DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 111


__ADS_3

Pertempuran itu berlangsung dengan keras. Kedua belah pihak saling bertarung dengan kemampuan terbaik mereka. Pangeran Rawaja Pati menggunakan kecepatan dan kekuatannya, Ki Damar dan yang lainnya juga terus menerus mengandalkan kekuatan kanuragan mereka demi bisa mengalahkan Pangeran Rawaja Pati.


Percikan cahaya dan ledakan akibat ilmu kanuragan yang mereka keluarkan mengisi udara saat mereka saling berhadapan. Hingga tempat di sekitar mereka pun menjadi porak poranda. Dan menyebabkan beberapa pilar istana menjadi runtuh. Begitu juga atap istana yang dipijak oleh Maha Patih Putra Candrasa dan Ditya Kalana.


Ditya Kalana sekarang sudah bertambah sakti. Dengan berbagai ilmu kanuragan tingkat tinggi yang diajarkan oleh Ki Benang Sengget, Ditya Kalana terus berusaha menyerang Maha Patih Putra Candrasa. namun di hadapan seorang Maha Patih Putra Candrasa, kekuatan Ditya Kalana tidak ada apa-apanya.


Maha Patih Putra Candrasa dengan cepat bisa membalikkan keadaan, dan membuat Ditya Kalana terlempar dari atap, setelah dia diserang menggunakan Ajian Brajamusti. Untungnya kala itu Ditya Kalana masih bisa selamat karena langsung menhindar, dan hanya membuat dada terasa sakit dan menimbulkan sedikit benjolan berwarna merah.


Efek dari Ajian Brajamusti memang sangatlah luar biasa. Sekalipun Ditya Kalana sudah mencoba menghindar, tetapi tetap saja dia terkena efeknya. Seketika itu pun keadaan menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Karena Ditya Kalana mengeluarkan banyak darah dan tangan kanannya pun juga terkena efek dari Ajian Brajamusti.


Tangan kanan Ditya Kalana memerah dan beberapa bagian tangannya juga kosong. Efek dari ilmu itu memang sangat luar biasa. Apalagi Maha Patih Putra Candrasa suka menggabungkannya dengan ilmu pukulan yang lain, sehingga kekuatannya menjadi berlipat-lipat ganda.


Ditya Kalana masih sangat beruntung, karena dia sekarang sudah memiliki ilmu kanuragan yang lebih tinggi. Sehingga tubuhnya tidak terlalu rentan terhadap serangan sekelas Ajian Brajamusti. Andaikan saja ilmu Ditya Kalana masih rendah seperti dulu, sudah bisa dipastikan dia akan mati oleh Maha Patih Putra Candrasa saat itu juga.


Para pasukan istana Kerajaan Gelap Ngampar yang melihat Ditya Kalana jatuh terkapar di tanah pun menjadi semakin panik. Karena Ditya Kalana adalah orang yang melatih mereka selama ini.


Kalau Ditya Kalana saja bisa kalah, maka sudah bisa dipastikan para pasukan Kerajaan Gelap Ngampar juga akan dibersihkan secara keseluruhan oleh Maha Patih Putra Candrasa. Dan bisa menjadi akhir dari kekuasaan Maha Patih Kana Raga.

__ADS_1


Maha Patih Kana Raga sendiri disibukan oleh para pasukan lelembut dari Prabu Jabang Wiyagra. Sekaligus dia juga harus menghadapi Lare Damar dalam waktu bersamaan. Karena saat pertama kali menginjakkan kaki di istana Kerajaan Gelap Ngampar, Lare Damar langsung menerobos untuk menemui Maha Patih Kana Raga.


Lare Damar jelas jauh lebih kuat daripada Maha Patih Kana Raga yang ilmunya berada sangat jauh di bawah Lare Damar. Apalagi Maha Patih Kana Raga juga hanya berlindung di balik punggung Ditya Kalana dan para pengikutnya. Sehingga dia tidak pernah siap untuk menghadapi Lare Damar.


Ini berawal dari kesalahan Ditya Kalana sendiri, yang bersumpah akan menjamin keselamatan Maha Patih Kana Raga. Karena Ditya Kalana memiliki maksud tertentu, yaitu untuk merampas kekuasaannya, setelah pertempuran melawan Kerajaan Wiyagra Malela selesai.


Namun sekarang hal tersebut menjadi sebuah masalah yang sangat besar. Karena dengan ketidaksiapan itu, Maha Patih Kana Raga menjadi bulan-bulanan Lare Damar untuk melampiaskan segala kekesalannya. Lare Damar sangat membenci Maha Patih Kana Raga karena penyerangannya kepada benteng pertahanan Patih Kinjiri.


Akibat dari penyerangan besar yang dilakukan oleh Maha Patih Kana Raga, Patih Kinjiri jadi mengalami sakit yang parah. Sejak saat itu, Lare Damar bersumpah akan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan oleh Maha Patih Kana Raga kepada sahabatnya.


Lare Damar juga ingin membuat Maha Patih Kana Raga merasakan hal yang sama, seperti yang Patih Kinjiri rasakan. Sehingga dengan beringas dan brutalnya, Lare Damar menyerang Maha Patih Kana Raga secara terus-menerus dengan segala ilmu kanuragan yang ia miliki.


Lare Damar sudah tidak lagi mempedulikan pakaiannya. Yang penting adalah, dia bisa memberikan pelajaran kepada Maha Patih Kana Raga, agar tidak berbuat seenaknya. Serta tidak bermain-main dengan semua orang yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela.


"Bagaimana Maha Patih Kana Raga? Apakah kau sudah merasakan sakitnya?" Ejek Lare Damar kepada Maha Patih Kana Raga.


Sudah banyak sekali luka memar yang didapatkan oleh Maha Patih Kana Raga. Dan yang paling parah adalah di kedua tangannya. Kedua tangannya terasa seperti mau patah. Namun dia berusaha menutupi rasa sakit itu karena merasa malu kepada Lare Damar.

__ADS_1


Maha Patih Kana Raga juga tidak mau terlihat lemah di depan musuhnya itu. Dia masih berusaha untuk melakukan serangan kepada Lare Damar, dan berharap bisa mengalahkannya di tempat ini. Tapi itu adalah sebuah hal yang amat sangat sulit.


Lare Damar sangat sulit untuk disentuh apalagi dilukai. Karena gerakan Lare Damar seribu kali lebih cepat daripada gerakan Maha Patih Kana Raga. Apalagi sekarang Maha Patih Kana Raga sudah mulai melamban. Karena kelelahan dan luka di sekujur tubuhnya yang membuatnya sangat kesakitan.


"Menyerah sajalah Maha Patih Kana Raga. Aku yakin kamu pasti akan mati sebentar lagi. Jadi gunakanlah kesempatan baik ini untuk hidup lebih lama. Kau bebas melakukan apa saja, asalkan jangan menghalangi langkah kami." Ucap Lare Damar.


Tetapi Maha Patih Kana Raga tidak pernah mau menyerah, dan terus-menerus menyerang Lare Damar dengan semua sisa-sisa tenaga yang masih dia miliki. Sehingga tanpa pikir panjang lagi, Lare Damar langsung menyerang Maha Patih Kana Raga dengan Ajian Serat Jiwa.


Maha Patih Kana Raga mulai merasakan seluruh bagian tubuhnya terasa seperti disengat oleh jutaan lebah. Seluruh badannya gemetar dan terlihat juga kalau semakin lama tubuhnya semakin membiru. Dan seketika tubuh dari Maha Patih Kana Raga perlahan mulai kurus.


Maha Patih Kana Raga bahkan sampai mengeluarkan darah dari kedua matanya dan entah bagaimana hal tersebut masih membuatnya tetap hidup. Padahal, Ajian Serat Jiwa bukanlah ilmu biasa yang bisa dilawan hanya dengan kekuatan seadanya.


Setelah beberapa lama kemudian, barulah Lare Damar tersadar kalau ada seseorang yang diam-diam telah menyalurkan tenaganya kepada Maha Patih Kana Raga. Dan orang itu adalah Nyai Dwi Sangkar. Semua teman-temannya, termasuk suaminya sendiri, yaitu Ki Dampar, merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Nyai Dwi Sangkar.


Padahal mereka semua sudah sepakat untuk membiarkan Maha Patih Kana Raga terbunuh. Agar Ditya Kalana bisa mengambil alih kekuasaannya secara penuh. Namun ternyata, Nyai Dwi Sangkar diam-diam mengagumi dan menaruh perasaan kepada Maha Patih Kana Raga. Sehingga dia lebih memilih untuk berpihak kepada Maha Patih Kana Raga.


Lare Damar menjadi semakin mengganas, dia melepaskan Maha Patih Kana Raga, dan langsung menyerang Nyai Dwi Sangkar dengan sangat brutal. Namun Nyai Dwi Sangkar berhasil lolos dan langsung membawa tubuh Maha Patih Kana Raga yang sudah dalam keadaan sangat lemah.

__ADS_1


Sebenarnya Lare Damar ingin sekali mengejar Nyai Dwi Sangkar. Namun melihat teman-temannya yang masih bersusah payah menghadapi musuh yang lain, Lare Damar harus mengurungkan niatnya dan berfokus kepada musuh yang lain, yang masih ada disini. Nyai Dwi Sangkar menghilang bersama tubuh Maha Patih Kana Raga yang ia bawa entah kemana.


__ADS_2