
"Kita tinggal menunggu kedatangan mereka Gusti Prabu. Semuanya sudah siap. Persenjataan di setiap benteng pertahanan, baik di istana, ataupun di luar istana juga sudah siap, Gusti. Begitu juga dengan semua pasukan kita." Ucap Maha Patih Galangan.
"Ya. Aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan lagi saat ini. Aku sudah melewati banyak sekali peperangan. Aku bisa menghancurkan ratusan benteng-benteng pertahanan musuh. Tapi, aku belum memiliki sedikitpun untuk mempertahankan wilayahku sendiri, Maha Patih." Jawab Prabu Putra Candrasa.
"Mohon maaf Gusti Prabu. Ini hanya saran dari hamba saja. Menurut pengalaman hamba, mempertahankan dan menyerang, memang lebih sulit mempertahankan. Namun, jika semua orang mau bekerjasama, maka semuanya akan baik-baik saja."
"Ya. Itulah maksudku, Maha Patih. Aku belum tahu, apakah rakyatku mempercayai aku atau tidak. Aku memang sudah melewati berbagai pertempuran. Yang ada di benak mereka, pasti berfikir kalau aku bisa membunuh ribuan musuh. Padahal, tidak semua peperangan harus diselesaikan dengan pembantaian."
"Benar Gusti Prabu. Tapi apapun yang terjadi, hamba dan seluruh pasukan Kerajaan Putra Malela ini, pasti akan tetap membela Gusti Prabu Putra Candrasa. Kami sudah bersumpah, untuk tetap bertarung bersama Gusti Prabu, hingga tetes darah penghabisan."
Dalam hatinya, Prabu Putra Candrasa masih merasa ragu dengan kemampuan dirinya sendiri. Walaupun Prabu Putra Candrasa terkenal dengan keberanian dan ketangguhannya dalam menghadapi musuh, tapi dia sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk mempertahankan istana. Karena selama ini, Prabu Jabang Wiyagra-lah yang selalu memberikan arahan padanya.
Selama ikut dengan Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Putra Candrasa hanya mempelajari strategi penyerangan dan pertahanan pasukan, di medan perang. Bukan untuk mempertahankan benteng istana. Jadi selama ini, Prabu Putra Candrasa hanya berfokus kepada serangan terhadap musuh-musuhnya saja. Tidak dengan hal yang lain.
Prabu Putra Candrasa kemudian melakukan meditasi untuk meminta petunjuk dan bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Putra Candrasa menghubungi Prabu Jabang Wiyagra melalui komunikasi batin. Sungguh, kali ini Prabu Putra Candrasa sedang diserang rasa panik dan khawatir yang luar biasa. Hanya Prabu Jabang Wiyagra yang mampu menenangkannya jika dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Dalam komunikasi batin tersebut, Prabu Jabang Wiyagra lalu memberitahukan alasan mengapa mengangkat Prabu Putra Candrasa diangkat menjadi seorang raja. Prabu Jabang Wiyagra ingin Prabu Putra Candrasa tidak hanya berfokus pada penyerangan, tetapi juga pertahanan. Karena sudah waktunya Prabu Putra Candrasa beradaptasi dengan lingkungannya sendiri, bukan lingkungan Prabu Jabang Wiyagra.
Selama mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Putra Candrasa lebih banyak mendapatkan pengarahan. Sedang menyusun strategi pertahanan dan lain sebagainya, itu semua berasal dari hasil pemikiran Prabu Jabang Wiyagra. Sedangkan Prabu Putra Candrasa hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang Maha Patih kala itu. Tapi sekarang, sudah waktunya Prabu Putra Candrasa mempelajari semuanya.
"Guru sejati adalah pengalaman, Prabu Putra Candrasa. Kamu harus membiasakan dirimu dalam hal ini. Semua sudah aku ajarkan kepadamu. Kamu sudah memiliki banyak bekal untuk memimpin pemerintahanmu. Ingat satu hal, gunakan akalmu, bukan kepalan tanganmu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Setelah itu, Prabu Jabang Wiyagra memutuskan hubungan batin antara mereka berdua. Prabu Jabang Wiyagra sudah banyak memberikan ilmunya kepada Prabu Putra Candrasa. Sekarang sudah tiba waktunya bagi Prabu Putra Candrasa untuk menggunakan semua ilmu yang ia dapat. Dia kembali melakukan meditasi untuk mengingat masa-masa dimana dia baru menjadi murid Prabu Jabang Wiyagra.
Dia mempelajari semua hal. Dia menaklukkan semua ujian yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra dengan sangat baik. Ujian yang sekarang ia jalani tidaklah sebanding dengan pelajaran keras yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepadanya. Dulu, Prabu Jabang Wiyagra mengajarkan ilmu kanuragan kepada Prabu Putra Candrasa dengan sangat tegas dan keras.
Sekarang, dia sedang dihadapkan kembali pada ujian, yang setara dengan ujian di masa lalunya. Yang artinya, seharusnya dia sudah sangat siap untuk menghadapinya kembali. Dia mencoba melawan keraguan dan ketakutan akan kegagalan yang ada di dalam dirinya. Karena kekhawatiran yang berlebihan itulah, yang menjadikannya sulit untuk berfikir jernih.
Setelah seharian penuh melakukan meditasi, Prabu Putra Candrasa hanya benar-benar mendapatkan petunjuk. Prabu Putra Candrasa kalau keluar dari ruang meditasinya, untuk bertemu dengan Maha Patih Galangan. Saat itu juga dia memberikan perintah kepada Maha Patih Galangan untuk mempersiapkan semua pasukan Kerajaan Putra Malela.
Semua pasukan diperintahkan untuk membuat jebakan di sekitaran wilayah istana Kerajaan Putra Malela. Prabu Putra Candrasa kepada Maha Patih Galangan untuk tidak memperlihatkan senjata meriam mereka terlebih dahulu, sebelum musuh benar-benar dekat dengan posisi istana. Agar musuh tidak benar-benar mengetahui seberapa besar kekuatan yang Prabu Putra Candrasa miliki.
__ADS_1
Prabu Putra Candrasa akan membiarkan Prabu Barajang dan pasukannya menaklukkan beberapa wilayah kekuasaannya terlebih dahulu, agar mereka merasa kalau mereka memiliki kesempatan besar untuk menaklukkan Kerajaan Putra Malela. Prabu Putra Candrasa juga tahu kalau Prabu Barajang sudah memiliki peta jalur rahasia menuju Kerajaan Wiyagra Malela.
Jadi, Prabu Putra Candrasa ingin mengalihkan perhatian Prabu Barajang dan pasukannya, agar mereka tidak jadi menggunakan jalur rahasia menuju Kerajaan Wiyagra Malela. Dengan cara, membiarkan beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Putra Malela jatuh ke tangan mereka. Apalagi banyak sekali pertambangan emas di daerah perbatasan.
Dengan begitu, Prabu Barajang akan tertutup matanya setelah melihat bongkahan emas itu. Prabu Putra Candrasa juga ini ada beberapa kotak emas yang sudah jadi, diletakkan di beberapa tempat yang sekiranya bisa terlihat oleh Prabu Barajang dan pasukannya, saat mereka sedang melewati daerah pertambangan. Agar semua tipuannya terlihat lebih meyakinkan.
Kalau semua rencana tersebut berhasil, maka Prabu Putra Candrasa hanya tinggal mengerahkan pasukannya dan juga pasukan bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra ke wilayah pertambangan untuk menyergap mereka semua. Dan senjata-senjata Maryam yang disembunyikan akan digunakan untuk menggempur mereka di sana. Itu akan menjadi sebuah hal yang takkan pernah terlupakan oleh Prabu Barajang beserta seluruh pasukannya.
Namun sebelum mengerahkan seluruh pasukannya, Prabu Putra Candrasa ingin mengerahkan para pasukan bandit terlebih dahulu. Para pandit jelas akan senang jika mereka dibayar, untuk melakukan tugas tersebut. Walaupun sebenarnya para bandit itu hanya akan dijadikan tumbal untuk menyergap Prabu Barajang dan seluruh pasukannya.
Karena setelah para pasukan bandit yang disewa itu menyergap, dan berhasil mengurangi jumlah pasukan Prabu Barajang, Maha Patih Galangan diperintahkan untuk langsung menggembur mereka semua yang ada di sana, dengan senjata meriam yang mereka miliki. Memang itu adalah sebuah hal yang sangat kejam. Tapi jika tidak dilakukan, maka akan jauh lebih banyak lagi orang yang mati.
Lagi pula pasukannya mati di sana hanyalah pasukan para bandit yang suka berbuat onar dan kerusakan. Karena para pasukan bandit ini sebagian besar adalah mantan pasukan Prabu Bawesi. Jadi mereka akan sangat sulit kalau untuk diajak kerjasama. Mereka hanya peduli kepada harta. Asal mendapatkan bayaran, apapun akan mereka lakukan. Dan Prabu Putra Candrasa rela membayar mereka dengan harga yang sangat tinggi.
Setinggi apapun bayaran yang mereka dapatkan, pada akhirnya mereka semua akan mati. Dan bayaran yang sudah mereka ambil, bisa diambil alih kembali oleh Prabu Putra Candrasa. Sehingga semua bayaran yang sudah diberikan, tidak akan ada artinya apa-apa bagi Prabu Putra Candrasa. Karena sekali lagi, para bandit ini hanya akan dijadikan tumbal.
__ADS_1