DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 218


__ADS_3

Pagi itu, di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Semua orang sedang berkumpul untuk membahas permasalahan tentang Kerajaan Batih Reksa, dan juga pembantaian yang dilakukan oleh Maha Patih Kumbandha kepada para nahkoda kapal di pelabuhan. Prabu Jabang Wiyagra setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh Maha Patih Kumbandha. Karena hanya dengan cara itu para pelaku kejatanakan menjadi jera.


Kalau terus menerus dibiarkan, maka akan sangat membahayakan keamanan Kerajaan Batih Reksa. Kejadian kemarin saja sudah bisa dikatakan menjadi sebuah pukulan keras bagi semua pihak yang mendukung Prabu Jabang Wiyagra. Para raja-raja yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra boleh khawatir dengan yang terjadi kemarin. Karena hal itu bisa menjadi awal dari sebuah kekacauan yang besar.


Prabu Jabang Wiyagra berusaha untuk menenangkan para abdinya, dan juga para raja-raja yang ada di bawah kekuasaannya. Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha tidak hadir di istana Kerajaan Wiyagra Malela, karena mereka sedang mengurus segala hal yang sekiranya bisa menyelesaikan permasalahan kemarin. Karena Prabu Sura Kalana rasa sangat malu atas apa yang terjadi di istana Kerajaan Wiyagra Malela.


Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha berjanji kepada Prabu Jabang Wiyagra untuk tidak melupakan daerah-daerah yang sudah pernah menjadi jalur peperangan mereka. Karena Sebelum menjadi murid Prabu Jabang Wiyagra, Prabu Sura Kalana sempat terlibat bentrokan dengan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Dan Prabu Sura Kalana memiliki banyak sekali jalur pelarian dan penyerangan.


Bekas-bekas jalur penyerangan dan pelarian Prabu Sura Kalana sampai sekarang masih ada. Bahkan di beberapa tempat ditemukan juga senjata-senjata dari para prajurit yang mati di tempat itu, saat dalam pertempuran. Hari ini, para pasukan Kerajaan Batih Reksa dan juga para Patinya sedang menyusuri setiap tempat yang pernah menjadi jalur pelarian dan penyerangan Prabu Sura Kalana. Mereka menyusuri satu demi satu jalur-jalur tersebut.


Mereka semua berusaha untuk menemukan jejak-jejak para pasukan Kerajaan Panca Warna yang pernah melewati salah satu sekian banyak jalur yang pernah digunakan oleh Prabu Sura Kalana. Mereka bahkan sampai membuat tenda dan juga membangun beberapa posko di jalur tersebut, agar memudahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan di keesokan harinya. Karena pencarian jejak ini kemungkinan akan berlangsung cukup lama.


*


*

__ADS_1


*


Sedangkan di istana Kerajaan Wiyagra Malela, Prabu Jabang Wiyagra bersama dengan para abdinya masih memusyawarahkan masalah keamanan di Kerajaan Batih Reksa. Kerajaan Batih Reksa sekarang menjadi wilayah penting yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Dan menjadi incaran musuh yang paling utama, karena jika musuh berhasil menduduki Kerajaan Batih Reksa, maka mereka memiliki jalur yang sangat luas untuk masuk ke wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.


Kalau sampai hal itu terjadi, maka peperangan besar tidak akan bisa terelakkan lagi. Prabu Jabang Wiyagra dan Prabu Sura Kalana akan dibuat kerepotan menghadapi musuh yang berasal dari dua arah. Apalagi kekuatan armada kapal perang Kerajaan Batih Reksa belum sekuat kerajaan-kerajaan yang lain. Kemenangan yang diraih oleh Maha Patih Kumbandha juga berkat bantuan armada kapal perang dari Prabu Jabang Wiyagra. Tanpa bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra, tidak menutup kemungkinan kalau Maha Patih Kumbandha akan mengalami kekalahan.


Kekuatan dari pasukan Kerajaan Panca Warna dan juga Kerajaan Bala Bathara tidak boleh dianggap remeh, karena semakin hari mereka semakin bertambah kuat. Untung saja Ratu Mekar Senggani masih berada dalam tahanan sehingga dia tidak bisa menggerakkan pasukannya. Andaikan Ratu Mekar Senggani tidak berada dalam penahanan, sudah pasti dia akan melakukan serangan secara besar-besaran, dengan dukungan kekuatan pasukan dari Prabu Barajang dan juga para pendekar sakti, musuh Prabu Jabang Wiyagra.


"Kita semua di sini harus bekerja sama dan bersatu. Kita harus mempersiapkan segala hal ya mungkin saja bisa terjadi. Semakin hari musuh-musuh kita semakin kuat, karena mereka terus melatih kekuatan mereka masing-masing. Mereka tidak boleh kita anggap remeh." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


Semua orang yang ada di sana mengeluarkan pendapat mereka masing-masing, termasuk Prabu Putra Candrasa, yang juga sudah ada di sana.


"Keuntungan seperti apa Prabu Putra Candrasa?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


"Kita berjalan saja seperti biasanya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun semua pasukan yang kita miliki dipersiapkan dengan sangat-sangat matang. Jadi kalau mereka datang, kita sudah benar-benar siap."

__ADS_1


"....Lalu, keuntungan yang kita dapatkan dari orang-orang kita yang berada di wilayah kekuasaan Prabu Barajang adalah, kita bisa tahu seberapa besar kekuatan musuh-musuh kita sekarang. Dan kalau bisa kita meminta bantuan saja kepada Mbah Kangkas, dan juga Pangeran Rawaja Pati, untuk memindahkan para pasukan kita."


Prabu Jabang Wiyagra lalu memotong penjelasan Prabu Putra Candrasa,


"Oh... Aku paham apa maksudmu Prabu Putra Candrasa. Maksudmu, kamu ingin Prabu Barajang diserang dari dalam?"


"Ya. Benar Gusti Prabu. Kita serang istana Kerajaan Bala Bathara setelah pasukan penyerang dari Kerajaan Bala Bathara meninggalkan wilayah mereka, menuju ke tempat ini. Dengan begitu, Prabu Barajang akan kekurangan banyak sekali pasukan yang menjaga istananya."


"Rencanamu itu memang sangat bagus Prabu Putra Candrasa. Kalau menurutmu siapa yang pantas untuk memimpin pasukan yang masuk ke wilayah Kerajaan Bala Bathara?"


"Maha Patih Lare Damar, Gusti Prabu. Setelah semua pasukan penyerang kita berhasil pindah ke Padepokan Mbah Kangkas, mereka tinggal bertemu dengan Maha Patih Lare Damar, untuk menjalankan penyerangannya."


Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya terlihat sangat setuju dengan rencana Prabu Putra Candrasa. Karena itu adalah rencana yang sangat-sangat bagus. Kalau Prabu Jabang Wiyagra menunggu kedatangan pasukan dari Kerajaan Panca Warna dan Kerajaan Bala Bathara, maka Prabu Jabang Wiyagra akan menghabiskan lebih banyak pasukan lagi untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya. Jadi sebelum itu terjadi, mereka semua harus sudah menyerang terlebih dahulu.


Panglima Galang Tantra juga angkat bicara, dan dia bahkan siap untuk menghadang seluruh pasukan Prabu Barajang agar mengalami kesulitan saat memasuki wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Panglima Galang Tantra juga akan memberitahu rencana itu kepada Maha Patih Kumbandha agar mempersiapkan dirinya mulai dari sekarang, karena dia yang akan menghadang para pasukan musuh yang datang melalui jalur perairan. Dan tempat yang paling pas untuk membuat pertahanan, adalah pelabuhan.

__ADS_1


Pelabuhan yang sebelumnya menjadi jalur perdagangan lintas negara, bisa dialih fungsikan sementara waktu untuk menjaga daerah perairan Kerajaan Batih Reksa. Di sana juga banyak sekali tempat-tempat strategis yang bisa digunakan untuk membuat pertahanan. Walaupun tidak ada benteng yang mengelilingi wilayah itu, tapi pasukan Prabu Sura Kalana akan memiliki kesempatan besar untuk memenangkan pertarungan, jika mereka menggunakan strategi yang tepat.


Karena jika dilihat dari letak pelabuhan dan juga daerah-daerah di sekitarnya, maka akan terlihat banyak sekali jalur yang biasa digunakan oleh banyak orang untuk berlalu lalang. Para prajurit yang berjaga di sana bisa menyamar menjadi masyarakat biasa dan berpura-pura berakitivitas seperti biasanya, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebagian lagi bahkan bisa menjadi nahkoda kapal yang berkhianat, yang tugas mereka adalah untuk menjemput pasukan musuh.


__ADS_2