
Semua usaha yang dilakukan Prabu Jabang Wiyagra telah berjalan dengan lancar. Banyak musuh-musuhnya yang pada akhirnya kalah. Sebagian besar musuhnya bahkan sekarang sudah tewas. Tinggal tersisa tiga orang musuh Prabu Jabang Wiyagra yang sampai sekarang masih belum bisa tertangkap. Yaitu Patih Lanja Arang, Intan Senggani, dan juga Patri Asih. Ratu Mekar Senggani sudah meminta izin kepada Prabu Jabang Wiyagra, agar dia diperbolehkan untuk menangkap adiknya. Karena Ratu Mekar Senggani merasa harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh Intan Senggani selama ini. Ratu Mekar Senggani ingin menebus kesalahan-kesalahan yang sudah pernah dia lakukan kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Mohon maaf Gusti Prabu. Biarkan hamba saja yang menangkap Intan Senggani. Dia adalah dikandung hamba. Hamba merasa harus bertanggung jawab atas apa yang sudah pernah dia lakukan. Apapun keputusan Gusti Prabu nantinya, hamba akan menerimanya. Adik hamba memang pantas untuk dihukum. Karena ulahnya, seluruh rakyat Kerajaan Panca Warna harus menanggung akibatnya." Ucap Ratu Mekar Senggani kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan Mekar Senggani. Tapi jangan karena kebencianmu, kamu mau melakukan hal ini. Niatkanlah untuk merubah dirimu menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Aku tidak pernah mau berperang dengan siapapun. Karena aku menganggap setiap orang bisa berubah. Namun, di antara sekian banyak musuh-musuhku yang tersisa, hanya beberapa saja yang mau kembali ke jalan yang benar. Termasuk dirimu."
__ADS_1
"....Aku harap, kamu juga mau memberi kesempatan kepada adikmu untuk berubah. Kalau kamu ingin memberikan pelajaran kepadanya, aku tidak akan menahanmu. Lakukanlah apa yang seharusnya kamu lakukan, kepada adikmu. Jika adikmu tetap saja memberontak, maka sepenuhnya aku serahkan dia kepadamu. Bagaimana Mekar Senggani?"
"Baik Gusti Prabu. Hamba akan melakukan apa yang Gusti Prabu sarankan kepada hamba."
Prabu Jabang Wiyagra tersenyum kepada Ratu Mekar Senggani. Prabu Jabang Wiyagra tahu, kalau Ratu Mekar Senggani sebenarnya sudah tidak peduli lagi kepada adiknya. Karena Ratu Mekar Senggani merasa sangat dikecewakan oleh adiknya sendiri. Tahta yang seharusnya bisa dikembangkan dan dipertahankan, justru malah dihancurkan. Ratu Mekar Senggani telah mengembangkan Kerajaan Panca Warna selama bertahun-tahun lamanya. Dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh proses panjang bagi Ratu Mekar Senggani bisa mengembangkan Kerajaan Panca Warna menjadi sebuah kerajaan besar. Sekaligus menjadi sebuah kerajaan yang memiliki banyak sekali menghasilkan emas.
__ADS_1
Sebuah negara dengan kekuatan militer yang maju sekalipun, tidak akan bertahan lama jika kekuatan ekonominya tidak bisa tumbuh dengan baik. Dengan bertumbuhnya ekonomi di sebuah kerajaan, maka anak kejahatan di kerajaan tersebut akan semakin berkurang. Mungkin, akan banyak pejabat yang korup, dan menyalahgunakan dana kerajaan. Tapi, Prabu Jabang Wiyagra sudah mempersiapkan semuanya, jika suatu hari nanti Kerajaan Wiyagra Malela bisa tumbuh menjadi kederajaaan yang jauh lebih besar daripada sekarang. Prabu Jabang Wiyagra sudah memiliki agenda untuk seratus tahun kedepan. Sesuatu yang mungkin sangat mustahil untuk dilakukan oleh raja-raja besar yang lainnya. Karena sampai sekarang ini tidak ada yang mampu menyaingi kecerdasan yang dimiliki Prabu Jabang Wiyagra.
Dan Ratu Mekar Senggani sendiri juga sangat mendukung agenda tersebut. Agenda seratus tahun ke depan, adalah sebuah pemikiran yang sangat bagus, dan patut untuk ditiru. Dua orang besar itu sama-sama belajar, dan bertukar ilmu satu sama lainnya. Ratu Mekar Senggani sekarang sedang berfokus kepada pergerakan pendekar perempuan, yang ada di seluruh wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Meskipun sebelumnya Prabu Jabang Wiyagra juga sudah memiliki para pendekar perempuan, tapi hal itu masih dianggap kurang oleh Ratu Mekar Senggani. Ratu Mekar Senggani ingin, para pendekar perempuan juga bisa masuk ke dalam wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela. Agar mereka mendapatkan hak yang sama, seperti para pendekar dari para kaum laki-laki.
Selama ini Prabu Jabang Wiyagra lebih mengutamakan kaum laki-laki untuk berjuang. Prabu Jabang Wiyagra tidak tega, kalau para perempuan juga diikutsertakan dalam urusan pemerintahan. Karena jika mereka diikutsertakan, maka para kaum perempuan itu harus menanggung resiko kematian. Mereka harus siap pada segala posisi dan keadaan. Suatu saat bisa sajak terjadi hal buruk kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Sekalipun Prabu Jabang Wiyagra sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, tetapi Prabu Jabang Wiyagra tidak akan bisa membantah takdir yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa kepadanya. Ada kalanya Prabu Jabang Wiyagra juga akan menghadapi masalah yang sangat besar di dalam pemerintahannya. Yang dengan terpaksa, mengharuskannya mengorbankan para abdi setia di pemerintahannya.
__ADS_1
Itu sebuah hal yang sangat lumrah terjadi di sebuah kerajaan besar. Dengan jumlah orang yang lebih dari satu juta jiwa. Namun seperti biasa, Prabu Jabang Wiyagra akan memikirkan bagaimana caranya agar tidak menumbalkan siapapun. Meski pada kenyataannya, keadaan selalu memaksa beliau untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh yang nyata adalah, dengan adanya Ratu Mekar Senggani di pemerintahannya. Padahal semua orang juga tahu, kalau Ratu Mekar Senggani adalah orang yang sangat berbahaya. Prabu Jabang Wiyagra sempat mendapatkan kritikan dari beberapa pejabat istana, yang tidak setuju dengan rencananya. Karena memasukkan Ratu Mekar Senggani ke dalam pemerintahan Kerajaan Wiyagra Malela, dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi semua orang yang ada di dalamnya.
Tetapi keyakinan Prabu Jabang Wiyagra terhadap sesuatu memang sangatlah kuat. Beliau mampu membantah dan mematahkan argumen orang-orang, yang tidak suka dengan kehadiran Ratu Mekar Senggani di dalam pemerintahannya. Karena faktanya sekarang, Ratu Mekar Senggani adalah salah satu orang yang setia terhadap Prabu Jabang Wiyagra. Ratu Mekar Senggani bahkan selalu siap untuk maju di barisan depan, membela Prabu Jabang Wiyagra. Hanya saja Prabu Jabang Wiyagra masih menahan Ratu Mekar Senggani untuk saat ini. Karena masih banyak hal yang akan dihadapi oleh Prabu Jabang Wiyagra dan Ratu Mekar Senggani. Tidak hanya ketiga musuh besar yang sekarang masih hidup. Tetapi tidak menutup kemungkinan, jika di masa depan akan lahir kembali musuh-musuh yang baru. Dan jika saat itu telah tiba, maka Prabu Jabang Wiyagra dan Ratu Mekar Senggani harus sudah mempersiapkan segalanya.