
"Aku ingin kamu penjarakan Maha Patih Baruncing. Dan untuk beberapa hari kedepan Aku ingin ada hukuman penggal untuk semua musuh-musuh kita yang ditahan penjara bawah tanah." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Maha Patih Lare Damar.
"Apa keputusan Kakang Prabu ini sudah dipikirkan matang-matang?"
"Aku sudah memikirkannya sejak lama Dimas Patih. Aku tidak mau lagi satu hari aku menyesal karena membiarkan musuhku tetap hidup dan kembali membuat keonaran. Romo dan Eyang Badranaya yang memerintahkanku untuk melakukannya. Karena jika aku menolak, akan ada banyak bahaya yang keturunanku hadapi di masa depan nanti."
"Bahaya seperti apa Kakang Prabu?"
"Semua musuh-musuhku yang dimasukkan di penjara bawah tanah akan menuntut balas. Tidak ada satupun dari mereka yang berubah menjadi lebih baik. Mereka semua akan sadar dari kegilaan mereka, lalu kembali menghimpun kekuatan, untuk menghancurkan Kerajaan Wiyagra Malela."
"Kalau memang harus seperti itu, hamba akan segera menyiapkan segalanya, Kakang Prabu."
"Ya. Persiapkan segalanya terutama keamanan istana kita. Pastikan tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang ini sampai hari penghukuman tiba."
"Baik Kakang Prabu."
Seperti yang diketahui, bahwa Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak suka dengan kekejaman yang ia lakukan. Namun karena yang memberikan perintah kepadanya adalah Sang Maha Guru dan Eyang Badranaya, dia tidak akan bisa menolaknya. Ditambah lagi dengan pandangan di masa depan yang ia lihat dengan mata batinnya sendiri.
Membuatnya lebih memilih pilihan yang sulit, dengan menjatuhkan hukuman penggal kepala kepada para tahanan. Prabu Jabang Wiyagra juga sudah membicarakannya kepada Prabu Sura Kalana, dikarenakan Ditya Kalana juga berada di sana. Prabu Sura Kalana sudah pasrah dengan keputusan Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Sura Kalana juga Lebih baik melihat adiknya mati, daripada harus melihatnya berbuat kekacauan. Sudah banyak sekali korban berjatuhan karena ulah Ditya Kalana. Prabu Sura Kalana sudah mengikhlaskan semuanya. Serta menyerahkan segala urusan adiknya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia sudah terlalu lelah mengurusi Ditya Kalana yang tak pernah berubah.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra menjatuhkan hukuman penggal kepala kepada sembilan tahanan pentingnya, yaitu Prabu Suta Rawaja, Maha Patih Raseksa, Gabah Lanang, Maha Patih Jogo Rogo, Prabu Garan Darang, Ditya Kalana, Aji Guruh, Kebo Walik, dan juga Maha Patih Baruncing. Sekarang Maha Patih Baruncing juga berada dalam penjara yang sama, dengan yang lainnya.
Dan kondisi para tahanan di sana sudah sangat-sangat mengerikan. Bukan hanya fisim mereka yang rusak, tapi juga psikis mereka. Semua orang yang ada di sana sudah menjadi gila, kecuali Ditya Kalana dan Maha Patih Baruncing. Karena Ditya Kalana sendiri belum terlalu lama berada di penjara ini. Apalagi dengan Maha Patih Baruncing yang baru masuk dua hari.
Penjara bawah tanah itu sangat-sangat berisik oleh suara-suara ocehan dari para tahanan yang berbicara dengan pikiran mereka sendiri. Mereka semua sudah gila, dan sudah tidak ingat lagi siapa diri mereka. Di sana hanya ada Ditya Kalan yang masih bertahan, meskipun dalam keadaan yang sudah sangat lemah, dan badan yang sudah sangat kurus.
Lalu muncullah Prabu Sura Kalana yang ingin menemui adiknya, Ditya Kalana. Lagi-lagi Prabu Sura Kalana dihadapkan kepada sebuah kenyataan, kalau Ditya Kalana tetap teguh kepada pendiriannya. Dia tidak mau menerima kehadiran kakaknya sendiri di tempat itu. Padahal niat Prabu Sura Kalana sangatlah baik. Prabu Sura Kalana sangat berharap kalau Ditya Kalana mau berubah.
"Sampai aku mati membusuk di tempat ini pun, aku tidak akan pernah sudi untuk minta maaf atas apa yang sudah pernah aku lakukan. Karena apa yang aku lakukan ini adalah sebuah kebenaran. Sadarlah Sura Kalana. Kau hanya sedang dijadikan tikus oleh Jabang Wigra."
Prabu Sura Kalana menampar kedua pipi Ditya Kalana dengan sangat keras. Sebelum meninggalkan tempat itu, Prabu Sura Kalana berkata,
Ditya Kalana sama sekali tidak menggubris ucapan kakaknya. Dia masih tetap memiliki ambisi dan kepercayaan diri yang tinggi. Dia berpikir bahwa dia akan terbebas dari tempat ini dan membalas semua penderitaan yang telah ia rasakan. Ditya Kalana dan yang lainnya sama-sama tidak mengetahui, kalau sebentar lagi, hidup mereka akan segera berakhir.
Semua tentang diri mereka akan dihapuskan dari sejarah. Dan tidak ada satupun jejak yang akan membuktikan kalau mereka pernah berkuasa di sebagian wilayah Tanah Jawa. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau anak cucunya mengenang sejarah kelam Tanah Jawa yang menyimpan jutaan keindahan. Prabu Jabang Wiyagra ingin anak cucunya hidup dalam Kedamaian.
Biarlah hanya generasi Prabu Jabang Wiyagra saja yang mengetahui semua hal tentang mereka. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau anak cucunya mewarisi ketakutan dan kekhawatiran di masa depan. Prabu Jabang Wiyagra selalu berdoa sepanjang malam agar anak cucunya nanti bisa hidup dalam kerukunan dan keharmonisan, tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
......................
Kerajaan Putra Malela telah berhasil memenangkan pertarungan, berkat bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra. Hanya saja Prabu Putra Candrasa tidak berhasil menangkap Prabu Gala Ganda beserta orang-orang penting yang mendukungnya dalam penyerangan itu. Karena saat Prabu Jabang Wiyagra tiba di sana, Prabu Gala Ganda langsung melarikan diri.
__ADS_1
Prabu Gala Ganda kembali ke Kerajaan Putra Bathara, dengan sisa-sisa pasukannya. Prabu Jabang Wiyagra tidak sempat melakukan kontak dengan Prabu Gala Ganda. Karena hanya dengan melihatnya dari jauh, Prabu Gala Ganda sudah tahu seberapa besar ilmu yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Jadi dia lebih memilih untuk melarikan diri, karena takut mati.
Prabu Gala Ganda memang dikenal sebagai seorang raja sakti, yang memiliki sebuah ilmu yang bisa mengukur kekuatan lawannya hanya dengan menatapnya saja. Prabu Gala Ganda sudah pasti tidak mampu jika dia hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, dan juga kekuatan pasukannya. Prabu Gala Ganda harus memikirkan cara lain agar bisa melawan Prabu Jabang Wiyagra.
Di istananya, Prabu Gala Ganda mengumpulkan para penasehat istana, untuk meringankan beban kegelisahannya atas kekalahan serangan kemarin.
"Kita harus mencari cara untuk bisa mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra. Aku ingin mendengar pendapat kalian semua yang ada di sini. Semua pendapat kalian sangat aku butuhkan sekarang. Aku tidak mau kalau sampai nasib Kerajaan Putra Bathara sama persis seperti kerajaan-kerajaan besar lain, yang sudah ditaklukkan oleh Prabu Jabang Wiyagra."
Para penasehat istana mulai memberikan pendapat mereka masing-masing kepada Prabu Gala Ganda.
"Mohon maaf Gusti Prabu, Prabu Jabang Wiyagra bukanlah orang sembarangan, dia juga orang yang sangat sulit untuk ditipu dan dirayu. Prabu Jabang Wiyagra memiliki banyak sekali pendekar-pendekar sakti, yang tidak pernah melepaskan pandangan mereka untuk keamanan Prabu Jabang Wiyagra."
".....Banyak sekali pendekar-pendekar kelas atas, yang kemampuan mereka tidak dimiliki oleh orang-orang di generasi kita sekarang ini. Jadi akan sangat sulit, jika kita sudah berurusan dengan Prabu Jabang Wiyagra."
"Baiklah. Lalu apa rencanamu paman?"
"Begini Gusti Prabu. Bagaimana jika kita berdamai saja dengan mereka? Setidaknya untuk sementara waktu saja. Di samping itu kita berusaha untuk mencari orang-orang sakti, yang sekiranya memiliki ilmu tinggi seperti Prabu Jabang Wiyagra."
Prabu Gala Ganda berpikir sejenak. Yang memikirkan bagaimana nantinya jika rencana tersebut terendus oleh Prabu Jabang Wiyagra. Bisa-bisa masalah yang mereka dapatkan akan semakin besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kalau Prabu Jabang Wiyagra juga sudah mempersiapkan seluruh pasukannya untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Putra Bathara.
Prabu Gala Ganda benar-benar sudah bingung. Berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra sangat-sangatlah melelahkan. Tenaga dan pikirannya terkuras habis. Semua yang ia lakukan seakan serba salah, dan tidak pernah mendapatkan hasil sesuai dengan yang ia inginkan. Belum lagi dengan rasa takutnya akan Prabu Jabang Wiyagra, yang semakin hari terdengar semakin menakutkan.
__ADS_1