
Tiba-tiba datanglah para anggota kelompok pemberontak yang langsung menyerang ke kediaman Ratu Mekar Senggani. Jumlah mereka sangat banyak, dan mereka membawa senjata berupa panah dan juga pedang. Beberapa dari mereka juga menaiki kuda, yang kemungkinan adalah para pimpinan mereka, yang turut serta ikut dalam penyerangan tersebut. Begitu mengetahui kalau ada penyerangan di tempatnya, Ratu Mekar Senggani langsung memerintahkan para pasukannya untuk menarik diri mereka ke dalam lahan pertanian. Karena tanpa sepengetahuan semua orang, Ratu Mekar Senggani ternyata mengatur lahan pertanian tersebut agar menjadi tempat pertahanannya sementara waktu, sebelum istananya berdiri.
Lahan pertanian di tempat tidur di desain khusus oleh Mbah Kangkas. Yang dimana Mbah Kangkas sendiri tahu, kalau cepat atau lambat, Patri Asih pasti akan melakukan penyerangan ke wilayah ini. Karena itu, perlu ada sebuah upaya antisipasi, untuk menghadapi situasi tersebut. Dan kenyataannya, apa yang diperkirakan oleh Mbah Kangkas benar-benar terjadi. Para kelompok pemberontak sudah ada di depan matanya. Semua orang berusaha melakukan perlawanan, sekuat tenaga mereka. Begitu juga dengan Ratu Mekar Senggani, yang langsung menyerang para pemberontak tersebut dengan segala kemampuannya.
Ratu Mekar Senggani tentu saja bisa dengan sangat mudah menyingkirkan mereka dari tempatnya. Apalagi para kelompok pemberontak ini kebanyakan adalah para mantan prajurit Kerajaan Panca Warna, yang sekarang membelot, dan mengikuti para mantan pejabat yang ingin berkuasa. Para pemberontak itu awalnya terlihat gagah dan berani, saat menghadapi para pasukan Ratu Mekar Senggani. Tapi saat mereka berhadapan langsung dengan Ratu Mekar Senggani, mereka terlihat mulai panik. Ratu Mekar Senggani memanfaatkan hal itu untuk menyerang mereka semua. Dan dengan mudah para pemberontak ini bisa dikalahkan.
Apalagi saat para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela datang ke tempat ini, para pemberontak langsung dikepung. Tidak ada satupun jalan untuk mereka lari dari tempat ini. Meskipun jumlah mereka ratusan, tetapi mereka masih kalah jumlah dengan para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Apalagi saat mereka melihat para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela membawa Jetbang. Para pemberontak ini menjadi semakin panik dan tidak karuan. Bahkan kuda-kuda yang ditunggangi oleh para pemberontak ini juga sudah dibunuh pada saat itu juga. Mereka benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Mereka hanya bisa pasrah, saat para prajurit menyeret paksa mereka semua.
"Siapa yang memerintahkan kalian untuk menyerang?" Tanya Ratu Mekar Senggani kepada mereka.
Tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. Kemudian salah satu prajurit menendang salah satu dari mereka.
"Jawab!" Bentak prajurit itu.
Tapi tetap saja tidak ada yang mau memberikan informasi apapun untuk Ratu Mekar Senggani. Mereka semua membisu. Sampai pada akhirnya, Panglima Lara Kencana turun tangan untuk menangani mereka semua, agar mereka mau memberikan informasi kepada Ratu Mekar Senggani. Di sinilah Ratu Mekar Senggani akhirnya tahu bagaimana kekejaman Panglima Lara Kencana. Karena saat Panglima Lara Kencana bertanya kepada salah satu dari mereka, dan orang itu tidak menjawab, Panglima Lara Kencana langsung mencongkel mata orang itu dengan kedua jarinya. Yang membuat orang itu mengerang kesakitan, dan mati di sana saat itu juga.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang ingin bernasib seperti ini?" Tanya Panglima Lara Kencana.
"...Aku harap kalian tidak melakukan hal yang bodoh. Agar kalian tidak mati dengan cara yang bodoh." Tambahnya.
Lalu salah satu dari mereka mengangkat tangan kanannya. Orang itu terlihat begitu ketakutan, setelah melihat salah satu temannya mati. Orang yang berada di depan langsung menengok ke belakang, ke arah orang tersebut, dengan wajah penuh amarah. Dia seperti tidak menerima apa yang dilakukan oleh salah satu temannya itu. Namun orang yang mengangkat tangannya tersebut, seperti tidak peduli. Dia hanya ingin selamat. Tanpa mempedulikan bagaimana nasib teman-temannya yang lain. Karena dia juga masih memiliki keluarga yang harus ia hidupi. Orang itu tidak mau mengorbankan nyawa hanya untuk sebuah tahta dan harta. Dia tidak ingin mati, dan hanya ingin pulang kembali kepada keluarganya.
"Apa yang bisa kamu berikan kepada kami?" Tanya Panglima Lara Kencana.
"Tolong ampuni aku. Aku akan memberikan apa saja yang kalian butuhkan. Aku akan mengatakan semuanya kepada kalian. Tapi tolong jangan bunuh aku." Kata orang itu.
"Yang memerintahkan kami untuk melakukan penyerangan adalah seorang perempuan bernama Patri Asih. Dia yang membayar dan juga mempersenjatai kami. Dia juga menjanjikan tahta singgasana Kerajaan Panca Warna kepada pemimpin kami."
"Siapa pemimpin kalian?" Tanya Ratu Mekar Senggani.
"Dia adalah Patih Lanja Arang. Dia ingin mengambil alih tahta Kerajaan Panca Warna."
__ADS_1
"Patih Lanja Arang?!"
"Benar Gusti Ratu. Patih Lanja Arang-lah yang selama ini memimpin semua pemberontakan ini."
"Siapa itu Patih Lanja Arang? Gusti Ratu?" Tanya Panglima Lara Kencana.
Ratu Mekar Senggani lalu menjelaskan soal siapa Patih Lanja Arang. Patih Lanja Arang adalah anak didik terbaik dari mendiang Maha Patih Baruncing. Dulu dia selalu mengikuti kemanapun Maha Patih Baruncing pergi. Bahkan Patih Lanja Arang juga memiliki dedikasi yang tinggi kepada Kerajaan Panca Warna. Bertahun-tahun dia mengabdikan dirinya kepada Ratu Mekar Senggani. Bahkan banyak sekali orang yang menaruh kepercayaan terhadap Patih Lanja Arang. Karena dia juga merupakan orang kepercayaan Maha Patih Baruncing, yang terkenal sakti mandraguna. Namun di balik itu semua, Patih Lanja Arang ternyata diam-diam juga menginginkan jabatan Maha Patih. Karena melihat Maha Patih Baruncing yang begitu dicintai oleh Ratu Mekar Senggani.
Patih Lanja Arang iri kepada guru pendidiknya sendiri. Karena setiap kali Maha Patih Baruncing mendapatkan masalah, pasti Ratu Mekar Senggani akan selalu berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Namun jika yang mendapatkan masalah itu adalah Patih Lanja Arang, Ratu Mekar Senggani pasti akan menganggap dia orang yang bodoh. Setiap kali terkena masalah, Maha Patih Baruncing-lah yang akan membantu Patih Lanja Arang untuk keluar dari masalahnya. Terutama untuk melakukan pembelaan kepada Ratu Mekar Senggani. Karena sudah pasti ucapan Maha Patih Baruncing akan lebih dipercaya, daripada ucapan yang dikeluarkan oleh Patih Lanja Arang. Hal itulah yang menimbulkan keiri dengkian di hati seorang Patih Lanja Arang yang dikenal setia.
Tidak ada satupun orang yang meragukan kesetiaan Patih Lanja Arang kepada Ratu Mekar Senggani. Setiap mendapatkan perintah dari Ratu Mekar Senggani, Patih Lanja Arang akan langsung menjalankannya. Tapi tidak pernah sekalipun Patih Lanja Arang mendapatkan jatah dari Ratu Mekar Senggani, seperti yang didapatkan oleh Maha Patih Baruncing. Ratu Mekar Senggani sendiri tahu, kalau Patih Lanja Arang suka mengintip kegiatan yang dilakukan oleh Ratu Mekar Senggani dengan Maha Patih Baruncing di kamarnya. Tapi Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia justru melakukan hal yang terkesan menggoda dan mengejek Patih Lanja Arang. Yang membuat Patih Lanja Arang menjadi sangat murka.
Patih Lanja Arang bersumpah akan menyingkirkan Maha Patih Baruncing suatu hari nanti. Hingga sampailah Patih Lanja Arang melihat ada sebuah peluang. Yang dimana kala itu Patih Lanja Arang membiarkan Maha Patih Baruncing ditangkap oleh para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan saat ia tahu kalau Maha Patih Baruncing akan dihukum pancung, Patih Lanja Arang sama sekali tidak melakukan upaya apapun untuk menyelamatkan Maha Patih Baruncing. Dia bahkan merasa sangat senang mendengar kabar tersebut. Karena dengan begitu, dia tidak lagi memiliki seorang pesaing. Dan dia bisa mewujudkan impiannya agar bisa menduduki tahta seorang raja.
Ratu Mekar Senggani bisa mengetahui semua yang terjadi, karena dia pernah didatangi oleh arwah Maha Patih Baruncing. Dan Maha Patih Baruncing mengatakan semuanya kepada Ratu Mekar Senggani, apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak menyangka, kalau Patih Lanja Arang tega melakukan hal itu. Padahal Maha Patih Baruncing sangat menyayangi Patih Lanja Arang seperti adiknya kandungnya sendiri. Namun semuanya sudah terjadi. Tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh Ratu Mekar Senggani. Dia hanya bisa pasrah menerima hal itu. Tanpa bisa membalas kelakuan Patih Lanja Arang. Karena pada saat itu, Ratu Mekar Senggani berada di dalam penjara.
__ADS_1