagra akan mengambil langkah yang kedua, yaitu menangkap semua orang yang berusaha memprovokasi murid-murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Dengan begitu, semua orang yang masih mendukung Jiramani dan Mahendra tidak akan bisa berkutik lagi. Mereka semua akan dijebloskan ke dalam penjara, bersama dengan Jiramani dan Mahendra. Yang sekarang sudah menjadi penghuni tetap, di penjara sarang tikus.
"Karena ini keputusan langsung dari Sang Maha Raja, maka aku sebagai penasehat Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Akan membantu peresmian penggabungan dua kota besar, Maja Lingga dan Singo Negoro. Atas berbagai macam pertimbangan dan perhitungan yang matang, Prabu Jabang Wiyagra telah memutuskan untuk memberikan nama kota tersebut, dengan nama Kota Maja Negoro." Ucap Mbah Kangkas kepada mereka semua.
Para Panglima dan juga para Patih yang ada di sana, pun setuju dengan rencana Prabu Jabang Wiyagra. Dengan berdirinya Kota Maja Negoro, maka Prabu Jabang Wiyagra akan memberikan sebuah tanda, yaitu dengan membangun sebuah monumen raksasa, di bekas perbatasan wilayah Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga. Dan dalam tujuh hari kedepan, penataan Kota Maja Negoro akan dilakukan. Dikarenakan Prabu Jabang Wiyagra tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi.
Sedangkan Ki Jangkung sendiri masih belum bisa menerima sepenuhnya, keputusan yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia merasa begitu keberatan dengan tugas yang ia dapatkan. Dia merasa sudah sangat tua untuk menjalankan tugas tersebut. Padahal masih ada Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima yang jauh lebih muda. Mereka tentunya akan lebih cekatan dalam melakukan segala hal, dibandingkan dengan Ki Jangkung sendiri, yang sudah berusia lanjut, dan juga sudah lamban.
__ADS_1
Tetapi apapun yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, tetap harus dipatuhi oleh semua orang. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah sembarangan dalam memberikan setiap keputusan. Jika beliau sudah memberikan kepercayaan kepada seseorang, itu artinya Prabu Jabang Wiyagra sudah memperhitungkannya matang-matang. Prabu Jabang Wiyagra sudah mempelajari sepak terjang Ki Jangkung sejak lama. Dan beliau sudah mengenal dekat Ki Jangkung.
Keputusan Prabu Jabang Wiyagra adalah keputusan mutlak, yang tidak bisa diganggu gugat. Suka ataupun tidak Ki Jangkung tetap harus menjalankan perintah tersebut. Dia akan menjadi pemimpin dari sebuah kota yang sangat besar. Kota Maja Negoro. Kota baru yang diharapkan akan membawa kedamaian dan juga kemajuan bagi seluruh rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Karena jika ada sebuah kota besar yang berdiri di sebuah kerajaan, maka kerajaan tersebut akan mengalami kemajuan dan kemakmuran.