
Setelah mendapatkan kabar dari Prabu Jabang Wiyagra, Patih Kinjiri langsung memerintahkan semua pasukannya untuk berjaga kembali di tempat mereka masing-masing. Karena Patih Kinjiri juga curiga akan pergerakan yang dilakukan oleh Maha Patih Jogo Rogo.
Maha Patih Jogo Rogo tidak menepati janjinya. Padahal dia sudah setuju untuk membantunya dalam pertempuran melawan Prabu Bambang Pura, dia sama sekali tidak datang. Bahkan tidak ada satu pun utusannya yang ia kirimkan ke benteng pertahanan ini. Sudah pasti dia sedang merencanakan sesuatu.
"Maaf Gusti Patih, apa tidak sebaiknya kita menyerang Maha Patih Jogo Rogo sekarang? Karena saya khawatir kalau sampai Maha Patih Jogo Rogo merencanakan penyerangan." Ucap Bamantara.
"Dia memang sedang merencanakan sesuatu, Bamantara. Tapi kita tidak memiliki alasan kuat untuk melakukan penyerangan. Prabu Jabang Wiyagra sudah memberikan perintah kepada kita untuk tetap menjaga benteng ini."
"....Kalau kita keluar dari benteng pertahanan, maka sangat mungkin kekosongan di tempat ini akan dimanfaatkan oleh musuh." Jawab Patih Kinjiri.
"Ya. Saya paham Gusti Patih. Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya Bamantara.
"Kita harus mengedepankan keamanan di tempat ini. Serangan selanjutnya harus menunggu perintah lagi dari Prabu Jabang Wiyagra. Saat ini Prabu Jabang Wiyagra sedang berusaha untuk bernegosiasi dengan Prabu Bambang Pura."
"Baik Gusti Patih."
"Sekarang kembalilah ke posisimu. Untuk sementara waktu, kepemimpinan Utari Gita akan diambil alih oleh Ki Mangku Cendrasih."
__ADS_1
"Siap Gusti Patih."
Area benteng itu nampak masih sangat berantakan akibat pertempuran. Banyak sekali batu-batu besar, panah, pedang, perisai, tombak, dan bahkan jasad manusia yang gugur pun masih belum bisa dibersihkan semuanya. Karena saat ini semua pasukan sedang memusatkan kekuatan untuk melindungi benteng.
Maha Patih Jogo Rogo adalah orang yang harus diwaspadai saat ini. Karena dia sudah melanggar perjanjian kerja sama dengan Patih Kinjiri. Padahal, Patih Kinjiri juga sudah memberikannya bantuan persenjataan dan juga beberapa logistik untuk mendukung kekuataan pasukannya.
Namun setelah semua kebaikan yang dilakukan Patih Kinjiri kepada Maha Patih Jogo Rogo, dia sama sekali tidak membalasnya dengan hal baik pula. Dia justru menghilang saat sedang benar-benar dibutuhkan. Untung saja Mangku Cendrasih dan Pangeran Rawaja Pati datang membawa bala bantuan pasukan.
Kalau pertempuran itu hanya mengandalkan kekuatan pasukan Patih Kinjiri saja, mungkin Patih Kinjiri dan semua pasukannya sudah digempur habis-habisan. Karena jumlah pasukan Prabu Bambang Pura sangat banyak. Ditambah juga dengan persenjataan mereka yang jauh lebih lengkap.
Posisi benteng ini berada di sebuah area perbukitan dan hutan-hutan lebat, sehingga banyak sekali sumber daya yang melimpah. Para warga desa bisa bercocok tanam. Di tempat ini juga masih banyak hewan-hewan liar dan hewan-hewan buas. Sehingga para warga desa bisa berburu untuk para pasukan yang sedang berjuang.
Di dalam markasnya, Patih Kinjiri sudah mulai menyusun strategi baru untuk membuat pertahanan di benteng ini semakin kuat. Dia dibantu beberapa pandai bangunan untuk membuatkan desain dan denah. Desain dan denah itu adalah untuk memperluas jangkuan benteng ini. Karena dengan cara itu, Patih Kinjiri bisa memperluas wilayahnya tanpa harus mengibarkan bendera perang.
Walau pun tetap akan ada pertikaian dengan kelompok pendekar liar yang tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Mangkon Rogo, tapi setidaknya hal itu bisa meminimalisir kematian pasukan lebih banyak lagi. Dihindari seperti apa pun, tetap saja akan ada orang yang mati. Tapi tetap harus ada usaha, sekecil apa pun itu, untuk mengurangi jumlah korban.
Para pasukan malam itu berjaga bergiliran. Dari malam sampai ke malam hari, tempat itu tidak pernah sepi. Karena sekarang penjagaan sudah diperketat. Bahkan super ketat. Tidak ada celah sedikit pun untuk musuh masuk, atau pun menyusup. Patih Kinjiri juga memberikan sandi khusus kepada para pasukannya.
__ADS_1
Tujuannya adalah, kalau sampai ada musuh yang menyusup dengan cara menyamar menjadi salah satu anggota pasukan, maka pasukan yang asli bisa membedakannya dengan sandi rahasia tersebut. Pangeran Rawaja Pati juga menugaskan pasukannya untuk mengawasi area benteng sepanjang siang dan malam.
Pasukan Pangeran Rawaja Pati bergerak mengelilingi seluruh area benteng pertahanan, guna mengawasi kalau sampai ada pergerakan yang mencurigakan. Yang menjadi kewaspadaan mereka bukan hanya Maha Patih Jogo Rogo saja. Tapi juga Maha Patih Kana Raga. Karena pasti dia juga sedang merencanakan sesuatu untuk balas dendam.
Dia pasti marah besar setelah tahu kalau Prabu Bambang Pura ditangkap dan ditahan di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dia bisa saja melakukan pergerakan tanpa perintah. Karena saat ini, semua perintah ada ditangannya. Dan dia berhak mengambil keputusan sebagai seorang Maha Patih, sekaligus wakil dari Prabu Bambang Pura.
Maha Patih Kana Raga adalah orang yang sangat setia kepada Prabu Bambang Pura. Dia sudah mengabdi selama bertahun-tahun. Dan dia juga yang membantu Prabu Bambang Pura dalam membangun dan mengembangkan Kerajaan Gelap Ngampar, sampai menjadi kerajaan besar seperti sekarang.
Kesetiaan Maha Patih Kana Raga sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia pasti akan menghalalkan segala cara agar bisa meneruskan perjuangan Prabu Bambang Pura untuk menaklukkan Kerajaan Mangkon Rogo sepenuhnya. Pasukan Kerajaan Gelap Ngampar juga masih sangat banyak. Sisa-sisa pasukan yang ada juga kabarnya sudah siap perang.
Kabar itu diterima oleh Patih Kinjiri dari seorang pemuda yang menjadi mata-mata. Si pemuda itu mendapatkan kabar dari warga desa yang tinggal di desa lain. Kalau sekarang, Maha Patih Kana Raga sudah mengirimkan banyak sekali pasukan lewat jalur perairan dengan kapal-kapal besar yang Kerajaan Gelap Ngampar miliki.
Pelabuhan di wilayah Kerajaan Mangkon Rogo hampir semuanya telah dipenuhi dengan kapal-kapal pengangkut barang dan kapal-kapal yang membawa pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar. Kabarnya mereka juga pasukan-pasukan pilihan. Karena mereka memiliki fisik yang tinggi dan berisi. Tanda diikat kepala mereka juga menandakan kalau mereka semua bukan pasukan biasa.
Patih Kinjiri pun sedikit kebingungan dengan semua kabar tersebut. Karena dia tidak bisa melakukan apa-apa selain bertahan di benteng raksasa ini bersama dengan pasukannya. Kalau dia melakukan serangan, maka dia dianggap membantah perintah. Kalau dia diam saja, dia khawatir karena pasukannya sekarang pasti masih kelelahan.
Banyak juga pasukan yang menjadi korban, belum lama dimakamkan. Dan semua orang yang ada di tempat ini masih berkabung atas gugurnya ratusan orang yang berjuang di medan perang. Namun yang paling penting bagi Patih Kinjiri adalah, memastikan mental pasukannya tetap dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1