DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 236


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa semuanya seperti ini?"


Patih Rogo Geni keheranan melihat keadaan Padepokan Mbah Kangkas yang sudah acak-acakan tak beraturan. Perlahan Patih Rogo Geni melangkahkan kakinya ke halaman padepokan tersebut. Kedua mata Patih Rogo Geni melirik ke sana kemari, mengawasi keadaan. Dia benar-benar heran, karena keadaan padepokan ini sangat tidak terawat. Seperti sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun.


Namun dengan kepekaan batinnya, Patih Rogo Geni bisa merasakan kalau ada kehadiran makhluk ghaib sebangsa jin di tempat ini. Patih Rogo Geni tidak tahu persis sosok apa yang ada di tempat ini, tapi sosok itu sepertinya tidak terlalu buruk. Bahkan Patih Rogo Geni merasa kalau sosok itu ingin memberitahukan sesuatu. Patih Rogo Geni kemudian duduk bersila di halaman padepokan itu, untuk mencari petunjuk.


Dengan kemampuan mata batin ia miliki, perlahan Patih Rogo Geni mulai membuka matanya untuk melihat apa yang sebelumnya terjadi di tempat ini. Patih Rogo Geni pun berdiri. Sukmanya keluar dari raganya yang masih duduk bersila. Dia melihat ke sekeliling padepokan, yang kala itu sedang sangat ramai dengan adanya para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela, yang sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran.


Patih Rogo Geni juga bisa melihat dengan jelas keberadaan Puger Satriya dan Arya Panunggul. Ada juga Arsanti, Pramusita, Utari Gita, dan Bamantara. Dan tiba-tiba, dari sebuah rumah yang cukup luas ada sosok orang tua yang keluar menuju halaman padepokan. Walaupun Patih Rogo Geni belum pernah melihat seperti apa wajah Mbah Kangkas, tapi ia bisa tahu kalau itu adalah Mbah Kangkas sendiri. Pemilik padepokan ini.


Mbah Kangkas lalu mengumpulkan Puger Satriya dan yang lainnya di halaman padepokan. Mbah Kangkas memberikan sedikit arahan tentang bagaimana mereka akan melakukan serangannya nantinya. Mbah Kangkas juga berpesan kepada mereka semua untuk tidak terbawa nafsu dalam menyerah musuh-musuh mereka. Mbah Kangkas sangat mewanti-wanti mereka semua untuk tidak berperilaku angkuh.


Mbah Kangkas menegaskan kepada mereka semua, kalau mereka juga akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat daripada Nyi Dwi Sangkar dan para pendukungnya. Tetapi di sini Mbah Kangkas tidak menjelaskan secara pasti siapa musuh dimaksudnya itu. Mbah Kangkas hanya memperingatkan kepada Puger Satriya dan yang lainnya untuk tetap berhati-hati dan waspada. Saat terlihat dari raut wajahnya, kalau Mbah Kangkas merasa sangat khawatir.


Entah apa yang sedang dikhawatirkannya saat itu. Yang jelas Mbah Kangkas sampai mengelus dada dan menengadahkan kepala, sembari tanpa henti berdoa. Mbah Kangkas terlihat tidak tenang dan panik. Namun pada saat itu Puger Satriya ataupun Arya Panunggul tidak memberikan pertanyaan apapun kepada Mbah Kangkas. Karena mereka semua juga sama-sama sedang berdoa untuk keselamatan mereka, dan juga semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Patih Rogo Geni kemudian mendekat ke posisi Mbah Kangkas. Dia mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh Mbah Kangkas, saat ia sedang berdoa. Tetapi Patih Rogo Geni tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ada sedikit kalimat yang mungkin bisa menjadi salah satu petunjuk untuk Patih Rogo Geni. Mbah Kangkas seperti menyebutkan nama suatu kelompok tertentu, yang hanya Mbah Kangkas saja yang mengetahuinya.


Patih Rogo Geni benar-benar tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Mbah Kangkas dalam doanya. Walaupun Patih Rogo Geni sudah menempelkan telinganya di wajah Mbah Kangkas, tetap saja ia tidak bisa mendengarkan dengan baik semua yang diucapkan oleh Mbah Kangkas. Patih Rogo Geni merasa kalau semua orang yang ada di sini sedang berada dalam masalah yang sangat besar.


Dalam wujud sukmanya yang masuk ke waktu beberapa jam yang lalu, Patih Rogo Geni merasa kalau di tempat ini seperti ada sebuah pagar ghaib, yang menghalangi kemampuan ilmu kebatinan yang ia miliki. Sehingga membuatnya tidak bisa meneliti lebih lanjut apa yang terjadi di tempat tersebut. Seketika sukma Patih Rogo Geni langsung terpental, dan kembali masuk ke raganya.


"Sang Hyang Tunggal. Berilah aku petunjuk-Mu. Sungguh diriku ini terlalu lemah untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat ini. Bantulah hamba-Mu ini Sang Hyang Tunggal. Bantulah hamba-Mu ini." Ucap Patih Rogo Geni dalam hati.


Patih Rogo Geni lalu mencoba untuk memanggil sosok jin yang sempat mengelilinginya. Patih Rogo Geni terus berusaha mencari celah dari apa yang telah terjadi di tempat ini. Dia tidak menyerah begitu saja. Sosok jin yang ia panggil pun akhirnya muncul di hadapannya. Namun sosok jin itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia hanya menunjuk ke sebuah rumah. Yang tidak lain adalah tempat tinggal dari Mbah Kangkas itu sendiri.


"Terima kasih. Aku akan masuk ke dalam. Kamu kembalilah ke tempat asalmu." Kata Patih Rogo Geni kepada sosok jin itu.


Karena Patih Rogo Geni tahu persis jenis senjata apa saja yang digunakan oleh para anggota Pasukan Bara Jaya. Terutama untuk orang-orang seperti Puger Satriya dan Arya Panunggul, yang jelas pedangnya akan berbeda dari yang lain. Karena Mereka berdua adalah orang-orang kepercayaan Panglima Galang Tantra. Patih Rogo Geni memegang kedua pedang itu untuk menerawang apa yang terjadi kepada para pemiliknya.


Dan dari sinilah sebab petunjuk baru ditemukan. Patih Rogo Geni melihat dengan jelas dalam pandangan mata batinnya, kalau Puger Satriya dan Arya Panunggul bertarung dengan seseorang yang berpakaian seperti pendekar, dengan ciri fisik yang sepertinya sudah berusia lanjut. Walaupun Patih Rogo Geni hanya bisa melihat tubuhnya, tanpa melihat wajahnya, tapi Patih Rogo Geni sudah bisa memahami kalau lawan Arya Panunggul dan Puger Satriya bukanlah orang yang sembarangan.

__ADS_1


Patih Rogo Geni mencoba mempelajari setiap gerakan yang dilakukan oleh orang tersebut. Memahami setiap detail dari jurus-jurus yang ia gunakan dalam menghadapi Puger Satriya dan Arya Panunggul.


"Pantas saja mereka berdua kalah. Orang ini memang sangat sakti. Lalu dimana Mbah Kangkas?"


Patih Rogo Geni mencoba memasuki sebuah ruangan yang terkunci rapat. Awalnya Patih Rogo Geni ragu-ragu untuk memasuki ruangan itu, karena khawatir kalau ruangan itu adalah jebakan untuknya. Namun apa boleh buat? Kalau Patih Rogo Geni tidak membuka pintu ruangan itu, dia tidak akan tahu lagi apa yang terjadi di tempat ini. Patih Rogo Geni lalu bersiap dengan dua buah pedang di tangannya.


Dengan sangat berhati-hati, dan secara perlahan-lahan, Patih Rogo Geni menggunakan ilmu yang ia miliki untuk membuka pintu tersebut, dengan cara meniup lubang kuncinya. Secara perlahan, pintu tersebut pun terbuka. Ruangan itu begitu gelap, dan sama sekali tidak memiliki penerangan apapun.


"Tempat ini sangat gelap. Aku harus menggunakan ilmuku, untuk menerangi tempat ini."


Patih Rogo Geni kalau mau menggunakan Ajian Rogo Geni yang ia miliki untuk mengeluarkan api dari kedua tangannya. Sedangkan kedua bilah pedang milik Puger Satriya dan Arya Panunggul ia sisipkan di sebuah sabuk, yang mengikat pinggangnya. Dan saat itulah Patih Rogo Geni benar-benar dibuat terkejut. Karena dia menemukan Mbah Kangkas sedang terkapar berlumuran darah di ruangan itu, dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri.


"Mbah Kangkas?! Mbah Kangkas?! Bangun Mbah!"


Patih Rogo Geni mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Mbah Kangkas. Tetapi Mbah Kangkas sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Patih Rogo Geni lalu menempelkan telinganya ke hidung Mbah Kangkas untuk mengetahui apakah Mbah Kangkas masih bernafas atau tidak. Patih Rogo Geni juga memegang dada sebelah kiri Mbah Kangkas, untuk memastikan kalau jantung Mbah Kangkas masih berdetak.

__ADS_1


"Syukurlah! Aku akan menolongmu Mbah Kangkas! Kau akan selamat! Kau akan selamat!" Ucap Patih Rogo Geni sembari menggendong tubuh Mbah Kangkas, dan membawanya pergi dari sana.


Sudah pasti dalam keadaan seperti ini, Patih Rogo Geni akan menggunakan ilmunya agar bisa sampai dengan cepat ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Perasaan Patih Rogo Geni sudah sangat berkecamuk. Dia benar-benar khawatir dan cemas, melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan. Tubuh Patih Rogo Geni juga sudah terkena lumuran darah dari tubuh Mbah Kangkas, yang sedikit demi sedikit mengucur dari bagian-bagian tubuhnya yang terluka.


__ADS_2