
Brraaaakkkgggg!!!
Tiba-tiba saja gerbang hancur dan hampir menimpa para pasukan penjaga gerbang. Maha Patih Baruncing langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk masuk ke dalam. Pasukan penjaga gerbang berusaha untuk menahan Maha Patih Baruncing. Tetapi usaha mereka gagal, karena sekali, pukul lima orang langsung terpental.
Zafir dan Patih Kinjiri langsung turun dari kuda mereka dan memerintahkan pasukan mereka untuk melawan pasukan Maha Patih Baruncing yang sedikit demi sedikit boleh memasuki wilayah perbatasan. Sedangkan Zafir dan Patih Kinjiri menghadapi Maha Patih Baruncing yang sudah siap dengan pedang di tangannya. Hati Maha Patih Baruncing terasa panas saat melihat Patih Kinjiri dan Zafir ada di sana.
Mereka berdua bisa menjadi penghalang untuk Maha Patih Baruncing. Karena Maha Patih Baruncing suka mengetahui seberapa besar kesaktian yang dimiliki oleh Patih Kinjiri. Ditambah lagi dengan Zafir, yang belum ia ketahui bagaimana kehebatannya. Sehingga akan menjadi masalah besar bagi Maha Patih Baruncing sendiri. Karena dia benar-benar sendirian sekarang.
Para Patih yang ikut bersamanya dalam pertempuran tersebut masih harus menghadapi para pasukan penjaga perbatasan, yang jumlahnya juga sangat banyak. Bahkan sekarang jumlahnya jauh lebih banyak daripada sebelumnya dikarenakan para Patih yang menjaga wilayah tersebut, sudah mengetahui adanya penyerangan di benteng pertahanan yang mengelilingi perbatasan.
Para Patih Kerajaan Putra Malela membawa ribuan pasukan yang kebanyakan adalah lulusan dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Setiap orang yang lulus dari Padepokan Ageng Reksa Pati adalah orang-orang yang berbahaya dan tidak bisa dianggap remeh. Sedangkan Maha Patih Baruncing hanya memiliki beberapa ribu pasukan. Ditambah dengan rakyat Kerajaan Panca Warna yang ikut berjuang bersamanya.
Kemampuan rakyat Kerajaan Panca Warna jelas sudah kalah telak kalau berhadapan dengan para pasukan dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Rakyat tidak memiliki kemampuan bela diri seperti yang dimiliki oleh orang-orang dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Mereka hanya menggunakan kemampuan bela diri dan juga persenjataan seadanya untuk melakukan penyerangan. Jadi mereka semua hanya menang dalam jumlah orangnya saja, tapi tidak dengan kekuatannya.
Maha Patih Baruncing berusaha untuk menguatkan dirinya, di tengah-tengah kerusuhan yang semakin menjadi-jadi. Kematian para pasukannya di tempat itu tidak bisa lagi ia cegah. Yang bisa dilakukannya hanyalah mencoba untuk mengalahkan Patih Kinjiri dan Zafir, yang menjadi ujung tombak para pasukan Prabu Putra Candrasa. Kalau mereka berdua kalah, maka selesailah sudah masalahnya. Maha Patih Baruncing tinggal beristirahat untuk menunggu penyerangan selanjutnya.
"Patih Kinjiri! Aku kira kau sudah mati!" Ucap Maha Patih Baruncing sembari tertawa.
__ADS_1
"Aku masih hidup! Dan akulah yang akan membuatmu mati!"
"Jangan jumawa kamu! Kamu hanyalah orang bodoh, yang mau menjadi budak dari raja kepa-rat itu! Lihatlah kenyataan di sekitarmu Patih Kinjiri! Apa yang kamu dapatkan dari Prabu Jabang Wiyagra? Kamu Tetaplah seorang bawahan rendahan yang tidak punya apa-apa!"
"Hey! Jangan berani-berani menghina Maha Raja Prabu Jabang Wiyagra! Atau aku akan menyumpal mulutmu dengan pedangku!" Ucap Zafir yang juga Mulai terpancing amarahnya.
"Hey orang asing! Pulanglah sana ke negerimu! Ini bukan urusanmu! Kamu harusnya malu, karena seharusnya orang asing tidak ikut campur urusan kami!"
"Beberapa bulan yang lalu aku memanglah orang asing. Tapi sekarang, aku adalah orang Jawa. Dan aku sudah bersumpah untuk membela negeri ini sampai aku mati!"
"Ho! Ho! Ho! Baiklah! Aku akan mengabulkan permintaanmu itu!"
Zafir dan Patih Kinjiri Langsung Melompat ke hadapan Maha Patih Baruncing. Maha Patih Baruncing jadi kita terkejut, karena Zafir juga memiliki kemampuan yang sama, yang dimiliki oleh Patih Kinjiri. Maha Patih Baruncing sama sekali tidak menyangka kalau orang asing memiliki ilmu kesaktian. Karena yang ia tahu, orang-orang Timur Tengah tidak menggunakan ilmu semacam itu.
"Kenapa Maha Patih Baruncing? Apa kamu terkejut dengan kemampuan yang kami miliki?"
"Terkejut? Aku bahkan ingin sekali menertawakan kalian." Jawab Maha Patih Baruncing dengan tawa terkekeh.
__ADS_1
Patih Kinjiri dan Zafir yang sudah tersulut amarahnya pun langsung menyerang Maha Patih Baruncing dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Zafir ternyata memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata para pendekar seusianya. Dia bahkan memiliki jurus-jurus yang tidak dimiliki oleh Patih Kinjiri dan juga Maha Patih Baruncing. Membuat Maha Patih Baruncing menjadi kewalahan saat menghadapinya.
Patih Kinjiri juga heran melihat kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Zafir. Karena baru pertama kali ini Patih Kinjiri melihat Zafir bertarung. Sesekali Patih Kinjiri hanya melihat Zafir melatih murid-murid di padepokannya. Ia sama tidak menyangka kalau Zafir bisa sehebat itu. Gerakan-gerakan bela dirinya sangat-sangat cepat. Membuat Maha Patih Baruncing tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perlawanan.
Jangankan untuk memberikan perlawanan, bahkan untuk menangkisnya saja dia tidak mampu. Maha Patih Baruncing hanya bisa menghindar dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk mencari tempat yang jauh lebih luas, karena sekarang seluruh pasukannya sudah masuk ke dalam wilayah perbatasan. Begitu pula dengan pasukan Prabu Putra Candrasa yang jumlahnya semakin banyak dari berbagai macam kesatuan yang ada.
"Gi-la. Orang ini benar-benar hebat. Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan cepat ini." Gumam Patih Kinjiri dalam hatinya.
Zafir benar-benar tidak memberikan kesempatan kepada Maha Patih Baruncing untuk bisa melawannya. Maha Patih Baruncing sampai saat ini tidak bisa melakukan apa-apa, selain menghindar dan terus menghindar. Saat Maha Patih Baruncing memiliki kesempatan untuk membalas serangan dari Zafir, kesempatan itu justru terbuang sia-sia dikarenakan gerakannya masih kalah cepat dengan Zafir, yang bisa dengan mudah menangkisnya.
Zafir lalu berhenti sejenak dan memberikan kesempatan kepada Maha Patih Baruncing untuk menyerangnya lagi. Tetapi Maha Patih Baruncing juga ikutan berhenti karena dia juga mulai kelelahan menghadapi Zafir. Patih Kinjiri tidak melewatkan kesempatan itu, di perusahaan menyerang Maha Patih Baruncing dengan ilmu kanuragan yang ia miliki. Ilmu pukulan yang begitu Dahsyat kita juga melesat ke arah Maha Patih Baruncing. Tetapi ilmu itu meleset dan mengenai salah satu pohon hingga pohon itu tumbang dan langsung terbakar.
Maha Patih Baruncing selalu mencoba mengeluarkan sebuah ajian tingkat tinggi yang bernama Ajian Serat Jiwa. Dan untuk membuat kekuatannya menjadi semakin besar, Maha Patih Baruncing memanggil dua orang Patih yang sama-sama memiliki Ajian Serat Jiwa untuk membantunya. Dengan bergabungnya tiga ajian yang sama, maka kekuatan dari Ajian Serat Jiwa akan semakin besar. Dan kekuatannya akan menjadi berlipat ganda, jauh lebih kuat daripada saat dikeluarkan oleh satu orang saja.
Secara tiba-tiba, Patih Kinjiri mulai merasakan kalau tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan. Karena dia menjadi target utama serangan Ajian Serat Jiwa. Zafir berusaha menolong Patih Kinjiri yang sudah mulai terkena pengaruh Ajian Serat Jiwa. Zafir menyalurkan tenaga dalam yang ada di tubuhnya, kepada Patih Kinjiri. Agar Patih Kinjiri bisa mematahkan kekuatan dari ajian tersebut. Namun sayangnya, kekuatan mereka berdua tidak sebanding dengan kekuatan tiga lawan mereka.
Maha Patih Baruncing merasa sangat gembira melihat Patih Kinjiri dan Zafir mulai kewalahan menghadapi dirinya. Dengan cepat, Maha Patih Baruncing berusaha untuk mengeluarkan Ajian Serat Jiwa dengan bantuan dua orang Patih yang ada di belakangnya. Tubuh Patih Kinjiri pun terseret saat Maha Patih Baruncing membuka mulutnya lebar-lebar. Serasa tubuhnya dihisap oleh mulut Maha Patih Baruncing yang menganga.
__ADS_1
Zafir terus berusaha untuk melepaskan Patih Kinjiri dari pengaruh Ajian Serat Jiwa. Namun Zafir juga mulai merasakan pengaruh dari ajian tersebut, karena tubuhnya juga seakan ikut terhisap. Patih Kinjiri semakin melemah karena tenaganya seakan terhisap habis oleh Maha Patih Baruncing. Sedangkan Zafir yang masih bertahan juga harus berusaha untuk menahan tenaga dalamnya, agar tidak ikut terhisap oleh Maha Patih Baruncing yang masih terus berusaha menarik semua tenaga dalam Patih Kinjiri.