
Utari Gita boleh menggunakan ilmu kanuragannya, untuk meluluhlantakkan semua bangunan yang ada di sekitarnya. Kondisi pasar itu benar-benar sudah sangat merusak parah. Banyak sekali mayat-mayat yang bergeletakkan, baik di dalam, maupun di luar pasar.
Karena sekarang para prajurit sudah mendapatkan bantuan dari teman-teman mereka yang mulai berdatangan ke sana. Para prajurit yang datang ke tempat itu mendapatkan laporan dari para pengunjung yang selamat dari pembantaian tersebut.
Tetapi tetap saja, jumlah mereka tidaklah imbang dengan jumlah pasukan yang dibawa oleh Utari Gita. Apalagi setelah mereka melihat sendiri bagaimana kondisi pasar itu, nyali mereka yang tadinya sangat beringas, seakan-akan mulai menciut.
Selama masa pemerintahan Prabu Barajang satupun orang yang pernah melakukan kekacauan sebesar itu. Karena pasar ini selalu dijaga ketat oleh para prajurit istana. Dan disana juga sering ada kelompok pendekar yang datang untuk berkunjung. Sehingga kekacauan di pasar mewah ini terdengar tidak biasa bagi mereka.
Baru sekarang ini semua kekacauan itu terjadi. Bahkan kekacauan-kekacauan yang sudah dilakukan oleh murid-murid Mbah Kangkas tidak pernah sebesar ini. Tetapi dengan adanya Utari Gita, murid-murid dari padepokan Mbah Kangkas jelas memiliki dorongan kekuatan yang besar untuk melakukan penyerangan.
Apalagi Utari Gita memang dikenal sebagai pendekar yang sadis, dan sudah sangat berpengalaman dalam membunuh. Utari Gita sudah pernah membunuh ratusan pendekar sakti dari aliran hitam yang ada di Tanah Jawa ini. Sehingga Utari Gita sudah sangat lincah dan cekatan dalam membunuh musuh-musuhnya.
Terutama saat dia sudah bersama dengan Patih Kinjiri. Utari Gita sering berlatih dengan Patih Kinjiri untuk meningkatkan kemampuannya. Dia juga belajar banyak hal kepada Ki Singo Rogo, setelah sembuh dari luka akibat lemparan tombak Maha Patih Jogo Rogo. Hasilnya, sekarang Utari Gita mengalami banyak peningkatan dalam dirinya.
Sedangkan Bamantara sendiri sudah menyelesaikan penyerangannya. Rumah-rumah makan mewah, tempat penginapan, dan berbagai macam tempat hiburan lainnya sudah dirusak oleh Bamantara dan pasukan yang dibawanya. Kebakaran juga terjadi di area sekitarnya, yang memaksa para masyarakat sekitar untuk mengungsi dari sana.
Semua orang yang mati maupun terluka dibiarkan begitu saja, karena mereka tidak mendapatkan bantuan apapun. Berbeda dengan pasar mewah yang sekarang menjadi titik serangan Utari Gita dan pasukannya. Sedikit demi sedikit, para prajurit mulai berdatangan dan mulai melakukan perlawanan.
__ADS_1
Para murid Mbah Kangkas yang ikut dengan Utari Gita mulai kewalahan. Karena kesaktian mereka tidak sama dengan Utari Gita. Ditambah sekarang para prajurit yang datang ke tempat itu sudah semakin banyak. Bahkan beberapa dari mereka adalah para pendekar yang sudah cukup berpengalaman.
Namun secara tiba-tiba, dari arah belakang Bamantara datang bersama dengan pasukannya yang sudah menyelesaikan tugas mereka. Dengan cepat mereka langsung membantu pasukan Utari Gita Ya sudah semakin terdesak dan terkepung di tengah-tengah pasar yang terbakar.
"Serang!" Teriak Bamantara kepada pasukannya.
Karena mendapatkan banyak bantuan dari Bamantara, akhirnya para prajurit istana yang datang ke tempat itu pun memilih untuk melarikan diri. Mereka semua tidak mau mati di tempat ini, karena jumlah pasukan yang dibawa oleh Bamantara sangat-sangat banyak kalau digabung menjadi satu dengan pasukan yang dibawa Utari Gita.
Sebenarnya, kalau hanya memikirkan diri sendiri, Utari Gita sudah pasti bisa pergi dari tempat ini. Namun masalahnya adalah, murid-murid Mbah Kangkas tidak mungkin ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mereka semua yang sudah terdesak. Juga dengan jumlah mereka yang semakin berkurang satu persatu.
"Berhenti! Biarkan mereka semua lari! Tugas kita sudah selesai. Ayo kita kembali sekarang, sebelum mereka memanggil bantuan yang lainnya." Ucap Utari Gita.
Terutama dengan para pejabat istana yang mengatur wilayah tersebut. Mereka semua langsung mengadakan rapat setelah mendapatkan laporan. Dan para prajurit yang tersisa ditugaskan kembali untuk membereskan tempat itu. Semua pejabat pun merasa khawatir, karena kalau sampai Prabu Barajang mengetahui hal ini, dia pasti akan marah besar.
"Biar bagaimanapun juga itu adalah wilayah kita. Tetapi kita harus pintar-pintar menutupinya, supaya Prabu Barajang tidak tahu mengenai masalah ini. Kalau sampai dia tahu, maka tamatlah kita semua."
"Ya. Benar. Kita harus mencari cara bagaimana mengembalikan tempat itu seperti sedia kala. Apalagi pasar dan tempat hiburan yang diserang adalah tempat yang sangat penting. Dan menjadi pemasukan utama untuk kita semua, yang menjabat di wilayah ini."
__ADS_1
"Bukan hanya itu saja masalah kita. Yang menjadi masalah utama adalah tempat itu juga sering dikunjungi oleh para pejabat ndalem. Kalau para pejabat luar, kita masih bisa beri mereka sogokan. Tapi kalau pejabat ndalem, kita bisa dipenggal."
"Untuk sementara waktu, kita tutup saja tempat tersebut, dan segera lakukan renovasi secepat mungkin. Karena kalau tidak, pasti para pejabat ndalem akan tahu, dan mereka akan melaporkannya kepada Prabu Barajang. Segala perintahkan semua pasukan kita yang ada di tempat ini."
"Lalu bagaimana dengan para prajurit yang sudah mati? Mereka semua adalah penjaga di tempat ini. Kalau mereka tidak ada pasti pihak istana juga akan curiga."
"Tidak usah khawatir, aku punya orang dalam dikeprajuritan. Kita tinggal sewa saja para pendekar yang ada di tempat ini, untuk menjadi prajurit istana. Soal daftar nama, kita tinggal menghubungi orangku saja, agar dia memasukkan para pendekar ini ke dalam daftar keprajuritan."
"Ya! Itu semua ide yang bagus! Sekarang, ayo kita lakukan bersama-sama semuanya secara serempak. Jangan ada satupun yang istirahat sebelum semuanya selesai! Paham?!" Ucap salah satu pejabat yang memiliki pangkat paling tinggi.
"Paham."
Para pejabat yang sudah panik itu pun langsung sesegera mungkin menjalankan semua rencana yang sudah mereka susun dengan sangat rapi. Para pendekar di sekitaran wilayah itu disewa dengan sejumlah uang, agar mereka mau menjadi prajurit istana Kerajaan Bala Bathara yang menjaga tempat ini.
Salah satu pejabat juga menghubungi orang dalam, menyogoknya dengan sejumlah uang, agar mau memasukkan para pendekar itu ke dalam daftar keprajuritan. Sedangkan untuk para prajurit yang mati pada saat penyerangan, mereka semua akan dihapuskan.
Renovasi juga langsung dilakukan pada hari itu juga. Bahkan para pejabat juga membayar masyarakat agar mau menutup semua akses menuju tempat tersebut. Dengan alasan kalau tempat itu akan direnovasi. Sehingga tidak akan ada orang yang datang ke tempat itu lagi, sebelum semuanya bersih seperti sedia kala.
__ADS_1
Para prajurit yang tadinya sempat kabur dan selamat dari penyerangan itu, langsung dibunuh dan dihilangkan jejaknya oleh pimpinan mereka, yang merupakan orang dalam dari salah satu pejabat. Sehingga peristiwa itu tidak sampai kepada Prabu Barajang. Dan semuanya terlihat baik-baik saja.