
Situasi di dalam Kerajaan Mangkon Rogo ternyata berbanding terbalik dengan berita yang tersebar. Berita yang tersebar mengatakan kalau Kerajaan Mangkon Rogo sudah memiliki banyak pasukan. Tapi kenyataannya, jumlah pasukan Kerajaan Mangkon Rogo semakin berkurang.
Banyak prajurit yang tewas saat melakukan serangan ke kawasan yang diduduki oleh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Bukan hanya itu saja, ternyata di Kerajaan Mangkon Rogo sedang terjadi sebuah wabah. Wabah itu adalah wabah tikus. Yang membuat persediaan pangan menjadi berkurang.
Banyak pasukan yang diberi jatah makan tidak semestinya. Untuk prajurit biasa, mereka akan diberi jatah makan satu kali dalam satu hari satu malam. Untuk prajurit yang memiliki pangkat tinggi, akan mendapatkan jatah makan dua kali. Dan untuk para pejabat penting akan mendapatkan jatah tiga kali.
Sedangkan para Patih, mereka mendapatkan jatah makan empat kali dalam sehari semalam. Tapi sudah pasti tugas mereka jauh lebih berat dari pada biasanya. Karena mereka mendapatkan jatah makan paling banyak. Kalau Prabu Garan Darang, sudah jelas dia bisa makan sepuasnya.
Banyak juga para pelayan kerajaan yang mulai kabur dari istana. Mereka semua sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Prabu Garan Darang yang suka semena-mena kepada mereka. Terutama kepada perempuan. Para pelayan istana yang memasak bahkan hanya memakan makanan sisa dari Prabu Garan Darang.
Itu pun mereka harus melayani Prabu Garan Darang terlebih dahulu. Kalau tidak mau, mereka akan dibiarkan kelaparan dan dibiarkan mati begitu saja. Suasana istana yang tadinya indah dan megah, sekarang telah berubah menjadi suram dan mencekam. Karena suasana yang ramai, perlahan mulai sepi.
Banyak sekali orang yang berusaha melarikan diri dari istana. Mereka semua juga tidak lupa mengambil barang-barang berharga yang ada di istana, untuk mereka jual. Supaya mereka bisa makan di tempat lain. Dan entah kenapa, wabah tikus ini hanya terjadi di istana Kerajaan Mangkon Rogo saja.
Sedangkan di tempat lain tidak terjadi apa-apa. Semua raja-raja yang mendukung Prabu Garan Darang pun sudah ada yang mulai melepaskan diri. Karena ekonomi yang semakin merosot, sekarang Prabu Garan Darang tidak lagi memiliki alasan yang kuat untuk menekan para raja-raja besar itu.
Namun Prabu Garan Darang masih menyimpan sedikit kekayaannya. Dia kemudian memerintahkan beberapa prajurit dan para Patihnya yang masih setia untuk membuat sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas. Karena dia ingin mengamankan dirinya disana.
Para prajurit dan Patih pun langsung menjalankan titah dari raja mereka. Entah apa yang mempengaruhi pikiran mereka, sehingga mereka masih bersikap setia kepada seorang raja yang sudah tidak bisa memberikan mereka apa-apa lagi.
__ADS_1
"Astaga! Apa ini?!" Teriak seorang prajurit yang sedang menggali tanah.
Salah satu prajurit melihat ada ribuan tikus yang berkumpul dan membuat markas mereka di dalam tanah. Semua orang yang melihat itu pun ketakutan. Mereka semua lari sekencang-kencangnya, karena ribuan tikus mulai menyerang mereka satu-persatu.
Prabu Garan Darang yang melihat hal itu langsung menyerang tikus-tikus itu dengan ilmu yang ia miliki. Dalam sekejap, ratusan tikus mati ditangannya. Tapi itu belum cukup, karena masih banyak tikus yang keluar dari dalam tanah.
Prabu Garan Darang heran, karena tikus-tikus tanah itu seakan tidak ada habisnya. Bahkan jumlah mereka sepertinya semakin banyak. Padahal tanah yang menjadi lubang untuk tikus-tikus itu keluar tidaklah terlalu besar. Tapi ratusan tikus secara bergantian keluar dari lubang tersebut.
Para Patih pun langsung membawa pergi Prabu Garan Darang dari sana. Tapi betapa terkejutnya mereka, karena saat mereka hendak masuk ke dalam istana, ternyata kondisi di dalam istana jauh lebih parah. Jumlah tikus yang menyerang jauh lebih banyak dari pada yang ada di halaman belakang istana.
"Gusti Prabu. Kita harus pergi dari sini." Ucap salah seorang Patih.
"Baik Gusti Prabu!"
Para prajurit itu pun bergegas menuju ke kandang kuda. Tapi lagi-lagi, hal yang diluar nalar pun terjadi. Disana semua kuda sudah mati. Dan di kandang kuda sudah banyak sekali tikus yang jumlahnya juga ratusan. Terpaksa, para prajurit itu tidak jadi masuk kesana.
"Gusti Prabu! Semua kuda telah tewas!" Ucap para prajurit itu.
Mau bagaimana lagi, mereka harus tetap pergi dari sana. Prabu Garan Darang kemudian membawa semua sisa-sisa pasukannya pergi dari sana. Entah kemana tujuannya, yang jelas dia hanya ingin selamat terlebih dahulu.
__ADS_1
Dari kejauhan, beberapa orang prajurit melihat kalau Prabu Garan Darang pergi dari istana. Mereka semua melihat itu sebagai kesempatan bagus. Merek langsung melepaskan baju dan ikat kepala mereka. Dan saat itu juga para prajurit itu langsung memberitahu teman-teman mereka yang lainnya.
Seluruh penghuni istana yang lain yang berhasil selamat, saat itu langsung pergi melarikan diri, karena mereka semua ketakutan akibat serangan tikus-tikus tanah yang sudah semakin banyak. Tikus-tikus itu seperti kerasukan setan. Mereka memakan apa saja yang di depan mereka, yang berbentuk daging.
Bahkan banyak sekali orang yang tidak selamat dalam serangan tersebut, termasuk istri-istri Prabu Garan Darang. Prabu Garan Darang bahkan sudah tidak peduli kepada mereka. Yang ia pedulikan hanyalah keselamatannya sendiri. Beberapa pasukan yang sempat ikut bersamanya juga diam-diam mulai memisahkan diri mereka.
Jumlah mereka semakin sedikit. Sampai hanya tersisa para Patih yang jumlahnya hanya tujuh orang saja. Para Patih itu pun terpisah dan tidak berada dekat dengan Prabu Garan Darang. Mereka agak berjauhan dari posisi Prabu Garan Darang, karena Prabu Garan Darang berlari dengan sangat kencang. Sampai mereka tidak bisa mengimbanginya.
Prabu Garan Darang sendiri terus menerus berlari. Semakin lama dia semakin jauh dari pasukannya. Walau pun dia juga tahu kalau sudah banyak pasukan yang kabur darinya, tapi Prabu Garan Darang tidak mempedulikannya. Dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka semua. Dia hanya ingin selamat.
Meski pun Prabu Garan Darang orang yang sakti, dan mampu melawan musuh yang kekuatannya sama besar dengan dirinya, tapi bukan berarti dia tidak memiliki rasa takut. Saat pertama kali melihat ribuan tikus yang secara tiba-tiba menyerang kerajaannya, Prabu Garan Darang sebenarnya sudah gemetaran. Hanya saja para pasukannya tidak sadar dengan hal itu.
Sekarang, Prabu Garan Darang sendirian di hutan. Tidak ada satu pun orang yang masih ikut dengannya. Entah sudah seberapa jauh dia berlari. Yang pasti dia sudah sangat jauh dari istananya sendiri. Dia lalu naik ke atas bukit untuk melihat keadaan istananya dari atas. Sisa tenaga yang ia miliki, ia paksakan dirinya untuk sampai ke puncak.
Dan saat itulah dia melihat semuanya. Kalau sekarang, istananya sudah terbakar. Api menjilat-menjilat ke seluruh tempat yang ada di istana.
"Ini pasti ulah Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya!" Gerutunya dalam hati.
Prabu Garan Darang sudah mengira, kalau semua ini akan terjadi. Karena beberapa waktu yang lalu, dia sempat mendapatkan kabar dari salah satu prajuritnya, kalau pasukan Kerajaan Wiyagra Malela akan menyerang Kerajaan Mangkon Rogo dengan cara lain. Agar bisa mengalahkan Prabu Garan Darang.
__ADS_1
Tetapi entah kenapa, firasat Prabu Garan Darang justru mengacu kepada Prabu Bambang Pura. Karena yang ia tahu, Prabu Bambang Pura banyak mempelajari tentang sihir hitam. Bahkan Prabu Garan Darang pernah melihat sendiri bagaimana Prabu Bambang Pura merubah rerumputan menjadi kumpulan merpati.