DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 304


__ADS_3

Proses interogasi begitu alot, dikarenakan Mahendra dan Jiramani tidak mau memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi di Padepokan Ageng Maja Lingga. Padahal tubuh mereka berdua sudah mengalami luka memar dan juga sayatan yang begitu parah. Tetapi apapun yang Prabu Jabang Wiyagra lakukan kepada Mahendra dan Jiramani, sama tidak membuat mereka berdua jera. Mereka berdua justru terkesan menantang. Sehingga para anggota kelompok Pasukan Bara Jaya yang waktu itu mengajar mereka, menjadi sangat-sangat kesal.


Akhirnya para anggota kelompok Pasukan Bara Jaya ini pun semakin gencar menendang dan memukuli Mahendra dan Jiramani. Mahendra dan Jiramani hanya berteriak kesakitan dan terus-menerus memohon ampun kepada Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra hanya dia menatap tajam mereka berdua. Karena sampai kapanpun, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan memberikan keringanan kepada mereka, kalau tidak menceritakan apa yang terjadi di Padepokan Ageng Maja Lingga.


Wajah Mahendra dan Jiramani sudah berdarah-darah. Begitu juga dengan sekujur tubuh mereka yang mengalami banyak sekali luka sayatan. Prabu Jabang Wiyagra pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan ilmu yang beliau miliki. Prabu Jabang Wiyagra mengarahkan tangan kanannya ke kepala Mahendra. Seketika mulut Mahendra terbuka lebar-lebar. Dan dari mulutnya itu keluar asap hitam yang sangat tebal. Jiramani hanya bisa pergi dari melihat sahabatnya disiksa dengan cara yang mengerikan oleh Prabu Jabang Wiyagra.


Tubuh Mahendra juga mengalami kejang hebat, bahkan kedua bola matanya juga memutih. Entah rasa sakit sehebat apa yang sekarang dirasakan oleh Mahendra, sehingga reaksi tubuhnya sampai seperti itu. Jiramani dipaksa oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk melihat hal tersebut. Meskipun dia sudah berusaha menutup matanya, tetapi dengan ilmu yang beliau miliki, Prabu Jabang Wiyagra mampu membuka kedua mata Jiramani. Bahkan Jiramani sangat kesulitan untuk menutup kembali kedua bola matanya.


Setelah berlangsung cukup lama, Prabu Jabang Wiyagra kembali melepaskan tangan kanannya dari wajah Mahendra. Tubuh Mahendra langsung lemas tak berdaya. Mulutnya juga berbusa. Sekujur tubuhnya memutih seperti mayat. Entah ilmu macam apa yang telah digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, sehingga tubuh Mahendra berubah menjadi mengerikan seperti itu. Jiramani yang melihatnya hanya bisa menangis. Tanpa bisa memberikan pertolongan. Karena dia pun dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku tidak akan memberikan penyiksaan yang kejam kepada kalian, kalau kalian mau mengatakan apa yang terjadi kepada Sang Guru Besar. Apakah kalian yang membunuh guru kalian sendiri?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


Dengan terpaksa, Jiramani akhirnya mengatakan semua yang telah terjadi kepada Prabu Jabang Wiyagra. Semua dugaan Prabu Jabang Wiyagra ternyata benar. Sang Guru Besar melarang Jiramani dan Mahendra untuk ikut dalam tugas tersebut. Karena Sang Guru Besar tahu, kalau dua muridnya itu memiliki maksud lain. Yaitu ingin menjadi orang kepercayaan di Kerajaan Wiyagra Malela. Dan menjadi tangan kanan Prabu Jabang Wiyagra. Dengan begitu mereka berdua bisa mendapatkan kekuasaan.


Yang nantinya kekuasaan tersebut akan mereka gunakan untuk menarik simpati dari para pasukan dan juga rakyat Kerajaan Wiyagra Malela. Setelah dua hal itu terjadi, maka mereka berdua secara perlahan akan menggulingkan Prabu Jabang Wiyagra dari tahtanya. Dan orang yang paling berambisi besar untuk menjadi seorang raja adalah Mahendra. Mahendra mengiming-imingi Jiramani, agar mau mendukung ambisi besarnya itu. Mahendra perjanjian akan memberikan posisi penting kepada Jiramani.


Bukan hanya itu saja, Mahendra juga menawarkan kehidupan yang layak kepada Jiramani. Karena selama ini Jiramani hidup dalam garis kemiskinan. Jiramani bahkan sudah berkali-kali melakukan pernikahan. Dia sering ditinggalkan oleh istri-istrinya yang baru, karena Jiramani ada orang yang sangat-sangat miskin dan tidak memiliki apa-apa. Namun kemiskinan tersebut disebabkan karena ulah Jiramani sendiri. Semenjak Jiramani berhenti melakukan pemerasan kepada rakyat Maja Lingga, Jiramani tidak memiliki pekerjaan apapun.


Mendengar iming-iming yang diberikan oleh Mahendra, jelas Jiramani sangat tertarik. Dia langsung menyetujui kerjasama yang ditawarkan oleh Mahendra. Jiramani dan Mahendra benar-benar sudah dibutakan oleh kekuasaan. Mereka berdua dengan teganya membunuh guru mereka sendiri, yang sekaligus sudah menjadi orang tua angkat bagi mereka. Yang selama ini membimbing dan memberikan kasih sayang kepada mereka dengan sangat tulus. Dan tidak pernah meminta apapun kepada dua anak didiknya, yang telah dirawat sepenuh hati itu.

__ADS_1


Setelah Sang Guru Besar mengetahui kalau Mahendra dan Jiramani memiliki tujuan lain. Sang Guru Besar langsung melarang mereka berdua untuk pergi bersama dengan Panglima Bayu Kusuma. Namun Mahendra dan Jiramani tetap memaksa untuk pergi. Mereka bahkan menghina Sang Guru Besar, yang mereka berdua anggap sudah sangat lemah dan payah. Tidak seperti dulu. Mahendra dan Jiramani bahkan dengan beraninya menyerang Sang Guru Besar, dengan ilmu kesaktian yang mereka miliki.


Sang Guru Besar yang sudah tua renta itupun tidak bisa melakukan banyak perlawanan. Sampai pada akhirnya dia harus tewas di tangan dua murid kesayangannya sendiri. Mahendra dan Jiramani yang merasa panik, lalu meminumkan sebuah racun kepada Sang Guru Besar, yang padahal waktu itu beliau sudah mati. Agar orang-orang mengira kalau Sang Guru Besar telah diracun oleh seseorang. Mahendra dan Jiramani juga ternyata sudah mempersiapkan semuanya.


Mahendra menaruh sobekan kain baju ciri khas milik seorang murid dari Padepokan Ageng Singo Negoro. Untuk menghilangkan jejak mereka berdua. Dan Padepokan Ageng Singo Negoro yang akan bertanggung jawab atas semua kejadian pembunuhan ini. Tanpa mempedulikan kekacauan yang akan mereka hasilkan, dari perbuatan keji mereka berdua. Tak hanya sampai di situ saja, Mahendra dan Jiramani juga mengambil sebuah pedang pusaka milik Sang Guru Besar. Namun di tengah perjalanan, pedang pusaka itu pergi dan menghilang entah ke mana.


"Oh. Jadi kamu dan si baji-ngan ini hanyalah orang bodoh ya. Pantas saja. Tapi satu hal yang harus kalian berdua tahu. Tidak akan ada seorangpun yang mampu menggantikan kedudukanku sebagai seorang raja di Kerajaan Wiyagra Malela ini. Kecuali aku sendiri yang memintanya. Seharusnya kalian berdua belajar dari orang-orang yang sudah kalah oleh pasukanku di medan perang."


"....Mereka adalah orang-orang yang sama-sama memiliki ambisi besar seperti kalian berdua. Tapi apa yang mereka dapatkan? Mereka tidak mendapatkan apa-apa selain kesengsaraan dan kehinaan. Apa yang telah kalian lakukan benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dan sudah sepantasnya kalian mendapatkan hukuman yang berat. Kalian pasti sudah tahukan tentang penjara lubang tikus? Di sanalah kalian berdua akan hidup selama-lamanya."

__ADS_1


Jiramani dan Mahendra pun berusaha berontak saat para anggota kelompok Pasukan Bara Jaya membawa mereka berdua ke dalam sel penjara bawah tanah. Namun dengan tenaga mereka yang sudah hampir habis, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Jiramani dan Mahendra dimasukkan ke dalam sel yang paling bawah. Dan terkenal dengan nama lubang tikus. Karena hanya orang-orang yang memiliki tingkat kejahatan paling parah, yang akan masuk ke dalam penjara bawah tanah, yang paling bawah tersebut. Setelah itu Jiramani dan Mahendra ditinggalkan begitu saja di sana. Tanpa adanya makanan dan minuman.


__ADS_2