
"Kita sudah menaklukkan desa demi desa. Dan beberapa kota besar juga sudah menampung gelombang serangan kita. Tinggal beberapa langkah lagi, kita sudah bisa menaklukkan ibu kota dan sekitarnya." Ucap Maha Patih Putra Candrasa.
"Benar Maha Patih. Tapi sekarang kita harus mengistirahatkan pasukan kita yang ada disini terlebih dahulu. Kita juga harus memperhatikan semua pasukan kita. Apalagi sekarang pertahanan istana Kerajaan Wesi Kuning sudah semakin diperkuat." Kata Lare Damar.
"Ya. Dan semua yang ada disana bukanlah orang-orang sembarangan. Kabarnya para raja yang mendukung Prabu Bawesi juga menyewa para petarung-petarung hebat untuk mempertahankan ibu kota, terutama dengan istana."
Lare Damar dan Maha Patih Putra Candrasa membuat markas di daerah yang tidak jauh dari ibu kota. Di tempat itu dipenuhi dengan pasukan dari Prabu Jabang Wiyagra. Semua akses warga yang keluar masuk diperiksa secara teliti. Bagi warga yang mencurigakan, akan langsung ditahan dan diinterogasi.
Karena para raja yang sekarang mendukung Prabu Bawesi, sedang berusaha untuk mengirimkan mata-mata ke kumpulan masyarakat. Dan mereka sangat sulit untuk dikenali. Walau pun ribuan pasukan Prabu Jabang Wiyagra terus berjaga di tempat ini sepanjang waktu, tapi mereka masih kesulitan untuk menemukan mata-mata yang dikirimkan oleh pihak musuh.
Selama berada di tempat ini, Lare Damar dan seluruh pasukannya menghentikan pengiriman logistik dari istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena di tempat ini Lare Damar dan pasukannya bisa dengan mudah mendapatkan semua yang mereka butuhkan di tempat ini. Pengiriman logistik hanya diperuntukkan bagi warga yang terkena dampak dari perang ini.
Sekaligus untuk memberikan bukti kepada mereka, kalau niat Prabu Jabang Wiyagra sangat tulus, untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan kesengsaraan. Lare Damar dan pasukannya tak hanya berfokus kepada perang saja. Tapi mereka juga membangun benteng pertahanan, pertanian dan juga berbagai kebutuhan masyarakat yang lainnya.
__ADS_1
Lama kelamaan, rakyat Kerajaan Wesi Kuning menjadi kagum dan ingin bergabung dengan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka tidak mau lagi merasakan kekejaman Prabu Bawesi. Mereka merasa jauh lebih aman saat Lare Damar dan pasukannya tiba di tempat ini. Bahkan banyak masyarakat yang secara suka rela membantu kepentingan Lare Damar dan pasukannya.
Di wilayah Kerajaan Wesi Kuning banyak sekali pandai besi dan juga orang-orang yang ahli dalam pertanian. Selama masa pemerintahan Prabu Bawesi, banyak sekali para petani yang mengasingkan diri mereka, karena mereka takut diperbudak. Di Kerajaan Wesi Kuning, seperti tidak boleh ada orang pandai.
Kalau kepandaian mereka ketahuan, maka mereka akan dibawa untuk menghadap Prabu Bawesi. Dan kepandaian mereka akan dimanfaatkan oleh Prabu Bawesi untuk menjalankan ambisi kekuasaannya. Sudah pasti, mereka yang pandai dalam berbagai hal hanya akan diperbudak. Tanpa digaji dan tanpa jaminan kehidupan yang layak.
Hal itulah yang kemudian membuat orang-orang pandai di Kerajaan Wesi Kuning memilih untuk mengasingkan diri dari publik. Banyak dari mereka yang bersembunyi di hutan-hutan terpencil, yang jaraknya sangat-sangat jauh dari perkotaan maupun pedesaan.
Namun setelah kedatangan Lare Damar dan pasukannya di tempat ini, mereka semua seakan-akan muncul dari permukaan. Mereka semua menawarkan diri untuk membantu Lare Damar dan pasukannya. Baik dalam hal logistik, persenjataan, maupun membangun benteng-benteng pertahanan.
Kerajaan Bala Bathara dan Kerajaan Putra Bathara tugas secara diam-diam diketahui sudah mengirimkan banyak sekali mata-mata, untuk mengawasi pergerakan pasukan yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena tujuan mereka nantinya adalah untuk menghimpit kekuatan dari Lare Damar dan pasukannya.
Dengan cara menghancurkan Kerajaan Wiyagra Malela terlebih dahulu, agar kekuatan pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang terlibat ke dalam pertempuran bisa berkurang. Namun dikarenakan Prabu Jabang Wiyagra sudah membaca gerak-gerik dari Kerajaan Bala Bathara dan juga Kerajaan Putra Bathara, akhirnya Prabu Jabang Wiyagra membatasi semua akses masuk ke dalam wilayah Kerajaan Wiyagra Malela.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra juga sama-sama mengirimkan mata-mata ke wilayah Kerajaan Putra Bathara dan Kerajaan Bala Bathara. Dari semua informasi yang dikumpulkan, Dua kerajaan besar itu sudah memperkokoh pertahanan mereka. Mereka juga melakukan latihan bersama untuk saling menguatkan pasukan mereka, satu sama lain.
Mereka melakukan pergerakan yang cukup besar. Terutama dalam bidang persenjataan. Mata-mata Prabu Jabang Wiyagra mengatakan, kalau dua kerajaan besar tersebut sudah mengirimkan banyak sekali logistik persenjataan kepada pasukan Prabu Bawesi. Mereka mengirimkan persenjataan dalam jumlah yang banyak.
Bahkan diketahui juga, kalau mereka sedang berusaha untuk membuat senjata yang lebih canggih daripada meriam yang digunakan oleh pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra akhirnya meminta bantuan kepada Patih Kinjiri, agar Patih Kinjiri mengirim Utari Gita dan juga Bamantara untuk mencegah hal tersebut.
Karena kalau sampai mereka berhasil membuat senjata yang lebih unggul, maka pasukan Kerajaan Wiyagra Malela bisa mendapatkan gempuran sengit dari pasukan dua kerajaan besar tersebut. Dua kerajaan itu memang selalu ikut campur dalam urusan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka selalu berusaha mencari celah untuk menjatuhkan Prabu Jabang Wiyagra.
Sering sekali Prabu Jabang Wiyagra mendapatkan para tahanan yang berasal dari dua kerajaan itu. Ada yang menjadi perampok, pencuri, dan juga ada yang berusaha menjadi jagoan di pasar. Tetapi mereka selalu berhasil ditangkap. Hanya saja mereka tidak mau mengaku apa tujuan mereka melakukan hal itu. Padahal sudah jelas, kalau mereka adalah mata-mata.
Prabu Jabang Wiyagra tidak mau menyerang dua kerajaan besar itu karena banyak sekali faktor yang akan menjadi masalah kalau kedua kerajaan besar itu hancur. Akan banyak warga sipil yang menjadi korban, karena dua raja besar itu baru saja berlindung di balik punggung warga sipil. Kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak hati-hati, maka akan banyak orang tidak bersalah yang menjadi korban.
Padahal sebenarnya pertahanan dari dua kerajaan itu termasuk lemah dan sangat payah. Akan sangat mudah Bagi pasukan musuh untuk menghancurkan dua kerajaan besar itu, kalau saja tidak memikirkan para warga warga sipil yang akan menjadi korban. Termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri yang sebenarnya sudah sangat geram dengan mereka.
__ADS_1
Apalagi dua kerajaan itu sering sekali memprovokasi kerajaan yang lain untuk memusuhi Prabu Jabang Wiyagra. Dengan kecerdasannya, Prabu Jabang Wiyagra bisa mematahkan argumen-argumen palsu yang disebarkan oleh dua kerajaan besar itu, kepada kerajaan-kerajaan yang mendukung Prabu Jabang Wiyagra.
Kerajaan Bala Bathara dan Kerajaan Putra Bathara tidak selalu mengotori tangan mereka sendiri. Kebanyakan mereka melakukan semuanya di belakang layar, dengan menggunakan tangan orang lain. Sehingga tidak semua kerajaan tahu kalau Kerajaan Bala Bathara dan Kerajaan Putra Bathara sering melakukan kejahatan. Karena mereka bermain dengan cara yang sangat halus.