
Setelah menceritakan semua yang terjadi kepada ketiga raja besar tersebut, Mbah Kangkas akhirnya memutuskan untuk pulang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, dan memberitahukan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra telah menunggu kabar dari Mbah Kangkas. Karena sudah seharian Mbah Kangkas pergi meninggalkan istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Karena bertemu dengan ketika raja besar itu, Mbah Kangkas harus menemui mereka secara langsung. Prabu Jabang Wiyagra yakin, kalau sebentar lagi berita tentang pembunuhan Guru Besar Padepokan Maja Lingga pasti akan menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Dan akan terjadi peristiwa besar di Padepokan Maja Lingga. Seberapa keras pun Prabu Jabang Wiyagra berusaha mencegah perang itu, perang antara kedua kubu akan tetap terjadi.
Namun setidaknya Prabu Jabang Wiyagra sudah melakukan upaya, agar tidak jatuh banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa meminimalisir jumlah kematian dari pihak Padepokan Maja Lingga dan Padepokan Singo Negoro. Selebihnya Prabu Jabang Wiyagra akan menyerahkan hasilnya kepada para pasukannya yang sedang berjaga di perbatasan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Karena itu adalah perang yang sangat sulit untuk dihindari.
Kalaupun Prabu Jabang Wiyagra mendatangi kedua Padepokan besar tersebut, hal tidak akan menjamin kalau kedua Padepokan tersebut akan berdamai seperti dulu. Justru kehadiran Prabu Jabang Wiyagra hanya akan menambah masalah menjadi lebih besar lagi. Karena apa saja yang disampaikan oleh Prabu Jabang Wiyagra, pasti tidak akan disetujui oleh kedua belah pihak. Bagi mereka, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Kalau Prabu Jabang Wiyagra tetap memaksa mereka, maka mereka akan memberontak.
Dalam situasi yang semakin memanas ini, Prabu Jabang Wiyagra mengundang Prabu Sura Kalana, Prabu Bagas Candramawa, dan juga Prabu Bujang Antasura, untuk datang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka semua harus membahas permasalahan ini. Karena jika tidak, maka pertikaian besar antar kedua Padepokan besar tersebut, akan berlangsung sangat lama. Dan rakyat yang tidak bersalah akan menjadi korban dari keganasan mereka. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau hal itu sampai terjadi. Apalagi sekarang Prabu Jabang Wiyagra sedang fokus membersihkan para tikus yang ada di seluruh wilayah kekuasaannya.
Jika peperangan ini tidak segera dihentikan, maka seluruh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan mengalami kerugian besar. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak memperhitungkan soal kekacauan ini. Prabu Jabang Wiyagra tidak menyangka kalau Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga akan terbunuh secara mendadak. Tanpa ada satupun orang yang mengetahui apa penyebabnya. Bahkan belum bisa dipastikan siapa pelakunya.
__ADS_1
Kecurigaan Prabu Jabang Wiyagra itu beliau katakan kepada Mbah Kangkas dan juga ketiga raja besar yang hadir di istananya. Prabu Jabang Wiyagra ingin, Mahendra dan Jiramani ditangkap secepatnya. Untuk membuktikan kalau mereka memang benar-benar pelaku dari pembunuhan tersebut. Karena firasat Prabu Jabang Wiyagra jarang sekali salah. Apalagi Mbah Kangkas juga mendukung pendapat dari Prabu Jabang Wiyagra. Sekalipun belum tentu Jiramani dan Mahendra adalah pelakunya, tetapi mereka tetap harus ditangkap. Karena dua orang itu yang dianggap sangat mencurigakan, oleh Prabu Jabang Wiyagra.
"Aku ingin Mahendra dan Jiramani ditangkap secepatnya. Aku mencurigai mereka berdua, karena aku tahu bagaimana jejak mereka di masa lalu. Apalagi Mahendra dan Jiramani sering memiliki pendapat yang berbeda dengan Sang Guru Besar dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Aku ingin kalian bertiga menangkap Mahendra dan Jiramani. Dan pastikan mereka berdua tertangkap dalam keadaan hidup."
"Baik Romo Prabu. Hamba menyanggupi tugas dari Romo Prabu. Kalau perlu, hamba juga akan mengirimkan pasukan khusus ke sana, Romo." Ucap Prabu Sura Kalana.
"Jangan. Cukup Kalian bertiga saja mengetahui penangkapan Mahendra dan Jiramani. Kalau sampai ada yang tahu mengenai penangkapan mereka berdua, maka akan terjadi pemberontakan besar-besaran dari Padepokan Ageng Maja Lingga, kepada pemerintahanku."
"Benar Gusti. Apakah Gusti Prabu tidak mencurigai pihak lain, yang sekiranya bisa mencari keuntungan dari pertikaian ini? Bisa saja ada orang lain yang menghasut, ataupun membuat sebuah cerita, agar seakan-akan Mahendra dan Jiramani-lah pelakunya." Sambung Prabu Bujang Antasura.
"Ya. Awalnya aku pun berpikiran sama seperti dirimu, Prabu Antasura. Tapi, aku benar-benar yakin kalau mereka berdua lah yang menjadi pelaku dari pembunuhan Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga. Mahendra dan Jiramani memiliki ambisi yang besar. Dan sebenarnya, dua orang pendekar itu sama sekali belum lulus dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Lebih tepatnya, mereka berdua keluar karena diusir oleh Sang Guru Besar."
__ADS_1
"Maksudnya Romo?" Tanya Prabu Sura Kalana.
Prabu Jabang Wiyagra menjelaskan, kalau Mahendra dan Jiramani adalah dua murid senior yang suka membangkang perintah dari guru mereka. Bahkan mereka kerap kali membuat masalah, dengan murid-murid yang baru masuk ke Padepokan Ageng Maja Lingga. Padahal Sang Guru Besar sudah berjanji kepada Prabu Jabang Wiyagra, untuk tidak lagi melakukan kejahatan. Tetapi karena perilaku Mahendra dan Jiramani yang urakan, membuat Sang Guru Besar mendapatkan teguran langsung dari Prabu Jabang Wiyagra. Hingga akhirnya Sang Guru Besar memutuskan untuk mengusir Mahendra dan Jiramani dari Padepokan Ageng Maja Lingga.
Sayangnya, itu sebuah keputusan yang sangat keliru. Karena setelah Mahendra dan Jiramani keluar dari Padepokan Ageng Maja Lingga, mereka justru semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka juga menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk merampok dan merampas harta rakyat Maja Lingga. Mereka banyak sekali melakukan kejahatan dalam bentuk pemerasan, tanpa memandang siapa yang menjadi korban. Karena kelakuan mereka yang sudah semakin parah, Sang Guru Besar akhirnya turun tangan langsung untuk menghajar mereka berdua.
Sang Guru Besar yang sudah sangat geram dengan perilaku dua muridnya itu, memutuskan untuk langsung membunuh Mahendra dan Jiramani saat itu juga. Namun murid-murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang lain melarang Sang Guru Besar untuk melakukan hal tersebut. Sehingga Sang Guru Besar pun akhirnya luluh dan memaafkan perilaku mereka berdua. Apalagi Mahendra dan Jiramani sampai sujud dan meminta maaf kepada Sang Guru Besar. Dan mereka berdua sudah berjanji untuk tidak lagi melakukan kejahatan. Dalam bentuk apapun.
Selama bertahun-tahun, mereka memang benar-benar membuktikan ucapan mereka. Bahkan Sang Guru Besar sampai memuji Mahendra dan Jiramani, atas pengabdian yang mereka lakukan kepada rakyat Maja Lingga. Sang Guru Besar sudah sangat yakin kalau Mahendra dan Jiramani tidak akan lagi melakukan kejahatan. Dan mereka akan kembali kepada jalan yang benar. Sang Guru Besar pun akhirnya mempercayai mereka berdua sepenuhnya. Bahkan dengan senang hati mau menerima kembali Mahendra dan Jiramani sebagai muridnya, di Padepokan Ageng Maja Lingga.
Namun setelah Mahendra dan Jiramani kembali ke Padepokan Ageng Maja Lingga, perilaku mereka berdua juga seperti mulai kembali lagi seperti dulu. Mahendra dan Jiramani sering sekali adu pendapat dengan Sang Guru Besar. Yang hal itu sebenarnya sangatlah tidak sopan. Apalagi kepada seorang guru besar. Guru yang telah menjadi orang tua bagi mereka berdua. Karena Mahendra dan Jiramani adalah anak-anak terlantar yang diambil oleh Sang Guru Besar. Memang tidak bisa ditutup-tutupi, kalau kenakalan mereka berdua juga diakibatkan oleh didikan Sang Guru Besar di masa lalu. Karena dulu Sang Guru Besar merupakan seorang bandit, yang memiliki banyak sekali pasukan dan wilayah kekuasaan.
__ADS_1