DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 242


__ADS_3

"Entah apa yang harus kita lakukan sekarang. Gusti Prabu Pancaran masih terus saja mendesak ku untuk membereskan masalah Prabu Jabang Wiyagra. Padahal beliau pun tahu kalau Prabu Jabang Wiyagra bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Dia orang yang sangat sakti mandraguna." Ucap Maha Patih Gading Kuning kepada salah seorang Patih.


"Apa tidak sebaiknya Gusti Patih meminta bantuan kepada para pendekar yang ada di Kerajaan Panca Warna?"


"Untuk apa? Kita semua sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Kerajaan Panca Warna. Apalagi sekarang Ratu Mekar Senggani masih belum ditemukan. Sangat sulit bagi kita untuk melakukan musyawarah tanpa adanya seorang pemimpin di Kerajaan Panca Warna."


"Mohon maaf Gusti Patih. Para pendekar dan juga seluruh rakyat yang ada di Kerajaan Panca Warna juga sama-sama membutuhkan perlindungan, dan ingin melakukan perlawanan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Kalau kita memberikan apa yang mereka butuhkan mereka pasti mau memberikan kita bantuan tenaga."


Maha Patih Gading Kuning berfikir sejenak, apa yang dikatakan oleh bawahannya itu ada benarnya juga. Ketua kerajaan besar ini sama-sama sedang membutuhkan bantuan dan juga kekuatan untuk melawan Prabu Jabang Wiyagra. Pasti ada celah untuk melakukan negosiasi dengan orang-orang di Kerajaan Panca Warna.


"Hmmm... Kamu benar juga Patih. Kalau begitu kamu beritahukan para Patih dan juga pimpinan prajurit yang lain. Katakan kepada mereka, kalau aku memerintahkan Para Patih dan pimpinan pasukan yang ada, untuk mendatangi setiap desa maupun kota yang ada di wilayah Kerajaan Panca Warna. temui setiap orang yang menjadi penguasa di setiap wilayah yang ada untuk melakukan perjanjian."


"Baik Gusti Patih. Hamba akan lakukan sekarang juga."

__ADS_1


"Silahkan."


Maha Patih Gading Kuning sebenarnya masih ragu dengan rencana tersebut, karena banyak orang di Kerajaan Panca Warna yang membenci Prabu Pancaran. Namun apa boleh buat? Hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh Maha Patih Gading Kuning untuk melindungi Kerajaan Panca Warna. Kekuatan Kerajaan Panca Warna tidak akan cukup untuk melawan Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.


Maha Patih Gading Kuning membutuhkan pasukan jauh lebih banyak, dari yang ada di kerajaan ini. Jumlah pasukan di kerajaan ini sekarang hanya tiga ratus ribu orang. Jumlah itu sangatlah dibandingkan jumlah pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Jumlah pasukan terbatas, dengan wilayah yang sangat luas, tentu Maha Patih Gading Kuning harus memutar otak bagaimana caranya mempertahankan semuanya.


Maha Patih Gading Kuning mencurigai akan adanya pergerakan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela secara diam-diam. Maha Patih Gading Kuning sudah mempelajari banyak sekali tentang Kerajaan Wiyagra Malela dan juga Prabu Jabang Wiyagra. Yang selama ini lebih sering melakukan penyerangan secara diam-diam. Dan sangat sulit untuk dibaca pergerakannya.


Maha Patih Gading Kuning sudah pontang-panting mencari bantuan ke sana kemari. Sedangkan Prabu Pancaran hanya sibuk bersenang-senang dengan para pelayan perempuannya, yang ada di istana. Tingkah Prabu Pancaran membuat Maha Patih Gading Kuning menjadi sangat kesal, dan membuatnya ingin sekali pergi dari kerajaan ini. Hanya saja sangat disayangkan karena wilayah kerajaan ini sangatlah luas.


Di sini mulai timbul rasa benci dari dalam diri Maha Patih Gading Kuning. Maha Patih Gading Kuning seakan sudah tidak peduli lagi kepada Prabu Pancaran yang sama sekali tidak mau berusaha untuk mempertahankan kerajaannya sendiri. Dia selalu menyerahkan semuanya kepada Maha Patih Gading Kuning seorang. Bagaimanapun tersiksanya seorang Maha Patih Gading Kuning, Prabu Pancaran tidak akan pernah peduli.


Yang dipedulikan oleh Prabu Pancaran hanyalah kekuasaan dan kedudukannya saja, tanpa mau direpotkan. Tidak heran kalau banyak sekali pejabat istana yang korup dan curang. Dan hanya Maha Patih Gading Kuning yang mampu membereskan masalah seperti itu. Prabu Pancaran hanya memberikan perintah kepadanya, tanpa memberikan arahan yang benar. Prabu Pancaran selalu ingin terima beres.

__ADS_1


Kesetiaan Maha Patih Gading Kuning tidak lebih dari sekedar kesetiaan kepada sebuah jabatan. Sedangkan kesetiannya kepada Prabu Pancaran seakan telah memudar. Walaupun Maha Patih Gading Kuning sama licik dan jahatnya seperti Prabu Pancaran, tetapi Maha Patih Gading Kuning memiliki satu pendapat yang berbeda dengan Prabu Pancaran. Maha Patih Gading Kuning tidak pernah mau mengorbankan rakyat Kerajaan Pancanaka untuk kepentingannya.


Penyebabnya adalah, karena Maha Patih Gading Kuning berasal dari masyarakat jelata. Dia tahu bagaimana rasanya ditumbalkan dan dihancurkan harga dirinya. Ditambah lagi dengan ambisi besarnya yang ingin menjadi seorang raja, yang menuntutnya harus memiliki perhatian lebih kepada semua orang yang ada di kerajaannya. Maha Patih Gading Kuning ingin membersihkan semua sampah yang dibuat oleh Prabu Pancaran.


Karena selama masa jabatannya, Prabu Pancaran kerap menarik pajak yang sangat mencekik rakyat. Dan Maha Patih Gading Kuning tidak menyukai hal itu. Hanya saja dulu dia berusaha bersikap setia kepada Prabu Pancaran, sehingga dia berpura-pura tidak peduli dengan apa yang terjadi di Kerajaan Pancanaka. Apalagi Prabu Pancaran selalu memberinya sesuatu yang lebih, yang membuat Maha Patih Gading Kuning lupa dengan masalah yang ada.


Prabu Pancaran memang pintar dalam merayu seseorang. Dia tidak akan ragu untuk melakukan apa saja, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Iming-iming jabatan membuat Maha Patih Gading Kuning menjadi tergoda untuk untuk menjadi budak Prabu Pancaran. Dia tidak menyadari dengan apa yang ia lakukan selama ini. Jabatan membuatnya buta dari sebuah fakta, fakta kalau dia hanya diperbudak oleh Prabu Pancaran untuk memuaskan ambisinya.


Padahal sebenarnya, tanpa Prabu Pancaran pun, Kerajaan Pancanaka masih bisa tetap berdiri, selama masih ada Maha Patih Gading Kuning. Karena Maha Patih Gading Kuning-lah yang mengatur sepenuhnya kekuatan pasukan. Seluruh pasukan Kerajaan Pancanaka juga jauh lebih percaya kepada Maha Patih Gading Kuning daripada Prabu Pancaran sendiri. Maha Patih Gading Kuning memang lebih sering bersama dengan pasukannya daripada berada di istana.


Dengan semua hal yang sudah dipertimbangkan matang-matang, Maha Patih Gading Kuning akhirnya memutuskan untuk memberontak kepada Prabu Pancaran, dengan menggunakan seluruh kekuatan pasukan Kerajaan Pancanaka yang ada. Karena jika terus-menerus seperti ini, maka Kerajaan Pancanaka akan hancur di tangan Prabu Jabang Wiyagra. Maha Patih Gading Kuning juga tahu kalau dirinya tidak akan sanggup menghadapi Prabu Jabang Wiyagra.


Namun, Maha Patih Gading Kuning sudah memiliki rencana lain agar bisa selamat dari serangan Prabu Jabang Wiyagra dan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Maha Patih Gading Kuning berencana untuk memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Pancanaka di tempat lain yang cukup jauh dari istana utamanya. Dengan begitu, meskipun Maha Patih Gading Kuning kalah dalam peperangan, Maha Patih Gading Kuning masih tetap bisa menjalankan pemerintahannya.

__ADS_1


Sedangkan untuk Prabu Pancanaka sendiri, dia akan ditumbalkan oleh Maha Patih Gading Kuning untuk menghadapi para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, yang menyerang istana. Karena cepat atau lambat, pasukan Kerajaan Wiyagra Malela pasti akan sampai ke wilayah Kerajaan Pancanaka, dan akan membersihkan semuanya tanpa sisa. Prabu Pancaran juga pasti akan ditangkap dan dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela untuk diadili atas semua kejahatan yang sudah ia lakukan.


__ADS_2