DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 298


__ADS_3

Dalam perjamuan tersebut, Prabu Jabang Wiyagra membahas tentang sebuah tugas besar lagi yang akan mereka berdua dapatkan. Prabu Jabang Wiyagra memiliki sebuah wacana khusus untuk mereka berdua. Bersama dengan para pendekar yang mereka bawa. Prabu Jabang Wiyagra ingin membentuk satuan khusus lagi, di Kerajaan Wiyagra Malela. Yang dimana nantinya para pendekar akan dimasukkan dalam satuan pasukan khusus tersebut. Tujuannya adalah, agar para pendekar tidak menjadi liar. Dan memiliki wadah mereka sendiri.


Prabu Jabang Wiyagra sudah menyiapkan sebuah nama untuk satuan khusus tersebut. Yaitu Maha Wira. Maha Wira (Sansekerta : Maha Vira). Yang artinya 'Pendekar Hebat' atau 'Pendekar Sakti'. Maha artinya 'Besar' atau 'Hebat'. Dan Vira atau Wira, artinya 'Pendekar' atau 'Pejuang'. Satuan pasukan khusus Maha Wira nantinya akan dipimpin secara langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Mereka akan dijadikan pasukan pengawal pribadi Prabu Jabang Wiyagra yang baru. Dikarenakan Pasukan Bara Jaya akan mendapatkan tugas penting lainnya dari Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga Sang Maha Raja harus memiliki pasukan pengganti.


Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima juga akan mendapatkan posisi yang cukup penting di Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka berdua yang nantinya akan melatih para pasukan yang akan masuk ke kelompok Pasukan Maha Wira. Mereka juga yang akan menjadi wakil Prabu Jabang Wiyagra di kelompok pasukan khusus tersebut. Jadi Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima akan lebih banyak menghabiskan waktu mereka di istana Kerajaan Wiyagra Malela, daripada di Keraton mereka masing-masing. Begitu juga dengan para pendekar yang akan meninggalkan keluarga mereka. Setiap ingin pulang, mereka harus meminta izin terlebih dahulu kepada Prabu Jabang Wiyagra.


Para pendekar yang belum terbiasa dengan hal tersebut pun merasa ragu untuk ikut ke dalam Pasukan Maha Wira. Tapi itu adalah permintaan langsung dari Prabu Jabang Wiyagra. Yang akan sangat sulit bagi mereka untuk menolaknya. Namun Prabu Jabang Wiyagra memberikan waktu kepada mereka semua untuk memikirkan hal itu. Sebelum Pasukan Maha Wira benar-benar diresmikan. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima juga harus memberitahu istri-istri mereka. Karena jika Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sedang bertugas di istana, maka istri-istri merekalah yang akan bertugas untuk memimpin Keraton.


Sebenarnya Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima merasa sangat bangga mendapatkan posisi sepenting ini. Tapi mereka berdua sudah sangat lelah. Ditambah lagi dengan istri-istri mereka yang belum tentu siap menerima semua tugas dari Prabu Jabang Wiyagra. Apalagi tugas yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra tidaklah pernah main-main. Prabu Jabang Wiyagra sering sekali memberikan tugas berat kepada para abdi setianya. Bukan karena beliau kejam, tapi karena beliau sangat mempercayai mereka, bahwa mereka bisa dan sanggup melakukan tugas tersebut.


Prabu Jabang Wiyagra juga menyuruh Mbah Kangkas untuk mencatat nama-nama pendekar yang ikut dalam tugas dua hari yang lalu, bersama dengan Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima.


Nama-nama para pendekar tersebut adalah :


(Dari Kota Maja Lingga) :


1). Mahendra.


2). Jiramani.


3). Rajendra.


4). Saktisena.


5). Warunendra.


6). Parakrama.


7). Sidarta.


8). Hanaya.


9). Jadara.


10). Pratapa.


11). Baladitya.


12). Siwendra.


13). Darupa.

__ADS_1


14). Surabi.


15). Kamalasi.


16). Bayana.


17). Sawala.


18). Jakara.


19). Dhawasena.


20). Satikara.


21). Balakara.


22). Bhawendra.


23). Saprabha.


24). Kamalendra.


25). Baraji.


1). Darman.


2). Bismaka.


3). Pajendran.


4). Bhalaji.


5). Pamurta.


6). Caraman.


7). Dharapa.


8). Sarawa.


9). Karaman.

__ADS_1


10). Bajaran.


11). Surami.


12). Rajinan.


13). Tapala.


14). Beladri.


15). Caruku.


16). Bundhara.


17). Dityawendra.


18). Waradirta.


19). Kamaraka.


20). Kulara.


21). Pariji.


22). Dhuraji.


23). Pajilaya.


24). Dawangku.


25). Jipatri.


Semua daftar para pendekar itulah yang nantinya akan mengisi generasi pertama Pasukan Maha Wira. Mereka akan mendapatkan perhatian yang lebih di Kerajaan Wiyagra Malela. Dan seperti biasanya, nantinya Prabu Jabang Wiyagra juga akan melibatkan Mangku Cendrasih dalam melatih para pendekar tersebut. Karena sebagai pasukan pengawal pribadi Prabu Jabang Wiyagra, mereka harus memiliki ilmu kesaktian yang lebih, dari apa yang sudah mereka dapatkan selama mereka berada di Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro.


Para pendekar sama sekali tidak menyangka, kalau Prabu Jabang Wiyagra akan melakukan hal ini. Padahal para pendekar ini merasa sangat tidak pantas untuk menjadi pengawal pribadi Prabu Jabang Wiyagra. Karena mereka semua berasal dari masyarakat kelas bawah. Mereka sama sekali bukan orang-orang terpandang, dan juga bukan orang-orang terpelajar. Mereka hanya sekumpulan orang yang secara kebetulan menimba ilmu Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro.


Walaupun mereka perlu memikirkan kembali apa yang ditawarkan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka, tetapi mereka sudah sangat yakin, kalau Prabu Jabang Wiyagra memang tulus memberikan kesempatan kepada mereka, agar mereka semua bisa mengabdi secara langsung kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Karena selama ini para pendekar tersebut hanyalah menjadi penjaga desa. Itupun hanya beberapa dari mereka saja. Sedangkan kebanyakan mereka justru menjadi kuli panggul di pasar. Dan ada juga yang berternak ataupun berkebun.


Namun dengan pekerjaan mereka yang bermacam-macam, mereka tetap tidak melupakan tanggung jawab mereka sebagai seorang pendekar. Kalau terjadi sesuatu di Kota Maja Lingga ataupun Kota Singo Negoro, mereka pasti akan turun tangan langsung, tanpa harus diminta terlebih dahulu. Mereka juga senang membantu siapa saja yang ada di sekitar mereka. Bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang menjadi penjaga kebun milik orang-orang kaya, agar tanaman yang ada di kebun-kebun tersebut tidak dicuri.


Setiap hari mereka semua berjuang untuk bisa makan, dan menghidupi keluarga mereka, dengan hasil yang seadanya. Bahkan seringkali hasil yang mereka dapatkan tidaklah cukup, dengan apa yang sudah mereka korbankan. Namun karena tidak ada hal lain yang bisa mereka kerjakan, akhirnya mereka terpaksa melakukan hal itu. Dan kebanyakan para pendekar ini hidup di pedalaman Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro, agar mereka bisa tetap mengasah ilmu yang mereka dapatkan dari padepokan.

__ADS_1


Karena jika mereka memasuki wilayah perkotaan, maka adab dan juga peraturan yang ada di kota sudah sangat berbeda. Bisa dibilang, para pendekar ini adalah orang-orang pelosok. Mereka lebih sering mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Dan tidak terlalu suka dengan hiruk pikuk wilayah perkotaan. Mereka juga tidak mau bekerja di pabrik-pabrik ataupun tempat perbelanjaan. Meskipun banyak sekali orang di wilayah perkotaan yang menawarkan pekerjaan kepada mereka. Karena fisik mereka yang kuat, dan cekatan terhadap segala hal.


Tapi mereka selalu saja menolak pekerjaan yang ditawarkan dari orang-orang yang ada di wilayah perkotaan. Para pendekar ini benar-benar ingin menutup diri mereka dari dunia luar. Mereka semua hanya ingin hidup tenang, tanpa harus memikirkan banyak hal. Karena yang terpenting bagi mereka, keluarga mereka masih bisa makan. Mereka tidak suka dengan hal yang muluk-muluk. Dan lebih suka dengan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan. Sangat berbeda dengan orang-orang yang ada di wilayah perkotaan. Yang kebanyakan dari mereka selalu menggunakan pakaian mewah. Serta tinggal di bangunan-bangunan megah.


__ADS_2