
Mangku Cendrasih dan pasukannya bertemu dengan Singo Rogo. Singo Rogo langsung memberitahu semua yang terjadi kepada Mangku Cendrasih. Akhirnya Mangku Cendrasih meminta Bamantara untuk memimpin pasukannya menuju ke benteng pertahanan.
Sedangkan Mangku Cendrasih dan Singo Rogo harus secepatnya sampai ke tempat itu terlebih dahulu. Mangku Cendrasih juga memberikan sebuah rencana jitu kepada Bamantara dan semua pimpinan pasukan yang ada.
Entah apa yang Mangku Cendrasih katakan kepada mereka, tapi yang jelas Mangku Cendrasih memiliki rencana lain untum mengacaukan Prabu Bambang Pura dan seluruh barisan pasukannya.
Karena jumlah pasukan Kerajaan Wiyagra Malela sangat banyak, ditambah dengan senjata meriam yang mereka bawa, jadi perjalanan mereka sedikit lamban.
"Yang penting aku harus sampai kesana terlebih dahulu. Dan kalian, ikuti arahan dari Bamantara. Paham?"
"Paham Ki."
"Ya sudah. Ayo cepat." Ucap Bamantara kepada pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Mangku Cendrasih langsung pergi ke benteng pertahanan untuk menyelamatkan Utari Gita yang sedang sekarat. Dia harus segera menghilangkan racun yang ada ditubuh Utari Gita, karena Utari Gita memimpin pasukan penting di benteng itu.
Kalau Utari Gita tidak sembuh, maka sebagian pasukan akan pincang. Mereka terpaksa harus bergerak sendiri sesuai rencana, meski pun tanpa Utari Gita. Untung saja Utari Gita selalu memberitahukan rencana-rencana yang akan ia lakukan kepada pasukannya.
Hal itu memang ia lakukan untuk berjaga-jaga, kalau sampai dia tidak bisa terjun langsung ke dalam pertempuran. Karena sebelumnya, baik Patih Kinjiri maupun Utari Gita tidak pernah berharap kalau pasukan bantuan Kerajaan Wiyagra Malela akan datang.
Jadi mereka berdua melakukan segala upaya antisipasi untuk setiap hal yang mungkin saja akan mereka hadapi. Apalagi pasukan mereka dengan pasukan Kerajaan Gelap Ngampar sangat-sangat tidak imbang. Dari segi persenjataan saja mereka berdua sudah kalah.
__ADS_1
Benteng yang selesai dalam waktu cepat memberikan mereka keuntungan yang sangat besar. Walau pun mereka sempat kekurangan senjata dan pasukan, setidaknya mereka masih memiliki tempat untuk bertahan. Karena mereka akan kesulitan jika menghadapi musuh di tempat terbuka.
Diantara mereka juga belum tahu pasti bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Bambang Pura. Kecuali Singo Rogo. Hanya saja Singo Rogo pun tidak membeberkan apa saja ilmu yang dimiliki oleh Prabu Bambang Pura. Karena dia memang orang yang sangat sakti, tidak seperti musuh-musuh sebelumnya.
Pasukan Kerajaan Gelap Ngampar juga jauh lebih kuat dan lebih cepat. Kebanyakan dari mereka memiliki badan yang besar dan kekar. Untuk ukuran prajurit biasa, tidak akan mudah untuk mengalahkan mereka. Kecuali menggunakan sebuah senjata jarak jauh, seperti panah.
Kalau melakukan kontak langsung, akan lebih banyak pasukan Patih Kinjiri yang mati. Karena kebanyakan dari pasukannya adalah para pemuda warga desa yang memiliki perawakan tinggi kurus. Sedangkan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela sekarang yang fisiknya sama dengan pasukan Prabu Bambang Pura, jumlahnya hanya seribu orang.
Pasukan bantuan yang jumlahnya lima ribu orang dengan persenjataan lengkap masih berada di perjalanan. Senjata meriam yang mereka gunakan memiliki daya ledak yang luar biasa. Jarang ada orang yang mampu menghindari senjata meriam itu. Bisa dibilang, senjata itu adalah senjata masa depan.
Sangat jarang ada kerajaan yang memiliki senjata semacam ini. Kalau pun ada, jumlahnya hanya dua sampai tiga buah saja. Itupun dengan jumlah amunisi yang terbatas. Amunisi dari senjata terbaru ini adalah sebuah besi berbentuk bulat yang di dalamnya terdapat sebuah bubuk yang dapat meledak (mesiu).
Dan untuk menggunakan senjata ini pun cukup mudah, hanya dengan memasukkan besi bulat tersebut ke sebuah lubang yang ada di meriam. Kemudian tinggal menekan sebuah tuas yang ada di belakang senjata. Lalu secara otomatis peluru dari meriam itu akan melesat dan langsung meledak saat mengenai sebuah target.
Saat itu datanglah Pangeran Rawaja Pati bersama dengan pasukan siluman naganya. Beberapa hari yang lalu Pangeran Rawaja Pati memang sempat membantu Patih Kinjiri, hanya saja dia harus pulang ke Kerajaan Rawaja Pati terlebih dahulu. Dan sekarang dia datang kembali untuk membantu Bamantara dan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
"Butuh bantuan anak muda?" Ucap Pangeran Rawaja Pati kepada Bamantara.
"Yah.. Seperti yang Pangeran Rawaja Pati lihat. Kami sudah kelelahan. Patih Kinjiri butuh bantuan juga. Dan tempatnya masih sangat jauh." Jawab Bamantara yang sedang kelelahan.
Pangeran Rawaja Pati lalu memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengerahkan kekuatan mereka. Lalu dengan ilmu kanuragan yang mereka miliki, dalam sekejap Bamantara dan pasukan bantuan dari Kerajaan Wiyagra Malela sudah sampai di benteng itu.
__ADS_1
Semua orang yang sedang bertempur mempertahankan benteng itu pun terkejut, karena secara tiba-tiba ribuan pasukan bantuan sudah sampai di tempat ini.
"Semua pasukan meriam! Cepat ke benteng!" Teriak Patih Kinjiri.
Seluruh pasukan meriam pun langsung memposisikan diri mereka di benteng itu. Sedangkan pasukan yang lainnya mengikuti rencana yang telah disusun oleh Mangku Cendrasih sebelumnya.
Bamantara membawa para pasukan itu keluar dari benteng dan mengitari seluruh tempat untuk mencapai ke posisi Prabu Bambang Pura dan para Patihnya yang sedang mengawasi pertempuran dari barisan belakang.
Sedangkan Pangeran Rawaja Pati bersama pasukannya langsung menyerang para pasukan yang membawa ketapel raksasa dan pasukan pembawa panah. Pertempuran menjadi semakin memanas dan semakin riuh.
Prabu Bambang Pura bersama para Patihnya terkejut saat mereka melihat ribuan pasukan yang sedang berlari ke arah mereka. Prabu Bambang Pura langsung memerintahkan para Patihnya, dan pasukannya yang masih ada di barisan belakang untuk menghadang mereka.
Para pasukan bantuan dari Kerajaan Wiyagra Malela itu menyerang dengan sangat ganas. Ternyata para pasukan bantuan itu sudah dibekali dengan ilmu kekebalan. Sehingga pasukan pengawal Prabu Bambang Pura kesulitan menghadapi mereka.
Para Patih Kerajaan Gelap Ngampar juga dibuat kewalahan, karena jumlah mereka sangat banyak. Belum lagi dengan serangan meriam yang secara terus menerus diluncurkan oleh Patih Kinjiri. Sehingga membuat pasukan di barisan tengah dan barisan depan menjadi kacau balau.
Senjata-senjata berat yang dimiliki oleh pasukan dari Kerajaan Gelap Ngampar juga sudah hancur, sehingga mereka hanya bertahan dengan kekuatan fisik. Pangeran Rawaja Pati juga sudah terjun langsung ke medan pertempuran untuk menghadapi Prabu Bambang Pura.
Ternyata kesaktian Prabu Bambang Pura tidak bisa dianggap remeh, karena dia memiliki ilmu yang sangat tinggi. Pangeran Rawaja Pati dan pasukannya terus membabat satu persatu pasukan Prabu Bambang Pura, agar Prabu Bambang Pura tidak lagi memiliki pasukan pengawal.
Para Patih Kerajaan Gelap Ngampar juga sudah banyak yang terluka, karena mereka dikeroyok oleh para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela yang jumlahnya tidak sebanding dengan mereka. Apalagi dengan ilmu kekebalan yang mereka miliki, tidak sembarang senjata bisa melukai mereka.
__ADS_1
Para Patih mulai menggunakan senjata pusaka yang masing-masing mereka miliki. Memang senjata pusaka cukup membantu mereka, tapi itu juga menjadi kesialan untuk mereka. Mereka jadi mudah lelah. Karena untuk menggunakan senjata pusaka, mereka juga harus menggunakan tenaga fisik mereka.
Pertempuran itu benar-benar sudah menjatuhkan banyak korban dari pihak lawan. Banyak sekali pasukan Kerajaan Gelap Ngampar yang tewas. Para Patih banyak yang tumbang. Senjata berat sudah rusak dan tidak bisa digunakan. Sehingga kekuatan Kerajaan Gelap Ngampar perlahan mulai menyusut.