DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 39


__ADS_3

“Lalu, siapa sebenarnya Ki Damar Ireng ini? Romo Prabu?” Ucap Prabu Sura Kalana yang semakin penasaran dengan cerita yang disampaikan oleh Prabu Jabang Wiyagra.


“Dia adalah orang yang sangat sakti. Abadi. Tidak bisa mati. Tapi dia bisa kalah.”


Menurut cerita dari Mangku Cendrasih yang disampaikan kepada Prabu Jabang Wiyagra, Ki Damar Ireng pernah kalah oleh Sang Maha Guru. Tubuhnya dipotong-potong menjadi tujuh bagian, dan dipisahkan ke tujuh penjuru.


Dan selama bertahun-tahun Ki Damar Ireng terlelap dalam tidur panjang.


Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Karena beberapa tahun berlalu, setelah Kerajaan Reksa Digdaya berkembang dan menjadi kerajaan besar, Prabu Jaya Digdaya membebaskan Ki Damar Ireng dan menyatukan semua potongan tubuhnya. Sehingga Ki Damar Ireng berhasil bangkit kembali.


Dan dari sinilah semua permasalahan kembali dimulai. Yang dimana saat Prabu Jaya Digdaya ingin berguru kepada Ki Damar Ireng, Prabu Jaya Digdaya harus menelan rasa pahit, karena Ki Damar Ireng menginginkan salah satu anaknya menjadi tumbal. Yaitu Prabu Sura Kalana.


Jelas Prabu Jaya Digdaya menolak dan tidak mau melakukan hal itu. Dia tidak mau mengorbankan siapa pun hanya untuk menuruti nafsu iblis Ki Damar Ireng. Sehingga hal itu membuat Ki Damar Ireng murka dan menyerang Prabu Jaya Digdaya. Prabu Jaya Digdaya berhasil menang, tapi dengan keadaan yang terluka parah.


Pada saat itu, Gabah Lanang datang untuk menyelamatkan Prabu Jaya Digdaya. Sehingga Gabah Lanang tahu, kalau ada orang sakti yang sudah melegenda yang tinggal di wilayah tidak jauh dari Kerajaan Reksa Digdaya. Pada saat itu Gabah Lanang tidak sejahat ini. Dia masih menjadi manusia lugu dan penurut.


Bahkan dia dengan tulus menggendong tubuh Prabu Jaya Digdaya melewati perbukitan dengan jalan yang sangat sulit dilewati orang biasa. Tapi bukannya berterimakasih, Prabu Jaya Digdaya justru memarahi Gabah Lanang sepanjang jalan. Karena diam-diam mengikuti Prabu Jaya Digdaya.

__ADS_1


Padahal niat Gabah Lanang sangat baik, dia ingin membantu kakaknya supaya kakaknya bisa selamat dari lukanya yang sudah hampir menggerogoti seluruh tubuhnya. Semenjak itulah, Gabah Lanang berubah menjadi jahat dan berubah menjadi orang yang sangat-sangat licik.


Setelah beberapa tahun berlalu, Sura Kalan dan Ditya Kalana pun tumbuh besar. Disinilah baru diketahui, kalau Gabah Lanang diam-diam sudah mengincar Sura Kalana sejak lama. Dia ingin menjadikan Sura Kalana sebagai tumbal untuk mengembalikan seluruh kesaktian yang Ki Damar Ireng miliki.


Pada suatu malam, Gabah Lanang yang kala itu menjabat sebagai Maha Patih di Kerajaan Reksa Digdaya, mencoba menculik Sura Kalana. Tapi ia gagal dan tertangkap langsung oleh Prabu Jaya Digdaya. Karena kejadian itu, Prabu Jaya Digdaya marah besar dan mengancam Gabah Lanang agar tidak lagi mendekati anaknya.


Dia juga mengusir Gabah Lanang dari istananya. Tetapi Gabah Lanang bersujud meminta maaf kepada Prabu Jaya Digdaya. Dia bahkan rela menjilati telapak kaki Prabu Jaya Digdaya agar ia diampuni dan diberikan kesempatan yang kedua kali. Padahal itu hanyalah tipu dayanya saja.


Akhirnya Prabu Jaya Digdaya pun luluh, karena biar bagaimana pun, Gabah Lanang adalah adik kandungnya. Itulah kesalahan terbesar Prabu Jaya Digdaya. Dia percaya begitu saja kepada Gabah Lanang. Dia tidak tahu kalau Gabah Lanang sudah merencanakan sesuatu yang besar.


“Kenapa harus belati kesayanganku Romo Prabu?”


“Karena konon katanya, belati itu adalah satu-satunya benda yang bisa memutus tali pusarmu.” Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra mengatakan semua itu agar Prabu Sura Kalana bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga dia tidak terus menerus menyimpan rasa kebencian kepada adiknya, Ditya Kalana.


Dan setelah mendapatkan petunjuk dari Ki Damar Ireng, Gabah Lanang kembali ke istana dan berpura-pura mengajari beberapa gerakan bela diri kepada Sura Kalana. Padahal, dia hanya ingin mendapatkan belati itu.

__ADS_1


Gabah Lanang juga mengatakan, kalau Gabah Lanang akan mempertajam kembali belati kesayangan Sura Kalana dengan ilmu yang ia miliki. Dan pasti Sura Kalana percaya begitu saja, karena dia masih polos dan tidak tahu apa-apa.


Pada malam itulah, hal yang tak pernah diharapkan oleh siapa pun, akhirnya terjadi. Prabu Jaya Digdaya terbunuh oleh belati milik Sura Kalana yang ditancapkan oleh Gabah Lanang. Sehingga Sura Kalana-lah yang harus menerima hukuman berat atas peristiwa mengerikan itu.


Setelah Prabu Jaya Digdaya mati, Kerajaan Reksa Pati menjadi kacau balau. Mereka saling bunuh satu sama lain. Hingga kurangnya rasa percaya terhadap sesama. Dan itulah tumbal yang Gabah Lanang berikan kepada gurunya. Yaitu kebencian yang lahir dari semua orang. Jiwa-jiwa orang Itulah yang menjadi makanan Ki Damar Ireng.


Karena setelah perang antar saudara yang terjadi begitu lama, orang-orang yang bernafsu untuk menduduki singasana pun dihisap habis jiwanya oleh Ki Damar Ireng. Sehingga Ki Damar Ireng kembali menjadi sakti, walau pun tidak sepenuhnya.


Meski begitu, Ki Damar Lanang berhasil membunuh banyak pendekar yang sebagian besar dari para pendekat itu adalah keturunan orang-orang yang menjadi musuhnya di masa lalu. Sehingga banyak kekacauan yang terjadi di Tanah Jawa ini.


Namun semua itu hanya berlangsung selama dua tahun. Karena setelah itu, muncullah satu pendekar yang memiliki dua aliran ilmu, yaitu hitam dan putih. Dia bernama Ki Jaran Gedhe. Dan pendekar itu adalah orang yang menjadi guru dari Mangku Cendrasih.


Ki Jaran Gedhe adalah pendekar sakti mandraguna yang sudah bertapa selama satu abad. Sehingga kesaktiannya lebih tinggi dari Ki Damar Ireng. Ki Damar Ireng akhirnya kalah untuk yang kedua kalinya. Dia kembali terlelap selama beberapa waktu.


Yang tidak diketahui oleh Ki Jaran Gedhe adalah, dia tidak tahu kalau Ki Damar Ireng memiliki murid yang bernama Gabah Lanang. Sehingga dia tidak tahu, kalau setelah satu tahun lebih telah berlalu, Gabah Lanang kembali membangkitkan Ki Damar Ireng.


Hanya saja sekarang Ki Damar Ireng tidak bisa kemana-mana. Jasadnya pernah dibacakan mantra kuno oleh Ki Jaran Gedhe, agar dia tidak bisa meninggalkan tempatnya, sekali pun dia kembali bangkit dan menjadi orang sakti. Karena jika dia meninggalkan tempatnya, maka semua tubuhnya akan hancur lebur.

__ADS_1


__ADS_2