
Prabu Sura Kalana kembali menyerahkan pedang yang ada di tangannya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Darah di sekujur tubuhnya itu menjadi pertanda kalau dia juga mengikuti jejak Prabu Jabang Wiyagra. Yang tidak pernah peduli kepada siapa saja yang membuat kejahatan dan menimbulkan kesengsaraan. Teguh kepada pendirian dan tidak pernah merubah haluan yang sudah dijadikan tujuan.
Apapun yang telah dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra selalu terjadi. Prabu Jabang Wiyagra nemegang teguh sumpahnya dan tidak akan pernah melanggarnya sekalipun. Kesembilan orang yang saat ini mati di halaman istananya menjadi sebuah bukti kuat kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah main-main dengan sumpah yang telah ia ucapkan kepada semua orang.
Setelah kesembilan orang itu mati, mayat mereka langsung dibawa oleh para prajurit istana yang ada di sana. Sedangkan untuk para prajurit yang ada di luar, masih sibuk melawan orang-orang yang melakukan penyerangan di gerbang istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dan hal yang sangat mengerikan pun sama-sama terjadi di luar gerbang istana.
Sudah ribuan orang tewas dan ratusan mengalami luka-luka parah, setelah mereka semua menghadapi Pasukan Bara Jaya yang terkenal bisa merubah diri mereka menjadi seekor harimau. Para Pasukan Bara Jaya yang turun tangan langsung bersama dengan pimpinan mereka, yaitu Panglima Galang Tantra, sudah berhasil membunuh ribuan musuh.
Dan membuat sebagian besar dari mereka melarikan diri ke hutan-hutan, dan beberapa desa yang ada di dekat wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela. Para Pasukan Bara Jaya membiarkan mereka yang lolos pergi begitu saja. Mereka tidak akan pernah bisa pergi dari wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Karena mereka akan menjadi buronan.
Terpampang jelas di luar gerbang istana kalau sudah ada ribuan mayat para pasukan yang melakukan penyerangan. Ada sekitar dua ratus orang lebih yang mengalami luka parah dan masih bertahan hidup. Sedangkan ribuan dari teman-teman mereka sudah mati. Selain itu ada tujuh orang Patih yang ternyata tewas di tempat, oleh para Pasukan Bara Jaya.
Dua ratus orang yang masih hidup, yang masih bisa berjalan digiring ke dalam penjara istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk dimintai keterangan mengenai siapa dalang dibalik penyerangan ini. awalnya banyak dari mereka yang tidak mau mengakui siapa yang menjadi dalangnya. Tetapi setelah melewati beberapa penyiksaan yang menyakitkan beberapa dari mereka akhirnya angkat bicara.
"Awalnya para Patih dan juga prajurit istana mendatangi warga masyarakat." Ucap salah seorang pasukan penyerang, dengan nada yang terengah-engah, karena menahan sakit atas semua luka-luka yang ia dapatkan di tubuhnya.
"Mereka semua mengatakan kepada kami kalau akan ada hukuman pancung yang diberikan kepada Maha Patih Baruncing. Prajurit dan para Patih kerajaan mengajak semua orang bersatu untuk melakukan perlawanan. Mereka juga memberikan kami semua senjata berupa pedang dan juga tombak."
__ADS_1
"Lalu apalagi?" Tanya seorang anggota Pasukan Bara Jaya yang menginterogasi mereka.
"Para prajurit dan para Patih lalu menyusun rencana keberangkatan ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Kami berangkat sekitar satu minggu yang lalu, dan sampai di pinggiran wilayah perairan Kerajaan Batih Reksa. Dari sana kami masuk ke hutan-hutan, sedikit demi sedikit, agar bisa memasuki wilayah Kerajaan Wiyagra Malela."
"Lalu siapa saja para Patih dan para prajurit yang terlibat dalam hal ini?"
Orang itu diam dan seperti tidak mau lagi berbicara kepada orang yang menginterogasinya. Lalu anggota Pasukan Bara Jaya itu langsung memukul perut si laki-laki dengan sangat keras sehingga membuat laki-laki itu langsung mudah darah.
"Cepat katakan!"
"Demi apapun, kami sungguh tidak tahu siapa nama mereka. Kami semua hanya korban dari hasutan para Patih dan para prajurit istana yang menuntut balas atas kekalahan mereka di medan peperangan. Mereka hanya ingin mengacaukan keadaan, agar bisa membebaskan Maha Patih Baruncing. Dan juga Ratu Mekar Senggani. Hanya itu saja yang kami tahu." Jawab laki-laki itu.
"Mohon maaf Gusti Prabu Sura Kalana, dan Maha Patih Kumbandha. Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha dipanggil oleh Prabu Jabang Wiyagra, di dalam ruang singgasana." Ucap si prajurit yang datang kepada mereka berdua untuk memberitahu.
"Nanti kami akan masuk. Sekarang kamu kembalilah ke dalam." Jawab Prabu Sura Kalana.
Dan setelah masuk ke dalam ruang singgasana, Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.
__ADS_1
"Jadi begini Nanda Prabu. Aku meminta maaf sebelumnya, atas hukuman yang sudah aku jatuhkan kepada Ditya Kalana, adikmu. Tapi ada masalah yang lebih penting daripada semua itu."
"Tidak apa-apa, Romo. Hamba memahami apa yang sudah Romo lakukan kepada adik hamba, Ditya Kalana. Dan memang pantas mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah ia lakukan. Tapi, ada masalah apa lagi, Romo?"
"Sekumpulan pasukan yang dipimpin oleh para prajurit dan juga Para Patih dari Kerajaan Panca Warna, yang baru saja menyerang kita, ternyata mereka melewati daerah kekuasaanmu. Tanpa diketahui oleh siapapun, mungkin saja termasuk dirimu sendiri."
Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha sangat terkejut mendengar ucapan dari Prabu Jabang Wiyagra. Karena saat Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha pergi ke istana ini, semuanya nampak baik-baik saja dan tidak terjadi masalah apapun di Kerajaan Batih Reksa. Tetapi itulah permasalahannya.
Musuh memanfaatkan momen kepergian Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha, agar bisa melewati daerah kekuasaan Kerajaan Batih Reksa. Sehingga mereka semua bisa melewati wilayah Kerajaan Batih Reksa dengan leluasa, tanpa diketahui oleh siapapun.
"Mohon maaf, Romo. Kami sudah menjaga wilayah kami dengan sangat baik. Dan saat kami berangkat ke tempat ini, semuanya dalam keadaan baik-baik saja, dan dalam suasana yang sangat-sangat tenang dan nyaman." Jawab Prabu Sura Kalana.
"Benar Gusti Prabu. Semuanya aman dan tentram. Tidak terjadi pertikaian ataupun kekacauan di wilayah Kerajaan Batih Reksa." Tambah Maha Patih Kumbandha yang juga merasa heran dengan apa yang diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Namun Prabu Jabang Wiyagra menjelaskan satu persatu semua hal yang telah terjadi kepada Prabu Sura Kalana dan juga Maha Patih Kumbandha. Bahwa para pasukan penyerang yang dipimpin oleh para Patih dari Kerajaan Panca Warna ini, memasuki sebuah kawasan hutan yang jarang sekali dilewati oleh orang-orang. Apalagi oleh patroli pasukan Kerajaan Batih Reksa.
Hal itu kemudian membuat Prabu Sura Kalana sadar akan sebuah tempat yang dulu juga pernah digunakan oleh Prabu Sura Kalana beserta pasukannya, untuk melakukan serangan kepada Kerajaan Wiyagra Malela yang kala itu belum lama berdiri, dan Kerajaan Batih Reksa masih bertikai dengan Kerajaan Reksa Pati. Dan sudah sangat lama Prabu Sura Kalana tidak melewati jalan tersebut.
__ADS_1
Jalan-jalan di hutan itu memang cukup sulit untuk dilewati oleh orang biasa yang belum terlatih. Bahkan Prabu Sura Kalana dan para pasukannya pun pernah mengalami kesulitan saat melewati jalur tersebut. Yang artinya, para pasukan penyerang dari Kerajaan Panca Warna ini, sudah melewati tempat itu selama berhari-hari agar sampai ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Dan mereka sudah berusaha dengan sangat keras untuk sampai ke tempat ini.