DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 98


__ADS_3

Seluruh pasukan barisan depan Maha Patih Kana Raga, baik pasukan pendukung maupun pasukan Kerajaan Gelap Ngampar, semuanya habis tanpa sisa. Mereka semua tidak lagi memiliki kesempatan untuk melawan atau pun melarikan diri. Karena seluruh pasukan yang dibawa oleh Lare Damar mengejar mereka.


Semua pasukan Patih Kinjiri bersorak. Mereka semua berhasil memenangkan pertempuran ini. Dan membuat Maha Patih Kana Raga kalah telak. Maha Patih Kana Raga sama sekali belum menyangka kalau semua kekacauan yang ia lihat dari bukit adalah kematian seluruh pasukannya.


Maha Patih Kana Raga justru menganggap kalau benteng yang dibuat oleh Patih Kinjiri sudah ditaklukkan. Bahkan dengan santainya, Maha Patih Kana Raga beserta para pendukungnya yang tidak terlibat dalam pertempuran, saat itu beristirahat di tenda mereka masing-masing.


Maha Patih Kana Raga sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari pasukannya. Walau pun pada kenyataannya dia akan segera menerima kabar buruk yang tidak akan pernah ia harapkan. Dia tertidur lelap tanpa ada gangguan apa pun. Sampai pagi hari pun dia masih tidur dengan nyenyak.


Singkatnya, setelah pertempuran itu, para pasukan yang menyerang wilayah Kerajaan Wiyagra Malela akhirnya sampai ke posisi Maha Patih Kana Raga. Mereka langsung mengatakan semuanya kepada para pengawal Maha Patih Kana Raga.


Semua orang pun terkejut dan tidak menyangka kalau semua itu akan terjadi. Bukit itu juga telah dipenuhi dengan kabut tebal, sehingga para pengawal Maha Patih Kana Raga juga kesulitan untuk meneropong ke arah benteng.


Mereka lalu membangunkan Maha Patih Kana Raga yang masih tidur lelap. Maha Patih Kana Raga langsung bangun dengan wajah yang senang dan bahagia, karena dia mengira akan mendapatkan kabar baik. Tapi sesaat kemudian, dia dibuat diam terpatung.


Hal itu juga sama-sama dirasakan oleh para raja-raja yang lain. Beruntung sekali mereka yang dikirim ke wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, karena Prabu Jabang Wiyagra masih memberikan toleransi kepada musuh-musuhnya itu.


Sangat berbeda dengan para pasukan yang menyerang ke wilayah benteng pertahanan Patih Kinjiri. Mereka semua habis tanpa sisa. Ada beberapa raja dan Patih terbaik yang dimiliki oleh Maha Patih Kana Raga disana. Dan sekarang, mereka semua sudah mati.

__ADS_1


Para raja-raja pendukung Maha Patih Kana Raga merasa sangat kecewa kepada Maha Patih Kana Raga. Karena Maha Patih Kana Raga tidak bisa membuktikan semua ucapannya. Padahal mereka semua sudah menaruh harapan besar. Dan memberikan kontribusi yang sangat besar.


Namun kayu sudah menjadi abu. Apalagi yang bisa mereka semua lakukan, selain kembali ke kerajaan mereka masing-masing dengan tangan kosong. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini. Karena jumlah masing-masing pengawal yang ada di tempat ini sangat tidak cukup untuk pergi ke medan perang.


Maha Patih Kana Raga sebenarnya juga merasa sangat-sangat kecewa dan ingin sekali melampiaskan amarahnya. Tapi melampiaskan amarah dan menuruti rasa kecewa, tidak akan membuat keadaan kembali seperti semula.


Akhirnya Maha Patih Kana Raga juga memerintahkan para pengawalnya untuk kembali bersamanya ke Kerajaan Gelap Ngampar. Meski pun sudah kalah, ambisi balas dendam masih erat memeluk hati Maha Patih Kana Raga.


Dia tetap akan menuntut balas atas kematian Prabu Bambang Pura. Dia akan kembali ke Kerajaan Gelap Ngampar, dan menyusun kembali penyerangan selanjutnya. Tentunya dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan membutuhkan lebih banyak lagi sumber daya manusia.


Para raja yang lain juga terpaksa pergi dari sana tanpa membawa para pasukan yang telah gugur di medan perang. Mereka semua sama-sama merasakan apa yang dirasakan oleh Maha Patih Kana Raga. Kepercayaan mereka kepada Maha Patih Kana Raga secara spontan telah hilang.


Mereka semua sudah sepakat untuk tidak akan ikut campur lagi dengan urusan Maha Patih Kana Raga dan juga Kerajaan Gelap Ngampar. Mereka akan berusaha untuk berdiri, tanpa harus memperbudak diri mereka kepada kerajaan lain. Akibatnya, para raja itu saling menaruh curiga satu sama lain.


Saat dalam perjalanan pulang ke kerajaan mereka, masing-masing raja memilih jalur pulang yang berbeda. Karena mereka tidak mau ada hal buruk terjadi kepada mereka. Rasa curiga itu menghantui semua orang di sepanjang perjalanan.


Itu semua adalah hasil panen dari apa yang mereka tanam selama ini. Mereka sudah menyalahgunakan kekuasaan, untuk kepentingan mereka sendiri. Beberapa dari para pendukung Maha Patih Kana Raga kerajaannya akan terancam hancur, karena pasti akan terjadi krisis pangan di kerajaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Sebelum perang terjadi, mereka semua sudah mengeluarkan banyak sekali dana untuk mendapatkan semua yang mereka butuhkan dalam peperangan. Dan itu tidak sedikit. Bahkan ada yang sampai menyerahkan aset mereka sendiri kepada Maha Patih Kana Raga, untuk diberikan ke orang-orang asing.


Aset-aset penting dan juga dana yang mereka miliki ditukarkan dengan persenjataan. Baik senjata berat maupun persenjataan yang ringan. Semua itu mereka lakukan karena mereka sudah sangat yakin kalau mereka semua akan memenangkan perang ini. Dan menaklukkan Kerajaan Wiyagra Malela.


Namun sekarang, mereka semua, terutama Maha Patih Kana Raga, harus menerima kenyataan, kalau mereka sudah kalah. Prabu Jabang Wiyagra memberikan mereka kesempatan untuk berubah, dan fokus untuk membangun perekonomian di negara mereka masing-masing.


Tetapi jika mereka masih tetap bersikukuh untuk melakukan serangan balasan, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan segan-segan untuk menggempur habis apa saja yang mereka punya. Serta menduduki semua wilayah kerajaan yang mereka miliki secara paksa.


Karena kesempatan tidak pernah datang dua kali. Memang, Prabu Jabang Wiyagra adalah seorang raja yang bijak dan orang yang penyabar. Tapi bukan berarti dia tidak bisa marah. Suatu waktu kesabarannya yang ia tahan bisa meledak menjadi sebuah kemarahan. Dan sekali Prabu Jabang Wiyagra marah, maka tidak akan ada satu pun orang yang berani menghentikannya.


Dan hal itu sudah dibuktikan dengan menderitanya hidup musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra sebelumnya. Gabah Lanang, Ditya Kalana, Ki Damar Ireng, Prabu Suta Rawaja, dan yang terakhir adalah Prabu Bambang Pura. Penderitaan mereka seharusnya bisa dijadikan pembelajaran untuk Maha Patih Kana Raga dan yang lainnya.


Sebuah kebencian karena persaingan tidak akan pernah dimenangkan. Dan itulah yang terjadi kepada semua musuh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra sudah memperingati mereka berkali-kali. Tapi kebanyakan dari mereka tetap teguh kepada pendirian mereka. Sehingga dengan terpaksa Prabu Jabang Wiyagra menjalankan rencana terakhir.


Prabu Jabang Wiyagra tidak akan pandang bulu untuk menghadapi siapa saja yang berniat menjadi musuhnya. Ada sebuah pepatah mengatakan,


"Mulut dibayar mulut. Mata dibayar mata. Dan gigi diganti."

__ADS_1


__ADS_2